• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manusia memiliki potensi dasar yang bisa dikembangkan, sehingga manusia dinamakan sebagai makhluk pedagogik. Makhluk pedagogik adalah makhluk yang dapat dididik sekaligus makhluk yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan aktivitas pendidikan.74 Rosulullah SAW. Bersabda dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah:

“Tidak seorang pun dilahirkan kecuali mempunyai fitrah. Maka kedua orangtuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)75

Hadits di atas memberi penjelasan bahwa seorang manusia lahir dalam keadaan fitrah,76 yakni dibekali naluri keberagamaan tauhid. Tidak seorang

73 Ibid., hlm. 153.

74 Baharuddin, dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik; Konsep, Teori, dan Aplikasi,

Praksis, dalam Dunia Pendidikan, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2007), cet. I, hlm. 106. 75 Syeikh Manshur Ali Nashif, Al-Taj al-Jami’u li al- Ushul Fi Ahadits al-Rasul (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Araby, 1961 M/1381H), hlm. 36.

76 Fitrah berarti bersih dan suci. Hasan Langgulung mengartikan fitrah sebagai potensi yang baik. (Lihat Baharuddin dan Moh. Makin, op.cit., hlm. 39 ). Kata fitrah juga brarti agama,

millah, dan sunnah. Fitrah juga dapat kita fahami sebagai sifat dan kemampuan dasar manusia

yang mempunyai naluri keberagamaan tauhid. Fitrah juga merupakan potensi dasar yang masih bersih. Dalam aliran psikologi, potensi dasar tersebut dinamakan sebagai kemampuan dasar yang dapat berkembang secara optimal dengan sentuhan ikhtiar berupa kegiatan pendidikan dalam makna yang luas. (Lihat Baharuddin dan Moh. Makin, op.cit., hlm. 40).

pun bayi yang terlahir ke dunia membawa dosa asal. Fitrah merupakan potensi yang baik yang perlu diasah dan dikembangkan. Kegiatan mengasah dan mengembangkan fitrah melalui proses transformasi nilai itu berlangsung dari generasi tua kepada generasi yang lebih muda.

Karena itu, usaha-usaha pendidikan bagi manusia menjadi suatu kebutuhan pokok guna menunjang pelaksanaan amanat yang dilimpahkan Allah kepadanya. Ini merupakan kebutuhan manusia terhadap pendidikan yang bersifat individual.

Berhubung pendidikan merupakan bagian dari hidup, maka tujuan hidup manusia pada dasarnya merupakan tujuan pendidikan itu sendiri. Jadi, dalam menciptakan kondisi pendidikan yang bertujuan sakral-transendental, yakni memanusiakan manusia, secara filosofis perlu melihat tujuan hidup manusia, terlebih melalui paradigma qur’ani. Dalam Al-Qur’an disebutkan, bahwa tujuan hidup manusia diantaranya adalah untuk menyembah Allah (QS. Al-Dzariyat(51): 56), beribadah supaya menjadi orang yang taqwa (QS. Al- Baqoroh (2): 21), dan menjalankan agama yang lurus (QS. Al- Bayyinah (98): 5).77

Itulah tujuan hidup manusia dalam perspektif Islam, yang sekaligus menjadi tujuan ideal pendidikan Islam. Secara lebih detail, dapat dideskripsikan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencari kebahagiaan duniawi-ukhrawi, dengan mempertajam kesalehan sosial lewat amr (perintah) berbuat baik kepada orang lain, dan mengembangkan sense of belonging (rasa ikut memiliki) melalui larangan berbuat kerusakan dalam bentuk apa pun.78 Dalam mencapai tujuan hidupnya, manusia diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya sendiri sesuai dengan kodradnya secara bebas dan merdeka, tetapi harus diinsyafi bahwa itu bukan kebebasan yang leluasa, melainkan kebebasan terbatas pada tertib-damainya hidup bersama. Kebebasan itu diberikan kepada anak didik dalam hal bagaimana cara dia

77Ibid., hlm. 113.

berfikir. Dengan demikian, anak didik jangan terlalu dipelopori (dipaksa mengikuti) atau disuruh membeo buah fikiran orang lain.79

Anak-anak jalanan, pada umumnya mereka tidak memiliki bekal yang cukup, baik dalam hal pendidikan, atau pun ketrampilan. Keterbatasan-keterbatasan ini pada gilirannya nanti akan dijadikan sebagai tolak ukur dalam mencari tempat dan peran dalam struktur sosial budaya kita. Anak-anak jalanan akan semakin terpinggirkan dengan segala problematika yang melingkupinya. Misalnya tindakan kekerasan dari orang yang lebih dewasa, pelecehan seksual, terampasnya kesejahteraan, hilangnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan terlanggarnya hak-hak mereka untuk membentuk masa depan mereka sendiri.80

Kalau kita cermati lebih dalam, anak-anak jalanan merupakan benih masyarakat untuk masa yang akan datang. Sehingga jika benih itu baik, diharapkan masyarakat yang akan terbentuk pun merupakan masyarakat yang baik pula. Sebab pendidikan merupakan alat yang paling ampuh dalam pembentukan kepribadian anak. Dengan memberikan pendidikan terhadap anak jalanan, berarti kita akan dapat memecahkan beberapa masalah keterbelakangan dan kemiskinan, dan dijamin pada masa mendatang generasi penerus bangsa akan mampu memecahkan persoalannya sendiri. Hal itu berarti akan menyelamatkan generasi penerus masa depan bangsa ini.

Berbicara mengenai pendidikan untuk anak jalanan, maka anak jalanan membutuhkan pendidikan yang mengedepankan aspek-aspek humanistik dalam mencapai ranah-ranah kemanusiaan. Pendidikan humanis berangkat dari konsep pengembangan fitrah dan potensi manusia, sebagai sosok manusia merdeka dan memiliki kebebasan penuh untuk bereksplorasi secara leluasa. Kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan yang leluasa, melainkan kebebasan yang terbatas pada tertib damainya hidup bersama sebagai makhluk

79 Dhakiri, Paulo Freire, Islam dan Pembebasan, (Jakarta; Djambatan, 2000). Cet. I November, hlm. 47.

80 Wiwied Trisnadi, Lika-Liku Pendampingan Anak Jalanan Perempuan Di Yogyakarta, (Yogyakarta: Mitra Wacana, 2004), hlm. 16.

Tuhan.81 Yang dimaksud proses pendidikan yang memanusiakan manusia adalah proses membimbing, mengembangkan, dan mengarahkan potensi dasar manusia baik jasmani maupun ruhani secara seimbang dengan menghormati nilai-nilai humanistik yang lain.82

Menurut hemat penulis, pendidikan humanis sangat sesuai untuk diimplementasikan terhadap anak jalanan, karena pendidikan ini sangat mementingkan ranah-ranah kemanusiaan antara sesame manusia. Karena melihat selama ini stereotype negatif sering kali dilabelkan kepada anak jalanan, sebagai kelompok orang miskin, bodoh, kumuh, dan selalu direndahkan harkat dan martabat mereka,83 maka kondisi anak jalanan seperti itu sangat memerlukan sentuhan-sentuhan lembut penuh rasa kemanusiaan dari sesama manusia dengan cara membina membimbing, mengembangkan, dan mengarahkan potensi dasar dari anak jalanan, baik jasmani maupun ruhani secara seimbang dengan menghormati nilai-nilai humanistik yang lain. Dan inilah esensi dari pendidikan bagi anak jalanan.

81Ibid., hlm. 109.

82 Baharuddin, dan Moh. Makin, op. cit., hlm. 113.

59