• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hal-hal yang Diperjanjikan Dalam Perjanjian

Dalam dokumen ASPEK HUKUM WANPRESTASI (Halaman 34-53)

BAB III : AKIBAT HUKUM WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN

A. Hal-hal yang Diperjanjikan Dalam Perjanjian

Melihat begitu besarnya tanggungjawab yang diberikan kepada

seorang komisioner dalam melaksanakan hubungan dagang maka dalam hal

ini dapat diberikan hak utama. Pemberian hak utama dimaksudkan adalah

untuk menjaga agar perbuatan hukum yang dilaksanakannya tersebut

diketahui baik itu mendahului, menahan dan menyimpang.

Kenyataan yang demikian lebih jelas disebutkan bahwa hak utama

komisioner adalah :

a. Hak mendahului atas barang-barang yang diserahkan untuk dijual atau

atas barang-barang yang telah dibeli (bevoorrecht op de goederen)

menurut Pasal 80.

b. Hak menahan (ius retentio). Hak ini berdasarkan Pasal 81 KUHD

untuk membayar pada diri sendiri upah yang menjadi aknya. Hak

menahan itu dapat pula dilakukan terhadap barang-barang untuk dijual,

untuk mana harus ditempuh jalan yang ditentukan oleh Pasal 82 dan 83

KUHD.

c. Ius separatis atau hak menyimpang. Penyimpangan ini berupa tagihan

secara langsung pada principalnya yang telah dinyatakan pailit atau

dengan perkataan lain tanpa melalui Balai Harta Peninggalan

(weeskamer). Pasal 84 KUHD menentukan bahwa dalam hal yang

dimaksud di atas, berlakulah Pasal 56, 57 dan 58 UU Kepailitan. Pasal-

pasal tersebut menentukan “… dapat menjalankan haknya, seolah-olah

tidak terdapat kepailitan. 14

Dengan adanya hak utama yang diberikan dalam hal ini kelihatan

adalah untuk melindungi pihak komisioner dari tindakan-tindakan atau

perbuatan-perbuatan yang mungkin dilakukan principal. Disebutkan demikian

karena dalam perhubungan hukum komisioner dianya akan mendapatkan

sejumlah upah dari hasil kerja atau tindakan yang dibebankan kepadanya.

Kalau diperhatikan juga tentang adanya untuk menjual dalam hal ini

adalah apabila memang hubungan hukum antara principal dengan

komisioner tidak dilaksanakan, maka dengan sendirinya barang yang menjadi

objek tindakan yang dibebankan kepada komisioner dapat dijualnya untuk

pelunasan hak baginya berupa upah.

Dengan pengertian lain hasil penjualan barang dapat ditahan oleh

komisioner apabila upah yang diperjanjikan akan diberikan kepadanya belum

dibayar oleh principal. Berkenaan dengan hak menahan barang ini nampak

bahwa dalam kedudukan yang demikian, komisioner akan

mempergunakannya apabila juga principal tidak memberikan upah yang

diperjanjikan kepadanya. Artinya dengan menahan barang yang menjadi

objek yang diperjanjikan maka komisioner akan mempunyai kepastian akan

pembayaran upahnya.

Hal ini disebutkan oleh Sukardono sebagai hak retensi yang diberikan

kepada komisioner oleh Pasal 85 KUHD”15. Sementara kalau yang

disebutkan dengan hak yang menyimpang adalah bahwa kelihatan

15 R. Soekardono, Hukum Dagang Indonesia, Jilid I (Bagian Pertama), Cetakan ke VIII, Dian

komisioner mempunyai kedudukan yang lebih baik. Disebutkan demikian

karena dalam hal ini komisioner dapat memintakan pembayaran upah pada

principal walaupun si principal tersebut berada dalam keadaan pailit.

Dengan demikian kepailitan yang terjadi pada principal tidak

menghambat hak dari komisioner untuk menuntut pembayaran upah atas

hasil tindakan yang dibebankan atau diwajibkan untuk dikerjakannya.

Jelasnya dapat disebutkan dari posis ini komisioner mempunyai kedudukan

sebagai kreditur preferen.

Dengan tegas disebutkan oleh Purwosutjipto, bahwa : komisioner

mempunyai hak istimewa pada barang-barang komiten yang ada di tangan

komisioner :

1. untuk dijual

2. untuk ditahan bagi kepentingan lain yang akan datang dan

3. yang dibeli dan diterimanya untuk kepentingan komiten. 16

Jelasnya disebutkan dalam hal ini bahwa yang dimaksud dengan

komisioner adalah orang yang melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan

kepentingan pihak lain yang disebutkan dengan principal atau komiten

dengan mengadakan hubungan hukum berupa perjanjian pada pihak ketiga

sebagai lawan principal.

Hubungan hukum yang demikian ini saja terjadi karena kemungkinan

besar dalam suatu hubungan hukum yang dibuat tersebut pihak principal

(komiten) tidak dapat melaksanakannya atau tidak mempunyai waktu dalam

menjalankan perhubungan hukum dimaksud.

Dalam hal ini dapatlah dilihat bahwa komisioner adalah orang yang

menjalankan suatu pekerjaan dengan menerima komisi yang diikat dalam

suatu perjanjian yang disebut perjanjian komisi sebagai perjanjian antara

komisioner dengan komiten, yakni perjanjian pemberi kuasa. Dari perjanjian

ini timbul hubungan hukum yang bersifat tidak tetap. 17

Perjanjian pemberi kuasa dimaksud dalam kutipan di atas

menunjukkan kepada tugas yang diberikan kepada komisioner di dalam

melaksanakan suatu tugas yang sebenarnya harus dilaksanakan oleh

komiten, dimana dalam pemberian kuasa tersebut terlebih dahulu dibarengi

dengan pembuatan perjanjian antara mereka (komisioner dan komiten).

Perjanjian yang demikian adalah bersifat sebagai perjanjian pemberian

kuasa khusus. 18 Dimana kekhususan tersebut terletak pada :

a. bahwa komisioner bertindak atas nama diri sendiri

b. komisioner mendapat provisi bila pekerjaan selesai.

c. akibat hukum perjanjian komisi banyak yang tidak diatur dalam

undang-undang.

Sementara Molengraaf berpendapat bahwa : “perjanjian komisi itu

merupakan perjanjian campuran, yaitu perjanjian pelayanan berkala dan

perjanjian pemberian kuasa”. 19

Dengan demikian hukum antara komisioner dan komiten adalah

sebagai pemegang kuasa dan pemberi kuasa. Komisioner bertanggungjawab

atas pelaksanaan perintah kepada kuasa dan pemberi kuasa

bertanggungjawab atas biaya pelaksanaan perintah dan pembayaran provisi.

Jadi perjanjian komisi adalah perjanjian pemberian kuasa yang

kewajibannya diatur dalam KUH Perdata terutama Buku III Bab XVI, bagian 2

dan 3, tentang Pemberian Kuasa, terutama kewajian si kuasa dan kewajiban

18 Ibid. 19 Ibid.

si pemberi kuasa dan dalam KUHD Buku I, Bab V, bagian 1 tentang

Komisioer. Dimana pada dasarnya disebutkan bahwa perjanjian komisi ini

harus dilaksanakan dengan itikad baik (Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata).

B. Tinjauan Hukum Tentang Wanprestasi pada Perjanjian Komisi

Berbicara masalah wanprestasi, berarti akan ditinjau atau yang

menjadi titik berat dalam masalah ini adalah adanya kelalaian dari salah satu

pihak yang membuat perjanjian. Atau dengan kata lain bahwa wanprestasi itu

terjadi karena tidak dilaksanakannya isi perjanjian yang telah disepakati

diantara mereka yang membuat perjanjian tersebut.

Dengan kata lain bahwa penentuan wanprestasi berhubungan erat

dengan telah dilaksanakannya isi perjanjian atau tidak, kalau memang isi

perjanjian tidak dilaksanakan maka dengan sendirinya terdapatlah unsur

wanprestasi di dalamnya, demikian juga selanjutnya kalau telah terjadi

wanprestasi dapat dibarengi dengan pengajuan permohonan ganti kerugian.

Dalam perjanjian komisi bentuk wanprestasi dapat dibedakan menjadi

1. Apabila komiten yang memberikan kuasa kepada komisioner tidak

membayar komisi sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dikerjakan.

2. Apabila komisioner tidak melaksanakan kewajibannya memenuhi prestasi

yang tertera dalam perjanjian dengan komitennya.

Dengan demikian dapatlah disebutkan secara jelas bahwa terjadinya

wanprestasi ialah apabila salah satu pihak yang membuat perjanjian tersebut

tidak melaksanakan janjinya sesuai dengan apa yang diperjanjikan.

Sedangkan akibat hukum yang terjadi apabila memang telah terbukti

wanprestasi ialah dapat berupa pembatalan perjanjian atau permohonan

pembayaran ganti kerugian dari pihak yang melakukan wanprestasi.

Dapat disimpulkan bahwa penentuan wanprestasi dalam perjanjian

komisi adalah berhubungan erat dengan telah dilaksanakannya isi perjanjian

atau tidak, jika isi perjanjian itu tidak dilaksanakan maka dengan sendirinya

terdapat unsur wanprestasi di dalamnya, yang dapat diajukan gugatan

C. Akibat Hukum Bagi Para Pihak Yang Melakukan Wanprestasi dan Upaya Hukum Yang Dapat Dilakukan

Bertitik tolak dari sub bab di atas, maka terdapat dua pokok persoalan yang perlu dikemukakan, yaitu akibat hukum dan upaya hukum.

1. Akibat Hukum Bagi Para Pihak Yang Melakukan Wanprestasi

Menurut Abdulkadir Muhammad, bahwa akibat-akibat bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi adalah berupa hukuman atau sanksi sebagai berikut :

1. Debitur harus membayar ganti kerugian yang telah diderita kreditur (Pasal 1234 KUH Perdata).

2. Dalam perjanjian timbal balik (bilateral), wanprestasi dari satu pihak memberikan hak kepada pihak lainnya untuk membatalkan atau memutuskan perjanjian lewat hakim (Pasal 1266 KUH Perdata.

3. Resiko beralih kepada debitur sejak saat terjadinya wanprestasi (Pasal 1237 ayat (2) KUH Perdata).

4. Membayar biaya perkara apabila diperkirakan dimuka hakim (Pasal 181 ayat (1) HIR/192 ayat (1) RBG).

5. Memenuhi perjanjian jika masih dapat dilakukan atau pembatalan perjanjian disertai dengan pembayaran ganti rugi (Pasal 1267 KUH Perdata).

Dari akibat-akibat hukum di atas, maka kreditur dapat memilah diantara beberapa kemungkinan tuntutan terhadap debitur, yaitu :

a. Pemenuhan perikatan.

b. Pemenuhan perikatan disertai dengan ganti kerugian. c. Ganti kerugian.

d. Pembatalan perjanjian oleh hakim.

e. Pembatalan perjanjian disertai dengan ganti kerugian.

Yang dimaksud dengan ganti kerugian ini adalah ganti kerugian yang timbul karena adanya para pihak yang melakukan wanprestasi karena lalai. Pada perjanjian komisi kedua belah pihak mempunyai kewajiban memenuhi prestasi. Jika pihak komisioner melakukan wanprestasi dengan tidak melaksanakan pekerjaan yang disuruh oleh komitennya maka segala kerugian akibatnya akan dibebankan kepada komisioner dan komiten dapat memintakan pemenuhan perikatan. Pemenuhan perikatan disertai dengan ganti kerugian. Ganti kerugian, pembatalan perjanjian oleh hakim, pembatalan perjanjian disertai dengan ganti kerugian.

Sedangkan jika pihak komiten yang wanprestasi dengan tidak membayar uang komisi dari hasil kerjanya sesuai dengan isi perjanjian komisioner dapat memintakan :

a. membayar uang komisi secara sekaligus/tunai (pemenuhan prestasi). b. Membayar ganti rugi atas keterlambatan menyerahkan/membayar

c. Membayar uang paksa (dwangsom) apabila komiten melaksanakan putusan hakim yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.

2. Upaya Hukum Yang Dapat Dilakukan Bila Salah Satu Pihak Wanprestasi

Adapun tindakan-tindakan atau upaya-upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak yang dirugikan akibat wanprestasi dari salah satu pihak adalah sebagai berikut :

a. Upaya hukum di luar pengadilan

Upaya hukum di luar pengadilan sebagai akibat dari wanprestasi tersebut di atas adalah dengan melakukan perdamaian antara para pihak untuk menyelesaikan sengketa tersebut secara kekeluargaan dengan melibatkan pihak ketiga yang dinilai oleh para pihak adil dan dapat menyelesaikan sengketa tersebut.

Pihak ketiga ini dapat saja merupakan orang perorangan atau lembaga non justisia yang dilakukan dengan cara negosiasi, mediasi dan lain-lain.

Kemudian mengenai objek sengketa dapat dikuasai oleh pihak ketiga yang menjadi penengah yang menyelesaikan sengketa tersebut namun bisa juga berada pada salah satu pihak yang bersengketa asal saja mendapat persetujuan dari para pihak dan objek tersebut tetap dibawah pengawasan pihak ketiga tersebut.

b. Upaya hukum dengan beracara di pengadilan.

Jika upaya perdamaian oleh pihak yang dirugikan akibat wanprestasi dari salah satu pihak tidak dapat menyelesaikan persoalan, maka tidak ada jalan lain kecuali menyelesaikan persoalan tersebut melalui Pengadilan Negeri yang berwenang.

Untuk memperbaiki atau memulihkan hak-hak pihak yang dirugikan akibat wanprestasi dari salah satu pihak yang telah menyebabkan kerugian baginya, maka ia dapat menuntut kepada pengadilan agar : 1) Memberikan gugatan kepada pihak yang telah melakukan

wanprestasi.

2) Menghukum supaya pihak yang melakukan wanprestasi memenuhi prestasi.

3) Menyatakan sebagai hukum bahwa pihak yang melakukan wanprestasi benar telah melakukan wanprestasi (cidera janji). 4) Menghukum pihak yang melakukan wanprestasi untuk membayar

ganti rugi atas akibat yang timbul karena terjadinya wanprestasi yang terdiri dari :

a. Beban biaya pokok yang langsung timbul akibat wanprestasi tersebut serta tunggakan-tunggakan utang lainnya.

b. Denda (bunga) dan tunggakan denda (bunga).

5) Menghukum pihak yang melakukan wanprestasi uang paksa

(dwangsom) lalai melaksanakan keputusan hakim yang telah

memiliki kekuatan hukum tetap.

6) Mengalihkan segala resiko yang timbul akibat terjadinya wanprestasi.

7) Membatalkan perjanjian dan melakukan sita revindikatoir

(revindicatoir beslag) dan mengambil kembali barang-barang yang

menjadi objek dari perjanjian komisi yang berada dalam kekuasaan orang pihak yang melakukan wanprestasi tersebut.

Dengan mengikutsertakan hakim, yaitu dengan beracara di Pengadilan dalam menyelesaikan persoalan tersebut, akan diharapkan hakim sebagai penegak hukum dapat memberikan penyelesaian yang seadil-adilnya, sehingga kepentingan masing- masing pihak dapat terlindungi.

Dalam beracara di pengadilan ini, terhadap pihak-pihak yang merasa dirugikan ataupun tidak menerima penyelesaian yang diberikan oleh hakim dalam putusannya, dapat mengajukan upaya- upaya hukum lain yang berlaku dalam hukum acara perdata yaitu upaya hukum biasa seperti banding dan kasasi maupun upaya hukum luar biasa seperti memohon peninjauan kembali pada perkara yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.

Perlu juga dijelaskan bahwa dalam hal melakukan sita

revindikatoir (revindicatoir beslag) dan mengambil kembali barang-

barang yang menjadi objek dari perjanjian komisi yang berada dalam kekuasaan orang pihak yang melakukan wanprestasi tersebut, pemutusan atau pembatalan perjanjian secara sepihak oleh para pihak. Dalam Pasal 1266 KUH Perdata ditentukan : “Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuan-persetujuan yang bertimbal balik, manakah salah satu pihak memenuhi kewajibannya. Dalam hal yang demikian persetujuan tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada hakim. Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban dinyatakan di dalam perjanjian. Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam persetujuan, hakim leluasa untuk menurut keadaan atas permintaan si tergugat memberikan suatu jangka waktu untuk masih juga memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana namun tidak boleh lebih dari satu bulan.

Dengan demikian yang membatalkan perjanjian itu bukanlah wanprestasi, melainkan putusan hakim. Wanprestasi hanya sebagai alasan hakim menjatuhkan putusannya. Dengan kata lain, wanprestasi hanya sebagai syarat terbitnya putusan hakim. Malahan juga syarat dicantumkan dalam perjanjian, pembatalan harus tetap dimintakan kepada hakim.

Dalam putusan hakim tidak hanya menyatakan perjanjian itu batal, melainkan secara aktif membatalkan perjanjian. Jadi keputusan hakim disini bersifat konstitutif (membatalkan perjanjian antara penggugat dan tergugat), bukan bersifat deklaratif (menyatakan batal perjanjian antara penggugat dan tergugat).

Dalam keputusan hakim yang bersifat konstitutif, hakim mempunyai wewenang “discretionar”, yang artinya kewenangan menilai besar kecilnya wanprestasi yang dilakukan oleh debitur dibandingkan dengan beratnya akibat pembatalan perjanjian yang mungkin menimpa debitur.

Jadi hukum kreditur untuk membatalkan perjanjian dengan debitur tidak selamanya harus dikabulkan hakim, melainkan hakim akan mempertimbangkan lebih dahulu besar kecilnya wanprestasi yang dilakukan debitur. Jika ternyata wanprestasi yang dilakukan debitur hanyalah mengenai hal yang kecil saja, maka tuntutan kreditur untuk membatalkan perjanjian akan ditolak oleh hakim. Akan tetapi jika wanprestasi yang dilakukan debitur ternyata cukup besar sehingga sangat merugikan kreditur untuk membatalkan perjanjian tersebut akan dikabulkan hakim.

Dengan demikian jelaslah, bahwa sebenarnya penarikan kembali objek dalam perjanjian komisi tersebut, yang juga berarti pembatalan perjanjian dengan ketentuan Pasal 1266 KUH Perdata.

Hakimlah sebenarnya yang berwenang untuk membatalkan perjanjian tersebut, setelah menimbang terlebih dahulu tentang besar kecilnya kerugian ataupun akibat dari tindakan wanprestasi tersebut.

Oleh karena itu para pihak dalam perjanjian komisi yang merasa dirugikan dengan tindakan pembatalan perjanjian secara sepihak tersebut, dapat pula mengajukan tuntutan-tuntutan dengan beracara di Pengadilan agar hak-haknya dipulihkan dan kepentingan- kepentingannya dilindungi, sekalipun didalam perjanjian sebelumnya ada dicantumkan klausula-klausula yang secara tegas memberikan kewenangan-kewenangan kepada para pihak pada perjanjian komisi untuk menarik kembali barang/objek tersebut.

Dari apa yang telah diuraikan di atas, maka jelaslah bahwa tindakan “eksekusi sendiri” seperti apa yang kita lihat dalam kenyataan sehari-hari adalah tidak dapat dibenarkan oleh hukum, karena pada dasarnya mengandung unsur paksaan dan hanya memberikan keuntungan sepihak tanpa memperhatikan asas kepatutan dan keadilan.

Bahwa dalam hal tidak dipenuhinya prestasi (wanprestasi) yang dilakukan oleh para pihak dalam perjanjian komisi, tindakan yang

dilakukan para pihak adalah memenuhi kembali isi perjanjiannya

BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian-uraian terdahulu, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Perjanjian komisi adalah bersifat sebagai perjanjian pemberian kuasa khusus. Oleh karena itu hal-hal yang diperjanjikan dalam perjanjian komisi adalah bahwa komisioner bertindak atas nama diri sendiri, komisioner

mendapat provisi bila pekerjaan selesai dan juga mengatur tentang akibat hukum perjanjian komisi tersebut.

2. Wanprestasi dalam perjanjian komisi adalah berhubungan erat dengan telah dilaksanakannya isi perjanjian atau tidak, jika isi perjanjian itu tidak dilaksanakan maka dengan sendirinya terdapat unsur wanprestasi di dalamnya, yang dapat diajukan gugatan ke Pengadilan untuk memohon tuntutan ganti kerugian.

3. Tindakan dan upaya-upaya hukum yang dapat dilakukan jika terjadi wanprestasi dari salah satu pihak yang dirugikan akibat adalah sebagai berikut :

a. Tindakan yang dilakukan adalah penyelamatan objek perjanjian sehingga dapat meminimalkan resiko akibat wanprestasi.

b. Melakukan upaya hukum di luar pengadilan dengan cara kekeluargaan yakni melibatkan pihak ketiga yang dinilai oleh para pihak adil dan dapat menyelesaikan sengketa tersebut.

c. Upaya hukum dengan melalui Pengadilan Negeri tempat dimana perjanjian itu dibuat dan disepakati dengan memohon pengajuan ganti kerugian, baik dengan upaya hukum biasa (pemeriksaan tingkat pertama, banding dan kasasi) serta upaya hukum luar biasa yaitu peninjauan kembali bagi keputusan kasasi.

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1990.

Achmad Ichsan, Hukum Dagang : Lembaga Perserikatan, Surat-surat Berharga, Aturan-aturan Angkutan, Pradnya Paramita, Jakarta, 1987.

Djanius Djamin & Syamsul Arifin, Bahan Dasar Hukum Perdata, Akademi Keuangan dan Perbankan Perbanas, Medan, 1991.

Purwosutjipto, H.M.N., Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Pengetahuan Dasar Hukum Dagang, Djambatan, Jakarta, 1991. Ridwan Syahrani, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni,

Bandung, 1989.

Sukardono, R., Hukum Dagang Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta, 1983. Subekti, R., Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 1987.

Suryatin, R., Hukum Dagang I dan II, Pradnya Paramita, Jakarta, 1983. Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Perdata, Sumur, Bandung, 1974.

Undang-Undang

Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta 1985. Kitab Undang-undang Hukum Dagang dan Undang-undang Kepailitan,

Dalam dokumen ASPEK HUKUM WANPRESTASI (Halaman 34-53)

Dokumen terkait