• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

3. Hakikat Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik merupakan salah satu dari bagian kurikulum baru, yaitu kulikulum 2013. Seiring dengan pertumbuhan pendidikan, maka kurikulum pun semakin disempurnakan oleh pemerintah. Kurikulum sendiri merupakan suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang di programkan, direncanakan dan dirancang secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.26

Kurikulum tematik berkembang sejak tahun 2004 yang dikenal dengan kurikulum 2004 atau KBK (Kurikulum berbasis Kompetensi)sebagai rintisan penerapan pembelajaran tematik dalam KBK untuk kelas awal

24

Ibid, h. 95-96 25

Henri Guntur Tarigan, Pengajaran Kedwibahasaan, Babdung: Angkasa, edisi revisi 2009, h. 42

26 H.Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta: PT. Rineka Cipta, tahun 2010, h. 3.

atau kelas 1,2, dan 3. Pada tahun 2006 rintisan penerapan pembelajaran tematik tersebut diresmikan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan pada permendiknas no 23 tahun 2006 tentang standar proses bahwa pembelajaran pada tingkat dasar yaitu Sekolah Dasar dan

Madrasah Ibtida’iyah untuk kelas awal dilaksanakan pada pendekatan

tematik sedangkan kelas tinggi yaitu kelas 4, 5 dan 6 dengan pendekatan mata pelajaran.

Pada tahun 2013, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mengalami perkembangan khususnya untuk penerapan pembelajaran tematik berdasarkan Permendikbud no. 66 tahun 2013 tentang standar proses bahwa pembelajaran pada tingkat dasar yaitu Sekolah Dasar atau

Madrasah Ibtida’iyah dari kelas 1, 2 , 3 , 4 , 5, dan 6 menerapkan

pendekatan tematik. Dengan demikian kurikulum 2013 secara menyeluruh untuk tingkat dasar menerapkan pembelajaran tematik sehingga dapat disebut kurikulum tematik.27

Istilah pembelajaran tematik sendiri, sering disebut dengan pembelajaran terpadu dan dipersamakan dengan integrated teaching and learning, integrated curriculum approach, a coherent curriculum approach. Konsep ini telah lama dikemukakan oleh John Dewey sebagai upaya untuk mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa-siswi dan kemampuan pengetahuannya. Ia memberikan pengertian bahwa pembelajaran terpadu adalah pendekatan untuk mengembangkan pengetahuan siswa-siswi dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan pada interaksi dengan lingkungan dan pengalaman kehidupannya. Hal ini membantu siswa siswi untuk belajar menghubungkan apa yang telah dipelajari dan apa yang sedang dipelajari.28

Lebih lanjut Hadi Subroto dalam buku yang ditulis oleh Trianto menegaskan,

27

Asep Ediana Latip, Pembelajaran Tematik Kajian Teoritik Dan Praktik, Tangsel: UIN JAKARTA PRESS, tahun 2013, h. 20-21.

28 Sugiyar, dkk., Pembelajaran Tematik Edisi Pertama paket 1-8, Surabaya: Lapis PGMI, 2009, h. 1-6.

24

Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan ecara spontan atau direncanakan, baik dalam satubidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar siswa, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna. Maka pada umumnya pembelajaran tematik/terpadu adalah pembelajaran yang menggunakan tema tertentu untuk mengaitkan beberapa isi matapelajaran dengan pengalaman kehidupan nyata sehari-hari siswa sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa. 29

Dari paparan yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik merupakan pembelajaran terpadu yang berasal dari penerapan kurikulum 2013, pembelajaran ini merupakan tindak lanjutan penyempurnaan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. Pembelajaran tematik terpadu merupakan penggabungan beberapa mata pelajaran dengan keterkaitan hubungan berdasarkan tema yang digunakan. Oleh karena itu, pembelajaran ini bersifat holistik atau menyeluruh sehingga mampu menekan siswa untuk bersifat kritis terhadap konsep pembelajaran yang saling berhubungan, dan pada akhirnya pembelajaran menjadi bermakna. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep-konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Menurut Indirawati dalam buku Trianto, pada dasaranya kurikulum terpadu adalah pendekatan edukasional yang

29 Trianto, Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2009, h. 82.

mempersiapkan siswa untuk menghadapi pembelajaran seumur hidup. Terdapat kepercayaan yang kuat di antara mereka yang mendukung integritas kurikulum, bahwa sekolah harus memandang pendidikan sebagai proses mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan di abad ke-21, bukan mata pelajaran yang discrete yang terbagi-bagi dalam departemen yang berbeda-beda. Dengan demikian, secara umum, seluruh definisi kurikulum terpadu atau kurikulum interdisipliner mencakup:

(1) Kombinasi mata pelajaran (2) Penekanan pada proyek (3) Sumber di luar buku teks (4) Keterkaitan antar konsep

(5) Unit-unit tematis sebagai prinsip-prinsip organisasi (6) Jadual yang fleksibel; dan

(7) Pengelompokan siswa yang fleksibel.30

Tak heran jika dalam penerapannya siswa dituntut aktif secara fisik, mental, intelektual maupun emosionalnya melalui tema-tema tertentu yang dikaitkan dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari anak sehingga sangat memungkinkan untuk menerapkan pembelajaran aktif. Dalam proses pembelajarannya biasa disebut dengan aktiv learning.

b. Karakteristik pembelajaran Tematik

Sebagai suatu model pembelajaran di Sekolah Dasar pembelajaran tematik mempunyai karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

(1) Berpusat pada siswa

(2) Memberikan pengalaman langsung

(3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas (4) Bersifat fleksibel

(5) Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa (6) Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan

menyenangkan.31

Maksud karakteristik diatas dapat dipahami bahwa pertama, pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini

30

Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi anak usia dini TK/RA dan anak usia kelas awal SD/MI, Jakarta: Kecana, 2011, h. 149-150.

31

26

sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.

Kedua, pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Dengan pengalaman langsung ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang konkret atau nyata sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang abstrak yang belum dipahami.

Ketiga, dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

Keempat, pembelajaran tematik bersifat fleksibel atau luwes. Dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.

Kelima, siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Dan yang keenam, adalah pembelajaran dilakukan dengan proses-proses yang menarik dan menyenangkan, sehingga tidak menjenuhkan.

c. Kelebihan dan manfaat pembelajaran Tematik

Tujuan pembelajaran tematik terkait dengan keuntungan-keuntungan di dalamnya, seperti pada (Panduan KTSP, 2007) sebagai berikut:

(1) Memudahkan pemusatan perhatian pada satu tema tertentu.

(2) Siswa-siswi mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar isi matapelajaran dalam tema yang sama.

(3) Pemahaman materi metapelajaran lebih mendalam dan berkesan.

(4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan metapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa-siswi.

(5) Lebih dapat dirasakan manfaat dan makna belajar kerena materi disajikan dalam koteks tema yang jelas.

(6) Siswa-siswi lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam suatu matapelajaran dan sekaligus dapat mempelajari matapelajaran lain.

(7) Guru dapat menghemat waktu sebab matapelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus, dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, dan waktu selebihnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan materi.32

Dalam konteks manfaat pembelajaran tematik menurut Kemendiknas (Silde Sosialisasi KTSP Kemendiknas, Model Pembelajaran Tematik), memiliki keunggulan pembelajaran sebagai berikut, yaitu:

1. Pembelajaran dilakukan dengan menggabugkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran sehingga akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.

2. Pembelajaran dilakukan dengan melihat hubungan-hubungan yang bermakna berdasarkan tema sebab isi/hubungan pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir.

3. Pembelajaran diakukan dengan kajian materi ajar yang utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah.

4. Pembelajaran dilakukan dengan pemanduan antar mata pelajaran dengan tema dapat mendorong penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat. 33

Keungguan berdasarkan pada keterpaduan atau integrasi pencapaian kompetensi pembelajaran yaitu bahwa pembelajaran tematik integrative memadukan pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan dan keerampilan secara utuh dan terurut dalam proses pembelajaran berdasarkan pemilihan

32

Sugiyar, dkk., Pembelajaran Tematik Edisi Pertama paket 1-8, Surabaya: Lapis PGMI, 2009, h. 1-7.

33

28

kompetensi dasar yang secara tersurat mengindikasikan ketergantungan kompetensi tersebut.34

d. Kelemahan dan kekurangan pembelajaran Tematik

Dari beberapa keunggulan diatas, penerapan model tematik juga memiiki kekurangan, seperti dalam bidang penilaian yang dilakukan oeh guru. Hal ini memakan banyak waktu, karena diperlukan berbagai macam penilaian bagi setiap orang anak seperi penilaian sikap dan spiritual melalui observasi, peniaian diri, penilaian teman sejawat, dan penilaian jurnal. Penilaian keterampilan meliputi pjojek, portofolio, dan praktik. Dan ada juga penilaian pengetahuan yang berupa tes tulis, lisan dan penugasan. Setiap anak harus mempunyai penilaian tersebut. Seperti yang telah dijelaskan dalam Permendikbud no. 66 tahun 2013 tentang standar penilaian pendidikan yaitu kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan hasil instrument penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta ddik.35

Selain itu, terdapat indikasi permasalahan kurikulum 2013, yang di unduh dalam berita republika pada tanggal 16 Maret 2015 pada pukul 10:54 siang:

a) Tidak ada kajian terhadap penerapan Kurikulum 2006 yang berujung pada kesimpulan urgensi perpindahan kepada Kurikulum 2013.

b) Tidak ada evaluasi menyeluruh terhadap uji coba penerapan Kurikulum 2013 setelah setahun penerapan di sekolah-sekolah yang ditunjuk.

c) Kurikulum sudah diterapkan di seluruh sekolah di bulan Juli 2014, sementara instruksi untuk melakukan evaluasi baru dibuat bulan Oktober 2014. (Peraturan Menteri no 159)

d) Pada Pasal 2 ayat 2 dalam Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 itu menyebutkan bahwa Evaluasi Kurikulum untuk mendapatkan informasi mengenai:

34

Asep Ediana Latip, Pembelajaran Tematik Kajian Teoritik Dan Praktik, Tangsel: UIN JAKARTA PRESS, tahun 2013, h. 13-14.

35

1.Kesesuaian antara Ide Kurikulum dan Desain Kurikulum;

2.Kesesuaian antara Desain Kurikulum dan Dokumen Kurikulum;

3.Kesesuaian antara Dokumen Kurikulum dan Implementasi Kurikulum; dan

4.Kesesuaian antara Ide Kurikulum, Hasil Kurikulum, dan Dampak Kurikulum.

e) Kurikulum 2013 diterapkan di seluruh sekolah sebelum dievaluasi kesesuaian antara ide, desian, dokumen hingga dampak kurikulum.

f) Penyeragaman tema di seluruh kelas, sampai metode, isi pembelajaran dan buku yang bersifat wajib sehingga terindikasi bertentangan dengan UU Sisdiknas.

g) Penyusunan konten Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang tidak seksama sehingga menyebabkan ketidakselarasan.

h) Kompetensi Spiritual dan Sikap terlalu dipaksakan sehingga menganggu substansi keilmuan dan menimbulkan kebingungan dan beban administratif berlebihan bagi para guru.

i) Metode penilaian sangat kompleks dan menyita waktu sehingga membingungkan guru dan mengalihkan fokus dari memberi perhatian sepenuhnya pada siswa.

j) Ketidaksiapan guru menerapkan metode pembelajaran pada Kurikulum 2013 yang menyebabkan beban juga tertumpuk pada siswa sehingga menghabiskan waktu siswa di sekolah dan di luar sekolah.

k) Ketergesa-gesaan penerapan menyebabkan ketidaksiapan penulisan, pencetakan dan peredaran buku sehingga menyebabkan berbagai permasalahan di ribuan sekolah akibat keterlambatan atau ketiadaan buku.

l) Berganti-gantinya regulasi kementerian akibat revisi yang berulang.36

Dokumen terkait