DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Deskripsi Teoritis 1. Hakikat Persepsi
2. Hakikat Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Secara alamiah, manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal dunia, mengalami proses tahap demi tahap.
Pola perkembangan manusia yang berproses demikian adalah berlangsung di atas hukum Allah yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagai sunatullah.
Pendidikan sebagai usaha dalam membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah dan jasmaniah juga harus berlangsung secara bertahap. Tidak ada satupun makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini yang dapat mencapai kesempurnaan atau kematangan hidup tanpa melalui proses.
Pendidikan yang berlangsung melalui proses bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia, dilihat dari prinsip pandangan Islam adalah bersifat tabi’iyah artinya sesuai dengan tabiat hidup manusia, oleh karena itu tidak bertentangan dengan sunatullah yang ditetapkan Allah atas manusia.
Akan tetapi suatu proses yang diinginkan dalam usaha kependidikan adalah proses yang terarah dan bertujuan mengarahkan anak didik (manusia) kepada titik optimal kemampuannya agar terbukti kepribadian yang utuh sebagai manusia.
Untuk mencapai titik optimal perkembangan dan pertumbuhan, manusia harus menempuh proses kependidikan yang berlangsung secara progresif diatas kemampuan dasar masing-masing yang dipelancar dan dipengaruhi factor lingkungan, baik yang disengaja seperti alam sekitar atau pergaulan sosialnya.
Untuk mendapatkan pemahaman yang jelas tentang pengertian pendidikan agama Islam, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan arti pendidikan itu sendiri agar pembahasan mengenai arti Pendidikan Agama Islam bisa lebih terarah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan adalah “Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan, cara mendidik”.32 Kedewasaan yang dimaksud adalah ia harus dapat menentukan diri sendiri dan bertanggung jawab sendiri.33
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 bab 1 Pasal 1 Ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.34
Dalam arti luas makna pendidikan adalah suatu usaha yang sadar yang teratur dan sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengarui anak agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan. Sedangkan definisi yang kiranya lebih tegas yaitu pendidikan merupakan bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmani mapun rohaninya untuk mencapai tingkat dewasa.35
Kenyataannya, pengertian pendidikan ini selalu mengalami perkembangan, meskipun secara esensial tidak jauh berbeda. Berikut ini dikemukakan sejumlah pengertian pendidikan yang diberikan oleh para ahli, menurut Langeveld, pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu. Pengaruh datangnya dari orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari, yang ditujukan kepada orang yang belum dewasa. ( %) !%$% *% ! " + *, ! '' & %! %7 .( (( 1 $ *, ; ! ' + , 1" 3%$ 4 3 '''& %! %7 ( ( 17 1 = ' A , ''( ( $ % , ,$ , 0 " 5(& 5
Ahmad D. Marimba mendefinisikan pendidikan yang dikutip oleh Hasbullah merupakan bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Ada beberapa unsur yang terdapat dalam pendidikan antara lain yaitu, usaha yang dilakukan secara sadar, ada pendidik, ada yang dididik, mempunyai dasar dan tujuan, dan ada alat-alat yang dipergunakan.36
Pendidikan menurut Prof. S. Brojonegoro yang dikutip oleh Uyoh Sadulloh, adalah memberi tuntutan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangan, sampai tercapainya kedewasaan dalam arti rohani dan jasmani.37
Dari beberapa pengertian pendidikan yang diberikan para ahli tersebut, meskipun berbeda secara redaksional, namun secara essensial terdapat kesatuan unsur-unsur atau faktor-faktor yang terdapat di dalamnya, yaitu bahwa pengertian pendidikan tersebut menunjukan suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan, dan sebagainya.
Penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang di lakukan manusia untuk membantu perkembangan jasmani dan rohani anak didik dalam rangka membentuk kepribadian yang berkualitas menuju arah pendewasaan.
Setelah penulis uraikan pengertian di atas tentang pendidikan secara umum, langkah selanjutnya di bawah ini penulis uraikan pengertian Pendidikan Agama Islam menurut para ahli.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Islam “Suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup”.38
Ahmad D. Marimba menjelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu bimbingan baik jasmani maupun rohani yang berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran dalam Islam.
(. 0, 3 4 # 2 *% " ! & 8%! %7 (5 , ) 2 0%! " + , 1 ''.& 8%! %7 ( (- 0 , 4 ( + , 1" 3%$ 4 ''.& 8%! %7 ( ('
Prof. H.M. Arifin mengatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha orang dewasa Muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangan.39
Tayar Yusuf mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertakwa kepada Allah SWT, sedangkan menurut A. Tafsir pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.40
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa berakhlak mulia, mengamalkan ajaran Agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-qur’an dan Al-hadis melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.41
Sedangkan pengertian Pendidikan Agama Islam secara formal dalam kurikulum berbasis kompetensi dikatakan bahwa
“Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Hadis melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam masyarakat hingga terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa.”42
Dari sekian banyak pengertian Pendidikan Agama Islam di atas pada dasarnya saling melengkapi dan memiliki tujuan yang tidak berbeda, yakni agar siswa dalam aktivitas kehidupannya tidak lepas dari pengamalan agama, berakhlak mulia dan berkepribadian utama, berwatak sesuai dengan ajaran agama Islam. Dengan demikian ( 0 , 3 $ % ( ) * ! " 3 4 1 2 *% '' & . ' 0 , 4 1 ( (' 3 $ , ( ! " $ , '' & 0 , 3 $ % ( ) * > 5
bahwa penididkan Agama Islam yang diselenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan menekankan bukan hanya pada pengetahuan tehadap Islam, tetapi juga terutama pada pelaksanaan dan pengamalan agama peserta didik dalam seluruh kehidupannya.
Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan agama Islam merupakan bimbingan terhadap anak didik agar berkembang fitrah keberagamaannya melalui pengajaran Agama Islam sehingga anak didik dapat memahami, menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dan ajaran agama tersebut dijadikannya sebagai pedoman hidupnya atau pandangan hidupnya.
Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam, yaitu:
a. Usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life)
b. Pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan ajaran Islam.
b. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Sebelum lebih jauh menjelaskan tujuan pendidikan Islam terlebih dahulu dijelaskan apa sebenarnya makna dari tujuan tersebut. Secara etimologi, tujuan adalah “Arah, maksud atau haluan,” Dalam Bahasa Arab “tujuan” diistilahkan dengan “ahdaf ”. Sementara dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan “ purpose ”. Secara terminology tujuan berarti sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selesai.43
Dalam melakukan suatu kegiatan dan baiknya selalu terarah dan tertuju. Apa yang dicita-citakan membuahkan tujuan. Tujuan adalah sesuatu yang diharapkan akan dicapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan telah selesai dilaksanakan. Tujuan Pendidikan Agama Islam berisi nilai-nilai ideal yaitu nilai-nilai keislaman. Artinya tertanamnya nilai-nilai Islam ke dalam diri manusia kemudian terwujud dalam tingkah laku.
Tujuan pendidikan di Indonesia di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, yaitu :
( $ %2 ! " 8 ),! ! * %
“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab” 44
Indikator-indikator tujuan pendidikan diatas dapat dikelompokan menjadi empat, yaitu :
a. Hubungan dengan Tuhan, ialah beriman dan bertkwa kepada Tuhan Yang Maha Esa b. Pembentuk pribadi, mencakup berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju,
tangguh, cerdas, kreatif.
c. Bidang usaha, mencakup terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, produktif.
d. Kesehatan, yang mencakup kesehatan jasmani dan rohani.45
Tujuan pendidikan berfungsi memberikan arah terhadap pelaksanaan pendidikan, sehingga diharapkan terhindar dari segala bentuk penyimpangan, dan tindakan yang kurang efektif dalam pelaksanaan pendidikan. Tujuan pendidikan juga merupakan faktor yang sangat penting, karena merupakan arah yang hendak dituju oleh pendidikan itu. Demikian pula halnya dalam pendidikan agama, maka tujuan pendidikan agama itu lah yang hendak dicapai dalam kegiatan atau pelaksanaan pendidikan agama.
Secara umum Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran PAI, yaitu (1) dimensi keimanan peserta terhadap ajaran agama Islam; (2) dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam; (3) dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Islam; dan (4) dimensi pengamalannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh pesrta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam
17 1
dirinya untuk menggerakkan, mengamalkan, dan menaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta mengaktualisasikan dan merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara.46
Ahmad Tafsir menyatakan bahwa, tujuan Pendidikan Agama Islam itu harus meliputi tiga aspek (daerah binaan, domain), yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.47 Untuk aspek kognitif, tujuannya adalah mengembangkan atau membina pemahaman agama Islam agar siswa paham akan ajaran Islam, mengembangkan kemampuan baca tulis al-Qur’an dan tarikh Islam. Pada aspek afektif, tujuan yang ingin dicapai adalah agar siswa menerima ajaran Islam tersebut. Sedangkan pada aspek psikomotorik, tujuan yang ingin dicapai adalah agar siswa terampil melakukan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.48
Pendidikan Agama Islam di sekolah bertujuan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.49
Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah umum adalah segala upaya penyampaian ilmu pengetahuan agama Islam tidak hanya untuk dipahami dan dihayati, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kemapuan siswa dalam melaksanakan wudhu, shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lain yang sifatnya hubungan dengan Allah dan juga kemampuan siswa dalam beribadah yang sifatnya hubungan antara sesama manusia, misalnya zakat, shadaqah, dan lain-lain yang termasuk ibadah dalam arti luas.50
Adapun tujuan Pendidikan Agama Islam di SMA yaitu untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan,
. , $ ! ( + , 1" *A 3%$ 4 3 '' & %! %7( 5-5 $ A 2 ( + , 1" 3%$ 4 3 5& %! %7( -. - $ A 2 ( -. 3 $ , ( ' 0 , 3 $ % ( ) * >
(-pengamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.51
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah meningkatkan keimanan, pemahaman, pengetahuan, pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. Dengan kata lain dapat dikatakan juga bahwa tujuan akhir dari pendidikan agama Islam adalah membentuk manusia muslim yang bertaqwa kepada Allah yang selalu mengerjakan perinyah-Nya dan meninggalkan segala larangannya.
c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam meliputi lima unsur pokok, yaitu : Al-qur’an, aqidah, syariah, akhlak, dan tarikh.52
Pada tingkat Sekolah Dasar (SD) penekanan diberikan kepada empat unsur pokok, yaitu: Keimanan, ibadah, Al-Qur’an. Sedangkan pada Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) disamping keempat unsur pokok diatas maka unsur pokok syariah semakin dikembangkan. Unsur pokok tarikh diberikan secara seimbang pada setiap satuan pendidikan.53
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam di SMA meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara :
a. Hubungan manusia dengan Allah SWT b. Hubungan manusia dengan sesama manusia c. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
d. Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya
0 , 3 $ % ( ) * >
0 , 3 $ % ( ) * >
Dalam mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam maka ruang lingkup materi PAI (kurikulum 1994) pada dasarnya mancakup tujuh unsur pokok, yaitu, Al-Qur’an Hadist, keimanan, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, dan tarikh (sejarah Islam) yang menekankan pada perkembangan politik. Pada kurikulum tahun 1999 dipadatkan menjadi lima unsur pokok, yaitu Al-qur’an, keimanan, akhlak, fiqh dan bimbingan ibadah, serta tarikh/sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.54
Didalam KTSP ruang lingkup Pendidikan agama Islam dan akhlak mulia yaitu kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
Standar kompetensi kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.
Adapun Standar kompetensi kelompok mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk tingkat SMA adalah :
1. Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.
2. Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, golongan social ekonomi, dan budayadalam tatanan global
3. Berpartisipasi dalam penegakkan aturan-aturan social
4. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat.
5. Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain. 6. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai
cara termasuk pemanfaatan teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
7. Menjaga kebersihan, kesehatan, ketahanan dan kebugaran jasmani dlam kehidupan sesuai dengan tuntunan agama.
8. Memanfaatkan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab.55
Agama Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada rasul Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruh manusia, yang mengandung ketentuan-ketentuan (akidah), ibadah dan muamalah (Interaksi Sosial) dan akhlak yang menentukan proses berpikir, merasa, berbuat dan terbentuknya kata hati.
Dengan demikian, secara sistematis bahwa dalam Islam terdapat ajaran yang disebut dengan pokok-pokok ajaran Islam. Yaitu 3 pokok ajaran yang telah disyariatkan Allah kepada rasul Muhammad SAW adalah sebagai berikut, yaitu : akidah/tauhid, syariat dan akhlak (moral).56
a. Akidah
Akidah secara bahasa berarti ikatan, secara terminology berarti landasan yang mengikat, yaitu keimanan. Ajaran Islam sebagaimana dicantumkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah adalah merupakan ketentuan-ketentuan dan pedoman keimanan. Keimanan adalah suatu sikap jiwa yang diperoleh karena pengetahuan yang berproses demikian rupa sehingga membentuk tata nilai (norma) maupun pola perilaku seseorang.57
Pengertian akidah dari segi istilah sering disamakan dengan pengertian keimanan. Sayyid Sabiq ketika mendefinisikan keimanan atau akidah mengatakan bahwa akidah itu terdiri dari enam perkara, yaitu:
1) Ma’rifat kepada Allah, Ma’rifat dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sefat-sifat-Nya yang tinggi.
2) Ma’rifat terhadap alam dan yang ada dibalik alam ini. 3) Ma’rifat terhadap kitab-kitab Allah.
, ' + , 1" 3%$ 4 3 ''5 ' 5 . ,) ( ! " # 2 ! $ '' & %! %7 -5 0, $ $ ( ! " +,$ '' & 8%!
4) Ma’rifat dengan nabi-nabi dan Rasul-rasul.
5) Ma’rifat terhadap hari akhir dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan itu. 6) Ma’rifat kepada takdir.58
Aqidah adalah awal dan akhir seruan Islam. Ia merupakan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai konsekuensi dari keyakinan ini, maka hanya Allah satu-satunya zat yang wajib disembah, dimohon petunjuk dan pertolongan, dan harus dipatuhi. Aqidah merupakan ajaran yang berlaku sepanjang sejarah manusia, yang dibawa oleh setiap Nabi dan Rasul Allah.
b. Syari’at
Secara harfiah syariat adalah jalan yang harus dilalui oleh setiap muslim. Selain aqidah (pegangan hidup), akhlak (sikap hidup), syariat (jalan hidup) adalah salah satu bagian agama Islam. Menurut ajaran Islam syariat ditetapkan Allah menjadi patokan jidup setiap muslim. Sebagai jalan hidup, ia merupakan the way of life umat Islam. Menurut imam Syafii dalam kitab ar-Risalah, syariat adalah peraturan-peraturan lahir yang bersumber dari wahyu itu mengenai tingkah laku manusia. Dalam rumusan Imam Syafii ada dua hal yang disatukan. Bagian pertama “peraturan-peraturan yang bersumber pada wahyu Allah” menunjuk kepada syariah, sedang bagian kedua “ kesimpulan-kesimpulan yang berasal dari wahyu itu”menunjuk pada fikih. Sebagai ketetapan Allah baik berupa larangan maupun dalam bentuk suruhan, syariat mengatur jalan hidup dan kehidupan manusia.
Dilihat dari segi ilmu hukum, syariat adalah norma hukum dasar yang diwahyukan Allah, yang wajib diikuti oleh orang Islam, baik dalam berhubungan dengan Allah maupun dalam berhubungan dengan sesama manusia dan benda dalam masyarakat. 59
Dalam syari’at ini terdapat ketentuan-ketentuan Agama yang merupakan suatu fasilitas untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam rangka mencapai
- 0 @ (, - *% !% 4%$ ? @ &
+ , 1" 8B ) %1 -5& %! .7 5
, $$ , ( ! " 3 4 1 2 *%
kebahagiaan di dunia dan di akhirat dengan jalan melaksanakan dan berpegang di bidang ubudiyah dan muamalah.
Ibadah dalam Islam merupakan puncak segala kepatuhan dan inti dari perasaan tentang keagungan zat yang wajib disembah. Ibadah adalah media komunikasi langsung dan integral antara makhluk dan khaliqnya.ibadah juga merupakan sarana konsultatif yang memberi pengaruh sangat dalam antara manusia dengan Tuhan, alam sekitar dan sesama manusia.60
Dalam sejarah Islam ibadah juga memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia. Semua ibadah dalam Islam seperti sholat, puasa, haji dan zakat bertujuan membuat roh manusia agar senantiasa tidak lupa kepada Tuhan, bahkan senantiasa dekat pada-Nya, karena dengan demikian dapat mempertajam rasa kesucian yang kuat akan menjadi pengendali hawa nafsu sehingga tidak melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku dalam hukum Islam.
c. Akhlak
Akhlak secara etimologi (arti bahasa) berasal dari kata khalaqa, yang kata asalnya khuluqun, yang berarti : perangai, tabiat, adat atau khalqun yang berarti kejadian, buatan, ciptaan. Jadi secara etimologi akhlak itu berarti perangai, adat, tabiat atau system perilaku yang dibuat.61 Secara terminologis ( arti istilah) yang didefinisikan oleh imam Ghazali, akhlak sebagai sifat yang tertanam di dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang/mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Setiap perbuatan manusia yang muncul dari kesadaran jiwa seseorang merupakan akhlak, tanpa pengecualian perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jadi akhlak mencakup semua perbuatan manusia. Perbuatan manusia yang berniali baik disebut akhlak yang mulia/ akhlak terpuji, sedangkan perbuatan manusia yang bernilai buruk disebut akhlak jelek/ akhlak tercela.
.' ? ! < *% !% 4%$ " $ , 2 &
, 0 " *A + $, - & %! (
-Akhlak diartikan sebagai sikap yang melahirkan perbuatan (perilaku, tingkah laku) mungkin baik, mungkin buruk.
Akhlak adalah suatu bentuk dari keadaan jiwa yang benar-benar telah meresap. Dari sini timbul keadaan jiwa berbagai perbuatan secara spontan, mudah, terus menerus, tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran suatu perenungan dan angan-angan.62
d. Faktor-Faktor Penghambat dan Penunjang Pendidikan Agama Islam
Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam yang berlangsung di sekolah masih mengalami banyak kelemahan. Mengutip dari Maftuh Basyuni bahwa Pendidikan Agama Islam yang berlansung saat ini cenderung lebih mengedepankan aspek kognisi (pemikiran) dari pada afeksi (rasa) dan psikomotorik (tingkah laku).
Menurut Towaf yang dikutip oleh Muhaimin bahwa adanya factor penghambat dalam Pendidikan Agama Islam di sekolah, antara lain: (1). Pendekatan masih cenderung normative, dalam arti pendidikan agama menyajikan norma-norma yang sering kali tanpa ilustrasi konteks social budaya, sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam keseharian; (2) Kurikulum Pendidikan Agama Islam yang dirancang di sekolah sebenarnya lebih