• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

2. Hakikat Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

Menurut Zakiah Daradjat pengertian Pendidikan Agama Islam dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pendidikan agama Islam ialah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.

2. Pendidikan Agama Islam ialah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan ajaran Islam.

10

E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikat Guru,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), cet ke-4, h.18

Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup didunia maupun diakhirat kelak.11

Jadi, Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik atau guru dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

b. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

Kurikulum Pendidikan Agama Islam berfungsi untuk sekolah/madrasah sebagai berikut:

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Alllah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.

b. Penanaman Nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat.

c. Penyesuaian Mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.

d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.

11

e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia seutuhnya.

f. Pengajaran, yaitu tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum, system dan fungsionalnya.

g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus dibidang agama Islam agar dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan orang lain.12

Dengan demikian fungsi dari Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu untuk menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, yaitu dalam lingkungan keluarga, orang tua harus diikut sertakan dalam membimbing anaknya dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam, lalu sekolah hanya melanjutkan saja seperti memberikan pengajaran atau bimbingan kepada siswa tentang Pendidikan Agama Islam.

“Tujuan pendidikan Islam adalah membekali akal, dengan pemikiaran dan ide-ide yang sehat, baik itu mengenai cabang-cabang aqidah, maupun hukum. Islam telah memberikan dorongan agar manusia menuntut ilmu dan membekalinya dengan

pengetahuan.”13

Jadi, bisa dikatakan bahwa hakikat tujuan pendidikan Islam adalah mampu mencerdaskan akal dan membentuk jiwa yang Islami, sehinnga akan terwujud sosok pribadi muslim sejati yang berbekal pengetahuan dalam segala aspek kehidupan.

Tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu

12

Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam berbasis kompetensi, h.134-135. 13

Abdurrahman Bagdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khalifah Islam, (Surabaya: Al-Izzah, 1996), cet. 1. h. 25.

benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya.

Sebagian para ahli misalnya mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membimbing umat manusia agar menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Rumusan pendidikan Islam yang diarahkan pada upaya penyempurnaan akhlak atau membentuk akhlak yang mulia, sebagaimana akhlak yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.

Oleh karena itu berbicara Pendidikan Agama Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup didunia bagi anak didik dan kemudian akan membuahkan kebaikan di akhirat kelak. Dengan demikian tujuan pokok dan terutama pendidikan Islam ialah membentuk budi pekerti dan pendidikan jiwa yang baik.

3. Hakikat Komunikasi

a. Pengertian dan Tujuan Komunikasi

Komunikasi secara etimology berasal dari bahasa latin Communicate yang berarti berbicara, menyampaikan pesan, informasi, fikiran, gagasan, dan pendapat yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain dengan mengharapkan jawaban, tanggapan atau arus balik(feedback).14 Menurut Onong Uchjana Effendy, komunikasi mempunyai arti pemberitahuan atau pertukaran pikiran.15 Dalam Kamus

14

A.Muis, Komunikasi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), h.35 15

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2005) cet ke-19, h.4

Besar Bahasa Indonesia komunikasi memiliki arti sebagai pengiriman atau penerimaan pesan atau berita.16

Sedangkan secara terminology komunikasi berarti proses penyampaian pesan suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.17 Beberapa ahli mengemukakan definisi “Komunikasi” sebagai berikut: Himstreet dan Baty dalam Business Communications: Principles and Methods, yang dikutip dari Djoko Purwanto mengemukakan bahwa “komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antarindividu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan”.18

A.A. Anwar mengemukakan bahwa “komunikasi adalah pemindahan informasi dan pemahaman dari seseorang kepada orang lain”. Sedangkan Edwin B. Flippo berpendapat bahwa “komunikasi adalah aktivitas yang menyebabkan orang lain menginterpretasikan suatu ide,

terutama yang dimaksudkan oleh pembicara atau penulis”19

.

Menurut James G. Robbins & Barbara S. Janes yang sudah diterjemahkan oleh R. Turman Sirait, Komunikasi adalah suatu tingkah laku, perbuatan atau kegiatan penyampaian atau pengoperan lambang-lambang, yang mengandung arti atau makna. Atau perbuatan penyampaian suatu gagasan atau informasi dari seseorang kepada seorang lainnya.Atau lebih jelasnya, suatu pemindahan atau penyampaian informasi, mengenai fikiran, dan perasaan-perasaan.20

Bila dilihat lebih lanjut maksud dari model Laswell ini akan kelihatan bahwa yang dimaksud dengan pertanyaan who tersebut adalah menunjuk kepada siapa orang yang mengambil inisiatif untuk memulai

16

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), cet. 1, h. 454

17

T.A, Latief Rosyidy, Dasar-dasar Rhetorika Komunikasi dan Informasi,(Medan: 1985), h.48

18

Djoko Purwanto, Komunikasi Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2011), cet ke-2, h.4 19

A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), cet ke-5, h. 145

20

James G. Robbins & Barbara S. Janes, penerjemah R. Turman Sirait, Komunikasi yang Efektif, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1986), cet ke-3, h.1

komunikasi. Yang memulai komunikasi ini dapat berupa seseorang dan dapat sekelompok orang seperti organisasi.

Pertanyaan kedua adalah says what atau apa yang dikatakan. Pertanyaan ini adalah berhubungan dengan isi komunikasi atau pesan apa yang disampaikan. Pertanyaan ketiga adalah to whom.Pertanyaan ini maksudnya menayakan siapa yang menjadi penerima dari komunikasi. Pertanyaan keempat adalah through what atau melalui media apa. Yang dimaksud dengan media adalah alat komunikasi, seperti berbicara, gerakan badan, kontak mata, sentuhan, radio, televise, surat dan gambar. Pertanyaan terakhir dari model Laswell ini adalah what effect atau apa efeknya dari komunikasi tersebut. Misalnya, sebuah sekolah swasta membuat iklan untuk mengkomunikasikan bahwa mereka akan menerima murid baru. Sesudah iklan ini disiarkan beberapa hari, sudah berapa orangkah yang mendaftar untuk menjadi murid.Jumlah orang yang mendaftar ini adalah merupakan efek dari komunikasi.

Jadi pada dasarnya Laswell menyatakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek-efek tertentu.21

Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana seseorang menyampaikan pesannya, baik dengan lambang bahasa maupun dengan isyarat, gambar, gaya, yang di antara keduanya sudah terdapat kesamaan makna sehingga keduanya dapat mengerti apa yang sedang dikomunikasikan. Jelaslah bahwa dalam komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyampaikan pesan berupa lambang-lambang kepada orang lain melalui saluran yang disebut media.

Carl I. Hovland yang dikutip dari Onong Uchjana Effendy, dalam definisinya secara khusus mengenai pengertian komunikasinya sendiri mengatakan bahwa komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang

21

Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), Cet ke-11, h. 5-7

lain (communication is the process to modify the behavior of other individuals).22

Oleh sebab itu, tujuan dari komunikasi adalah menyampaikan informasi dari komunikator kepada komunikan dengan sejelas-jelasnya, agar informasinya dapat dipahami/dimengerti oleh komunikan, sehingga komunikasi dapat berjalan dengan efektif.

b. Unsur-unsur Komunikasi

Adapun unsur-unsur yang termasuk dalam komunikasi, seperti dikemukakan oleh Onong Uchjana, adalah sebagai berikut:

a. Komunikator

Komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang yang menyampaikan pikirannya atau perasaannya kepada orang lain. b. Pesan

Pesan sebagai terjemahan dari bahasa asing “message” adalah lambang bermakna (meaningful symbols), yakni lambang yang membawakan pikiran atau perasaan komunikator.

c. Komunikan

Komunikan adalah seseorang atau sejumlah orang yang menjadi sasaran komunikator ketika ia menyampaikan pesannya.

d. Media

Media adalah sarana untuk menyalurkan pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan.

e. Efek

Efek adalah tanggapan, reason atau reaksi dari komunikan ketika ia atau mereka menerima pesan dari komunikator. Jadi efek adalah akibat dari proses komunikasi.23

22

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2005) cet ke-19, h.10

23

Onong Uchjana Effendy, Human Relations dan Public Relation, (Bandung, Mandar Madu, 1993), cet-ke 8, h. 14-16

c. Proses Komunikasi

Proses komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang atau komunikator kepada orang lain atau komunikan. Pikiran bisa berupa gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benak perasaan yang berupa keyakinan, kepastian, kekhawatiran, dan sebagainya yang mucul dari lubuk hati. Komunikasi adalah proses yang dinamis, karena di dalamnya pengirim lambang yang disebut sender dan penerima lambang yang disebut receiver saling mempengaruhi, baik secara fisik maupun psikis, turut terlibat. Faktor fisik misalnya: menunjukkan sikap sopan, baik atau tidak, menerima atau menolak. Sedangkan faktor psikis diantaranya gembira, sedih, acuh, marah dan sebagainya.

Komunikasi adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi dalam diri seseorang atau diantara dua orang atau lebih dengan tujuan yang dimaksud.

Menurut Stephen P. Robbins, proses komunikasi. Model ini terdiri dari tujuh bagian: (1) Sumber komunikasi, (2) Pengkodean, (3) Pesan, (4) Saluran, (5) Decoding, (6) Penerima, dan (7) Umpan balik.24

Pesan Pesan Pesan Pesan

Umpan Balik

Gambar : 2.1 Menunjukkan Proses Komunikasi

24

Stephen P. Robbins, Penerjemah Benyamin Molan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia, 2006), cet ke-10, h. 393-394

Penginterpre-tasian Pesan

Sumber Penyandian Penerima

Pesan

Sumber mengawali pesan dengan mengkodekan pikiran. Pesan adalah produk fisik aktual dari sumber yang melakukan penyandian pesan. Bila seseorang berbicara, pembicaraan itu adalah pesan. Bila seseorang menulis, tulisan itulah pesan. Ketika seseorang melakukan gerakan isyarat, gerakan tangan dan ekspresi wajah seseorang itu merupakan pesan. Saluran adalah medium tempat pesan dihantarkan. Saluran itu diseleksi oleh sumber, yang harus menentukan apakah menggunakan saluran formal atau informal. Penerima adalah objek yang menjadi tujuan penyampaian pesan. Tetapi sebelum pesan dapat diterima, simbol-simbol didalamnya harus diterjemahkan ke dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh penerima. Langkah ini adalah penginterpretasian pesan. Kaitan terakhir dalam proses komunikasi adalah lingkaran umpan balik. Umpan balik merupakan pengecekan mengenai seberapa sukses seseorang menyampaikan pesan seperti dimaksudkan semula. Umpan balik menentukan apakah pesan itu telah dipahami atau tidak.

d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi

Menurut A.A Anwar Prabu Mangkunegara dikatakan bahwa “ada dua faktor yang mempengaruhi komunikasi, yaitu faktor dari pihak sender (pengirim pesan), dan faktor dari pihak receiver atau komunikan”.

a. Faktor dari pihak sender atau komunikator, yaitu keterampilan, sikap, pengetahuan sender, media saluran yang digunakan.

1. Keterampilan sender

Sender sebagai pengirim informasi, ide, berita, dan pesan perlu menguasai cara-cara penyampaian pikiran baik secara tertulis maupun lisan.

2. Sikap sender

Sikap sender sangat berpengaruh pada receiver. Sender yang bersikap angkuh terhadap receiver dapat mengakibatkan informasi atau pesan yang diberikan menjadi ditolak oleh receiver. Begitu pula sikap sender yang ragu-ragu dapat mengakibatkan receiver menjadi titik percaya terhadap informasi atau pesan yang

disampaikan. Maka dari itu, sender harus mampu bersikap meyakinkan receiver terhadap pesan yang diberikan kepadanya. 3. Pengetahuan sender

Sender mempunyai pengetahuan luas dan menguasai materi yang disampaikan akan dapat menginformasikannya kepada receiver sejelas mungkin. Dengan demikian, receiver akan lebih mudah mengerti pesan yang disampaikan oleh sender.

4. Media saluran yang digunakan oleh sender

Media atau saluran komunikasi sangat membantu dalam penyampaian ide, informasi atau pesan kepada receiver. Sender perlu menggunakan media saluran komunikasi yang sesuai dan menarik perhatian receiver.

b. Faktor dari pihak receiver, yaitu keterampilan receiver, sikap receiver, pengetahuan receiver, dan media saluran komunikasi.

1. Keterampilan receiver

Keterampilan receiver dalam mendengar dan membaca pesan sangat penting. Pesan yang diberikan oleh sender akan dapat dimengerti dengan baik, jika receiver mempunyai keterampilan mendengar dan membaca.

2. Sikap receiver

Sikap receiver terhadap sender sangat mempengaruhi efektif tidaknya komunikasi. Misalnya, receiver bersikap apriori, meremehkan, berprasangka buruk terhadap sender, maka komunikasi menjadi tidak efektif, dan pesan menjadi tidak berarti bagi receiver. Maka dari itu, receiver haruslah bersikap positif terhadap sender, sekalipun pendidikan sender lebih rendah dibandingkan dengannya.

3. Pengetahuan receiver

Pengetahuan receiver sangat berpengaruh pula dalam komunikasi. Receiver yang mempunyai pengetahuan yang luas akan lebih mudah dalam menginterpretasikan ide atau pesan yang diterimanya

dari sender. Jika pengetahuan receiver kurang luas sangat memungkinkan pesan yang diterimanya menjadi kurang jelas atau kurang dapat dimengerti oleh receiver.

4. Media saluran komunikasi

Media saluran komunikasi yang digunakan sangat berpengaruh dalam penerimaan ide atau pesan. Media saluran komunikasi berupa alat indera yang ada pada receiver sangat menentukan apakah pesan dapat diterima atau tidak untuknya. Jika alat indera receiver terganggu maka pesan yang diberikan oleh sender dapat menjadi kurang jelas bagi receiver.25

e. Komunikasi Efektif

1. Pengertian komunikasi efektif

Komunikasi merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia, hal ini dikarenakan manusia sebagai predikat makhluk sosial, yang secara otomatis tidak dapat hidup tanpa adanya orang lain artinya manusia sebagai makhluk sosial pasti memerlukan sosialisasi. Dalam proses sosialisasi inilah komunikasi memegang peranan yang urgen.

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada komunikan atau penerima pesan, dalam proses komunikasi ini tentunya ada tujuan atau maksud yang hendak dicapai oleh komunikator dan komunikan, tujuan dan maksud dari proses komunikasi itu melahirkan efek-efek tertentu dalam komunikasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian efektif adalah ada pengaruhnya, ada akibatnya, ada efeknya, dan dapat membuahkan hasil.26Oleh karena itu komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang menimbulkan efek tertentu sesuai dengan tujuan komunikasi.

Efek-efek yang ditimbulkan dalam proses komunikasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

25

A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), cet ke-5, h. 148-150

26

1. Efek kognitif, adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. 2. Efek afektif, lebih tinggi kadarnya dari pada dampak kognitif.

Tujuan komunikator bukan hanya sekedar supaya komunikan tahu, tetapi bergerak hatinya, menimbulkan pesan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya. 3. Efek behavioral, yang paling tinggi kadarnya, yakni dampak yang

timbul pada komunikan dalam bentuk prilaku, tindakan atau kegiatan.27

2. Hambatan-hambatan dalam berkomunikasi

Komunikasi dalam prosesnya, ada beberapa hal yang merintangi atau menghambat tercapainya tujuan dari proses komunikasi. Hambatan atau rintangan dalam komunikasi bisa berasal dari pribadi komunikan dan komunikator, lingkungan dan lain sebagainya.

Menurut James G. Robbins”suatu sebab utama dari kemacetan komunikasi, adalah kebisingan, bunyi atau suara yang ribut, yang dalam konteks ini berarti segala sesuatu yang menggangu penyampaian atau

penerima pesan”.28

Menurut Husaini Usman,terdapat 18 hambatan komunikasi dikelas, yaitu:

(1) komunikator menggunakan bahasa yang sukar dipahami, (2) perbedaan persepsi akibat latar belakang yang berbeda, (3) terjemahan yang salah, (4) kegaduhan, (5) reaksi emosional seperti terlalu bertahan (defensif) atau terlalu menyerang (agresif), (6) gangguan fisik (gagap,tuli,buta), (7) semantic yaitu pesan bermakna ganda, (8) belum berbudaya baca dan tulis, serta berbudaya diam, (9) teknik bertanya yang buruk, (10) teknik menjawab yang buruk, (11) tidak jujur, (12) tertutup, (13) destruktif, (14) kurang dewasa, (15) kurang respect, (16) kurang

27

Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), cet ke-7, h. 7

28

James G. Robbins & Barbara S. Janes, penerjemah R. Turman Sirait, Komunikasi yang Efektif, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1986), cet ke-3, h. 11

persiapan, (17) kurang menguasai materi, dan (18) kebiasaan menjadi pembicara dan pendengar yang buruk.29

Hambatan-hambatan inilah yang nantinya akan menjadikan komunikasi yang tidak terarah antara guru dengan siswa. Seringkali siswa sebagai subjek maupun objek belajar dalam kesehariannya di sekolah mengalami komunikasi terutama dalam proses belajar mengajar.

Oleh sebab itu untuk menghilangkan penghambat proses komunikasi perlu adanya solusi yang dapat menyingkirkan hambatan atau kesulitan-kesulitan dalam komunikasi itu.

f. Komunikasi Efektif dalam Pendidikan

Ditinjau dari prosesnya, Onong Uchjana mengemukakan bahwa pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan. Lazimnya, pada tingkatan bawah dan menengah pengajar itu dinamakan guru, sedangkan pelajar itu disebut murid, pada tingkatan tinggi pengajar itu dinamakan dosen, sedangkan pelajar dinamakan mahasiswa. Pada tingkatan apapun, proses komunikasi antara pengajar dan pelajar itu pada hakekatnya sama saja. Perbedaannya hanyalah pada jenis pesan serta kualitas yang disampaikan oleh si pengajar kepada si pelajar. 30

Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada komunikan atau penerima pesan. Dalam hal ini komunikasi dapat dikatakan efektif apabila penerima menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim.MenurutJohnson yang dikutip oleh A. Supratiknya, menyatakan bahwa ada tiga kiat pengirim pesan secara efektif yang harus dipenuhi, antara lain:

1. Kita harus mengusahakan agar pesan-pesan yang kita kirimkan mudah dipahami

29

Husaini Usman, Manajemen; Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 396

30

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2005) cet ke-19, h. 101-104

2. Sebagai pengirim kita harus memiliki kredibilitas di mata penerima 3. Kita harus berusaha mendapatkan umpan balik secara optimal

tentang pengaruh pesan kita dalam diri penerima31

Menurut asumsi penulis bahwa kaitannya komunikasi efektif dalam pendidikan paling tidak ada beberapa faktor yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai komunikator, antara lain:

1)Guru harus mengupayakan agar materi pelajaran yang disampaikan dapat diterima oleh siswa dengan mudah.

2)Guru sebagai komunikator atau pengirim pesan harus memiliki kredibilitas di mata siswa sebagai penerima pesan.

3)Guru harus berusaha mendapatkan umpan balik secara optimal mengenai pengaruh yang telah disampaikan kepada siswa.

Dokumen terkait