BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG METODE MA’ᾹNIL ḤADῙṠ DAN
D. Tata Cara Shalat Nabi
4. Hal-Hal yang Disunnahkan/Dibolehkan Dalam Shalat
dengan tangan atau lainnya, shalat menghadap orang tidur atau orang kafir, bersandar kepada sesuatu tanpa ada hajat.25
4. Hal-Hal yang Disunnahkan/Dibolehkan Dalam Shalat
Ada beberapa hal yang disunnahkan atau dibolehkan untuk dilakukan ketika sedang sholat. Hendaknya diketahui bahwa shalat adalah ibadah yang agung, yang didalamnya tidak boleh diucapkan atau dilakukan sesuatu kecuali dalam batas-batas syara‟ sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah. Maka, hendaknya kita benar-benar memperhatikan ibadah shalat dan mengetahui hal-hal yang membuat shal-halat kita sempurna. Beberapa kesunnahan dalam shal-halat diantaranya:
a. Disunnahkan bagi orang yang sedang shalat untuk mencegah atau menghalangi orang lain berlalu didepannya dalam jarak yang dekat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah,
ا ُوَعَم ْنِإَف ُوْلِتاَقُ يْلَ ف ْيِبَأ ْنِإَف ,ِوْيَدَي َنْيَ ب ُّرُمَي اًدَحَأ َّنَعَدَي َلََف يِّلَصُي ْمُكُدَحَأ َناَكاَذِإ
َنْيِرَقْل
Artinya:” jika salah seorang dari kalian sedang melakukan shalat, maka jangan sampai ia membiarkan orang lain lewat didepannya. Jika orang tersebut menolak, maka hendaknya ia memeranginya, karena sesungguhnya ada setan bersamanya”. (HR Muslim).
Akan tetapi, jika didepan orang yang sedang sholat tersebut ada pembatas (sesuatu yang tinggi seperti tembok dan sebagainya), maka dibolehkan bagi orang lain berjalan dibaliknya. Demikian juga diperbolehkan jika kondisi mengharuskan orang lain tersebut berjalan didepannya karena tempat yang sempit. Dalam kondisi ini orang lain boleh berjalan didepannya dan ia tidak boleh menghalanginya. Meletakkan dan membuat pembatas di depan tempat sujud adalah sunnah bagi seseorang yang sholat sendiri atau menjadi imam. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah,
25 Asmaji Muchtar, Dialog Lintas Mazhab Fiqh Ibadah dan Muamalah, ( Jakarta: Amzah, 2016), h. 143
42
ْلَ ف ْمُكُدَحَأ َّلَص اَذِإ
ٍةَرْ تُس ىَلإ ِّلَصُي
ُنْدَيْلَو
اَهْ نِم
Artinya: “jika salah seorang dari kalian melaksanakan shalat, hendaknya ia shalat menghadap pembatas dan mendekatinya”. (HR Abu Dawud dan Ibnu Maajah dari Abu Said al-Khudri.
Hikmah meletakkan pembatas didepan orang shalat adalah untuk menghalangi orang lain berlalu didepannya. Juga agar ia tidak terganggu oleh orang yang berlalu dibalik pembatas tersebut. Adapun jika melaksanakan shalat di gurun atau tempat terbuka, maka hendaknya melaksanakannya didekat sesuatu yang tidak bergerak, seperti pohon, batu, atau tongkat. Jika tongkat tersebut tidak bisa ditancapkan ke tanah, maka cukup diletakkan didepannya.
b. Jika imam melakukan kesalahan dalam bacaannya, maka makmum hendaknya mengingatkan dengan bacaan yang benar.
c. Dibolehkan bagi orang yang sholat untuk memakai pakaian dan sejenisnya, membawa sesuatu dan meletakkannya, membuka pintu serta boleh juga membunuh ular dan kalajengking. Karena Rasulullah memerintahkan seseorang untuk menbunuh “dua binatang hitam” yaitu ular dan kalajengking, walaupun sedang shalat. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi serta dishahihkannya. Akan tetapi, hendaknya seseorang yang sedang sholat tidak banyak melakukan hal yang mubah (yang dibolehkan) kecuali dalam keadaan darurat. Karena jika banyak melakukannya secara terus menerus atau bersambung tanpa ada sesuatu yang darurat, maka membuatnya shalatnya batal. Hal ini disebabkan karena itu bertentangan dengan sifat shalat dan mengganggu kekhusyu‟an.
d. Jika ada sesuatu yang terjadi pada seseorang yang sedang sholat, seperti ada orang yang minta izin kepadanya, imamnya lupa, atau khawatir orang yang ada didekatnya akan celaka, maka ia boleh memberi peringatan. Yaitu, bagi laki-laki dengan membaca subhanallah dan bagi wanita dengan menepuk tangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah,
43
ُةَأْرَمْلا ِقِفْصَتْلاَو ُلاَجِّرلا ِحِّبَسُيْلَ ف ْمُكِت َلََص ْيِف ٌءْيَش ْمُكَباَن اَذِإ
Artinya:” jika terjadi sesuatu pada kalian ketika kalian sedang shalat, maka bagi para laki-laki hendaknya bertasbih dan bagi para wanita hendaknya menepuk tangannya”. (Muttafaq Alaih).e. Tidak makruh mengucapkan salam kepada orang yang sedang shalat jika ia tahu bagaimana cara menjawabnya. Dan, orang yang sedang sholat menjawab salam dengan isyarat bukan dengan ucapan. Ia tidak boleh menjawab dengan kata wa‟alaikumsalam. Jika ia menjawab salam tersebut dengan kata-kata, maka shalatnya menjadi batal, karena menjawab salam adalah ucapan yang ditujukan kepada sesama manusia. Dibolehkan juga bagi orang yang sedang sholat untuk menunda dalam menjawab salam hingga shalatnya selesai.
f. Dibolehkan bagi orang yang sedang shalat untuk membaca sejumlah surah dalam satu raka‟at. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih bahwa Rasulullah ketika shalat malam membaca surat Al-Baqarah, Ali Imran, dan an-Nisaa‟ dalam satu rakaat. Dibolehkan juga mengulang surah yang sama atau membaginya dalam dua raka‟at, atau juga membaca ayat-ayat terakhir atau pertengahan dari sebuah surah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah dalam raka‟at pertama shalat membaca surat al-Baqarah ayat 136 dan raka‟at kedua beliau membaca salah satu ayat dari surat Ali Imran yaitu ayat ke 64 .
g. Orang yang sedang shalat juga dibolehkan membaca ta‟awudz ketika membaca ayat azab dan memohon kepada Allah ketika membaca ayat rahmat. Boleh juga bersholawat kepada Nabi Muhammad saw. ketika nama beliau disebutkan, karena perintah untuk bersholawat kepada beliau sangat ditekankan.26
h. Mengeraskan bacaan al-Fatihah, ayat atau surah al-Qur;an pada raka‟at permulaan di shalat maghrib, isya; dan subuh, selain makmum.
44
i. Membaca takbir pada setiap gerakan naik turun.
j. Meletakkan tapak tangan di atas paha pada waktu duduk tasyahud awal dan akhir dengan membentangkan yang kiri dan menggegamkan yang kanan kecuali jari telunjuk.
k. Duduk iftirasy pada setiap duduk dalam shalat.
l. Duduk tawarruq, yakni duduk bersimpuh ketika duduk pada tasyahud akhir.27
Menurut Mazhab Hanafi beberapa perkara yang disunnahkan dalam shalat diantaranya; mengangkat kedua tangan sejajar dengan dua telinga bagi laki-laki, dan sejajar dengan dua pundak bagi wanita merdeka, membaca ta‟awudz, membaca basmalah dengan pelan pada permulaan tiap raka‟at sebelum membaca Surat Al-Fatihah, dan memgucapkan amin.
Menurut Mazhab Maliki perkara yang disunnahkan dalam sholat diantaranya; membaca surah setelah Surat Al-Fatihah dalam raka‟at pertama dan kedua dari shalat fardhu yang masih panjang waktunya, berdiri untuk membaca surah, membaca takbir dalam tempatnya selain takbir ihram, membaca basmalah, membaca tasyahud, dan membaca shalawat Nabi saw. setelah tasyahud akhir.
Menurut Madzhab Syafi‟i perkara yang disunnahkan dalam shalat dibagi dua, yaitu sunnah ab‟adh dan sunnah haiat. Sunnah ab‟adh adalah sunnah yang apabila ditinggalkan maka disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi. Sunnah jenis ini diantaranya, tasyahud pertama dan membaca doa qunut dalam shalat subuh. Sedangkan sunnah haiat adalah sunnah yang apabila ditinggalkan tidak disunnahkan melakukan sujud sahwi. Sunnah jenis ini lebih banyak, seperti membaca do‟a iftitah, membaca ta‟awudz, dan membaca amin setelah Surat Al-Fatihah.
27 Syaikhu, Norwili, Suci Naila Sufa, Perbandingan Mazhab Fiqh Perbedaan Pendapat Dikalangan Imam Mazhab, (Yogyakarta: CV Aswaja Pressindo, 2013), h. 144.
45
Menurut Mazhab Hanbali perkara yang disunnahkan dalam shalat diantaranya, membaca do‟a iftitah, membaca ta‟awudz, membaca basmallah, membaca amin, membaca surah setelah Surat Al-Fatihah, mengangkat kedua tangan saat melakukan takbir ihram, dn mengucapkan takbir ihram dengan suara keras.28