Bahan ajar dibutuhkan untuk membantu dalam kegiatan belajar mengajar. Hamdani (2011: 120) mendefinisikan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan atau materi yang disusun secara sistematis yang digunakan untuk membantu guru atau instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Hasanah (2012: 152) menjelaskan “Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.” Sejalan dengan pendapat tersebut, Majid (2012:
173) menjelaskan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun yang tidak tertulis. Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2013: 171) menyatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat informasi yang harus diserap oleh peserta didik yang didapat melalui pembelajaran yang menyenangkan, sehingga peserta didik dapat merasakan manfaat materi yang telah dipelajarinya. Ismawati (2013: 35) menjelaskan bahwa bahan ajar adalah sesuatu yang mengandung pesan yang akan disajikan dalam proses belajar mengajar. Bahan ajar dikembangkan berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Lebih lanjut, Lestari (2013:
2) memberikan penjelasan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi pembelajaran yang mengacu pada kurikulum yang digunakan (silabus perkuliahan, silabus mata pelajaran, atau silabus mata diklat tergantung jenis
pendidikan yang diselenggarakan) dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disintesiskan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk baik bahan maupun materi yang dapat digunakan guru atau instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehingga tercipta suasana yang kondusif untuk belajar siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Siswa juga dapat merasakan manfaatnya setelah mendapatkan pembelajaran.
Di dalam bahan ajar bukan hanya terdapat materi pembelajaran, namun juga bahan pendukung lainnya. Majid (2012: 174) memberikan penjelasan bahwa dalam sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain: petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru), kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK), dan evaluasi. Hal-hal tersebut penting disertakan agar bahan ajar benar-benar matang dan mencakup segala hal. Berkaitan dengan bahan ajar sastra, Ismawati (2013: 35) menjelaskan bahwa bahan ajar sastra yang ideal adalah bahan yang autentik, artinya benar-benar berupa karya cipta sastra. Karya sastra tersebut dapat berupa puisi, cerpen, novel, drama yang ditulis oleh sastrawan atau bisa juga ditulis sendiri oleh guru.
Guru menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum. Hal ini dimaksudkan agar bahan ajar sesuai dengan karakteristik sasaran dan dapat menyelesaikan masalah belajar. Bahan ajar memiliki tujuan tertentu, Ahmadi, Sofan dan Tatik (2011: 208-209) menjelaskan bahwa bahan ajar disusun dengan tujuan:
1) Menyediakan bahan ajar yang sesuai kurikulum didasarkan pada pertimbangan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lingkungan sosial peserta didik.
2) Membantu peserta didik mendapatkan alternatif bahan ajar selain yang didapat dari buku teks.
3) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.
Berdasar uraian di atas, dapat disintesiskan bahwa bahan ajar bukan hanya mencakup materi pembelajaran, namun juga pendukung lain dalam proses pembelajaran. Kaitannya dengan bahan ajar sastra, bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran harus benar-benar karya sastra dan bahan ajar sastra tersebut dilengkapi dengan materi ajar serta bahan pendukung lainnya agar pembelajaran terlaksana dengan baik. Bahan ajar juga bermanfaat baik bagi guru maupun bagi siswa.
Pembelajaran geguritan termasuk cara untuk mengapresiasi karya sastra, khususnya membaca indah geguritan. Kata apresiasi berasal dari kata apreciatio yang berasal dari bahasa Latin yang mempunyai arti mengindahkan, menghargai. Kata apresiasi menurut Wisang (2014: 2) mempunyai arti sebuah proses kegiatan pengindahan, penikmatan, penjiwaan dan penghayatan terhadap puisi (geguritan) yang dilakukan secara individu dan momentan, subjektif dan eksistensial, rohani dan budiah, khusuk dan kafah dan intensif dan total supaya memperoleh sesuatu daripadanya sehingga dapat tumbuh, berkembang dan terpelihara kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan dan keterlibatan terhadap puisi (geguritan). Pembelajaran geguritan merupakan salah satu cara mengapresiasi karya-karya pengarang Jawa. Dengan mengapresiasi diharapkan siswa dapat mengambil pesan atau amanat yang disampaikan pengarang melalui karyanya. Pendapat ini diperkuat dengan jurnal yang berjudul Penerapan Model Explisit Instruction untuk Pembelajaran Membaca Indah Geguritan Siswa Kelas VII SMP Negeri 39 Semarang oleh Sabrina dan Yusro (2016: 35) yang menyatakan bahwa pembelajaran membaca indah adalah salah satu bentuk karya sastra yang diajarkan guru kepada siswa dengan tujuan agar siswa dapat mengetahui, memahami dan mengapresiasi geguritan yang telah diajarkan oleh guru.
b. Karakteristik Bahan Ajar
Pemilihan bahan ajar harus memperhatikan aspek-aspek tertentu, misalnya tentang isi bahan ajar tersebut. Sudah tepat belum jika disampaikan di kelas sekian. Materinya terlalu berat atau tidak, bahasanya bisa dipahami atau tidak dan hal-hal lainnya. Berkaitan dengan karakteristik bahan ajar, Ismawati (2013: 35) menjelaskan bahwa dalam memilih bahan ajar, yang harus dipertimbangkan diantaranya: (1) Materi harus spesifik, jelas, akurat, mutakhir.
(2) Materi harus bermakna, otentik, terpadu, berfungsi, kontekstual, komunikatif. (3) Materi harus mencerminkan kebhinekaan dan kebersamaan, pengembangan budaya, ipteks, dan pengembangan kecerdasan berpikir, kehalusan perasaan, kesantunan sosial.
Selain Ismawati, Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2013: 172) juga menyatakan bahwa kriteria bahan ajar, antara lain: (1) Relevan dengan standar kompetensi mata pelajaran dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa, (2) Bahan ajar berisi pembelajaran dan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar, (3) Memberikan motivasi bagi peserta didik, (4) Berkaitan deng bahan sebelumnya, (5) Bahan disusun secara sistematis, (6) Praktis, (7) Bermanfaat bagi siswa, (8) Sesuai perkembangan zaman, (9) Dapat diperoleh dengan mudah, (10) Menarik minat siswa, (11) Ilustrasi menarik hati siswa, (12) Mempertimbangkan aspek linguistik sesuai dengan kemampuan peserta didik, (13) Berhubungan dengan mata pelajaran lain, (14) Menstimulasi aktivitas pribadi peserta didik, (15) Menghindari konsep yang samar, (16) Mempunyai sudut pandang yang jelas, (17) Membedakan bahan ajar bagi dewasa dan anak (18) Menghargai perbedaan pribadi siswa. Guru dalam memilih bahan ajar seharusnya memperhatikan hal-hal di atas agar bahan ajar yang digunakan sesuai.
Sastra Jawa tidak begitu menarik minat siswa. Karena hal tersebut guru harus pandai-pandai memilih bahan ajar yang kiranya dapat menarik minat siswa serta dapat mengasah kecerdasan berpikirnya sehingga memiliki kehalusan perasaan dan kesantunan sosial. Bahan ajar berdasar jenisnya ada 4, sebagaimana dijelaskan oleh Ahmadi, Sofan dan Tatik (2011: 210), yaitu:
1) Bahan ajar pandang (visual) yang terdiri dari bahan cetak (printed) antara lain buku, modul, LKS, brosur, foto/gambar, hand out, leaflet, wallchart dan noncetak (non printed) seperti model/maket.
2) Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam dan compact disk audio.
3) Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk dan film.
4) Bahan ajar multimedia interaktif seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif dan bahan ajar berbasis web.
Pemilihan bahan ajar tersebut harus disesuaikan dengan materi yang hendak diajarkan. Dipilih bahan ajar mana yang sekiranya cocok untuk digunakan dalam pembelajaran. Pemilihan tersebut harus mempertimbangkan karakteristik serta efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Berdasar uraian di atas, dapat disintesiskan bahwa dalam pemilihan bahan ajar sastra harus mempertimbangkan kriteria tertentu. Kriteria tersebut harus didasarkan kurikulum, selain itu juga diharapkan dapat mengembangkan karakter siswa.
c. Fungsi Bahan Ajar
Bahan ajar sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini dikarenakan bahan ajar mempunyai fungsi penting dalam pembelajaran. Secara garis besar, bahan ajar bagi guru berfungsi untuk mengarahkan semua aktivitas dalam proses pembelajarannya sekaligus substansi kompetensi yang harus diajarkan kepada siswa. Bagi siswa bahan ajar berfungsi sebagai pedoman dalam proses pembelajaran dan merupakan substansi kompetensi yang harus dipelajarinya. Hamdani (2011: 121) dan Hasanah (2012: 154) memberikan penjelasan tentang fungsi bahan ajar.
1) Pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.
2) Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran sekaligus substansi kompetensi yang seharusnya dikuasainya.
3) Alat evaluasi pencapaian dan penguasaan hasil pembelajaran yang telah dilakukan.
Bahan ajar selain sebagai pedoman bagi guru maupun siswa dalam proses belajar mengajar, juga memiliki fungsi sebagai alat evaluasi ketercapaian pembelajaran yang telah dilakukan guru. Bahan ajar digunakan untuk mengetahui apakah pembelajaran yang dilakukan guru sudah berhasil atau belum. Jika sudah bagaimana mempertahankannya dan jika belum bagaimana memaksimalkan pembelajaran tersebut agar anak mendapat hasil baik. Berkaitan dengan fungsi bahan ajar, Prastowo (2012: 24-26 menjelaskan bahwa fungsi pembuatan bahan ajar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fungsi bahan ajar menurut pihak yang memanfaatkan bahan ajar dan fungsi bahan ajar menurut strategi pembelajaran yang digunakan.
Fungsi bahan ajar menurut pihak yang memanfaatkan bahan ajar dibedakan menjadi dua macam, yaitu fungsi bagi pendidik dan fungsi bagi peserta didik.
1) Fungsi bahan ajar bagi pendidik:
a) Menghemat waktu pendidik dalam mengajar.
b) Mengubah peran pendidik dari seorang pengajar menjadi fasilitator.
c) Meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif.
d) Pedoman bagi pendidik untuk mengarahkan semua aktivitas proses pembelajaran dan merupakan substansi kompetensi yang harus diajarkan kepada peserta didik.
e) Sebagai alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.
2) Fungsi bahan ajar bagi peserta didik:
a) Peserta didik dapat belajar tanpa harus ada pendidik atau teman peserta didik yang lain.
b) Peserta didik dapat belajar kapan saja dan di mana saja sesuai kehendaknya.
c) Peserta didik dapat belajar sesuai kecepatannya masing-masing.
d) Peserta didik dapat belajar menurut urutan yang dipilihnya sendiri.
e) Membantu potensi peserta didik untuk menjadi pelajar yang mandiri.
f) Sebagai pedoman peserta didik untuk mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajarinya.
Fungsi bahan ajar menurut strategi pembelajaran yang digunakan, fungsi bahan ajar dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu fungsi dalam pembelajaran klasikal, fungsi dalam pembelajaran individual dan fungsi dalam pembelajaran kelompok.
1) Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran klasikal:
a) Satu-satunya sumber informasi, pengawas dan pengendali proses pembelajaran.
b) Bahan pendukung proses pembelajaran yang diselenggarakan.
2) Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran individual:
a) Media utama dalam proses pembelajaran.
b) Alat yang digunakan untuk menyusun dan mengawasi proses peserta didik memperoleh informasi.
c) Penunjang media pembelajaran individual lainnya.
3) Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran kelompok:
a) Bahan yang terintegrasi dengan proses belajar kelompok. Memberikan informasi tentang latar belakang materi, informasi tentang keterlibatan/peran siswa dalam belajar kelompok serta petunjuk tentang proses pembelajaran kelompok itu sendiri.
b) Bahan pendukung bahan belajar utama dan dirancang sedemikian rupa untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disintesiskan bahwa bahan ajar menjadi pedoman untuk mengarahkan seluruh proses pembelajaran sekaligus menjadi substansi yang harus dipelajari oleh siswa. Bahan ajar juga menjadi tolok ukur penguasaan siswa terhadap materi tertentu. Karena hal tersebut, selain materi yang diajarkan guru, bahan ajar juga harus dilengkapi dengan alat evaluasi
seperti soal atau lembar kegiatan untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang telah diajarkan oleh guru.
Bahan ajar pembelajaran juga perlu dikembangkan. Pengembangan bahan ajar merupakan salah satu pengembangan kurikulum. Ismawati (2013: 38) menjelaskan bahwa pengembangan bahan ajar didasarkan pada:
1) Berorientasi pada tujuan, pengembangan bahan ajar dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan kurikulum mencapai jenjang tertentu dengan empat aspek, yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai.
2) Relevansi, pengembangan bahan ajar yang meliputi tujuan, isi, dan sistem, harus relevan dengan kebutuhan siswa, kondisi masyarakat, dan sejalan dengan perkembangan ipteks.
3) Efisien dan efektivitas, baik dari segi waktu, dana, SDM yang ada dapat mencapai hasil yang optimal.
4) Fleksibilitas, mudah disesuaikan, diubah, dilengkapi, dikurangi, ditambah sesuai dengan kebutuhan, tidak statis dan kaku.
5) Kontinuitas (kesinambungan), bahan ajar disusun berkesinambungan, berurutan dan memiliki pertalian fungsional. Bahan ajar tidak terlepas sendiri-sendiri atau seolah-olah berdiri sendiri-sendiri.
6) Keseimbangan: antara program dan subprogram. Antara aspek-aspek perilaku yang ingin dikembangkan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap).
Keseimbangan antara teori dan praktik.
7) Keterpaduan: keterpaduan dalam proses pembelajaran yang mencakup interaksi antarsiswa dan guru. Keterpaduan antara teori dan praktik.
8) Mutu: berorientasi pada pendidikan mutu. Pembelajaran bermutu ditentukan oleh kualitas guru, kualitas kegiatan belajar mengajar, peralatan dan sarana prasarana yang ada.
9) Adekuasi (kecukupan): materi cukup untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Pengembangan bahan ajar sastra Jawa dilakukan untuk menggali nilai-nilai yang terkandung dalam sastra Jawa, dalam hal ini yaitu geguritan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan budi pekerti yang dapat dijadikan sebagai
bahan ajar bahasa Jawa di SMA. Berdasarkan uraian di atas, dapat disintesiskan bahwa bahan ajar perlu dikembangkan untuk menambah kualitas mutu pendidikan sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.