• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Manfaat Hasil Penelitian

3. Hakikat KBK dan KTSP

Kurikulum ditinjau dari asal katanya berasal dari bahasa Yunani, yakni kata

currere yang berarti jarak tempuh lari. Istilah ini mula-mula digunakan dalam

bidang olah raga (Subandijah dalam Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, 2007: 23). Pendapat yang sama dikemukakan oleh Syafruddin Nurdin (dalam Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, 2007: 23-24) yang mengemukakan bahwa kurikulum dijumpai dalam dunia atletik pada zaman Yunani kuno yang berasal dari kata

curir yang artinya pelari dan curere artinya tempat berpacu atau tempat berlomba,

sedangkan curriculum berarti “jarak” yang harus ditempuh oleh pelari.

Dari istilah-istilah di atas kemudian kurikulum mengalami perpindahan arti ke dunia pendidikan. Terkait dengan dunia pendidikan, kurikulum berarti jalan terang yang dilalui pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka (Al-Syaibany dalam Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, 2007: 24).

commit to user

Pada awalnya, menurut pandangan tradisional kurikulum diartikan dengan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah (Oemar Hamalik dalam Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, 2007: 24). Karena pernyataan tersebut mempunyai implikasi bahwa mata pelajaran pada hakikatnya pengalaman masa lampau yang tujuannya adalah untuk memperoleh ijazah, maka muncullah pengertian kurikulum menurut pandangan modern. Munculnya pengertian kurikulum menurut pandangan modern dikarenakan kurikulum dipandang tidak hanya sebatas sebagai seperangkat mata pelajaran atau bidang studi tetapi sudah menjadi bekal para lulusan untuk dapat menjawab tuntutan masyarakat.

Dalam perkembangannya, pengertian kurikulum menurut Oemar Hamalik di atas pun berubah. Kurikulum tidak hanya sekadar seperangkat mata pelajaran saja. Lebih lanjut, Oemar Hamalik (2006: 91) menyatakan bahwa kurikulum adalah rencana tertulis tentang kemampuan yang harus dimiliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu dipelajari dan pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan tersebut, dan evaluasi yang perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian kemampuan peserta didik, serta seperangkat peraturan yang berkenaan dengan pengalaman belajar peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya pada satuan pendidikan tertentu. Pengertian kurikulum pada Bab I Ketentuan Umum Pasal 1, poin 19 di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

commit to user

pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Rumusan kurikulum dalam Sistem Pendidikan Nasional lebih spesifik mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut:

a. kurikulum merupakan suaru rencana/perencanaan;

b. kurikulum merupakan pengaturan, berarti mempunyai sistematika dan struktur tertentu;

c. kurikulum memuat/berisikan isi dan bahan pelajaran, menunjuk kepada perangkat mata ajaran atau bidang pengajaran tertentu;

d. kurikulum mengandung cara, atau metode atau strategi penyampaian

pengajaran;

e. kurikulum merupakan pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar;

f. kendatipun tidak tertulis, namun telah tersirat di dalam kurikulum, yakni kurikulum dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan;

g. berdasarkan butir 6, maka kurikulum sebenarnya adalah suatu alat pendidikan. (Oemar Hamalik, 2008: 91-92).

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 poin 19 yang di dalamnya mencakup pengertian kurikulum, Mulyasa juga mengemukakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pegaturan mengenai tujuan, kompetensi dasar, materi standar, dan hasil belajar, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar dan tujuan pendidikan (Mulyasa, 2009: 22). Lebih lanjut, pembahasan mengenai pengembangan kurikulum terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang

commit to user

Sistem Pendidikan Nasional Bab X Pasal 36 mengenai kurikulum. Pengembangan kurikulum harus berdasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang berlaku (Abdullah Idi, 2007: 138). Dalam pasal 36 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional

pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan

memperhatikan: (a) peningkatan iman dan takwa; (b) peningkatan akhlak mulia; (c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan; (e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; (f) tuntutan dunia kerja; (g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (h) agama; (i) dinamika perkembangan global; dan (j) persatuan nasional dan nilai- nilai kebangsaan. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

Teori kurikulum sebagai suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah. Makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan, dan evaluasi kurikulum (Nana Syaodih Sukmadinata, 1999: 27). Dengan kata lain, kurikulum adalah seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat latihan (David Pratt dalam Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, 2007: 25). Kurikulum tersebut merupakan suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu (Winarno dalam Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, 2007: 26).

commit to user

Kurikulum menjadi pengalaman peserta didik baik di sekolah maupun di luar sekolah di bawah bimbingan sekolah. Oleh karena itu, kurikulum tidak hanya terbatas pada mata pelajaran, tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik, dan bisa menentukan arah atau mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi (Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, 2007: 27). Dengan demikian, kurikulum menunjukkan kepada apa yang sebenarnya harus dipelajari oleh peserta didik.

Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dinamis. Kurikulum harus selalu dikembangkan dan disempurnakan sehingga sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta masyarakat yang sedang membangun (Abdullah Idi, 2007: 138). Sizmur (1997: 135) menyatakan bahwa

“the curriculum was to promote were conceived as attainment targets, and these were to accommodate the entire range of progress expected between the ages of

five and sixteen” (kurikulum untuk meningkatkan, dimana pemahaman sebagai

target yang dicapai, dan penyesuaian kurikulum tersebut mengharapkan peningkatan yang lengkap dari jarak waktu lima sampai enam belas tahun).

Terkait dengan kurikulum ini, Hartley (1998: 70) mengemukakan bahwa

“Meanwhile, within teacher education, constructivist pedagogy was applied by academics to those very trainee teachers who might themselves come to apply it later in the school, albeit within the confines of the National Curriculum”

(Sementara itu, dengan pendidikan guru, membangun pengajaran dengan menerapkan akademik itu sangat melatih guru-guru yang mungkin dari mereka

commit to user

baru datang di sekolah untuk menerapkan pengajaran itu, meskipun dengan pembatasan dari kurikulum nasional).

Posner (1995: 5) mengemukakan bahwa “A curriculum is the content or objectives for which schools hold students accountable. Other claim that a

curriculum is the set of instructional strategies teachers plan to use” (Sebuah

kurikulum adalah isi atau objektif yang memegang tanggung jawab siswa di sekolah-sekolah. Tuntutan lain dari suatu kurikulum adalah perangkat instruksional dari penggunaan strategi perencanaan guru-guru).

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan suatu program yang dikembangkan dan dilaksanakan dalam lingkungan suatu institusi pendidikan yang berisi seperangkat rencana tertulis yang di dalamnya memuat pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Seperangkat rencana tertulis di dalam kurikulum antara lain berisi kemampuan yang harus dimiliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu dipelajari dan pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan tersebut, evaluasi yang perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian kemampuan peserta didik, dan seperangkat peraturan yang berkenaan dengan pengalaman belajar peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya pada satuan pendidikan tertentu.

b. Implementasi Kurikulum

Nunan (dalam Graves, 1996: 3) menyatakan bahwa “three ways in which the notion of curriculum has been interpreted by teachers: as a product or set of

commit to user

items to be taught, as a process for deriving materials and methodology, and as the planning (as opposed to the implementation or evaluation) phase of a

program [tiga cara pemahaman kurikulum yang hendaknya ditafsirkan oleh guru-

guru: sebagai suatu hasil atau perangkat dari pokok mengajar, sebagai suatu proses untuk memperoleh bahan dan metodologi, dan sebagai tahap rencana (sebagai tantangan untuk implementasi atau evaluasi) dari suatu program]”.

Ketiga cara dipahaminya kurikulum yang disampaikan Nunan di atas diterapkan dalam pembelajaran yang nyata yang sering disebut dengan implementasi kurikulum.

Implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan sikap (Muhammad Joko Susilo, 2007: 174).

Implementasi kurikulum adalah suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan (Muhammad Joko Susilo, 2007: 174-175). Implementasi kurikulum tertulis dalam bentuk pembelajaran.

Implementasi kurikulum adalah operasional konsep kurikulum yang masih bersifat potensial (tertulis) menjadi aktual dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Implementasi kurikulum merupakan hasil terjemahan guru terhadap kurikulum sebagai rencana tertulis yang sedikitnya dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni karakteristik kurikulum, strategi implementasi, dan karakteristik pegguna

commit to user

kurikulum (Hasan dalam Muhammad Joko Susilo, 2007: 175). Mars (dalam Muhammad Joko Susilo, 2007: 176) menyatakan tiga faktor yang memengaruhi implementasi kurikulum, yaitu dukungan kepala sekolah, dukungan rekan sejawat guru, dan dukungan internal yang datang dari dalam diri guru sendiri. Secara garis besar, implementasi kurikulum mencakup tiga kekuatan pokok, yakni pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi (Muhammad Joko Susilo, 2007: 176).

Dampak atau akibat dari implementasi kurikulum dinyatakan Posner (1995: 201) sebagai berikut. The influence of a perspective on curriculum extends beyond the official curriculum itself. A perspective also influences the process of

implementation. There are two coherent approaches to curriculum

implementation, one based on a behavioral perspective, the other based on an

experiential perspective (Dampak dari sebuah perspektif pada kurikulum lebih

menyampaikan kurikulum resmi itu sendiri. Sebuah perspektif juga berdampak pada proses dari implementasi. Ada dua pendekatan yang berhubungan dari implementasi kurikulum, dasar satu pada perspektif tingkah laku, dasar lain pada perspektif pengalaman”.

Implementasi kurikulum sangat ditentukan oleh guru. Apabila guru tidak melaksanakan tugas dengan baik maka hasil implementasi kurikulum (pembelajaran) tidak akan memuaskan.

Hoover and James (1997: 41) mengemukakan bahwa “Once teachers have

identified the specific curricular needs of their students and which curriculum adaptations to make, they are confronted with the challenge of actually

commit to user

implementing these adaptations. Effective implementation begins with the selection of teaching and behavior management techniques to address the needs associated with the curricular elements. The four curricular elements are content,

instructional strategies, instructional settings, and student behaviors” (Masing-

masing guru mengidentifikasi kebutuhan kurikulum khusus dari siswa-siswa mereka dan membuat penyesuaian kurikulum, guru menghadapkan dengan

penyesuaian tantangan implementasi yang sesungguhnya. Keefektifan

implementasi dimulai dengan seleksi pengajaran dan teknik managemen tingkah laku untuk menunjukkan kebutuhan teman sejawat dengan elemen kurikulum. Empat elemen kurikulum adalah isi, strategi instruksional, pengaturan instruksional, dan ingkah laku siswa.

Dari beberapa pengertian mengenai implementasi kurikulum di atas, maka dapat disimpulkan bahwa implementasi kurikulum adalah suatu penerapan ide, kebijakan, dan konsep kurikulum yang masih bersifat potensial (tertulis) menjadi aktual dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Faktor yang memengaruhi implementasi kurikulum antara lain dukungan kepala sekolah, dukungan rekan sejawat guru, dan dukungan internal yang datang dari dalam diri guru sendiri.

c. Hakikat Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Dasar dari lahirnya KTSP adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Aplikasi atau penerapan KBK adalah KTSP. Kompetensi yang merupakan bagian kata dari KBK merupakan hal terpenting yang harus dicapai dalam KBK. Kompetensi perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Mulyasa, 2005: 37-38).

commit to user

Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya (McAshan dalam Mulyasa, 2005: 38). Senada dengan hal tersebut, Finch & Crunkilton (dalam Mulyasa, 2005: 38) mengemukakan bahwa kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Kompetensi ini mencakup tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Dengan demikian terdapat hubungan antara tugas-tugas yang dipelajari peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja. Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai, sebagai wujud hasil belajar peserta didik yang mengacu pada pengalaman langsung. Untuk itu, kurikulum menuntut kerja sama yang baik antara pendidikan dengan dunia kerja, terutama dalam mengidentifikasi dan menganalisis kompetensi yang perlu diajarkan kepada peserta didik di sekolah.

Gordon (dalam Mulyasa, 2005: 38) menjelaskan beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi adalah sebagai berikut.

1. Pengetahuan, yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.

2. Pemahaman, yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. 3. Kemampuan, adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan

commit to user

4. Nilai, adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang.

5. Sikap, yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar.

6. Minat, adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Dalam hubungannya dengan pembelajaran, kompetensi menunjuk kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar (Mulyasa, 2005: 40). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan indikator yang menunjuk kepada perbuatan yang bisa diamati, dan sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh. Kompetensi tersebut terbentuk secara transaksional, bergantung pada kondisi- kondisi dan pihak-pihak yang terlibat secara aktual.

Berdasarkan definisi kompetensi di atas, maka dapat diartikan bahwa KBK adalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa, 2005: 39). KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.

KBK memfokuskan pada pemerolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik. Oleh karena itu kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi,

commit to user

dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan. Kegiatan pembelajaran perlu diarahkan untuk membantu peserta didik menguasai sekurang-kurangnya tingkat kompetensi minimal, agar mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Sesuai dengan konsep belajar tuntas dan pengembangan bakat, setiap peserta didik harus diberi kesempatan untuk mencapai tujuan sesuai dengan kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing (Mulyasa, 2005: 40).

KBK menuntut guru yang berkualitas dan profesional untuk melakukan kerja sama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun demikian, konsep ini tentu saja tidak dapat digunakan sebagai resep untuk memecahkan semua masalah pendidikan, namun dapat memberi sumbangan yang cukup signifikan terhadap perbaikan pendidikan (Mulyasa, 2005: 40).

Tiga landasan teoretis yang mendasari KBK, yakni (1) adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual; (2) pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning) atau belajar sebagai penguasaan

(learning for mastery) adalah suatu falsafah pembelajaran yang mengatakan

bahwa dengan sistem pembelajaran yang tepat, semua peserta didik dapat mempelajari semua bahan yang diberikan dengan hasil yang baik; dan (3) pendefinisian kembali terhadap bakat.

Landasan teoretis di atas memberikan beberapa implikasi terhadap pembelajaran, yakni (1) pembelajaran perlu lebih menekankan pada kegiatan individual meskipun dilaksanakan secara klasikal, dan perlu memperhatikan

commit to user

perbedaan peserta didik; (2) perlu diupayakan lingkungan belajar yang kondusif, dengan metode dan media yang bervariasi, sehingga memungkinkan setiap peserta didik belajar dengan tenang dan menyenangkan; dan (3) dalam pembelajaran perlu diberikan waktu yang cukup, terutama dalam penyelesaian tugas atau praktik, agar setiap peserta didik dapat mengerjakan tugas belajarnya dengan baik (Mulyasa, 2005: 41).

Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan KBK menurut Ashan (dalam Mulyasa, 2005: 41) adalah penetapan kompetensi yang akan dicapai, pengembangan strategi untuk mencapai kompetensi, dan evaluasi.

Depdiknas (dalam Mulyasa, 2005: 42) mengemukakan bahwa KBK memiliki karakteristik sebagai berikut.

1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang

bervariasi.

4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Lebih rinci dapat diidentifikasikan enam karakteristik KBK, yaitu (1) sistem belajar dengan modul; (2) menggunakan keseluruhan sumber belajar; (3)

commit to user

pengalaman lapangan; (4) strategi individual personal; (5) kemudahan belajar; dan (6) belajar tuntas (Mulyasa, 2005: 43).

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa KBK adalah seperangkat kurikulum yang menekankan perolehan kompetensi- kompetensi tertentu pada peserta didik. KBK menjadi dasar lahirnya KTSP. Dengan kata lain, KTSP merupakan aplikasi atau penerapan dari KBK.

d. Hakikat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Di dalam dunia pendidikan, kurikulum yang saat ini digunakan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP pada dasarnya merupakan aplikasi atau penerapan dari KBK (Kurikulum 2004) di tingkat satuan pendidikan. KTSP ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 1 ayat 15 sebagai “kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan”. Dengan demikian yang dimaksud dengan KTSP adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan di bawah pengawasan dan pembinaan dinas pendidikan (Hamid Hasan, 2008: 119).

KTSP adalah kurikulum yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan (Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, 2007: 79). Lebih jelas, Mulyasa (2006: 8) menyatakan bahwa KTSP adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. KTSP ini terdiri dari tujuan pendidikan tingkat

commit to user

satuan pendidikan, struktur, dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

Dalam Badan Standar Nasional Pendidikan Pasal 1 Ayat 15 dinyatakan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan silabus di sekolah atau madrasah dikembangkan berdasarkan kerangka dasar kurikulum, yakni Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) di bawah supervisi dinas kabupaten/ kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan di SD, SMP, SMA, dan SMK, serta Departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Untuk pengembangan KTSP itu sendiri dilakukan oleh guru, kepala sekolah, komite sekolah, dan dewan pendidikan.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar

Nasional Pendidikan (SNP), Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

(Permendiknas) Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI), Permendiknas Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi (SI) dan

commit to user

Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), maka setiap satuan

pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kurikulum yang

diimplementasikan di satuan pendidikan masing-masing. Berdasarkan landasan pengembangan KTSP tersebut, guru hendaknya mengembangkan sendiri KTSP di satuan pendidikannya. Dengan demikian KTSP disusun sebagai upaya untuk menyempurnakan kurikulum agar lebih familiar dengan guru, karena dalam hal ini guru banyak dilibatkan dan diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai.

Pengakuan terhadap kedudukan guru sebagai tenaga profesional merupakan bagian dari pembaharuan sistem pendidikan nasional yang diharapkan dapat menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, cerdas, maju, sejahtera, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, dalam pengembangan KTSP perlu memperhatikan upaya-upaya untuk memaksimalkan fungsi dan peran strategis guru yang meliputi: (1) penegakan hak dan kewajiban guru sebagai tenaga professional; (2) pembinaan dan pengembangan profesi guru; (3) perlindungan hukum; (4) perlindungan profesi; serta (5) perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam KTSP adalah sebagai berikut. (a) KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan

karakteristik daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik;

(b) Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar

commit to user

kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama yang bertanggung jawab di bidang pendidikan;

(c) KTSP untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

Menurut Siskandar (dalam Mimin Haryati, 2007: 5) ciri-ciri KTSP antara lain: (a) menekankan pada ketercapaian siswa baik secara individual maupun klasikal; (b) berorientasi pada hasil dan keberagaman; (c) penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi; (d) sumber belajar bukan hanya guru tetapi sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif; dan (e) penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan suatu kompetensi.

Alasan-alasan yang menghendaki agar KTSP diterapkan oleh setiap satuan pendidikan adalah karena:

(1) sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya;

(2) sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input

Dokumen terkait