• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Manfaat Penelitian

4. Hakikat Kecerdasan Emosional

Setiap manusia memiliki kecerdasan emosional, akan tetapi kecerdasan emosi yang dimiliki manusia tersebut berbeda-beda antara manusia satu dengan manusia lainnya. Emosi terkadang datang secara tidak stabil, maka dari itu seseorang perlu sekali memiliki kecerdasan emosional untuk mengelola dirinya, agar mampu mengolah emosi-emosi yang timbul, baik itu emosi buruk mapun emosi baik. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan orang dalam

mengelola berbagai bentuk emosi yang timbul di dalam dirinya. Sebelum membahas mengenai kecerdasan emosional, kita harus tahu apa itu kecerdasan dan apa itu emosi.

a. Kecerdasan

Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengelola sesuatu sesuai dengan porsinya, baik dalam mengelola emosi maupun intelektualnya. Feldam (1992: 251) mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berpikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan pada tantangan. Sejalan dengan ini Wechsler (dalam Uno, 2006: 36) mengemukakan bahwa inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif. Selain itu Uno (2006: 36) menyebutkan bahwa kecerdasan merupakan kekuatan aau kemampuan untuk melakukan sesuatu.

Selain itu, kecerdasan atau kekuatan-kekuatan ini dibagi menjadi beberapa bagian oleh para ahli psikologi. Binnet dan Simor (1996: 34) mengemukakan bahwa kecerdasan terbagi menjadi tiga komponen yaitu (1) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau tindakan; (2) kemampuan untuk mengubah arah tindakan apabila tindakan tersebut telah dilaksanakan; (3) kemampuan untuk mengubah diri sendiri. Gerdner (2003: 34) berpendapat kecerdasan kemampuan menyelesaikan masalah atau menciptakan produk metode yang merupakan konsekuensi dalam suasana budaya atau masyarakat tertentu. Ia pun berpendapat bahwa „kecerdasan‟ tidak hanya di ukur dari skor tes standar, akan tetapi

kecerdasan sebagai (1) kemampuan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan manusia (2) kemampuan menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan dan (3) kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.

Berdasarkan pernyataan di atas, kecerdasan merupakan totalitas kemampuan atau kekuatan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan tertentu, mampu berfikir secara rasional dan mampu memanfaatkan sumber-sumber dan lingkungan sekitar secara efektif ketika menghadapi tantangan. Kecerdasan memiliki komponen-komponen yang berbeda. Selama ini kecerdasan diartikan sangat sempit, orang menilai kecerdasan seseorang hanya melalui skor tes saja, akan tetapi kecerdasan bukan semata-mata hanya diukur melalui skor tes saja, tatpi lebih ke kemampuan lain. Dalam hal ini kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan apabila tindakan tersebut telah dilaksanakan, kemampuan untuk mengubah diri sendiri, kemampuan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan manusia, kemampuan menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang. Jadi pengukuran kecerdasan tidak hanya melalui skor nilai terstandar, tapi juga kemampuan mengelola bentuk suasana hati, dan permasalahan yang timbul, dan selalu siap menghadapinya.

b. Emosi

Emosi merupakan perubahan perasaan yang sewaktu-waktu akan timbul dalam diri seseorang dan berdampak pada perubahan tingkah lakunya. Emosi juga

merupakan sumber energi terbesar yang ada dalam diri manusia dan merupakan suatu penggerak perilaku manusia itu sendiri, sesuatu yang dilakukannya berdasarkan emosi apa yang timbul di dalam dirinya. Pernyataan ini sejalan dengan Beck mengungkapkan pendapat James dan Lange (1990: 31) menjelaskan bahwa “emotion is the preception of bodily changes wich occur in response to an event” artinya Emosi adalah presepsi perubahan jasmaniah yang terjadi dalam memberi tanggapan (respon) terhadap suatu peristiwa.

Coorper dan Sawaf (1998: 493) juga menegaskan bahwa emosi kita, seperti halnya atau lebih dari tubuh dan pikiran kita, berisi riwayat kita, semua yang kita alami, pemahaman kita yang mendalam dan hubungan dalam hidup kita. Emosi meliputi perasaan tentang siapa kita, dan memasuki kita dalam wujud energi. Energi inilah yang merupakan sumber utama pengaruh dan kekuasaan. Kemudian beberapa ahli dalam Uno (2006: 66) juga mengungkapkan bahwa emosi penting sebagai energi pengaktif untuk nilai-nilai etika, misalnya kepercayaan, integritas, empati, keuletan dan kredibilitas, serta untuk modal sosial, yang berupa kmampuan membangun dan mempertahankan hubungan yang menguntungkan yang didasari saling percaya.

Selain beberapa pendapat di atas mengenai pengertian emosi, sejumlah teoritikus mengelompokan emosi dalam golongan besar, meskipun tidak semua sepakat dengan penggolongan ini. Golongan emosi dan beberapa anggota kelompoknya sebagai berikut: (1) Amarah: bringas, mengamuk, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, dan barangkali yang paling hebat, tindak kekerasan dan kebencian patalogis, (2)

Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian ditolak, putus asa, dan kalau menjadi patologis, depresi akut. (3) Rasa takut: cemas, takut gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, khawatir waspada, sedih, tidak tenang, ngeri, takut sekali, kecut, dana sebagai patologi, fobia dan fanatik (4) Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, ringan, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang, senang sekali, dan batas ujungnya maniak, (5) Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih, (6) Terkejut, terkesiap, takjub, terpana, (7) Jengkel: hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah, (8) Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

Berdasarkan pernyataan di atas, emosi merupakan perubahan jasmani yang terjadi dalam memberikan respon terhadap suatu pristiwa. Selain itu emosi juga diartikan sebagai energi pengaktif untuk nilai-nilai etika, misalnya kepercayaan, integritas, empati, keuletan dan kredibilitas, serta untuk modal sosial, yang berupa kemampuan membangun dan mempertahankan hubungan yang menguntungkan yang didasari saling percaya. Dalam hal ini seseorang perlu mengelola emosi dengan sebaik mungkin, agar mampu menciptakan hubungan sosial yang harmonis. Emosi sendiri terdiri dari beberapa golongan yang biasanya terjadi pada diri seseorang dan setiap saat bersinggungan dengan diri seseorang tersebut. Semua emosi yang timbul dari dalam diri kita harus mampu kita kenali dengan baik, agar kita mampu mengelola emosi-emosi yang timbul dalam diri kita.

c. Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional merupakan kemampuan mengelola berbagai emosi yang terjadi pada diri seseorang dan pemahaman terhadap emosi yang dihadapi orang lain. Selain itu kecerdasan emosional juga merupakan kemampuan menghadapi segala macam persoalan yang terjadi, dan mampu menyelesaikannya dengan bijaksana. Coorper (1995: 35) mengatakan kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasakan, memahami dan secara afektif menerapkan daya dan kepekaan sosial sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh manusiawi. Kemunculan kecerdasan emosional ini bukan berarti ingin menghapus akal dan menggantikannya dengan emosi, melainkan menemukan keseimbangan yang cerdas antara keduanya. Intelektual tidak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional.

Agustian (2001: 2) mengatakan kecerdasan emosional mengajarkan tentang arti integritas, komitmen, visi, kemandirian, kejujuran, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, kepercayaan diri atas sinergi yang sebenarnya dibutuhkan. Ia adalah semacam motivator dan inspirator bagi seseorang untuk mengerahkan seluruh potensi berfikir atau bernalar secara kognitif. Tahap yang merupakan titik tolak kecerdasan emosional adalah kembali pada hati dan pikiran yang bersifat merdeka dan bebas dari belenggu, hal itu akan melahirkan alam berfikir jernih yang dinamakan Got Spot atau Fitrah.

EQ

Manusia Manusia

Agustian (2003: 1) mengatakan kecerdasan emosional adalah hubungan manusia dengan manusia. Kecerdasan emosional itu terbentuk dengan berinteraksi sosial antara manusia-manusia. Stein dan Book (2002: 30) mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi dan kecakapan nonkognitif yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.

Goleman (2006: 68) juga mengemukakan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdo‟a. Kecerdasan emosional bekerja secara sinergi dengan kemampuan kognitif, orang-orang yang berprestasi tinggi memiliki keduanya. Tanpa kecerdasan emosi, orang tidak akan mampu menggunakan kemampuan kognitif mereka sesuai dengan potensi yang maksimum. Pendapat Goleman yang dikutip oleh Patton, menyebutkan bahwa para pakar psikologi juga mengemukakan kecerdasan emosional (EQ) menyumbang sebanyak 80% untuk keberhasilan, dan sisanya IQ hanya menyumbang sekitar 20%. Selanjutnya

Berdasarkan pernyataan di atas, kecerdasan emosional merupakan kemampuan nonkognitif guna menunjang kemampuan kognitif. Selain itu kecerdasan emosional juga diartikan sebagai kemampuan mengelola emosi-emosi yang timbul baik emosi yang positif maupun negatif. Seseorang yang tidak memiliki kecerdasan emsoional yang baik tidak akan mampu menghadapi segala

bentuk perubahan yang terjadi di dalam dirinya. Begitupun dalam menjalin hubungan antar manusia. Maka dari itu kecerdasan emosional sangat dibutuhkan untuk menyeimbangkan diri dengan keadaan, karena kecerdasan emosional menyumbang lebih banyak untuk sebuah keberhasilan. Kecerdasan emosional juga mengajarkan integritas, komitmen, visi, kemandirian, kejujuran, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, kepercayaan diri atas sinergi yang sebenarnya dibutuhkan. Kecerdasan emosional juga merupakan motivator dan inspirator yang menjadi pemacu dalam hidup.

Kecerdasan emosional memang perlu dimiliki semua orang, terutama dalam hal ini remaja karena emosi remaja masih sangat labil. Sejalan dengan ini Ramplin dalam Mulyono (1993: 22) mengatakan peserta didik SMA ditinjau dari segi umur yaitu antara 16 sampai dengan 18 tahun merupakan remaja middle adok scence (Luella). Usia tersebut digolongkan sebagai usia yang pada anak remaja mengalami krisis dan emosinya masih labil. Kemudian Shapiro (1998: 5-8) mengatakan mengenai kualitas emosional yang nampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas ini antara lain empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat.

Kecerdasan emosional perlu dimiliki setiap orang, terutama dalam hal ini yang harus mendapatkan perhatian khusus yaitu remaja atau masa usia sekolah, yang masil mengalami krisis moral dan emosinya yang masih labil. Remaja saat ini memerlukan kualitas emosi yang bagus, agar tidak terbawa arus perubahan

yang semakin cepat dan mampu membentengi diri dengan baik. Kualitas-kualitas emosi yang harus dipelihara yaitu emosi-emosi yang positif dan mampu menghasilkan kebaikan bagi dirinya dan lingkungan sosial.

d. Komponen-komponen Kecerdasan Emosional

Selain beberapa pernyataan mengenai kecerdasan emosional yang sudah di jelaskan, kecerdasan emosional juga memiliki beberapa komponen penting didalamnya, yang harus dikuasai oleh setiap individu yang hidup bersinggungan dengan orang lain. Shapiro (1998: 24) mengelompokkan komponen-komponen kecerdasan emosional kedalam enam bidang yaitu: (1) keterampilan yang berhubungan dengan perilaku moral, (2) cara berfikir, (3) pemecahan masalah, (4) interaksi sosial, (5) keberhasilan akademik dan pekerjaan, dan (6) emosi.

Salovey dalam Uno (2006: 73) memperluas kecerdasan emosional menjadi lima wilayah utama, yaitu: (1) Mengenali emosi diri. Intinya adalah kesadaran diri, yaitu mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Ini merupakan dasar kecerdasan emosional. Kesadaran diri adalah perhatian terus-menerus terhadap keadaan batin seseorang. Dalam kesadaran refleksi diri ini, pikiran mengamati dan menggali pengalaman, termasuk emosi. Sementara menurut John Mayer (dalam Uno 2006:73), kesadaran diri berarti waspada, baik terhadap suasana hati maupun pikiran kita tentang suasana hati. Kemampuan untuk memantau perasaan seseorang hal yang penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri, (2) Mengelola emosi. Menangani perasaan agar perasaan dapat diungkapkan dengan pas. Kecerdasan ini bergantung pula pada kesadaran diri. Mengelola emosi berhubungan dengan kemampuan menghibur diri, melepaskan kecemasan,

kemurungan dan ketersinggungan, -dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar, (3) Memotivasi diri sendiri. Kemampuan menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuandalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiridanb menguasai diri sendiri, dan untuk bereaksi, (4) Mengenali emosi orang lain. Yaitu empati, kemampuan yang juga bergantung kepada kesadaran diri emosional yang merupakan „ketermpilan bergaul‟ dasar. Kemampuan berempati yaitu kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain, ikut berperan dalam pergulatan dalam arena kehidupan (5) Membina hubungan. Seni membina hubungan, sebagian besar keterampiulan mengelola orang lain. Dalam keterampilan dan ketidakterampilan sosial, serta keterampila-keterampilan tertentu yang berkaitan adalah termasuk didalamnya.

Goleman (2001: 42-43) membagi wilayah tersebut menjadi dua krangka kerja kecakapan emosi secara umum, yaitu kecakapan pribadi dan kecakapan sosial dengan masing-masing kemampuan sesuai golongan kecakapan tersebut, berikut tabelnya:

Tabel 1: Kerangka Kerja Kecerdasan Emosi Kecerdasan Pribadi

Kecakapan ini menentukan bagaimana kita mengelola diri sendiri.

Kecerdasan Sosial Kemampuan ini menentukan bagaimana kita menangani suatu

hubungan. Kesadaran Diri

Mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumberdaya dan instruisi. 1. Kesadaran diri: Mengenali emosi

diri sendiridan efeknya.

2. Penilaian diri sendiri secara teliti: Mengetahui kekuatan dan batasa diri sendiri.

Empati

Kesadaran tehadap perasaan, kebutuhan, dan kpentingan orang lain. 1. Memahami orang lain: Mengindra perasaan dan perspektif orang lain, dan menunjukan minat aktif terhadap kepentingan mereka. 2. Orientasi pelayanan:

3. Percaya diri: Keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri.

Pengaturan Diri

Mengelola kondisi, implus, dan sumber daya diri sendiri. 1. Kendali diri: Mengelola

emosi-emosi dan desakan-desakan hati yang merusak.

2. Sifat dapat dipercaya: Memelihara norma kejujuran dan integritas. 3. Kewaspadaan: Bertanggungjawab

atas kinerja sendiri.

4. Adaptibilitas: Keluwesan dalam menghadapi perubahan.

5. Inovasi: mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasi-informasi baru.

Motivasi

Kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan peraih sasaran. 1. Dorongan prestasi: Dorongan

untuk menjadi lebih baik, atau memenuhi standar keberhasilan. 2. Komitmen: Menyesuaikan diri

dengan sasaran kelompok atau perusahaan.

3. Inisiatif: Kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan.

4. Optimis: Kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan.

Mengantisipasi, mengenali, melayani dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan.

3. Mengembangkan orang lain:

Merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka.

4. Mengatasi keragaman: Menumbuhkan peuang melalui pergaulan dengan bermacam-macam orang.

5. Kesadaran politisi: Mampu membacaarus-arus emosisebuah kelompok dan hubungannya dengan kekeuasaan.

Keterampilan sosial Kepintaran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada

orang lain.

1. Pengaruh: memiliki taktik-taktik untuk melakukan persuasi.

2. Komunikasi: Mengirimkan pesan yang jelas dan meyakinkan.

3. Kepemimpinan: Membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok dan orang lain.

4. Katalisator perubahan: mulai dengan mengelola perubahan. 5. Manajemen konflik: Negosiasi

dan pemecahan silang pendapat. 6. Pengikat jaringan: Menumbuhkan

hubungan sebagai alat.

7. Kolaborasi dan kooperasi: kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.

8. Kemampuan tim: menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

Pernyataan di atas diketahui bahwa kecerdasan emosional memiliki lima komponen penting yang harus dikuasai setiap orang, agar mampu menyeimbangkan hidupnya. Dalam hal ini tentu kecakapan pribadi dan kecakapan sosial harus dimiliki setiap orang. Kecerdasan-kecerdasan emosi tersebut seperti, kesadaran diri, mengatur diri sendiri, mampu memotivasi diri, mengenali emosi orang lain atau empati terhadap orang lain, serta kepintaran kita membina hubungan sosial. Seseorang tidak boleh melewatkan satu poinpun dari beberapa kecerdasan emosi yang di jelaskan para ahli tersebut, agar mampu mengelola hidup dengan baik.

5. Hakikat Keterampilan Menulis Bahasa Jerman