LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori 1. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial
2. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif tipe Team Games Tournament(TGT) Tournament(TGT)
a. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu proses pengembangan pengetahuan, keterampilan atau sikap baru pada saat seorang individu berinteraksi dengan lingkungan. Pembelajaran adalah istilah yang kadang-kadang mengundang kontroversi baik dikalangan para ahli maupun di lapangan, terutama diantara guru-guru di sekolah.
Menurut kamus bahasa Indonesia, pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Pembelajaran menurut Dimyati dan Mudjiono dalam SBM D2 PGSD oleh TIM (2007: 8) adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
UUSPN No. 20 tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedangkan menurut Knirk dan Gustfson dalam SBM D2 PGSD oleh TIM (2007: 10) pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan pelaksanaan dan evaluasi. Pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan sudah melalui tahapan perancangan pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu siswa mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang baru dalam suatu proses yang sengaja menciptakan suatu lingkungan, sehingga terjadi proses belajar secara efektif, efisien dan kondusif situasional.
b. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu pola instruksional yang memberikan proses spesifikasi dan penciptaan situasi lingkungan tertentu yang mengakibatkan para siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan khusus pada tingkah laku mereka (SBM D2 PGSD oleh TIM, 2007: 24)
commit to user
Menurut Agus Suprijono (2009: 46) bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Trianto (2007: 5) mengemukakan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu pola mengajar yang digunakan sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.
c. Jenis-jenis Model Pembelajaran
Banyak model pembelajaran yang telah dikembangkan oleh para ahli. Pengembangan model tersebut didasarkan pada konsep teori yang selama ini dikembangkan. Menurut Sugiyanto (2008: 7) jenis-jenis model pembelajaran itu antara lain, (1) model pembelajaran kontekstual; (2) model pembelajaran kooperatif; (3) model pembelajaran kuantum; (4) model pembelajaran terpadu; (5) model pembelajaran berbasis masalah. 1) Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri sehari-hari.
2) Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
commit to user
3) Model Pembelajaran Kuantum
Pembelajaran kuantum mempunyai prinsip berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha siswa diberi
reward. Strategi kuantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBAK
(Apa Manfaat Bagiku), alami dengan dunia realitas siswa, namai, buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi, komunikasi, ulangi dengan tanya jawab, latihan, rangkuman, dan
rayakan dengan reward dengan
senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.
4) Model Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu pada dasarnya sebagai kegiatan mengajar dengan memadukan beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar dengan cara ini dapat dilakukan dengan mengajarkan beberapa materi pelajaran disajikan tiap pertemuan.
5) Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
d. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Agus Suprijono (2009: 54) menjelaskan pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.
commit to user
Menurut Slavin (2009: 4) model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran di mana para siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran.
Isjoni (2009: 11) mengemukakan, cooperatif Learning atau
pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis, yang merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Menurur Anita Lie (2008: 28) menyebut cooperatif learning dengan istilah pembelajaran gotong-royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur, dan hanya berjalan kalau sudah terbentuk suatu kelompok atau suatu tim yang di dalamnya siswa bekerja secara terarah untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota kelompok yang pada umumnya terdiri dari 4-6 orang.
Rita Rani Mandal (2009: 96) mengemukakan The concept of
cooperative learning refers to intructional methods and techniques in which student work in small group and rewarded in some way performance
as a group. Dapat diartikan konsep pembelajaran kooperatif mengacu pada
metode dan teknik dimana siswa bekerja dalam kelompok kecil dan dihargai kinerjanya dalam kelompok.
Dari beberapa pendapat di atas, diambil kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berbasis kelompok dan mengutamakan kerja sama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
commit to user e. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif.
Roger dan David Johson dalam Agus Suprijono (2009: 58) mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal harus menerapkan lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) Saling ketergantungan positif (Positive interdependence)
Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua pertanggungjawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut.
Sehingga setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk
menyelesaikan tugasnya masing-masing.
2) Tanggung jawab perorangan (Personal responsibility)
Pertanggungjawaban ini muncul jika dilakukan pengukuran terhadap keberhasilan kelompok. Unsur ini sebagai akibat langsung dari unsur yang pertama. Karena tujuan pembelajaran kooperatif adalah membentuk semua anggota kelompok menjadi pribadi yang kuat. Tanggung jawab perseorangan adalah kunci untuk menjamin semua anggota yang diperkuat oleh kegiatan bersama. Artinya, setelah mengikuti kelompok belajar bersama, anggota kelompok harus dapat menyelesaikan tugas yang sama.
3) Tatap muka dengan interaksi promotif (face to face promotive interaction)
Unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling
ketergantungan positif. Ciri-cirinya adalah, (a) saling membantu secara efektif dan efisien; (b) saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan; (c) memproses informasi bersama secara lebih efektif dan
commit to user
efisien; (d) saling mengingatkan; (e) saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan wawasan terhadap masalah yang dihadapi; (f) saling percaya; (g) saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama.
4) Komunikasi antar anggota (interpersonal skill)
Untuk mengkoordinasikan kegiatan peserta didik dalam pencapaian peserta didik harus: (a) saling mengenal dan mempercayai; (b) mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius; (c) saling menerima dan mendukung; (d) mampu menyelesaikan konflik secara konstruktif.
5) Evaluasi proses kelompok (group processing)
Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama. Agar selanjutnya mereka bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Melalui evaluasi ini dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegitan dari kelompok. Siapa diantara anggota keompok yang sangat membantu dan siapa yang tidak membantu. Tujuannya adalah meningkatkan efektifitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok.
Lungdren dalam Isjoni (2009: 13-14) mengemukakan bahwa unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif adalah:
1) Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka ”tenggelam atau berenang bersama”.
2) Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
f. Tipe-tipe Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Isjoni (2009: 73) bahwa dalam pembelajaran kooperatif terdapat beberapa variasi model yang dapat diterapkan yaitu, (1) Student
commit to user
Team Achievement Division (STAD), (2) Jigsaw, (3) Team Game
Tournaments (TGT), (4) Group Investifation (GI), (5) Rotating Trio
Exchange, (6) Group Resume.
Robert E. Slavin (2009: 10) menyebutkan beberapa metode pembelajaran kooperatif antara lain, Student Team Achievement Division
(STAD), Jigsaw, Team Games Tournament (TGT), Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) dan Team Accelerated Instruction (TAI).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tipe-tipe
model pembelajaran kooperatif diantaranya adalah, Student Team
Achievement Division (STAD), Jigsaw, Team Games Tournament (TGT), Group Investifation (GI), Rotating Trio Exchange, Group Resume, Structural Approach, Cooperatif Integrated Reading and Composition
(CIRC) dan Team Accelerated Instruction (TAI).
g. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Agus Suprijono (2009: 65) terdapat enam langkah atau tahapan di dalam pembelajaran yang menggunakan model kooperatif. Langkah-langkah itu ditunjukkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif