BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Hakekat Shalat Berjamaah
Jika berbicara tentang shalat berjamaah, maka kita tidak akan lepas dan merasa asing lagi dari amalan ibadah ini, yaitu tentang ibadah shalat. Sesuai dengan yang disyariatkan di dalam ajaran Islam, shalat
merupakan salah satu dari ibadah inti dan pokok yang dilaksanakan umat diseluruh dunia, karena didalam Islam shalat ini termasuk dalam kategori ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdah. (ibadah yang ketentuannya pasti). Shalat berjamaah lebih baik (afdhul) dan bermanfaat. Allah berfirman dalam surah Al-Maidah: (05) ayat 58 yang berbunyi:
Terjemahnya:“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah Karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (QS. Al-Maidah. 58) Berdasarkan ayat diatas penulis dapat memahami bahwa kita sebagai orang islam saling memperingatkan untuk mengerjakan shalat dan bagi orang-orang yang tidak mau mempedulikan shalat dan menjadikan shalat itu sebuah ejekan maka orang tersebut benar-benar tidak mempunyai akal. Shalat berjamaah merupakan suatu tindakan ibadah shalat yang dikerjakan bersama-sama, dimana salah seorang diantaranya sebagai imam dan yang lainnya sebagai makmum. Shalat berjamaah selain sarana ibadah kita kepada Allah SWT yang terdapat keutamaan dan aspek-aspek psikologis yang dapat memberikan motivasi sehingga akan membantu membentuk perilaku social seseorang.
Menurut Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, MA. dan Dr. Hj. Siti Musdah Mulia didalam bukunya:
Dikatakan shalat termasuk dalam ibadah khasah atau mahdah karena shalat merupakan implementasi dari bentuk ibadah yang ketentuan dan pelaksanaannya telah ditetapkan oleh nash dan merupakan sari ibadah kepada Allah SWT.
Ibadah shalat merupakan manifestasi dari pelaksanaan salah satu rukun Islam yang kedua, sebagai sebuah rukun agama ia menjadi dasar yang harus ditegakkan dan ditunaikan sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang ada pada praktek sesungguhnya harus merupakan perwujudan dari kelemahan seorang manusia dan rasa membutuhkan seorang hamba terhadap Tuhan dalam bentuk perkataan dan perbuatan. ( Raya Ahmad Thib, dan Mulia Siti Musdah, 2003:175)
Berdasarkan pendapat diatas, maka penulis memahami bahwa shalat merupakan salah satu rukun islam yang kedua dan bentuk pelaksanaanya telah ditentukan oleh Allah. Beberapa pengertian tentang shalat berjamaah dan hakekat shalat berjamaah adalah sebagai berikut:
Shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan oleh orang banyak, bersama-sama, sekurang-kurangnya terdiri dari dua orang, satu orang didepan bertindak sebagi imam dan yang lainnya berdiri dibelakangnya sebagi makmum (Depag,1992: 229) Menurut H. Sulaiman Rasjid (1987) adalah:
Yang dinamakan shalat berjamaah ialah apabila dua orang shalat bersama-sama dan salah seorang diantara mereka mengikuti yang lain. Orang yang diikuti (yang dihadapan) dinamakan imam dan yang mengikuti di belakang dinamakan makmum (Rasjid Sulaiman, 1987:113)
2. Dasar dan Hukum Shalat Berjamaah
Sebagai bentuk ibadah khassah (khusus), shalat berjamaah tentunya mempunyai dasar yang kuat, sehingga ketentuan dan pelaksanaannya telah ditetapkan oleh nash, yaitu sesuai dengan firman Allah dalam An Nisaa: (04) ayat 102:
Terjemahnya:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu.” (Departemen Agama RI, 2002, 138)
Berdasarkan ayat diatas penulis dapat memahami bahwa Allah SWT memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat berjamaah, meskipun dalam kondisi takut (dalam peperangan).
Sedangkan hukum shalat berjamaah menurut banyak ulama berbeda, sebagian ulama mengatakan shalat berjamaah itu fardlu „ain (wajib „ain) sebagian lagi berpendapat bahwa shalat berjamaah itu fardlu kifayah, sebagian lagi berpendapat sunah muakkad (sunah istimewa). Yang akhir inilah hukum yang lebih layak selain shalat Jum‟at. Menurut kaidah penyesuaian beberapa dalil dalam masalah ini seperti tersebut diatas, berkata pengarang Nailul Authar:
Pendapat yang seadil-adilnya dan sehampir-hampirnya pada yang betul ialah shalat berjamaah itu sunat muakkad. (Rasjid Sulaiman:1987:115)
Seperti di dalam surah Al-Baqarah: (02) ayat 43 yang berbunyi:
Terjemahnya: “Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.” (QS. Al-Baqarah. 43)
Berdasarkan ayat tersebut diatas penulis dapat memahami bahwa kita sebagai orang islam harus wajib mendirikan shalat sebagaimana orang-orang yang terdahulu mendirikan shalat dan menunaikan zakat sebagian harta.
3. Syarat-Syarat dan Tata Cara Shalat Berjamaah
Pada prakteknya, sebenarnya shalat berjamaah mempunyai dua subjek pokok yaitu imam dan makmum yang pada setiap pribadi ini sama-sama terikat oleh syarat dan rukun yang sama-sama seperti pelaksanaan shalat biasa. Secara garis besar syarat dan tata cara shalat berjamaah adalah seperti yang di jabarkan oleh H. Sulaiman Rasjid di dalam bukunya “Fiqih Islam” yang ada di bawah ini adalah sebagai berikut:
1. Makmum hendaknya meniatkan mengikuti imam. Adapun imam tidak menjadi syarat berniat menjadi imam, sunat agar ia mendapat ganjaran berjamaah.
2. Makmum hendaknya mengikuti gerakan imamnya dalam segala pekerjaannya. Maksudnya, makmum hendaknya membaca takbiratul ihram sesudah imamnya, begitu juga permulaan segala perbuatan makmum hendaklah terkemudian dari yang dilakukan oleh imamnya. 3. Mengetahui gerak-gerik perbuatan imam Umpamanya dari berdiri
keruku‟ dari ruku‟ ke i‟tidal, dari i‟tidal ke sujud,dan seterusnya, baik yang diketahui dengan melihat imam sendiri, melihat saf (barisan) yang dibelakang imam, mendengar suara imam atau suara mubalighnya, agar makmum dapat mengikuti imamnya.
4. Keduanya (imam dan makmum) berada dalam satu tempat, umpamanya dalam satu rumah. Setengah ulama berpendapat bahwa shalat di satu tempat itu tidak menjadi syarat, hanya sunat karena yang perlu ialah mengetahui gerak-gerik perpindahan imam dari rukun ke rukun atau dari rukun ke sunat, dan sebaliknya agar makmum dapat mengikuti imamnya tersebut.
5. Tempat berdiri makmum tidak boleh lebih depan dari imamnya. Yang dimaksud disini ialah lebih depan kepihak kiblat. Bagi orang shalat berdiri diukur tumitnya dan bagi orang duduk, diukur dari pinggulnya. Susunan makmum :
1) Kalau makmum hanya seorang, hendaklah ia berdiri disebelah kanan imam agak kebelakang sedikit; dan apabila datang orang yang lain, hendaklah ia berdiri disebelah kiri imam Sesudah ia takbir, imam hendaklah maju, atau kedua orang itu (makmum) mundur.
2) Kalau jamaah itu terdiri dari beberapa saf, terdiri atas jamaah laki-laki dewasa, kanak-kanak dan perempuan, maka hendaklah di antara saf sebagai berikut: dibelakang imam ialah saf laki-laki dewasa, saf kanak-kanak, kemudian saf perempuan.
3) Saf hendaklah lurus dan rapat, berarti jangan ada renggang antara yang seorang dengan yang lain.
a. Imam hendaklah jangan mengikuti yang lain. Imam itu hendaklah berpendirian tidak terpengaruh oleh yang lain; kalau ia makmum tentu ia akan mengikuti imamnya.
b. Hendaklah sama aturan shalat makmum dengan shalat imam Artinya, tidak sah shalat fardlu yang lima mengikuti shalat fardlu mengikuti shalat gerhana atau shalat mayat karena aturan (cara) kedua shalat itu tidak sama; tetapi tidak berhalangan orang shalat fardlu yang lima mengikuti orang shalat sunah yang sama aturannya, seperti orang shalat isya‟ mengikuti orang shalat tarawih dan sebaliknya, karena aturan dua shalat tersebut sama.
c. Laki-laki tidak sah mengikuti perempuan. Berarti laki-laki tidak boleh menjadi makmum, sedangkan imamnya perempuan. Adapun perempuan yang menjadi imam bagi perempuan pula, tidak berhalangan.
d. Keadaan imam tidak ummi, sedangkan makmum qori‟ artinya, imam itu adalah orang yang baik bacaannya.
e. Jangan makmum berimam kepada orang yang diketahuinya bahwa shalatnya tidak sah (batal). Seperti mengikuti imam yang diketahui oleh makmum bahwa ia bukan orang Islam, atau ia berhadats atau bernajis badan, pakaian dan tempatnya. Karena imam yang seperti itu hukumnya tidak sah dalam shalat. (Rasjid Sulaiman,1987:121) 4. Keutamaan dan Hikmah Shalat Berjamaah
Ibadah shalat khususnya shalat berjamaah sebagai salah satu bentuk ibadah pokok dalam syariat Islam, sudah barang tentu mempunyai keistimewaan. Keistimewaan tersebut dapat terlihat dari beberapa keutamaan dan hikmah yang terdapat dalam shalat berjamaah. Adapun
keutamaan dan hikmah yang terdapat dalam shalat berjamaah adalah seperti yang dituliskan dalam kumpulan kitab hadits Shahih Bukhary, diantaranya adalah:
ُثٌ ِد َح
ْنَع ُالله ًَ ِض َر َرَمُع ِنْبِا
ُل وُس َر َّنَأ : اَمُه
َلاَق َمَّلَس َو ِهٌَْلَع ُالله ىَّلَص ِالله
ْلا ِة َلَص ْنِم ُلَضْفَأ ِةَع اَم َجْلا ُة َلَص
ِّذَف
ًة َج َرَد َنٌ ِرْشِع َو ٍعْبَسِب
ىر اخبلا هاور(
)ىمرادلاو كلمو لبمح نب دمحأو ةج ام نباو ئاسنلاو ىذم رتلاو ملسمو
Artinya :“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Shalat berjamaah itu lebih baik dari mendirikan shalat secara bersendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa‟I, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Ad-Darimi). (Imam Musbikin. 2007, 307)
Dalam hadist yang lain di sebutkan juga bahwa :
ِبَأ ُثٌ ِدَح
ُالله ًَ ِض َر َةَرٌْ َرُه ً
ُل وُس َر َّنَأ : ُهْنَع
َلاَق َمَّلَس َو ِهٌَْلَع ُالله ىَّلَص ِالله
َو ْمُك ِد َحَأ ِة َلَص ْنِم ُلَضْفَأ ِةَع اَم َجْلا ُة َلَص
ْزُج نٌ ِرْشِع َو ٍةَسْمَخِب ُه َد ْح
اًء
نب دمحأو ةج ام نباو دواد وبأو ئاسنلاو ىذم رتلاو ملسمو ىر اخبلا هاور(
)ىمرادلاو كلمو لبمح
Artinya :“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: sembahyang berjamaah itu lebih baik dari mendirikan shalat secara bersendirian sebanyak dua puluh lima kali ganda.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa‟I, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Ad-Darimi). (Imam Musbikin, 2007, 307)
Berdasarkan dua hadits diatas penulis dapat memahami bahwa jika dipandang dari sisi pahalanya, sudah jelas dengan melaksanakan
shalat berjamaah kita akan mendapatkan keutamaan dan kemuliaan sebanyak dua puluh tujuh kali dan dua puluh lima kali ganda jika dibandingkan dengan melaksanakan shalat secara sendirian.
Imam Bukhari juga meriwayatkan hadist yang senada dengan hadist pertama dan kedua di atas :
وُس َر َلاَق ُهْنَع ُالله ًَ ِض َر َس وُم ًِبّأ ْنَع ِن ا َخٌَّْشلا ى َو َر
ُل
ِهٌَْلَع ُالله ىَّلَص ِالله
لا َمَظْعَأ َّنِإ َمَّلَس َو
ي ِزَّلا َو ْمُه ُدَعْب َأَف ىًشْمَم اَهٌَْلِإ ْمُه ُدَعْبَأ ِة َلَّصلا ًِفاًر ْجَأ ِس اَّن
ْعَأ ِماَمِلإْا َعَم اَهٌَِّلَصٌُ ىَّت َحَة َلَّصلا ُر ِظَتْنٌَ
َأ ُمَظ
اَهٌَِّلَصٌُ ي ِزلَّا ْنِم اًر ْج
َنٌَ َّمُث
ُم ا
)ىس وم ًبأو ملسمو ىر اخبلا هاور(
Artinya :Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Abu Musa r.a, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh orang yang paling besar pahalanya dalam mengerjakan shalat berjamaah adalah orang yang paling jauh rumahnya dari masjid. Orang yang menunggu dikerjakan shalat berjamaah, lalu mengerjakannya bersama imam, pahala lebih besar dari pada orang yang mengerjakannya (secara munfarid), lalu tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa).
Berdasarkan hadits diatas penulis dapat memahami bahwa secara tidak langsung memberikan pengetahuan kepada kita betapa pentingnya shalat berjamaah dimasa Rasulullah S.A.W. karena jika melihat dari segi historisnya hadist tersebut menjelaskan betapa shalat berjamaah itu menjadi suatu bentuk kebiasaan dikalangan para sahabat dan begitu kuat mengikat mereka.
Secara tersirat hadits diatas juga memberikan penjelasan pada kita tentang betapa tingginya peran shalat berjamaah sebagai sebuah
amalan ibadah memberi sebuah ciri khas dari sebuah agama dengan memegang prinsip dan pedoman untuk mengedepankan suatu kebersamaan.
36