• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAKIM ANGGOTA: SALDI ISRA

Dalam dokumen MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA (Halaman 48-54)

DUDUK PERKARA

41. HAKIM ANGGOTA: SALDI ISRA

[3.11.8] Bahwa Pemohon mendalilkan yang pada pokoknya menyatakan adanya lebih dari satu Pemilih yang menggunakan Formulir C6 milik orang lain yaitu di TPS 2 Tahi Ite, Kecamatan Rarowatu, C6-KWK atas nama Sri Nuraisah digunakan oleh Gai, C6-KWK atas nama Hendra digunakan oleh Hendra yang lain, dan di TPS 1 Tahi Ite, Kecamatan Rarowatu, C6-KWK atas nama Mila Karmila digunakan oleh Widya.

Untuk menguatkan dalilnya, Pemohon mengajukan alat bukti surat/tulisan yang diberi tanda bukti P-6 dan tanda bukti P-42, serta keterangan saksi Suriadin sebagai LO dan saksi mandat Pasangan Calon Nomor Urut 1 menyampaikan keterangan yang pada pokoknya bahwa adanya penggunaan Formulir C6 milik orang lain yaitu di TPS 2 Tahi Ite Kecamatan Rarowatu, C6-KWK atas nama Sri Nuraisah digunakan oleh Gai, dan C6-KWK atas nama Hendra digunakan oleh Hendra yang lain, dan TPS 1 Tahi Ite Kecamatan Rarowatu, C6-KWK atas nama Mila Karmila digunakan oleh Widya.

Terhadap dalil Pemohon tersebut, Termohon membantah yang pada pokoknya menyatakan bahwa dalil tentang adanya C6-KWK milik pemilih bernama Sri Nuraisah digunakan oleh Gai untuk memilih di TPS 2 Desa Tahi Ite adalah tidak benar karena faktanya dalam DPT TPS 2 Desa Tahi Ite tidak terdapat pemilih bernama Sri Nuraisah.

Demikian pula, dalil bahwa C6-KWK pemilih bernama Hendra digunakan oleh Hendra yang lain adalah tidak benar, karena faktanya C6-KWK milik pemilih bernama Hendra yang terdaftar dalam DPT di TPS 2 Desa Tahi Ite digunakan sendiri oleh yang bersangkutan.

Demikian pula dengan dalil Pemohon yang menyatakan bahwa C6-KWK milik pemilih bernama Mila Karmila digunakan oleh Widya untuk memilih di TPS 1 Desa Tahi Ite adalah juga tidak benar karena faktanya C6-KWK milik pemilih bernama Mila Karmila yang terdaftar dalam DPT di TPS 1 Desa Tahi Ite digunakan sendiri oleh yang bersangkutan. Termohon juga membantah dan seterusnya, dianggap telah dibacakan.

Terhadap dalil Pemohon tersebut, Pihak Terkait menyampaikan keterangan yang pada pokoknya

menyatakan bahwa pada saat pemungutan suara berlangsung baik di TPS 1 maupun TPS 2 Tahi Ite Kecamatan Rarowatu berlangsung secara aman dan lancar. Para saksi menandatangani Formulir C KWK, tidak terdapat catatan kejadian khusus yang tidak ada keberatan dalam Formulir C 2–KWK.

Berdasarkan keterangan Saksi Pihak Terkait, baik TPS 1 maupun TPS 2 Tahi Ite Kecamatan Rarowatu, tidak terdapat permasalahan di dua TPS tersebut, tidak ada kejadian seperti yang didalilkan Pemohon. Sehingga, patut dipertanyakan juga kebenaran dalil Pemohon apakah benar di dua TPS tersebut terdapat pemilih yang menggunakan C6 milik orang lain. Untuk menguatkan keterangannya, Pihak Terkait dan seterusnya dianggap telah dibacakan.

Bahwa terhadap permasalahan hukum di atas, Mahkamah berpendapat sesuai bukti dan fakta persidangan didapati hal-hal sebagai berikut:

1. Bahwa Saksi Pemohon bernama Suriadin sebagai LO dan saksi mandat Pasangan Calon Nomor Urut 1 menerangkan adanya penggunaan Formulir C6 milik orang lain yaitu di TPS 2 Tahi Ite Kecamatan Rarowatu, C6-KWK atas nama Sri Nuraisah digunakan oleh Gai dan C6-KWK atas nama Hendra digunakan oleh Hendra yang lain. TPS 1 Tahi Ite Kecamatan Rarowatu, C6-KWK atas nama Mila Karmila digunakan oleh Widya.

2. Bahwa Panwas Kabupaten Bombana telah melakukan pemeriksaan terhadap laporan yang diajukan oleh saksi mandat Pasangan Calon Nomor Urut 1 bernama Suriadin. Setelah melakukan klarifikasi kepada pelapor, Gai, Widya, serta Hendra, Panwas mendapatkan fakta sebagai berikut: Poin 1, poin a, b, c, dan d dianggap telah dibacakan.

3. Bukti P-5, bukti TF-004, dan bukti PK-17 berupa rekomendasi Panwas Kabupaten Bombana Nomor 029/BAWASLU dan seterusnya, tanggal 17 Februari 2017 merekomendasikan kepada KPU Kabupaten Bombana agar terhadap pelanggaran tersebut dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di TPS 2 Desa Tahi Ite Kecamatan Rarowatu, namun rekomendasi tersebut tidak dilaksanakan.

Sesuai dengan fakta tersebut di atas, telah ternyata dan terdapat lebih dari satu orang pemilih yang menggunakan hak pilihnya di dua TPS yang berbeda. Hal itu jelas bertentangan dengan ketentuan Pasal 112 ayat (2) huruf d Undang-Undang Nomor 1/2015 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10/2016 yang menyatakan, “Pemungutan suara di TPS dapat diulang jika dari hasil penelitian dan pemeriksaan Panwas Kecamatan terbukti terdapat 1 (satu) atau lebih keadaan sebagai berikut:

d. lebih dari seorang Pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali, pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda, dan/atau.

Terhadap ketentuan a quo Mahkamah telah berpendirian bahwa kata dapat dalam ketentuan tersebut haruslah dimaknai bahwa dalam hal perbuatan sebagaimana yang diuraikan dalam Pasal 112 ayat (2) huruf d Undang-Undang Nomor 1/2015 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10/2016 tidak serta-merta menyebabkan dilakukannya pemungutan suara ulang (vide Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 10/PHP.BUP-XV/2017). Menurut Mahkamah filosofi yang terkandung dalam norma tersebut di satu pihak adalah untuk melindungi kemurnian hak konstitusional warga negara namun di pihak lain perlindungan dimaksud harus tetap memperhatikan prinsip signifikansi, yaitu mempengaruhi hasil perolehan suara dalam penentuan calon terpilih, sebagaimana dimaksud Pasal 156 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10/2016. Artinya apabila pemungutan suara ulang sebagaimana termuat dalam ketentuan tersebut ternyata tidak mempengaruhi hasil akhir perolehan suara dalam penentuan calon terpilih maka pemungutan suara ulang dimaksud tidak perlu dilaksanakan. Namun, dalam kasus a quo dengan jumlah DPT di TPS 2 Tahi Ite, Kecamatan Rarowatu adalah 138, sehingga apabila dilakukan pemungutan suara ulang potensial mengubah hasil akhir perolehan suara masing-masing pasangan calon. Oleh karena itu, Mahkamah berpendapat harus dilakukan pemungutan suara ulang di TPS 2 Desa Tahi Ite, Kecamatan Rarowatu.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, menurut Mahkamah dalil permohonan Pemohon mengenai perlunya dilaksanakan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di TPS 2

Desa Tahi Ite, Kecamatan Rarowatu beralasan menurut hukum.

[3.11.9] Bahwa Pemohon mendalilkan yang pada pokoknya menyatakan bahwa sehari sebelum Pleno di Tingkat PPK Poleang Tenggara, yaitu pada hari Kamis tanggal 16 Februari 2017 Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Poleang Tenggara melakukan pembukaan 4 (empat) kotak suara dari TPS 1 Lemo, TPS 1 Larete, TPS 2 Larete, dan TPS 1 Lamoare tanpa disaksikan oleh masing-masing saksi pasangan calon dan pihak Kepolisian serta tanpa dibuatkan berita acara pembukaan kotak suara. Untuk menguatkan dalilnya, Pemohon mengajukan alat bukti surat/tulisan yang diberi tanda bukti P-5 dan bukti P-22.

Terhadap dalil Pemohon tersebut, Termohon membantah yang pada pokoknya menyatakan bahwa pembukaan kotak suara di TPS 1 Marampuka, TPS 2 Marampuka, TPS 1 Larete, dan TPS 1 Lamoare oleh PPK Poleang Tenggara telah mendapat persetujuan dan disaksikan oleh Panwascam Kecamatan Poleang Tenggara, Ketua PPS Marampuka dan Ketua KPPS Lamoare dan setelah itu dibuatkan Berita Acara yang ditandatangani oleh Ketua PPK Poleang Timur, Ketua PPS dan KPPS Lamoare, PPS Marampuka dan Panwascam Kecamatan Poleang Timur [sic!].

Bahwa pembukaan kotak suara tersebut dilakukan semata-mata untuk keperluan mengambil Formulir Model C1-KWK dan Lampiran C1-KWK yang tersimpan dalam kotak suara pasca penghitungan suara di tingkat TPS karena dokumen tersebut dibutuhkan oleh Termohon untuk keperluan publikasi SITUNG (Sistem Informasi Perhitungan Suara) yang di-upload ke situs KPU RI. Pengambilan Formulir tersebut dan seterusnya dianggap dibacakan.

Terhadap dalil Pemohon tersebut, Pihak Terkait mengajukan alat bukti surat/tulisan yang diberi tanda bukti PT-2 dan bukti PT-6, serta saksi Drs Buhari sebagai saksi mandat Pasangan Calon Nomor Urut 2 dalam pleno PPK Kecamatan Poleang Tenggara, menyampaikan keterangan yang pada pokoknya bahwa saksi mendengar dari warga tentang adanya pembukaan kotak suara di Kecamatan Poleang Tenggara, selanjutnya saksi menuju ke kantor Kecamatan Poleang

Tenggara dan mendapati pembukaan kotak suara telah selesai, selanjutnya saksi melapor kepada Panwas tentang peristiwa tersebut.

Bahwa terhadap permasalahan hukum di atas, Mahkamah berpendapat sesuai bukti dan fakta persidangan didapati hal-hal sebagai berikut:

1. Bahwa dalil Pemohon mengenai adanya pembukaan kotak suara di PPK Kecamatan Poleang Tenggara a quo dibenarkan oleh semua pihak, baik oleh Termohon maupun Pihak Terkait. Hal mana dikuatkan keterangan saksi-saksi baik oleh saksi Termohon maupun saksi Pihak Terkait (vide keterangan Saksi Termohon Muh Arsal dan Saksi Pihak Terkait Drs. Buhari).

2. Bahwa Panwas Kabupaten Bombana telah melakukan pemeriksaan terhadap laporan yang diajukan oleh saksi mandat Pasangan Calon Nomor Urut 1 bernama Suriadin, dan telah melakukan klarifikasi mendapatkan fakta bahwa yang dimaksud dengan TPS 2 Larete adalah TPS 2 Marampuka dan yang dimaksud dengan TPS 1 Lemo adalah TPS 1 Marampuka (vide keterangan Panwas Kabupaten Bombana dalam persidangan).

3. Bukti P-5, bukti TF-004, dan bukti PK-17 berupa rekomendasi Panwas Kabupaten Bombana Nomor 029 dan seterusnya, tanggal 17 Februari 2017 merekomendasikan pelanggaran tersebut kepada KPU Kabupaten Bombana untuk dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di TPS 1 Lemo, TPS 1 Larete, TPS 2 Larete dan TPS 1 Lamoare, namun KPU Kabupaten Bombana tidak melaksanakannya. Sesuai dengan fakta tersebut di atas, nyata benar adanya telah terjadi pembukaan kotak suara yang tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan di PPK Kecamatan Poleang Tenggara. Hal demikian jelas bertentangan dengan Pasal 112 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 1/2015 yang menyatakan, (dianggap telah dibacakan). Terhadap ketentuan a quo, Mahkamah dalam hal ini berpendirian bahwa substansi yang terkandung dalam Pasal 112 ayat (2) huruf a haruslah dimaknai sama dengan Pasal 112 ayat (2) huruf d Undang-Undang Nomor 1/2015. Sehingga kata dapat

pula huruf b, huruf c, dan huruf e, harus dimaknai tidak serta-merta menyebabkan dilakukannya pemungutan suara ulang, sebagaimana telah ditegaskan dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 10/PHP.BUP-XV/2017 yang menyatakan bahwa filosofi yang terkandung dalam norma tersebut di satu pihak adalah untuk melindungi kemurnian hak konstitusional warga negara, namun di pihak lain perlindungan dimaksud harus tetap memperhatikan prinsip signifikansi, yaitu mempengaruhi hasil perolehan suara dalam penentuan calon terpilih sebagaimana dimaksud Pasal 156 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10/2016. Artinya, apabila pemungutan suara ulang sebagaimana termuat dalam ketentuan tersebut ternyata tidak mempengaruhi hasil akhir perolehan suara dalam penentuan calon terpilih, maka pemungutan suara ulang dimaksud tidak perlu dilaksanakan.

Namun, dalam kasus a quo dengan jumlah DPT di TPS 1 Larete sejumlah 271, DPT di TPS 1 Lemo (TPS 1 Marampuka) sejumlah 365, DPT di TPS 2 Larete (TPS 2 Marampuka) sejumlah 263, dan DPT di TPS 1 Lamoare sejumlah 271, apabila dilakukan pemungutan suara ulang potensial mengubah hasil akhir perolehan suara masing-masing pasangan calon. Oleh karena itu, beralasan untuk dilakukan pemungutan suara ulang di TPS 1 Larete, TPS 1 Lemo (TPS 1 Marampuka), TPS 2 Larete (TPS 2 Marampuka), dan TPS 1 Lamoare Kecamatan Poleang Tenggara.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, menurut Mahkamah dalil Pemohon mengenai Pemungutan Suara Ulang (PSU) di TPS 1 Larete, TPS 1 Lemo (TPS 1 Marampuka), TPS 2 Larete (TPS 2 Marampuka) dan TPS 1 Lamoare, Kecamatan Poleang Tenggara beralasan menurut hukum.

[3.15] Menimbang bahwa dengan memperhatikan tingkat kesulitan, jangka waktu, dan kemampuan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bombana dan aparat penyelenggara serta peserta pemilihan dalam pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang, Mahkamah berpendapat bahwa waktu yang diperlukan untuk melaksanakan Pemungutan Suara Ulang adalah 30 (tiga puluh) hari kerja, setelah diucapkannya Putusan Mahkamah dan melaporkannya kepada Mahkamah dalam jangka waktu paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah ditetapkannya rekapitulasi pemungutan suara ulang di tingkat kabupaten.

[3.16] Menimbang bahwa untuk menjamin terlaksananya pemungutan suara ulang (PSU) tersebut berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, pelaksanaan Putusan ini harus disupervisi oleh KPU RI yang selanjutnya secara berjenjang melakukan supervisi terhadap KPU Provinsi Sulawesi Tenggara. Demikian pula Bawaslu RI melakukan supervisi terhadap Bawaslu Provinsi Sulawesi Tenggara yang selanjutnya secara berjenjang melakukan supervisi terhadap Panwas Kabupaten Bombana.

[3.17] Menimbang bahwa tugas pengamanan berada pada Kepolisian Negara RI, oleh karena itu Mahkamah memerintahkan kepada Kepolisian Negara RI untuk memerintahkan jajarannya guna mengamankan jalannya Pemungutan Suara Ulang dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bombana Tahun 2017 tersebut agar berjalan dengan aman, objektif dan transparan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

[3.18] Menimbang bahwa berdasarkan seluruh uraian pertimbangan di atas, dalil Pemohon berkenaan dengan pelanggaran Pasal 112 ayat (2) huruf a dan huruf d Undang-Undang Nomor 1/2015 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 10/2016 beralasan menurut hukum untuk sebagian, sehingga Mahkamah memandang perlu untuk dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di beberapa TPS sebagaimana disebutkan dalam amar putusan ini.

Dalam dokumen MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA (Halaman 48-54)

Dokumen terkait