KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kerangka Teori
2.1.3. Hakikat Belajar dan Pembelajaran
2.1.3.1. Pengertian Belajar
Gagne dalam Rifai (2009: 82) mengungkapkan belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal proses pertumbuhan.
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil
35 pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya . Adapun ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam belajar adalah
1) Terjadi secara sadar
Ini berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadinya adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2) Bersifat kontinu dan fungsi onal
Sebagai hasi belajar, perubahan terjadi secara berkesinambungan dan tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya
3) Bersifat positif dan aktif
Positif dimaknai perubahan-perubahan yang terjadi senantiasa bertamabah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Aktif dimaknai perubahan yang terjadi tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena ada usaha individu sendiri. (Slameto 2010: 2)
Menurut teori belajar kontruktivis menjelaskan bahwa belajar merupakan proses aktif siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dengan cara membuat “link” antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengetahuan yang sedang dipelajari melalui interaksi dengan yang lain. (Lapono 2008: 25)
Berdasarkan pengertian belajar dari beberapa ahli di atas, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa belajar pada hakikatnya merupakan proses usaha sadar dilakukan individu sehingga timbul perubahan perilaku yang relatif dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik dan diperoleh melalui interaksi
36 dengan lingkungan. Perubahan perilaku merupakan hasil belajar terjadi secara sadar, bersifat kontinu, relatif menetap, dan mempunyai tujuan terarah pada kemajuan yang progresif.
2.1.3.2. Teori Belajar
Lapono (2008: 1.3) mengemukakan keberhasilan sebagai seorang guru dalam mengelola pembelajaran di SD/MI sangat ditentukan oleh pemahaman tentang teori-teori belajar dan implikasi pedagogiknya Adapun teori belajar yang mendasari strategi pembelajaran kreatif produktif melalui media audio visual adalah sebagai berikut :
2.1.3.2.1. Teori Belajar Kognitivisme
Teori belajar kognitivisme Piaget (Rifa’i 2009:25) mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar merupakan interaksi antara individu dan lingkungan, dan hal itu terjadi terus-menerus sepanjang hayatnya. Kognisi adalah suatu perabot dalam benak kita yang merupakan “pusat” penggerak berbagai kegiatan kita: mengenali lingkungan, melihat berbagai masalah, menganalisis berbagai masalah, mencari informasi baru, menarik simpulan dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan dalam pembelajaran strategi kreatif produktif ini terjadi proses belajar karena adanya interaksi dengan lingkungan dimana siswa berinteraksi dengan guru dan siswa dalam rangka mendapatkan informasi dan bertukar pikiran
Strategi pembelajaran kreatif produktif ini melalui media audio visual ini sesuai dengan teori kognitif, karena dalam siswa melakukan proses berfikir
37 kognisi dalam tahap eksplorasi dan tahap interpretasi. Pada tahap eksplorasi inilah siswa mencari data, membaca dan melakukan observasi. Sedangkan dalam tahap interpretasi siswa akan menganalisi masalah yang muncul dengan cara bertukar pikiran dengan temannya dalam diskusi.
4.1.3.2.1. Teori Belajar Konstruktivisme
Vigotsky dalam Rifa’i (2009 : 226) menyatakan bahwa dalam teori belajar konstruktivisme siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide.
Keaktifan peserta didik menjadi syarat utama dalam pembelajaran konstruktivisme Konsep dasar belajar menurut teori belajar konstruktivisme yakni pengetahuan baru dikonstruksi sendiri oleh peserta didik secara aktif berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya. Peranan guru hanya sebagai fasilitator atau pencipta kondisi belajar yang memungkinkan peserta didik secara aktif mencari sendiri informasi, mengasimilasi dan mengadaptasi sendiri informasi, dan mengkonstruksinya menjadi pengetahuan yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki masing-masing. Dengan kata lain, dalam pembelajaran konstruktivisme peserta didik memegang peran kunci dalam mencapai kesuksesan belajarnya, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator (Lapono 2008:1-26).
38 Teori belajar konstruktivisme mendukung strategi pembelajaran kreatif produktif ini melalui media audio visual karena dalam proses pembelajaran siswa akan diberikan stimulus oleh guru baik berupa strategi belajar, penciptaan lingkungan belajar dan media pembelajaran agar siswa membangun pengetahuan sendiri apa yang ada dalam pikirannya
4.1.3.2.1. Teori Belajar Behaviorisme
Teori Behaviorisme didasarkan pada pemikiran Skinner (1985) bahwa belajar merupakan salah satu jenis perilaku (behavior) individu atau peserta didik yang dilakukan secara sadar (dalam Rifa’i 2009:106). Individu berperilaku apabila ada rangsangan (stimuli), sehingga dapat dikatakan peserta didik di SD/MI akan belajar apabila menerima rangsangan dari guru. Semakin tepat dan intensif rangsangan yang diberikan oleh guru akan semakin tepat dan intensif pula kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Dalam belajar tersebut kondisi lingkungan berperan sebagai perangsang (stimulator) yang harus direspon individu dengan sejumlah konsekuensi tertentu. Konsekuensi yang dihadapi peserta didik, ada yang bersifat positif (misalnya perasaan puas, gembira, pujian, dan lain-lain sejenisnya) tetapi ada pula yang bersifat negatif (misalnya perasaan gagal, sedih, teguran, dan lain-lain sejenisnya). Konsekuensi positif dan negatif tersebut berfungsi sebagai penguat (reinforce) dalam kegiatan belajar peserta didik (Lapono 2008 :1-15).
Teori behavioristik mendukung pembelajaran dengan strategi pembelajaran kreatif-produktif melalui media audio visual ini karena dalam pembelajaran TPS ini siswa akan diberikan rangsangan oleh guru berupa media
39 audio visual agar respon siswa terhadap pembelajaran akan semakin meningkat. Selain itu dengan strategi pembelajaran kreatif-produktif melalui media audio visual ini siswa dikondisikan dalam suatu prosedur pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk menganilisis masalah yang ada kemudian mendiskusikan dan mengkreasikan hasil diskusi kelas ke dalam suatu hal yang berupa kreativitas.
2.1.3.3. Pengertian Pembelajaran
Menurut Suprijono (2010 : 11-13) pembelajaran merupakan terjemahan dari learning yang mempunyai makna leksikal berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Pada pembelajaran guru mengajar diartikan sebagai upaya guru mengorganisir lingkungan terjadinya pembelajaran. Guru mengajar dalam perspektif pembelajaran adalah guru menyediakan fasilitas belajar bagi peserta didiknya untuk mempelajarinya. Jadi subjek pembelajaran yaitu peserta didik. Pembelajaran berpusat pada peserta didik, pembelajaran adalah dialog interaktif, pembelajaran merupakan proses organik dan konstruktif.
Gagne dalam Rifa’i (2009 :193) mengemukakan pembelajaran merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individual, yang merubah stimuli dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi, yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam jangka panjang Lapono (2008: 2.30) mengatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu upaya untuk mencapai tujuan atas kompetensi yang harus dikuasai siswa.
Menurut UU No. 20/2003, Bab I Pasal 1 Ayat 20 pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
40 lingkungan belajar. Melihat hal tersebut dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas peserta didik, sumber belajar, dan pendidik.
Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli mengenai pembelajaran, peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari pendidik untuk membuat siswa melakukan proses belajar sehingga timbul perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar karena adanya interaksi dengan lingkungannya yang memungkinkan terjadinya peningkatan kualitas pembelajaran yang optimal.