• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

2. Hakikat Konseling Individual a. Pengertian Konseling Individual

Konseling individual memiliki banyak pengertian yang

dikemukakan oleh beberapa ahli konseling. Namun setelah membaca beberapa pengertian dan kajian-kajian mengenai konseling individual pada dasarnya sama. Yaitu kegiatan yang dilakukan antara dua individu yang terikat dalam relasi yang profesional yaitu konselor dan

konseli untuk melakukan proses membantu menyelesaikan

dengan masalah yang dihadapi. Berikut beberapa kajian atau pengertian konseling individual yang menurut peneliti ilmiah:

1) Menurut Prayitno Konseling individual adalah proses pemberian bantuan yang dialakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

2) Menurut Prof. DR Sofyan S. Willis (1996).

Konseling individual memiliki makna spesifik dalam arti pertemuan konselor dengan klien secara individual, dimana terjadi hubungan konseling yang bernuansa rapport, dan konselor berupaya memberikan bantuan untuk pengembangan pribadi klien serta klien dapat mengantisipasi masalah-masalah yang dihadapinya. Konseling individual itu sendiri adalah kunci semua kegiatan bimbingan dan konseling. Dengan menguasai teknik-teknik konseling individual berarti akan mudah menjalankan proses bimbingan dan konseling karena mengetahui apas saya yang menjadi kebutuhan klien atau siswa di sekolah.

3) Menurut Burk dan Stefflre (Psikologi Konseling, 2014).

Konseling mengindikasi hubungan profesional antara konselor terlatih dengan klien, hubungan yang terbentuk biasanya bersifat

individu ke individu, kadang juga melibatkan lebih dari satu orang missal keluarga klien. Konseling didesain untuk menolong klien dalam memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap susatu masalah yang sedangmereka hadapi melalui pemecahan masalah dan pemahaman karakter dan perilaku klien.

4) Menurut Palmer dan Mcmahon (Mc leod, 2004).

Konseling bukan hanya proses pembelajaran individu tetapi juga merupakan aktifitas social yang memiliki makna social. Orang serinbg kali menggunakan jasa konseling ketika berada di titik transisi, seperti dari anak menjadi orang dewasa, menikah ke perceraian, keinginan untuk beribat dan lain-lain. Konseling juga merupakan persetujuan cultural dalam artian cara untuk menumbuhkan kemampuan beradaptasi dengan institusi sosial.

5) Menurut Tolbert (Prayitno, 2004 :101).

Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang, dalam mana konselor melalui hubungan iu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaan sekarang, dan kemungkinan keadaan masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi

maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan kebutuhan yang akan datang.

6) Menurut Jones (Insano, 2004 : 11).

Konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi hidupnya.

7) Menurut Prayitno dan Erman Amti (2004 : 105).

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh ahli 9disebut konselor0 kepada individu yang sedang mengalami suatu masalalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

8) Menurut WS Winkel (2005 : 34).

Konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu seorang konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung

jawab sendiri terhadap barbagai persoalan atau permasalahan khusus.

9) Menurut Mc. Daniel (1956).

Konseling adalah suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya dan lingkungannya.

Pada hakikatnya konseling adalalah hubungan profesional antara konselor dengan konseli dan melakukan perjanjian untuk melakukan kegiatan yaitu konseling dengan beberapa ketentuan dan kote etik didalamnnya, guna membantu menyelesaikan suatu permasalahan konselinamun berbeda dengan member atau mengambil alih permasalahan konseli. Membantu dalam konteks konselor Spribadi ini tetap member tanggung jawab pada konseli untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Hubungan konseling tidak bermaksud mengalihkan permasalahan atau pekerjaan konseli pada konselor, tetapi memberikan motivasi dan arahan pada konseli untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri untuk mengatasi dan mencari jalan keluar dari permasalahannya.

b. Menurut Gibson, Mitchell dan Basile (1981) orang ini berpendapat ada sembilan tujuan dari konseling individual, yakni :

1. Tujuan perkembangan yakni klien dibantu dalam proses pertumbuhan dan perkembanganya serta mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi pada proses tersebut (seperti perkembangan kehidupan sosial, pribadi,emosional, kognitif, fisik, dan sebagainya).

2. Tujuan pencegahan yakni konselor membantu klien menghindari hasil-hasil yang tidak diinginkan.

3. Tujuan perbaikan yakni konseli dibantu mengatasi dan menghilangkan perkembangan yang tidak diinginkan.

4. Tujuan penyelidikan yakni menguji kelayakan tujuan untuk memeriksa pilihan-pilihan, pengetesan keterampilan, dan mencoba aktivitas baru dan sebagainya.

5. Tujuan penguatan yakni membantu konseli untuk menyadari apa yang dilakukan, difikirkan, dan dirasakn sudah baik

6. Tujuan kognitif yakni menghasilkan fondasi dasar pembelajaran dan keterampilan kognitif.

7. Tujuan fisiologis yakni menghasilkan pemahaman dasar dan kebiasaan untuk hidup sehat.

8. Tujuan psikologis yakni membantu mengembangkan keterampilan sosial yang baik, belajar mengontrol emosi, dan mengembangkan konsep diri positif dan sebagainya.

c. Tahapan Konseling Individu. (pada dasarnya tahapan tdk bisa dilepaskan dr teknik konseling) pda dasarnya ada tiga yaitu pembukaan, isi, dan penutup.

Dalam buku W.S Winkel & M.M. Sri Hastuti (2004), fase-fase konseling individual di sekolah memiliki lima tahapan atau lima fase yaitu pembukaan, penjelasan masalah, penggalian latar belakang, penyelesaian masalah, dan penutup. Uraian yang lebih rinci tentang lima fase itu adalah sebagai berikut:

1. Fase Satu, Pembukaan.

Pembukaan diletakkan bagi pengembangan hubungan antar pribadi (working relationship) yang baik, hal ini memungkinkan pembicaraan terbuka dan terarah dalam wawancara konseling. Bilamana konselor dan konseli bertemu untuk yang pertama kali, waktunya akan lebih lama dan isinya akan berbeda dibandingkan

dengan pembukaan saat konseli dan konselor bertemu kembali untuk melanjutkan wawancara yang telah berlangsung sebelumnya.

2. Fase Dua, Penjelasan masalah.

Pada fase ini konseli mengeukakan hal yang ingin dibicarakan dengan konselor, sambil mengutarakan sejumlah pikiran dan perasaan yang berkaitan dengan hai itu. Inisiatif berada di pihak konseli dan dia bebasmengutarakan apa yang dianggap perlu

dikemukakan. Konselor disini menerima uraian konseli

sebagaimana adanya dan memantulkan pikiran serta perasaan yang terungkap melalui penggunaan teknik konseling seperti refleksi dan klarifikasi.

3. Fase Tiga, Penggalian latar belakang masalah.

Karena pada fase dua konseli belum menyampaikan gambaran lengkap mengenai kedudukan masalah, diperlukan penjelasan lebih mendetail dan mendalam. Dalam hal ini inisiatif agak bergeser ke pihak konselor, yang lebih mengetahui apa yang dibutuhkan supaya konseli dan konselor memperoleh gambaran yang bulat. Fase ini juga bisa disebujt dengan analisis kasus, yang dilakukan menurut sistematika tertentu sesuai dengan pendekatan konseling yang telah diambil.

4. Fase Empat, Penyelesaian masalah.

Berdasarkan apa yang telah digali dala fase analisis kasus, konselor dan konseli membahas bagaimana persialan dapat diatasi. Meskipun konselor dan konseli membahas bagaimana persoalan dapat diatasi. Meskipun konseli selama fase ini harus ikut berfikir, memanadang dan mempertimbangkan.

5. Fase Lima, Penutup.

Bilaana konseli sudah merasa mantap tentang penyelesaian masalah yang ditemukan bersama dengan konselor, proses konseling dapat diakhiri. Penutup ini sebaiknya mengambil bentuk agak formal sehingga konselor dan konseli menyadari bahwa

hubungan antarpribadi, sebagaimana berlangsung selama

wawancara atau rangkaian konseling telah selesai.

d. Kajian Konseling.

Bila dilihat dari proses konseling, maka kajian konseling memiliki 5 kegiatan, yaitu:

Memandu bukanlah paksaan, yang berarti mengabaikan perasaan atau terlalu mengendalikan pandangan-pandangan individu. Tetapi lebih kepada merefleksikan secara pasif pandangan-pandangan individu. Dalam perspektif pendidikan, memandu berarti menyelesaikan masalah yang ada dalam diri seseorang atau secara potensial ada dalam diri seseorang, melalui sumber-sumber yang ada.

2. Menyembuhkan (Healing).

Dalam psikologi konseling, perspektif modern tentang penyembuhan berakar dalam tradisi sejarah yang mendasari psikoterapi dinamik, khususnya spiritual dan ilmiah.

3. Memfasilitasi (Facilitating).

Memfasilitasi merupakan reaksi terhadap model-model dan authoritarian dalam konseling. Inti dari perspektif ini memfasilitasi (disebut juga sebagai pendekatan kekuatan etika) dipercayai bahwa individu memiliki kemampuan untuk mengarahkan dirinya sendiri. Dalam konteks yang positif ini, helper mengandalkan kepada sumber-sumber klien tanpa

mengganggu atau mencampuri terhadap

4. Memodifikasi (Modifying).

Perspektif modifikasi sering dikenal dengan modifikasi perilaku atau pendekatan yang berkenaan dengan mengubah organisme yang disebabkan oleh faktor lingkungan.

5. Merestukturisasi (Restucturing).

Merupakan panduan antara metode behavioral dengan teori kognitif.

Dokumen terkait