• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kajian Teori

1. Hakikat Keterampilan Membaca

Orientasi di dalam pembelajaran bahasa pada dasarnya ialah empat keterampilan berbahasa. Apabila keempat keterampilan berbahasa ini dapat terkuasai dengan memadai oleh seseorang, maka dianggap baiklah keterampilan berbahasa seseorang itu. Keempat keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan ini saling berkait dan menunjang satu dengan yang lainnya. Keempatnya merupakan keterampilan yang berbeda tetapi korelatif, tidak ada keterampilan menyimak tanpa berbicara atau membaca, tidak ada keterampilan berbicara tanpa menyimak, tidak ada keterampilan membaca tanpa menulis, tidak ada keterampilan menulis tanpa membaca, dan sebagainya. Demikianlah keempatnya saling erat berkait. Namun demikian, untuk memudahkan pembelajarannya, keempatnya perlu didalami secara mandiri (tentu tidak dapat lepas sama sekali). Ini dilakukan semata-mata untuk memudahkan pendalaman pembelajarannya.

Sebagai salah satu keterampilan berbahasa, keterampilan membaca merupakan suatu keterampilan yang sangat unik dan sebagai alat komunikasi yang utama bagi kehidupan manusia, serta sangat berperan bagi pengembangan ilmu pengetahuan alam (Iskandarwassid dan Sunendar, 2009: 245). Dikatakan unik karena tidak semua manusia, walaupun telah memiliki keterampilan membaca, mampu mengembangkannya menjadi alat untuk memberdayakan dirinya atau bahkan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id menjadikannya budaya bagi dirinya. Dikatakan alat komunikasi yang utama karena membaca merupakan media komunikasi yang efektif dan efisien. Demikian pula disebut sangat berperan bagi pengembangan ilmu pengetahuan alam, karena persentase transfer ilmu pengetahuan terbanyak dilakukan melalui membaca.

Di samping itu, keterampilan membaca bukanlah suatu keterampilan yang sederhana seperti yang diperkirakan banyak pihak. Keterampilan membaca bukan hanya kegiatan yang terlihat kasat mata, melainkan dipengaruhi oleh banyak faktor baik dari luar maupun dari dalam diri pembaca. Keterampilan membaca merupakan kegiatan yang kompleks sehingga membutuhkan banyak faktor untuk menjalankannya. Membaca pada hakikatnya bukan sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan banyak hal, antara lain aktivitas visual, berpikir psikolinguistik, dan metakognitif (Farida Rahim, 2003:7). Keterampilan membaca juga ditentukan kemampuan pembaca dalam kesadaran fonemik, ilmu pengetahuan secara umum, kelancaran, kosa kata, dan pemahaman teks (Mellard, Fall, & Woods, 2010: 155). a. Pengertian Membaca

Dalam keterampilan membaca, terdapat aneka ragam batasan tentang membaca. Hal ini disebabkan kecenderungan para ahli bahasa dari segi mana meninjaunya.

Harimurti Kridalaksana (2009: 151) mengartikan membaca adalah menggali informasi dari teks, baik dari yang berupa tulisan maupun dari gambar atau diagram, maupun dari kombinasi itu semua. Membaca merupakan keterampilan mengenal dan memahami bahasa tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Crawley & Mountain (1995:8) mendefinisikaan membaca sebagai suatu proses visual yang merupakan menerjemahkan simbol tulis ke dalam bunyi. Membaca sebagai proses linguistik, skemata pembaca membantunya membangun makna, sedangkan fonologis, semantik, dan fitur sintaksis membantunya mengomunikasikan dan menginterpretasikan pesan-pesan.

Kirby (2007:1) mendefinisikan membaca adalah proses seseorang memahami teks yang dibaca, dengan tujuan apa, mengapa diajarkannya, dan mengapa peduli dengan hal tersebut.

Klein, Peterson, & Semingston (1991: 22) mengemukakan bahwa membaca mencakupi (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca adalah suatu strategis, dan (3) membaca merupakan interaktif. Membaca merupakan suatu proses, dimaksudkan informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna. Membaca adalah suatu strategis, mengandung makna keefektifan membaca ditentukan oleh penggunaan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengkontruksi makna ketika membaca. Strategi ini bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca. Sedangkan membaca merupakan interaktif mengandung makna keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks.

Ahli lain, mengartikan membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks (Iskandarwassid dan Sunendar, 2009: 146).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Untuk keperluan tersebut, selain perlu mengusai bahasa yang dipergunakan, seorang pembaca perlu juga mengaktifkan berbagai proses mental dalam sistem kognisinya.

Di samping itu, membaca diartikan suatu cara untuk mendapatkan informasi yang disampaikan secara verbal dan merupakan hasil ramuan pendapat, gagasan, teori-teori, hasil penelitian para ahli untuk diketahui dan menjadi pengetahuan siswa (Lei, Rhinehart & Howard, 2006: 106). Membaca memerlukan keterampilan dan pembiasaan, karena membaca merupakan pekerjaan yang berat dan melibatkan beberapa sikap.

Secara umum pada dasarnya membaca mencakupi dua aspek, yakni aspek mekanik dan aspek pemahaman. Aspek mekanik atau visual berkaitan dengan kemahiran membaca dalam menggerakkan dan memanfaat organ wicara lainnya pada waktu membaca. Sedangkan aspek pemahaman berhubungan dengan kemahiran pembaca dalam menangkap isi bacaan yang dibaca. Pemahaman terhadap bacaan lebih diutamakan. Namun, dari kedua aspek membaca tersebut, aspek pemahaman lebih diutamakan. Ini selaras dengan apa yang dikatakan Durkin (1993) bahwa pemahaman membaca adalah esensi dalam keterampilan membaca untuk dapat mempelajari masa depan, untuk mendesain kegiatan, membuat strategi, dan juga pemahaman membaca merupakan cermin dari kemampuan subjek.

Batasan yang disampaikan Harimurti Kridalaksana sebenarnya mencakupi kedua aspek tersebut, hanya saja batasan ini masih bersifat umum sehingga belum aplikatif dan masih membutuhkan indikator-indikator penjelasnya. Crawley & Mountain memberikan batasan membaca yang meliputi dua aspek, yaitu mekanik dan pemahaman. Sementara itu, Kirby memaknai membaca hanya ditinjau dari

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mengapa harus mengajarkan membaca, dan mengapa seseorang memiliki kepedulian dengan membaca. Jadi Kirby menjelaskan tentang membaca dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sedangkan Klein, Iskandarwassid, dan Lei, Rhinehart & Howard memaknai membaca lebih pada aspek pemahaman dengan indikator-indikatornya.

b. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Membaca

Beberapa faktor yang memengaruhi keterampilan membaca adalah faktor fisiologis, faktor intelektual, faktor lingkungan, dan faktor psikologis (Lamp dan Richard, 1976:136).

Faktor fisiologis meliputi kesehatan fisik (gangguan alat bicara, alat pendengaran, alat pendengaran, kelelahan, dan sebagainya), pertimbangan neurologis (berbagai cacat otak dan syaraf untuk membaca), dan jenis kelamin (laki-laki dan wanita memiliki karakteristik yang berbeda). Gangguan alat bicara, alat pendengaran, dan alat penglihatan dapat menghambat kemajuan belajar membaca anak. Analisis bunyi, misalnya sukar bagi anak yang memiliki masalah pada alat bicara. Huruf yang kecil atau kurang jelas, susah dibaca oleh anak yang mengalami gangguan mata. Gangguan pendengaran dapat mengganggu siswa dalam membedakan bunyi-bunyi yang homorgan (b, p, w).

Faktor intelektual atau intelegensi didefinisikan sebagai suatu kegiatan berpikir yang terdiri atas pemahaman yang esensial tentang situasi yang diberikan dan meresponnya secara tepat. Intelegensi juga merupakan kemampuan global individu untuk bertindak sesuai dengan tujuan, berpikir rasional, dan berbuat secara efektif terhadap lingkungan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Faktor lingkungan ini mencakupi latar belakang dan pengalaman siswa di rumah dan sosial ekonomi keluarga siswa. Kondisi rumah sangat mempengaruhi pribadi dan penyesuaian diri anak dalam masyarakat. Kondisi ini pada gilirannya akan dapat membantu atau menghalangi anak dalam belajar membaca. Anak-anak yang tinggal di rumah yang rumah tangganya harmonis, rumah yang penuh dengan cinta kasih, rumah yang orang tuanya memahami anak-anaknya, akan sangat membatu keterampilan membacanya. Faktor sosial ekonomi juga sangat mempengaruhi membaca. Anak-anak yang mendapatkan fasilitas yang buku, surat kabar, majalah yang memadai akan lebih cepat terampil membaca. Anak-anak yang di rumahnya mendapatkan banyak kesempatan membaca, dalam lingkungan yang penuh dengan bahan bacaan yang beragam akan mempunyai keterampilan membaca yang tinggi (Crawley & Mountain, 1995:112).

Faktor psikologis mencakupi motivasi, minat, dan kematangan sosial, emosi, dan penyesuaian diri. Motivasi termasuk faktor kunci di dalam keterampilan membaca. Anak yang memiliki motivasi yang tinggi akan sangat berhasil dalam membaca, karena dengan motivasi tinggi mereka akan senang dan menikmati membaca. Oleh karena itu, tugas guru haruslah memberikan motivasi yang tinggi kepada siswa. Minat adalah keinginan yang kuat dengan disertai usaha-usaha. Anak yang minatnya kuat akan berusaha untuk mewujudkan dan menyediakan bahan bacaan untuk kepentingan membacanya. Kematangan sosial, emosi, dan penyesuaian diri diperlukan dalam membaca. Oleh karena dengan ketiganya, anak tidak akan mudah putus asa, dapat mengatur ritma membaca, dan dapat memilih bahan bacaan yang sesuai dengan perkembangan dirinya. Apabila menghadapi suatu masalah, anak

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id ini akan berusaha memecahkan masalah sesuai kemampuannya atau berusaha bertanya pada orang dewasa yang mengetahui (guru misalnya).

c. Keterampilan Membaca Pemahaman

Secara umum kegiatan membaca terdiri atas dua komponen, yaitu proses membaca dan produk membaca (Burns, Betty & Ross, 1996: 7). Proses membaca terdiri atas tiga komponen dasar yaitu recording, decoding, dan meaning yang dapat diurai menjadi sembilan aspek, yaitu sensori, perseptual, urutan, pengalaman, pikiran, pembelajaran, asosiasi, sikap, dan gagasan. Kesembilan aspek ini saling berkait dan mendukung untuk membentuk proses membaca yang selaras.

Kegiatan sensori adalah pengungkapan simbol-simbol grafis yang digunakan untuk merepresentasikan bahasa lisan melalui indra penglihatan. Kegiatan perseptual merupakan aktivitas mengenal suatu kata sampai pada suatu makna berdasarkan pengalaman masa lalu. Ketika orang membaca, otak menerima gambaran kata-kata kemudian mengungkapkannya berdasarkan pengalaman pembaca sebelumnya dengan objek, gagasan, atau emosi. Aspek urutan dalam proses membaca merupakan kegiatan mengikuti rangkaian tulisan yang tersusun secara linear, yang umumnya tampil pada suatu halaman dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Pengalaman sangat berperan dalam kegiatan membaca. Anak-anak yang mempunyai banyak pengalaman akan memiliki kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan pemahaman kosa kata dan konsep yang mereka hadapi dalam membaca dibandingkan dengan anak-anak yang pengalamannya terbatas. Membaca merupakan proses berpikir. Pembaca terlebih dahulu memahami kata-kata dan kalimat yang dihadapi melalui proses asosiasi dan eksperimen, kemudian membuat simpulan dengan menghubungkan isi preposisi yang terdapat dalam bacaan. Untuk itulah pembaca

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id harus berpikir sistematis, logis, dan kreatif. Pembelajaran dalam membaca merupakan suatu keniscayaan. Guru dapat membimbing siswa-siswanya dalam pembelajaran membaca. Melalui pembelajaran membaca sejak usia dini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak. Mengenal hubungan antara simbol dengan bunyi bahasa dan makna merupakan aspek asosiasi dalam membaca. Anak-anak menghubungkan simbol-simbol grafis dengan bunyi bahasa dan makna, tanpa kedua kemampuan asosiasi ini, siswa tidak akan dapat memahami teks. Aspek sikap berkenaan dengan perhatian, kegemaran, maupun motivasi. Hal-hal tersebut diperlukan dalam membaca karena akan meningkatkan kemampuan membaca siswa. Aspek kesembilan adalah gagasan, yaitu penggunaan sensori dan perseptual dengan latar belakang pengalaman dan tanggapan afektif serta membangun makna teks yang dibacanya secara pribadi. Pembaca dengan latar belakang pengalaman yang berbeda dan reaksi afektif yang berbeda akan menghasilkan makna yang berbeda walaupun membaca teks yang sama.

Produk membaca merupakan komunikasi dari pemikiran dan emosi antara penulis dan pembaca. Komunikasi dapat terjadi dari konstruksi pembaca melalui integrasi pengetahuan yang telah dimiliki pembaca dengan informasi yang disajikan dalam teks, dengan demikian terjalinnya kesamaan pikiran antara penulis teks dan pembaca adalah sebuah keniscayaan (Bell, 1998: 99). Hal selaras juga ditegaskan oleh Nunan (1991: 65-66) bahwa dalam proses membaca sangat dilibatkan eksploitasi pengetahuan latar belakang, pengetahuan tersebut dianggap sebagai penyedia platform dalam membaca untuk memprediksi isi teks berdasarkan skema yang sudah

ada sebelumnya. Ketika siswa membaca, skema ini diaktifkan dan membantu pembaca untuk memecahkan dan menafsirkan pesan di luar kata-kata yang tercetak.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Proses ini mengandaikan bahwa pembaca memprediksi, mengambil sampel, hipotesis, dan mereorganisasi pemahaman mereka tentang pesan tersebut seperti yang diungkapkan saat membaca. Berkaitan dengan membaca pemahaman, para ahli memberi beberapa cakupan keterampilan dalam membaca pemahaman. Crawley & Mountain (1995: 14) mengatakan sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakupi aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. Nurhadi (2004: 57) menyatakan bahwa pemahaman dalam membaca berhubungan dengan kemahiran pembaca dalam menangkap isi bacaan, yaitu kemampuan membaca literal, membaca kritis, dan membaca kreatif. Ahli lain, menyatakan bahwa membaca sebagai sesuatu yang merujuk pada proses memahami makna, proses memahami ini melalui berbagai tingkat, mulai dari tingkat literal sampai pada pemahaman interpretatif, kreatif, dan evaluatif (Imam Syafei, 1999: 22). d. Tujuan Keterampilan Membaca Pemahaman

Kegiatan membaca pemahaman hendaknya mempunyai tujuan yang jelas. Setiap orang membaca memiliki tujuan yang berbeda-beda. Seseorang yang membaca dengan tujuan yang pasti cenderung lebih mudah memahami bacaan dibandingkan dengan orang yang membaca tanpa tujuan (Berardo, 2006: 60). Membaca merupakan salah satu kegiatan yang termasuk dalam penguasaan bahasa secara pasif. Secara umum tujuan membaca ialah menangkap isi bahasa yang tertulis dengan tepat dan teratur. Menangkap bahasa yang tertulis yang dimaksudkan adalah memahami isi bacaan yang merupakan buah pikiran penulisnya. Dengan membaca, pembaca dapat memahami idea yang dituliskan oleh penulis dengan tepat dan teratur. Membaca ialah menangkap pikiran dan perasaan orang lain dengan perantaraan tulisan. Kemampuan membaca sangat diperlukan seseorang untuk memperluas pengetahuan dan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id pengalaman, mempertinggi daya pikir, mempertajam penalaran, untuk mencapai tujuan, dan meningkatkan diri (Slamet, 2008:58).

Dalam pembelajaran membaca, guru harus menyusun tujuan membaca dengan menentukan tujuan khusus yang sesuai dengan kepentingan membaca atau membantu siswa menyusun tujuan membacanya sendiri. Blanton, dkk. (dalam Burns, Betty & Ross, 1996 : 36-38) menjelaskan membaca bertujuan: (1) membaca untuk kesenangan atau rekreasi, (2) untuk menyempurnakan membaca nyaring, (3) menggunakan strategi tertentu, (4) memperbarui pengetahuan tentang suatu topik, (5) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya, (6) memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis, (7) mengkonfirmasikan atau menolak prediksi, (8) menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks, dan (9) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.

Sementara itu, Grabe & Stoller (2002: 13) menyatakan tujuan membaca meliputi tujuh jenis, yaitu (1) menemukan informasi sederhana, (2) sepintas dan cepat, (3) mempelajari isi teks, (4) mengintegrasikan infomasi, (5) menemukan informasi untuk kepentingan menulis, (6) mengkritisi teks, dan (7) memperoleh pemahaman secara umum.

Berpijak dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah untuk: (1) kesenangan atau rekreasi, (2) menyempurnakan membaca nyaring, (3) menemukan informasi sederhana, (4) mempelajari isi teks, (5) mengintegrasikan informasi, (6) menemukan informasi untuk kepentingan menulis/membuat laporan, (7) mengonfirmasikan, menolak prediksi atau mengkritisi teks, (8) memperoleh pemahaman teks secara menyeluruh, (9) menampilkan suatu eksperimen atau

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks, dan (10) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik yang ada kaitannya dengan teks.

e. Jenis Keterampilan Membaca Pemahaman

Para ahli memberi beberapa cakupan keterampilan dalam membaca pemahaman. Keterampilan membaca adalah suatu proses berpikir, membaca mencakupi aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif (Crawley & Mountain, 1995:14). Sementara itu, Nurhadi (2004:57) menyatakan bahwa pemahaman dalam membaca berhubungan dengan kemahiran pembaca dalam menangkap isi bacaan, yaitu kemampuan membaca literal, membaca kritis, dan membaca kreatif. Ahli lain, menyatakan bahwa membaca sebagai sesuatu yang merujuk pada proses memahami makna, proses memahami ini melalui berbagai tingkat, mulai dari tingkat literal sampai pada pemahaman interpretatif, kreatif, dan evaluatif (Imam Syafei, 1999: 22).

Brown (2004:189) menyatakan membaca pemahaman meliputi beberapa jenis, yaitu membaca perseptif, membaca selektif, membaca interaktif, dan membaca ekstensif. Sementara itu, Leak (2005:7-10) membagi keterampilan membaca menjadi lima tingkatan, yakni membaca pengenalan, membaca seleksi, membaca interpretatif, membaca kritis, dan membaca kreatif.

Berpijak dari beberapa batasan di atas, dapat ditarik suatu simpulan bahwa keterampilan membaca pemahaman pada hakikatnya mencakupi lima jenis pemahaman, yakni pengenalan kata, pemahaman literal, interpretatif (evaluatif), membaca kritis, dan membaca kreatif.

Keterampilan pengenalan kata adalah keterampilan pembaca untuk mengenal bahan bacaan yang tertera secara tersurat. Pembaca hanya menangkap informasi yang

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id tercetak dengan jelas dalam bacaan yaitu merujuk kata dan kalimat dalam wacana yang kemudian mengingatnya dalam pikiran. Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus (Crawley & Mountain, 1995:31). Guru dapat meminta siswa untuk menebak makna kata-kata baru yang ditemui dalam sebuah teks berdasarkan petunjuk teks dan pengalaman masa lalu. Siswa diminta mengaitkan kosa kata yang telah dikuasai dengan kosa kata yang baru diperoleh.

Keterampilan membaca literal adalah keterampilan pembaca untuk menangkap dan memahami bahan bacaan yang tertera secara eksplisit. Eksplisit artinya pembaca hanya menangkap informasi yang tercetak secara tampak jelas dalam bacaan. Ciri keterampilan membaca ini adalah tidak melibatkan berpikir kritis, hanya menerima apa adanya dan mengasosiasikan kembali apa yang dikatakan penulis, bersifat pasif, pemahaman hanya pada aspek yang tersurat, hanya menjawab pertanyaan: apa, siapa, kapan, di mana, dan bagaimana seperti disampaikan pengarang (Nurhadi, 2004:57- 58).

Keterampilan membaca interpretatif adalah keterampilan pembaca untuk menangkap dan memahami bahan bacaan yang tersirat. Mengharuskan siswa untuk mengembangkan pemahaman yang lebih lengkap, menjelaskan pentingnya sesuatu itu, dan melengkapi konsep yang disampaikan (Leak, 2005: 7). Pemahaman ini diperoleh melalui kesan, pendapat, dan pandangan yang berhubungan dengan adanya tafsiran. Siswa diminta mengapresiasi teks dengan reseptif, sesuai dengan penafsiran masing-masing asal logis dan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Pembaca didorong untuk bertanya pada diri sendiri mengapa fakta-fakta yang disajikan dalam teks masuk akal (Pressley, 2001: 5; Imam Syafei, 1999: 36).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Keterampilan membaca kritis adalah keterampilan pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis untuk menemukan keseluruhan makna bacaan, baik makna yang tersurat maupun yang tersirat. Siswa diminta berdiri di luar objek bacaan agar berlaku objektif untuk melihat proses, membandingkan, dan memahami dampak sesuatu itu (Leak, 2005: 7). Kegiatan ini dilakukan melalui tahapan mengenal, memahami, menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi. Karakteristik pembaca ini adalah melibatkan keterampilan berpikir kritis, mencari kebenaran yang hakiki, terlibat dengan permasalahan mengenai gagasan, mengolah bahan bacaan dan tidak hanya mengingat saja, tetapi juga berusaha mengaplikasikannya (Nurhadi, 2004: 59-60).

Keterampilan membaca kreatif yaitu keterampilan membaca, yang tidak hanya menangkap makna yang tersurat ataupun makna tersirat, lebih dari itu pembaca juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kepentingkan sehari-hari. Indikator seseorang yang terampil membaca kreatif adalah terampil menerapkan hasil membaca untuk kepentingan sehari-hari, terjadi perubahan sikap dan tingkah laku setelah proses membaca selesai, hasil membaca berlaku dalam waktu yang lama, dan terampil menilai secara kritis dan kreatif bahan bacaan serta memberikan umpan balik (Crawley & Mountain, 1995:31; Farida Rahim, 2003:27). f. Definisi Konseptual Keterampilan Membaca Pemahaman

Kata keterampilan diartikan sebagai kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Dalam kaitannya dengan keterampilan membaca yang esensial adalah membaca pemahaman, maka dalam penelitian ini, keterampilan membaca yang dimaksud adalah kecakapan seseorang untuk memakai bahasa dalam pikirannya untuk menanggapi secara betul stimulus tulisan, memahami pola gramatikal dan kosa kata secara tepat. Pemahaman yang dimaksud meliputi lima komponen, yaitu pengenalan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id kata, pemahaman literal, membaca interpretatif (evaluatif), membaca kritis, dan membaca kreatif.

2. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif a. Pengertian Model Pembelajaran

Secara umum dikatakan bahwa model adalah gambaran mental yang membantu memahami sesuatu yang tidak dapat dilihat atau pengalaman langsung (Dorin, Demmin, dan Gabel dalam Mergel, 1998: 2). Sementara itu, Dilworth (1992, 74) mendefinisikan model sebagai representasi abstrak dari proses, sistem, atau subsistem yang konkret. Model digunakan dalam seluruh aspek kehidupan. Model bermanfaat dalam mendeskripsikan pilihan-pilihan dan dalam menganalisis tampilan pilihan-pilihan tersebut.

Selaras dengan pengertian ini, model pembelajaran memiliki batasan yang berbeda-beda sesuai dengan bidang ilmu atau pengetahuan yang mengadopsinya. Salah satu definisi model dikemukakan Dewey (dalam Joyce, 2009: 14), model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang digunakan dalam penyusunan kurikulum, mengatur materi siswa, dan memberi petunjuk kepada pengajar di dalam kelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya. Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran (Suryaman, 2004: 66).

Terdapat beberapa model pembelajaran yang berpijak dari paradigma berpikir dalam pendidikan yang telah dikembangkan di dunia maju. Joyce (2009: 23-28) mengelompokkan model pembelajaran ini minimal ada empat kelompok yang

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mendasar, yaitu: (1) model pemrosesan informasi (information processing family model), (2) model pribadi (personal family model), (3) model interaksi sosial (social

family model, dan (4) model sistem perilaku (behavioral system family model).

Sementara, ahli yang lain meyebutkan minimal ada tiga jenis model mendasar, yaitu : competitive learning model, individual learning model, dan cooperative learning

model (Slavin, 1995: 4-5; Anita Lie, 2008: 23).

Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan tujuan pembelajaran kompetitif dan individualistis. Pembelajaran dalam situasi kooperatif adalah siswa bekerja satu dengan lainnya dalam kelompok untuk mencapai tujuan yang hanya satu atau