• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, PENELITIAN YANG

A. Kajian Pustaka

3. Hakikat Pendekatan Pembelajaran Quantum

a. Pengertian Pendekatan

Menurut Hasan Alwi (2011: 246), pendekatan mengandung arti proses atau cara mendekati. Dalam hubungannya dengan pembelajaran, Wardani (2005: 10) memisahkan secara operasional tentang perbedaan pengertian strategi pembelajaran, pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, dan teknik pembelajaran. Menurutnya, strategi pembelajaran adalah suatu siasat melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan mengubah suatu keadaan pembelajaran kini menjadi keadaan pembelajaran yang diharapkan. Untuk mengubah keadaan itu dapat ditempuh dengan berbagai pendekatan pembelajaran. Pendekatan

commit to user

pembelajaran adalah suatu konsep atau prosedur yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran berupa dicapainya kompetensi tertentu oleh siswa sebagai hasil belajar. Pada tiap prosedur pembelajaran dapat dipilih berbagai macam metode pembelajaran yang relevan. Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pada setiap metode pembelajaran dapat dipilih berbagai macam teknik pembelajaran yang relevan. Teknik pembelajaran adalah cara sistematis dalam melakukan suatu kegiatan sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Imam Syafi‟ie (1993: 16) menjelaskan bahwa pendekatan dalam pengajaran bahasa mengacu kepada teori-teori tentang hakikat bahasa dan pembelajaran bahasa yang berfungsi sebagai sumber landasan/prinsip-prinsip pengajaran bahasa. Teori tentang hakikat bahasa mengemukakan asumsi-asumsi dan tesis-tesis tentang hakikat bahasa, karakteristik bahasa, unsur-unsur bahasa, serta fungsi dan pemakaiannya sebagai media komunikasi dalam suatu masyarakat bahasa. Pendekatan bersifat aksiomatis dalam arti bahwa kebenaran teori-teori bahasa dan teori belajar bahasa yang digunakan tidak perlu dipersoalkan lagi. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya pendekatan adalah cara umum yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama.

b. Pengertian Pembelajaran

Hasibuan (dalam Gino, dkk., 2000: 32) memberikan batasan pembelajaran, yaitu usaha sadar guru untuk membuat siswa belajar dengan mengaktifkan faktor intern dan ekstern dalam belajar. Faktor intern yang dimaksud di sini meliputi minat, perhatian, motivasi, dan lain-lain. Faktor ekstern yang berpengaruh meliputi keluarga, sekolah dan masyarakat.

Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur- unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling memengaruhi mencapai tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik, 2003: 57). Lebih lanjut Oemar Hamalik mengungkapkan bahwa material meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur, fotografi, slide dan film, audio, dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual, dan

commit to user

komputer. Prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian, dan sebagainya.

Pengertian pengajaran dan pembelajaran menurut Oemar Hamalik (2003: 58), yaitu: (1) Pengajaran ialah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik/ siswa di sekolah; (2) Pengajaran adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah; (3) Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik; (4) Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menajdi warga masyarakat yang baik; dan (5) Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa mengahadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Agus Suprijono (2009: 11) menjelaskan tentang perbedaan antara pengajaran dan pembelajaran. Pembelajaran merupakan terjemahan dari learning

dan pengajaran terjemahan dari teaching. Lebih lanjut, Suprijono mengungkapkan bahwa pengajaran adalah proses perbuatan, cara mengajarkan. Perbuatan atau cara mengajarkan diterjemahkan sebagai kegiatan guru mengajari peserta didik; guru menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik dan peserta didiksebagai pihak penerima. Pengajaran seperti ini merupakan proses instruktif. Guru bertindak sebagai „panglima‟, guru dianggap paling dominan, dan guru dipandang sebagai orang yang paling mengetahui.

Lebih lanjut, Agus Suprijono (2009: 13) menjelaskan tentang pembelajaran yang berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Perbedaan esensiil istilah ini dengan pengajaran adalah pada tindak ajar. Pada pengajaran guru mengajar, peserta didik belajar, sedangkan pada pembelajaran, guru mengajar diartikan sebagai upaya guru mengorganisir lingkungan terjadinya pembelajaran. Guru mengajar dalam perspektif pembelajaran adalah guru yang menyediakan fasilitas belajar bagi anak didiknya untuk mempelajarinya. jadi subjek pembelajaran adalah peserta didik. Pembelajaran adalah dialog interaktif. Pembelajaran merupakan proses organik dan konstruktif, bukan mekanis seperti halnya pengajaran.

Gino, dkk. (2000: 32-33) memberikan batasan pembelajaran atau

commit to user

belajar, yaitu terjadi terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan karena andanya usaha. Dengan demikian, ada tiga ciri utama pembelajaran, yaitu: (1) ada aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri pembelajar baik langsung maupun tidak langsung, (2) perubahan itu berupa diperolehnya kemampuan baru dan berlaku untuk waktu yang lama, dan (3) perubahan itu terjadi karena suatu usaha yang dilakukan secara sadar.

c. Komponen- komponen Pembelajaran

Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan beberapa komponen. Menurut Gino, dkk. (2000: 30) komponen tersebut antara lain sebagai berikut:

1) Guru

Guru merupakan seseorang yang bertindak sebgai pengelola kegiatan belajar mengajar yang mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

2) Siswa

Siswa adalah orang yang berperan sebagai pencari, penerima, dan pelaksana pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

3) Tujuan

Tujuan adalah perubahan yang diinginkan terjadi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan kognitif, psikomotor, dan afektif.

4) Isi pelajaran

Isi pelajaran atau materi pelajaran adalah segala informasi berupa fakta, prinsip, dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. 5) Metode

Metode merupakan suatu strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang meliputi seluruh kegiatan penyajian bahan pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

commit to user

6) Media

Media merupakan bahan pengajaran yang digunakan untuk menyajikan informasi kepada siswa.

7) Evaluasi

Evaluasi merupakan cara yang digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh komponen kegiatan belajar mengajar dan sekaligus memberikan balikan bagi setiap komponen tersebut.

d. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi berhasil tidaknya pembelajaran. Menurut Gino, dkk. (2000: 35-39) faktor yang mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran antara lain:

a. Motivasi belajar

Motivasi diartikan sebagai suatu dorongan yang timbul pada diri seorang secara sadar atau tidak untuk melakuakn suatu tindakan untuk mencapai tujuan tertentu.

b. Bahan belajar

Bahan belajar merupakan isi dalam pembelajaran. Bahan atau materi yang digunakan dalam pembelajaran harus dideusiakan dengan tujuan yang akan dicapia oleh siswa dan harus disesuaikan dengan karakteristik siswa agar dapat dimintai olehnya.

c. Alat bantu belajar

Alat bantu belajar adalah semua alat yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud menyampaikan pesan pembelajaran dari sumber belajar (guru) kepada penerima (siswa). Alat bantu belajar merupakan alat yang dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan belajar, misalnya buku, komputer, tape recorder, dan lain-lain.

d. Suasana belajar

Suasana belajar merupakan situasi dan kondisi yang ada dalam lingkungan tempat proses pembalajaran berlangsung. Suasana yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran yang baik antara lain yaitu: susana

commit to user

kekeluargaan, suasana sekolah yang nyaman, suasana kelas diatur fleksibel, jumlah siswa tidak terlalu banyak, dan siswa belajar secara bervariasi.

e. Kondisi siswa

Kondisi siswa merupakan keadaan siswa pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kondisi yang dimaksud bukan hanya keadaan fisik, melainkan juga keadaaan psikis siswa.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses atau usaha untuk menjadikan siswa belajar dengan memberikan stimulasi kepada siswa agar menimbulkan respons yang tepat untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan tindakan ke arah yang positif.

Dengan mengetahui hakikat belajar dan pembelajaran tersebut, kita ketahui bahwa interaksi antar komponen menjadi faktor penting dalam keberhasilan suatu proses belajar mengajar. Oleh karena itu kerjasama antara guru dan murid sangat diperlukan demi kelancaran kegiatan belajar mengajar.

e. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Quantum

Pendekatan pembelajaran quantum berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai “suggestology” atau “suggestopedia”. Prinsipnya

adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengeruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif ataupun negatif. Beberapa teknik yang digunakannya untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan siswa secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru- guru yang terlatih baik dalam seni pengajaran sugestif (Bobbi DePorter, 2003: 14).

Istilah lain yang hampir dapat dipertukarkan dengan suggestology adalah pemercepatan belajar (accelerated learning). Pemercepatan belajar didefinisikan sebagai “memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan”. Cara ini

commit to user

menyatukan unsur-unsur yang secara sekilas tampak tidak mempunyai persamaan: hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatah emosional. Namun semua unsur ini bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif (Bobbi DePorter, 2003: 14).

f. Karakteristik Pendekatan Pembelajaran Quantum

Pendekatan pembelajaran quantum yang diterapkan pada penelitian ini mencakup aspek-aspek penting dalam accelerated learning. Selain itu, pada pendekatan ini juga berupaya menghubungkan antara bahasa dan perilaku. Pendekatan ini juga dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. Keberagaman yang dimiliki siswa akan menghasilkan jalinan antara siswa dan guru yang beragam pula oleh sebab itu diperlukan upaya guru untuk menggubah atau menciptakan sebuah lingkungan belajar, cara presentasi, dan rancangan pembelajaran (Lozanov dalam Andayani, 2000: 19)

Pendekatan ini semula diterapkan dalam pembelajaran di SuperCamp, yaitu sebuah program pembelajaran yang mengacu pada percepatan. Pendekatan pembelajaran quantum dipopulerkan oleh Learning Forum, yaitu sebuah asosiasi pendidikan international yang menekankan keterampilan akademis, keterampilan dalam hidup, dan tantangan fisik. Di SuperCamp ini, semua kurikulum secara harmonis merupakan kombinasi dari tiga unsur tersebut. Pada dasarnya di Camp

ini semua siswa harus belajar efektif. Keefektifan ini dapat dicapai melalui keadaan belajar yang menyenangkan (Bobbi DePorter,2003: 8).

Dalam program SuperCamp tersebut, para siswa harus menginap selama kurang lebih dua belas hari. Para siswa terdiri dari usia sembilan sampai dua puluh empat tahun. Mereka memperoleh kiat-kiat yang akan membantu dalam kegiatan mencatat, menghafal, membaca cepat, menulis, berkreatifitas, berkomunikasi, dan membina hubungan. Hasil dari program ini adalah para siswa mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi, dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri (Vos Groenendal dalam Bobbi DePorter, 2003: 4).

Pendekatan pembelajaran quantum oleh Learning Forum kemudian dikukuhkan sebagai salah satu metodologi pembelajaran dalam bentuk rancangan pembelajaran, penyajian bahan ajar, dan fasilitas pembelajaran yang tidak harus

commit to user

dilaksanakan di SuperCamp namun dapat dilaksanakan di kelas-kelas biasa. Pendekatan pembelajaran quantum merangkaikan suatu pendekatan pembelajaran yang oleh asosiasi tersebut dianggap sebagai pendekatan yang efektif untuk dikembangkan menjadi sebuah pendekatan pembelajaran. Dikatakan demikian karena pendekatan ini mampu merangsang multi sensori, multi kecerdasan, dan relevan dengan perkembangan otak pada masa anak-anak, sehingga pada akhirnya dapat mengembangkan kemampuan guru untuk memacu kemampuan siswa agar berprestasi (Andayani, 2000: 19-20).

Sebagai salah satu metodologi pembelajaran, pendekatan pembelajaran

quantum hampir sama dengan sebuah simfoni. Apabila seseorang menonton

sebuah simfoni, ada banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman musik orang tersebut. Unsur-unsur tersebut dapat dibagi menjadi dua yakni konteks dan isi. Konteks adalah latar untuk pengalaman guru. Konteks merupakan keakraban ruang orkestra sendiri (lingkungan belajar siswa), semangat guru dalam menyampaikan materi pada siswa, semangat siswa dalam menerima materi guru, keseimbangan dalam pembelajaran, kerja sama antara guru, siswa dan lingkingan, dan interpretasi guru terhadap materi yang akan diberikan pada siswa. Semua unsur ini bersatu padu dan kemudian memunculkan pengalaman bermusik secara menyeluruh. Isi berbeda dengan konteks, namun peranan ini juga sangat penting dalam pembelajaran. Isi merupakan fasilitas berupa keahlian guru terhadap materi yang akan disampaikan serta mengandung makna menggunakan bakat dan potensi siswa.

Pendekatan pembelajaran quantum memiliki petunjuk yang berguna untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar. Petunjuk-petunjuk tersebut antara lain:

1) Partisipasi dengan menggubah keadaan kelas dari yang biasa menjadi kelas yang menarik,

2) Menumbuhkan motivasi dan minat siswa dengan menerapkan metode TANDUR (Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan),

commit to user

3) Membangkitkan rasa kebersamaan baik antara siswa dan guru maupun siswa dan siswa lainnya,

4) Meningkatkan daya ingat siswa, dan

5) Membangun daya dengar siswa. Semua petunjuk tersebut, akan menempatkan guru dan siswa pada kesuksesan belajar (Bobbi DePorter, 2003: 4-5).

g. Prinsip-prinsip Utama dalam Pendekatan Pembelajaran Quantum

Pendekatan pembelajaran quantum mengaitkan apa yang akan diajarkan guru dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasan yang diperoleh dari kehidupan rumah, kehidupan sosial di luar rumah, serta kehidupan akademis yang dimiliki oleh siswa. Setelah kaitan tersebut terbentuk, guru dapat mengkonstruksi pembelajaran ke dalam benak mereka. Terdapat lima prinsip yang harus diketahui guru untuk mampu mengaitkan dan mengkonstruksi pembelajaran yaitu:

1) Segalanya berbicara

Segalanya baik dari lingkungan kelas maupun bahasa tubuh merupakan penunjang dalam pengiriman pesan pembelajaran.

2) Segalanya bertujuan

Semua yang terjadi khususnya gubahan dari guru adalah kegiatan yang bertujuan untuk siswa.

3) Pengalaman sebelum pemberian nama

Otak manusia berkembang dengan pesat karena adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakkan rasa ingin tahu manusia. Oleh karena itu, proses belajar terbaik terjadi pada saat siswa telah mengalami informasi sebelum memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. 4) Akui setiap usaha

Pada saat siswa mulai berkeinginan untuk belajar dengan menerima setiap konsekuensi dari resiko belajar, mereka pantas menerima pengakuan atas kemampuan dan kepercayaan diri mereka.

5) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan

Perayaan digunakan sebagai perangsang motivasi dan minat siswa. Selain itu, perayaan mampu memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan

commit to user

meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar (Bobbi DePorter, 2003: 7-8).

Beberapa prinsip dan petunjuk penerapan pendekatan pembelajaran

quantum relevan dengan pembelajaran apresiasi sastra di sekolah. Dikatakan

demikian karena menurut survei yang dilakukan penulis masih terdapat berbagai masalah dalam pembelajaran apresiasi sastra di Sekolah Menengah Pertama khususnya kompetensi dasar membaca indah puisi sebagai salah satu bentuk apresiasi sastra siswa.

Permasalahan tersebut terjadi karena disebabkan oleh beberapa hal. Suasana dan keadaan belajar siswa di sekolah membuat siswa tidak termotivasi sehingga mereka masih merasa malu dan tidak percaya diri terhadap kemampuannya membaca puisi di depan kelas. Kemonotonan saat pembelajaran juga menimbulkan kebosanan pada suasana hati siswa.

Selain itu, permasalahan di pihak guru juga mendorong terbentuknya masalah pendidikan yang baru. Hal ini disebabkan karena tindakan efektif dalam pembelajaran apresiasi sastra dianggap hanya akan menghabiskan waktu pelajaran. Fenomena yang terjadi sekarang, waktu pelajaran yang seharusnya digunakan guru untuk pembelajaran apresiasi sastra digunakan untuk memberikan materi-materi yang lain yang akan keluar saat ujian akhir. Terlebih lagi, selama ini format soal dalam ujian akhir yang terstandar tidak memadai untuk menangkap dan mengukur kenikmatan siswa dalam bersastra (Annita Lie dalam Andayani, 2000: 28).

Masalah-masalah yang muncul tersebut dapat dipecahkan dengan penerapan pendekatan pembelajaran quantum. Petunjuk teknis pendekatan pembelajaran quantum adalah sebagai berikut :

1. Tanamkan (T) : Sertakan diri mereka, pikat mereka,puaskan keingintahuan mereka. Buatlah mereka tertarik atau penasaran tentang materi yang akan diajarkan.

2.Alami (A) : Berikan mereka pengalaman belajar, tumbuhkan “kebutuhan untuk mengetahui”.

commit to user

3.Namai (N) : Berikan “data” tepat saat minat memuncak dengan mengenalkan konsep-konsep pokok dari materi pelajaran.

4.Demontrasi (D) : Berikan kesempatan bagi mereka untuk mengaitkan pengalaman dengan data atau keterangan baru, sehingga mereka menghayati dan membuatnya sebagai pengalaman pribadi.

5.Ulangi (U) : Rekatkan gambaran keseluruhannya. Ini dapat dilakukan melalui pertanyaan, post test, atau penugasan maupun membuat ikhtisar hasil belajar.

6.Rayakan (R) : Ingat, jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan! Perayaan menambahkan belajar dengan asosiasi positif.

h. TANDUR sebagai Metode dalam pembelajaran Membaca Puisi

Keistimewaan pendekatan pembelajaran quantum adalah penerapan petunjuk teknis langkah-langkah pembelajaran yang dikenal dengan Tanamkan, Alami, Namai, Demontrasi, Ulangi, dan Rayakan. Petunjuk teknis ini disingkat dengan metode TANDUR.

1) Penerapan metode T (Tanamkan)

Konsep tumbuhkan merupakan konsep operasional dari prinsip “Bawalah dunia mereka ke dunia kita”. Melalui usaha penyertaan siswa dalam pikiran dan emosi, mereka dapat menciptakan jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Penyertaan akan memanfaatkan pengalaman mereka untuk menstimulus tanggapan “Oke, materi ini menarik dan bermakna”, selanjutnya akan mendapatkan komitmen untuk menjelajah dengan belajar bersama. Menyertakan pertanyaan, pantomim, lakon pendek dan lucu, drama, video, dan cerita.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa agar seseorang mengikuti keinginan kita maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan menarik perhatian orang lain. Dalam pembelajaran terutama saat apersepsi untuk menarik minat siswa adalah dengan memfokuskan perhatian siswa. Tidak harus dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari materi sebelumnya, namun dapat dilakukan dengan berbagai macam cara,

commit to user

misalnya: penyajian gambar atau media yang menarik, penyajian peta konsep, puisi, cerita menarik atau lucu, dan sebagainya.

Andayani (2008: 74) mengungkapkan bahwa penerapan konsep tumbuhkan khususnya dalam pembelajaran apresiasi sastra dapat pula dilakukan dengan berbagai aktivitas, seperti: tepuk tangan, menyanyi, dan bermain. Ditambahkan juga bahwa aktivitas murid pada saat bernyanyi bersama-sama sambil bertepuk tangan, dapat digunakan untuk menumbuhkan minat murid ketika memulai proses kegiatan awal pembelajaran. Selain itu, kegiatan bermain juga dapat menumbuhkan minat dan kesenangan siswa terhadap sesuatu. Namun pemilihan jenis pemainan dan lagu yang akan dinyanyikan juga harus disesuaikan dengan manfaat atau tema yang akan diajarkan. Garis besar dari tujuan konsep “tumbuhkan” adalah memberi kebermaknaan yang cepat dan mudah dipahami siswa.

2) Penerapan metode A (Alami)

Unsur ini memberi pengalaman kepada siswa dan manfaatnya dapat meningkatkan hasrat alami untuk menjelajah. Pengalaman membuat seseorang dapat mengajar “melalui pintu belakang” untuk memanfaatkan pengetahuan dan keingintahuan mereka. Tahap ini dapat menggunakan permainan, simulasi, dan sebagainya. Perankan unsur-unsur pelajaran baru dalam bentuk sandiwara. Beri mereka tugas individu atau kelompok dan kegiatan yang mengaktifkan pengetahuan yang sudah mereka miliki.

Konsep alami merupakan suatu konsep murid mulai memasukkan proses belajar dalam pembelajaran. Pada konsep ini dapat dilakukan berbagai aktivitas, misalnya: murid mulai mencari dan menemukan bacaan yang akan dibicarakan, murid berkelompok membicarakan cerita yang dibaca, dan murid menyimak secara bersama-sama suatu cerita. Andayani (2008: 75) mengungkapkan bahwa pada tahap ini pembelajaran akan terkesan biasa atau tidak mencapai tujuan jika tidak didesaindengan baik.

Sugiyanto (2009: 87) mengungkapkan bahwa pengalaman dapat menciptakan ikatan emosional sebagaimana yang kita ketahui bahwa

commit to user

pengalaman akan menciptakan peluang untuk pemberian makna (penamaan). Dia mengungkapkan bahwa dalam konsep ini saat murid mempelajari sesuatu dalam kenyataan nyata. Siswa telah memiliki pemahaman awal yang telah berkaitan dengan konsep materi yang akan dipelajari. Saat pengalaman terkait, siswa dapat mengumpulkan informasi yang dapat membantunya untuk memaknai pengalaman tersebut sehingga informasi yang mulanya abstrak menjadi konkret. Dengan demikian, maka seorang siswa tidak hanya sekedar mendapatkan informasi tetapi melalui pengalaman yang telah diperoleh dapat membuat siswa benar-benar mendapatkan pengetahuan yang berarti.

3) Penerapan metode N (Namai)

Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, menguatkan dan mendefinisikan. Penamaan dibangun di atas pengetahuan dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan merupakan sarana untuk mengajarkan konsep, keterampilan berpikir, dan strategi belajar. Dapat menggunakan media visual seperti susunan gambar, warna, alat bantu, kertas tulis, poster di dinding,dan sebagainya.

Bobbi DePorter dkk (2003: 91) mengungkapkan bahwa konsep namai dapat memuaskan otak siswa yaitu dengan membuat siswa penasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman mereka. Konsep ini dimulai dengan pengalaman siswa dan dari pengalaman dan informasi yang saling terkait siswa diarahkan untuk dapat menamainya sehingga pengalaman siswa tersebut akan lebih berarti.

Selaras dengan pendapat di atas, Andayani (2008: 76) juga mengungkapkan bahwa konsep namai merupakan salah satu prosedur yang sangat penting. Hal ini dikarenakan pada konsep ini murid berkesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya. Pengenalan murid terhadap konsep ini dalam keseluruhan proses belajar berada dalam tataran berpikir.

commit to user

4) Penerapan metode D (Demonstrasi)

Memberi siswa peluang untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka ke dalam pembelajaran yang lain yaitu dalam permasalahan yang lebih riil sekaligus memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan tingkat pemahaman dan penguasaan mereka terhadap materi yang telah dipelajari. Menggunakan sandiwara, video, permainan, rap, lagu, penjabaran dalam grafik.

Setelah mengaitkan pengalaman dan nama, kemudian siswa diminta untuk menunjukkan atau mempraktekkannya, tahap yang

Dokumen terkait