LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
4. Hakikat Mengajar
Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan siswa dalam gerakan lay up shoot harus segera dibetulkan dan diberi contoh gerakan yang benar. Kesalahan yang dibiarkan akan membentuk pola gerak yang salah, sehingga kualitas lay up shoot yang dihasilkan tidak sesuai yang diharapkan.
4. Hakikat Mengajar
Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks. Guru berperan tidak hanya sekedar menyampaikan informasi kepada siswa, tetapi juga berusaha agar siswa mau belajar. Karena mengajar sebagai upaya yang disengaja, maka guru terlebih dahulu harus mempersiapakan bahan yang akan disajikan kepada siswa. Upaya yang dilakukan guru tersebut agar tujuan yang telah dirumuskan dapat dicapai. Berkaitan dengan mengajar Husdarta & Yudha M. Saputra (2000: 3) menyatakan, “Mengajar adalah upaya guru dalam memberikan rangsangan, bimbingan, pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Arah yang akan dituju dalam proses belajar adalah tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan guru dan diketahui oleh siswa”.Hal senada dikemukakan Rusli Lutan (1988: 376) bahwa,
Mengajar merupakan seperangkat kegiatan sengaja dan berencana dari seseorang atau person (P) yang memiliki kelebihan pengetahuan atau keterampilan untuk disampaikan kepada orang lain sebagai sasaran atau obyek (O), yang belum berkembang pengetahuan, ketrampilan atau bahkan sifat-sifat biologis tertentu, dan informasi atau keterampilan itu disampaikan melalui saluran atau metode tertentu, yang kemudian mendapat respon dari obyek sekaligus berperan sebagai subyek.
Berdasarkan pengertian mengajar yang dikemukakan dua ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, mengajar merupakan suatu kegiatan yang kompleks yang di dalamnya terdapat beberapa komponen yang saling berkaitan yang bertujuan untuk mempengaruhi atau meningkatkan pengetahuan atau keterampilan siswa menjadi lebih baik. Ditinjau dari pelaksanaannya, unsur pokok dalam proses mengajar terdiri beberapa elemen yaitu (1) guru yang berpengalaman dan
terampil, (2) siswa yang sedang berkembang, (3) informasi atau ketrampilan, (4) saluran atau metode penyampaian informasi atau keterampilan dan (5) respon atau perubahan perilaku pada siswa.
Aktivitas belajar mengajar yang paling menonjol ada pada siswa. Guru cenderung berperan sebagai fasilitator dan motivator agar siswa mau untuk belajar (learn how to learn). Guru harus mampu membelajarkan siswa yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga dituntut memiliki kesabaran, kecintaan dalam memahami dan mengelola proses pembelajaran. Di samping itu juga guru harus menguasai materi pelajarannya. Hal inilah yang harus dikuasai seorang guru, sehingga guru dituntut mampu menerapkan strategi mengajar yang efektif agar prose belajar mengajar berjalan dengan baik dan tujuan dapat dicapai secara optimal.
a. Mengajar yang Efektif
Mengajar adalah membimbing siswa agar mengalami proses belajar. Dalam belajar siswa menghendaki hasil belajar yang efektif bagi dirinya. Untuk itu guru dituntut dapat membantu siswanya, sehingga pada waktu mengajar dapat dilakukan dengan efektif. Menurut Rusli Lutan (1988: 381) efektivitas pengajaran meliputi beberapa unsur yaitu: “(1) Pemanfaat waktu aktif berlatih, (2) Lingkungan yang efektif, (3) Karakteristik guru dan siswa, (4) Pengelolaan umpan balik”.
Diantara empat elemen tersebut, elemen yang dominan pengaruhnya pada efektivitas mengajar adalah pemanfaatan waktu aktif berlatih. Lebih lanjut Rusli Lutan (1988: 381) mengemukakan “Jumlah waktu yang dihabiskan siswa untuk aktif belajar, merupakan indikator utama dan efektivitas pengajaran”. Konsep jumlah waktu aktif berlatih erat dengan kemampuan managemen guru dalam mengelola proses belajar dan kesediaan serta ketekunan siswa untuk melaksanakan tugas-tugas gerak yang diajarkan.
Seorang guru bertugas mengelola proses pengajaran berupa aktivitas merencanakan dan mengorganisasikan semua aspek kegiatan, tidak saja susunan
pengalaman atau tugas-tugas ajar, tetapi juga penciptaan kondisi lingkungan belajar yang efektif. Menurut Husdarta & Yudah M. Saputra (2000: 4) bahwa:
Tugas utama guru adalah untuk menciptakan iklim atau atmosfir supaya proses belajar terjadi di kelas atau lapangan. Ciri utama terjadinya proses belajar adalah siswa dapat secara aktif ikut terlibat di dalam proses pembelajaran. Para guru harus selalu berupaya agar para siswa dimotivasi untuk lebih berperan. Walau demikian guru tetap berfungsi sebagai pengelola proses belajar dan pembelajaran.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, dalam pengaturan lingkungan belajar bertujuan agar siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Seorang guru harus mampu menerapkan cara mengajar yang efektif. Untuk itu seorang guru harus memiliki beberapa kemampuan dalam menyampaikan tugas ajar agar tujuan mengajar dapat berhasil.
b. Unsur-Unsur yang Mendukung Pencapaian Tujuan Mengajar
Perencanaan merupakan bagian integral dari belajar mengajar yang efektif. Efektivitas mengajar akibat adanya perencanaan yang jelas, jika guru ingin menerapkan model-model atau materi mengajar yang tidak pernah diterapkan sebelumnya atau pada saat dihadapkan dengan lingkungan belajar mengajar yang serba terbatas. Untuk itu kemampuan membuat perencanaan merupakan bagian integral dari upaya meningkatkan kemampuan guru dalam ketrampilan mengajarnya.
Perencanaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan belajar mengajar untuk mengembangkan kreativitas pengajaran. Seorang guru dihadapkan tugas untuk memadukan beberapa unsur penting dalam mengajar. Perpaduan unsur penting itu memerlukan pemikiran dan keputusan yang selanjutnya dituangkan ke dalam perencanaan. Sebagai contoh bagaimana agar pelaksanaan tugas ajar siswa mendapat kesempatan atau giliran secara merata dengan waktu, alat yang serba terbatas ? Dalam hal ini seorang guru harus mampu menerapkan metode mengajar, membagi waktu yang tersedia dan membuat formasi belajar yang baik dan tepat agar semua siswa aktif mengikuti tugas ajar.
Proses belajar mengajar dikatakan sukses, apabila tujuan mengajar dapat dicapai dengan baik. Tujuan mengajar berkaitan dengan beberapa bagian yang saling menunjang dalam proses belajar mengajar. Berikut ini disajikan bagan bagian-bagian yang mendukung pencapaian tujuan proses belajar mengajar menurut Rusli Lutan (2000:8) sebagai berikut:
Gambar 2. Skema Bagian-Bagian yang Mendukung Pencapaian Tujuan Belajar Mengajar (Rusli Lutan, 2000: 8)
Bagan di atas menunjukkan bahwa, komponen-komponen yang mendukung pencapaian tujuan mengajar meliputi: metode/gaya mengajar, evaluasi, substansi tugas ajar dan proses belajar mengajar. Komponen-komponen tersebut saling berkaitan satu sama lainnya untuk mencapai tujuan belajar mengajar. Untuk mencapai tujuan tersebut seorang guru harus menjelaskan tujuan belajar mengajar kepada siswa agar siswa mengerti dan memahami. Setelah siswa mengerti dan memahi tujuan belajar mengajar, guru harus mampu membelajarkan siswa secara merata. Semua siswa harus berpartisipasi atau melakukan giliran tugas ajar secara merata sehingga siswa menjadi lebih aktif. Jika siswa mampu melakukan tugas ajar secara aktif, maka semakin besar kemungkinan tujuan belajar mengajar akan tercapai.
Untuk mengetahui sejauh mana tujuan belajar mengajar dicapai dapat dilihat melalui evaluasi. Jika dari hasil eveluasi menunjukkan peningkatan prestasi, berarti tujuan belajar mengajar berhasil. Namun jika sebaliknya yaitu,
Tujuan Substansi Tugas-ajar Proses belajar Mengajar Metode/Gaya Mengajar Evaluasi
prestasi tetap atau tidak meningkatan berarti tujuan belajar mengajar tidak tercapai.
c. Penilaian Hasil Belajar
Tujuan akhir dari kegiatan belajar mengajar yaitu terjadinya perubahan pada diri siswa. Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa, di samping diukur dari segi prosesnya. Hal ini maksudnya, seberapa jauh hasil belajar dimiliki siswa. Hasil belajar ini harus nampak dalam tujuan pengajaran (tujuan instruksional), sebab tujuan itulah yang akan dicapai oleh proses belajar mengajar.
Perubahan pada diri siswa akibat dari belajar dapat diketahui melalui evaluasi atau penilaian. Suharno, Sukardi, Chodijah dan Suwalni (1998: 78) bahwa, “…evaluasi hasil belajar adalah untuk mengetahui seberapa jauh tujuan belajar dapat dicapai”. Sedangkan Syaiful Sagala (2005: berpendapat, “Maksud dan tujuan dari evaluasi adalah menentukan hasil yang dicapai siswa”.
Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, evaluasi merupakan salah satu bagaian yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui evaluasi atau penilaian akan diketahui apakah materi yang diberikan dapat dikuasi dengan baik ataukah sebaliknya. Yang dimaksud dengan penilaian menurut Nana Sudjana (2005: 111) bahwa:
Penilaian atau evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Proses belajar dan mengajar adalah proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajar. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, penilaian merupakan suatu bentuk hasil belajar yang didasarkan pada kriteria tertentu. Melalui penilaian tersebut akan diketahui sejauh mana hasil belajar yang dicapai siswa. Lebih lanjut Nana Sudjana (2005: 111) menyatakan penilaian yang dilakukan terhadap proses belajar mengajar memiliki fungsi yaitu: “(1) untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan
pengajaran, (2) untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilakukan guru”.
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa menggambarkan cerminan dari guru dan siswa. Hal ini maksudnya, hasil belajar yang dicapai siswa menandakan siswa dapat menguasai materi yang diterimanya. Sedangkan bagi guru, hasil belajar yang dicapai siswa dapat diketahui tujuan pengajaran tercapai atau tidak atau efektif tidaknya pengajaran yang telah dilakukan. Untuk itu penilaian sangat penting dalam proses belajar mengajar.