BAB VIII KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN IPTEK D
KEHIDUPAN SOSIAL DAN PERMASALAHANNYA
A. Kompetensi Dasar
1. Hakikat Manusia sebagai Individu dan Makhluk Sosial
2. Kepribaian manusia sebagai makhluk sosial
3. Modenisasi
4. Perubahan dan permasalahan sosial saat ini
C. Materi Pembelajaran
1. Hakikat Manusia sebagai Individu dan Makhluk Sosial
Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri, namun demikian mengapa hidupnya harus bermasyarakat? Seperti kita ketahui, manusia pertama adalah Adam telah ditakdirkan untuk hidup bersama dengan manusia lain yaitu istrinya yang bernama Hawa. Memang apabila dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya, manusia tak akan dapat hidup sendiri. Bayi misalnya harus diajar makan, berjalan, bermain-main dan lain-lain. Jadi sejak lahir manusia berhubungan dengan manusia lainnya. Oleh karena itu sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu, (1) keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (masyarakat), (2) keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Jadi untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya manusia mempergunakan fikiran,
16
perasaan dan kehendaknya. Misalnya dalam menghadapi cuaca dingin, manusia membuat rumah, memakai pakaian dan lain-lain.
Di dalam diri manusia terdapat dua kepentingan, yaitu kepentingan individu dan bersama. Kepentingan individu didasarkan manusia sebagai makhluk individu, karena pribadi manusia yang ingin memenuhi kebutuhan pribadi. Kepentingan bersama didasarkan manusia sebagai makhluk sosial (kelompok) yang ingin memenuhi kebutuhan bersama.
Dalam perjalanannya, kepentingan-kepentingan tersebut kadang saling berhadapan dan kadang pula saling berkait. Terkadang muncul suatu penolakan dan penerimaan yang pada akhirnya bermuara pada etika, yaitu suara ajaran tentang norma dan tingkah laku yang berlaku dalam suatu kehidupan manusia. Artinya, titik kompromi antara kepentingan individu dan bersama ditimbang menurut kadar etis/ tidaknya kedua kepentingan tersebut.
Menurut Jurgen Habermas (2001), masyarakat memiliki tiga jenis kepentingan
yang memiliki pendekatan rasio berbeda. Pertama, kepentingan teknis (objective
welt). Hal ini sangat kuat berhubungan dengan penyediaan sumber daya natural
dan juga kerja (instrumentalis). Kedua, kepentingan interaksi (social welt). Ini merupakan kepentingan praktis yang sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ketiga, kepentingan kekuasaan. Di satu sisi, hal ini berhubungan erat dengan distribusi kekuasaan dalam masyarakat. Di sisi lain, adanya sebuah keputusan dasar manusia untuk membebaskan diri dari segala bentuk dominasi atau kebebasan (Freiheit). Freiheit menurut Sastre sebagai syarat utama yang mendorong eksistensi manusia menuju peradaban yang maju (Tumanggor, 2010: 40).
Dalam perbedaan kepentingan ini masyarakat mengalami pertarungan yang sangat tajam dalam kehidupan sosial dan politik. Apalagi kalau kepentingan kekuasaan dan kepentingan teknis mengabaikan kepentingan sosial. Kalau kepentingan keku kepentingan kekuasaan mengarah pada tendensi untuk menciptakan distorsi terhadap komunikasi,maka yang terjadi hanya ada penindasan dan reduksi. Menurut Habermas,untuk bisa mendamaikan konflik
kepentingan ini,kita membutuhkan adanya sebuah ruang publik (public spare} ini
17
komponen dalam masyarakat memiliki akses yang sama untuk bebicara,
berdiskusi, dan mencari alternatif yang tepat tentang segala persoalan dalam
kehidupan bermasyarakat.
Manusia sebagai makhluk individu diartikan sebagai person atau perseorangan atau sebagai diri pribadi. Manusia seabagai diri pribadi merupakan makhluk yang diciptakan secara sempurna oleh Tuhan Yang Maha Esa. Disebutkan dalam kitab suci Al Quran bahwa “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Dalam ajaran agama- agama dunia juga diterangkan sangat jelas kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia, karena itu tidak dibenarkan manusia melakukan perbuatan tercela, seperti berjudi, korupsi, berzina, membunuh, mabuk, dan seterusnya. Sebaliknya, pribadi manusia dituntut mampu berinteraksi, berkomunikasi, bekerjasama, dan saling berlomba-lomba melakukan perubahan menuju yang lebih baik dengan individu lainnya.
Manusia sebagai makhluk sosial, artinya manusia sebagai warga masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak mungkin dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan bantuan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Bahkan sejak lahirpun, manusia sudah disebut sebagai makhluk sosial.
1.
Telah berabad-abad konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada, yang menitik beratkan pada pengaruh masyarakat yang berkuasa kepada individu. Yakni memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari :
2.
Dorongan untuk makan,
3.
Dorongan untuk mempertahankan diri,
Dorongan untuk melangsungkan hubungan beda jenis.
Dengan keharusan biologis tersebut menggambarkan betapa individu dalam perkembangannya sebagai seorang makhluk social meniscayakan adanya dorongan untuk saling ketergantungan dan membutuhkan antara satu dengan lainnya. Karena itu, komunikasi antar masyarakat menentukan peran manusia sebagai makhluk sosial. Kedudukan manusia sebagai makhluk sosial, dengan
18
demikian tidak dapat dilepaskan dari cara dan bentuk adaptasi mereka terhadap lingkungannya.
Dalam perkembangannya, manusia mempunyai kecenderungan social untuk meniru guna membentuk diri dalam kehidupan masyarakatnya, diantaranya meniru dalam hal penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan yaitu menerima bentuk- bentuk pembaruan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia terbentuk sebuah pengetahuan. Meniru dalam hal penghematan tenaga sehingga tidak banyak menggunakan tenaga manusia dan kinerjanya akan lebih efektif dan efisien. Proses meniru ini dapat dicontohkan misalnya anak meniru perilaku orang tuanya, pribumi meniru pendatang, masyarakat tradisional meniru masyarakat modern. Dari gambaran tersebut jelas manusia itu membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sebagai pribadi (individu) dan sekaligus sebagai makhluk sosial.
1.
Menurut Tumanggor, secara garis besar factor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari 3 hal, yaitu :
2.
Tekanan emosional, kondisi psikologis seseorang sangat mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain, apakah sedang bahagia, senang, atau sedih, berduka dan seterusnya.
3.
Harga diri yang rendah, ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi yang direndahkan, maka ia akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain. Karena ketika seseorang merasa direndahkan dengan secara spontan ia membutuhkan kasih saying dari pihak lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi psikologis kembali seperti semula.