• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Hakikat Mahasiswa Berpacaran

Pacaran (courtship) adalah hubungan pranikah antara pria dan wanita yang dapat diterima oleh masyrakat (Bennet, dalam dian, 2012,). Pacaran merupakan proses pengenalan antara individu yang berbeda jenis kelamin, untuk mencari kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang biasa dikenal dengan sebutan pernikahan.

Menurut Adimasa (2001) pacaran adalah proses hubungan pemuda-pemudi yang serius memikirkan untuk menikah. Siswoyo (2007), mahasiswa merupakan individu yang sedang belajar atau menuntut ilmu diperguruan tinggi baik negeri maupun swasta dan sederajat.

Mahasiswa masuk pada tahap perkembangan masa dewasa awal yang rentan usia 18 sampai 25 tahun. Tugas perkembangan mahasiswa ialah pencarian kemantapan dan masa reproduktif, yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan perubahan nilai-nilai, kreativitas, dan penyesuaian diri pada pola-pola hidup yang baru.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswaberpacaran merupakan individu yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi/sederajat baik negeri maupun swasta, dengan rentan usia 18-25 tahun dan mempunyai hubungan antara laki-laki dan

perempuan yang mengarah ke jenjang yang resmi yaitu pacaran maupun menikah. Sedangkan dalam penelitian ini, subyek yang digunakan ialah mahasiswa yang masih tercatat sebagai mahasiswa aktif.

2. Karakteristik Perkembangan Mahasiswa

Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, didalam Psikologi Perkembangan mahasiswa termasuk di dalam kategori dewasa awal, dewasa awal adalah masa dimana individu mengalami transisi dari masa remaja menuju masa dewasa. Pada masa dewasa awal ini merupakan masa pencarian kemantapan dan masa reproduktif yaitu dimana masa yang penuh dengan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru.

a. Ciri-ciri dewasa awal

Pada masa dewasa awal individu dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial yang baru.

1) Masa pengaturan (settle Down)

Pada masa pengaturan (settle Down) ini adalah masa dimana individu akan “mencoba-coba” untuk menentukan sesuai dengan keinginan atau kecocokan di dalam kehidupannya. Ketika individu mampu menemukan pola hidup yang cocok atau sesuai dan diyakini mampu memenuhi

kebutuhan hidupnya, individu akan berusaha untuk mengembangkan pola perilaku, sikap, dan nilai-nilai yang menjadi ciri khas di dalam hidupnya.

2) Masa ketegangan emosional

Ketika individu berumur 20 tahunan, individu tersebut memiliki emosional yang tidak terkendali. Individu yang berada pada umur 20 tahunan mempunyai emosi yang labil, resah, dan mudah memberontak. Didalam masa ini juga emosi individu sangat bergejolak dan mudah tegang.

3) Masa ketergantungan

Masa ketergantungan ini, individu masih bergantung kepada orangtua, teman-teman mereka. Biasanya masa ketergantungan ini berakhir ketika berumur 20 tahun.

4) Masa penyesuain diri dengan hidup baru

Masa penyesuain diri dimulai setelah individu sudah memasuki masa dewasa. Ketika individu telah mencapai pada masa dewasa individu harus mampu bertanggung-jawab dengan segala yang sudah dilakukannya. Oleh sebab itu, pada masa penyesuaian diri dengan hidup baru ini menjadi kunci bagi individu dengan kehidupannya mendantang.

Dari paparan di atas mengenai ciri mahasiswa sebagai dewasa awal, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa akan menjadi individu yang ingin mencoba hal-hal baru dalam

kehidupannya, hal-hal baru tersebut bisa menciptakan ketegangan emosional karena ketidakstabilan dalam mengelola emosi. Masa dewasa awal juga merupakan masa ketergantungan mahasiswa terhadap orang-orang disekitar mereka. Mahasiswa yang sudah menjadi individu yang dewasa awal harus mampu memiliki tanggungjawab dalam hidupnya.

Ciri-ciri ini mempengaruhi individu untuk mentuntaskan tugas perkembagan mereka.

b. Tugas Perkembangan Dewasa Awal

Seperti halnya transisi dari sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama yang melibatkan perubahan dan kemungkinan stres, begitu pula masa transisi dari sekolah menengah atas menuju universitas. Terdapat perubahan yang sama dalam dua transisi ini.

Transisi ini melibatkan gerakan menuju satu struktur sekolah yang lebih besar dan tidak bersifat pribadi, seperti interaksi dengan kelompok sebaya dari daerah yang lebih beragam dan peningkatan perhatian pada prestasi dan penilaiannya (Santrock, 2002).

Masa transisi dari sekolah menengah atas menuju universitas memberikan tugas perkembangan baru bagi individu. Mahasiswa merupakan indidividu yang berusia 18-25 tahun. Individu tersebut termasuk dalam tugas perkembangan dewasa awal. Tugas perkembangan dewasa awal menurut Gunarsa, 2001 yaitu :

1) Menerima keadaan fisiknya: perubahan fisiologis dan organis yang sedemikian hebat pada tahun-tahun sebelumnya, pada masa remaja akhir sudah lebih tenang. Struktur dan penampilan fisik sudah menetap dan harus diterima sebagaimana adanya.

Kekecewaan karena kondisi fisik tertentu tidak lagi mengganggu dan sedikit demi sedikit mulai menerima keadaannya.

2) Mampu bergaul:mampu mengembangkan kemampuannya untuk menjalin sebuah hubungan sosial baik dengan perempuan dan laki-laki yang memiliki tingkat berbeda kematangan sosialnya. Individu mampumenyesuaikan dan memperlihatkan kemampuan bersosialisasi dalam tingkat kematangan sesuai dengan norma sosial yang ada.

3) Menemukan model untuk identifikasi: dalam proses ke arah kematangan pribadi, setiap individu mempunyai tokoh yang di idolakan, tokoh tersebut sering menjadi faktor penting dalam memberikan contoh perilaku dan kehidupannya, tanpa tokoh identifikasi mucul kekaburan terhadap model yang ingin ditiru dan memberikan pengarahan bagaimana bertingkah laku dan bersikap sebaik-baiknya.

4) Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri:mampu menerima kemampuan sendiri dan mampu mengembangkan kemampuannya tanpa melihat kekurangan yang ada dalam

hidupnya. Kekurangan dan kegagalan yang bersumber pada keadaan kemampuan tidak lagi mengganggu berfungsinya kepribadian dan menghambat prestasi yang ingin dicapai.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik mahasiswa ialah pada penampilan fisik tidak lagi mengganggu aktifitas dikampus, mampu berinteraksi dengan baik di lingkungannya, serta memiliki kebebasan emosional untuk memiliki pergaulan dan menentukan kepribadiannya.

Dokumen terkait