• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Meninggalkan Shalat Jum'at

BAB V SHALAT JUM’AT

C. Hukum Meninggalkan Shalat Jum'at

Hal lain yang perlu mendapat pembahasan dalam buku ini adalah hukuman bagi orang-orang yang meninggalkan shalat jum'at. Pembahasan ini sangat penting mengingat masih banyak kaum muslimin yang dengan sengaja meninggalkan shalat jum'at. Seperti diketahui bahwa shalat diwajibkan atas setiap umat Islam, bahkan shalat merupakan salah satu dari rukun Islam. Dalam agama Islam, shalat diibaratkan sebagai tiang sebuah bangunan, maka apabila sebuah bangunan tidak memiliki tiang atau tiangnya tidak kuat, maka robohlah bangunan tersebut. Begitu halnya dengan ibadah shalat, apabila seorang muslim meninggalkan shalat, tentu dia dapat dikategorisasikan sebagai perusak agama.

Shalat juga merupakan cerminan orang yang bertaqwa.

Dalam al-Quran disebutkan tanda-tanda orang bertaqwa itu adalah mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, serta senantiasa memberikan nafkah kepada orang lain.

Allah SWT berfirman:

كلذ باتكلا لا بير هيف ىده ينقتملل ,

نيلذا نونمؤي بيغلاب نوميقيو

ةلاصلا اممو مهانقزر

نوقفني , نيلذاو نونمؤي امب لزنأ كليإ امو لزنأ نم

كلبق ةرخلآابو مه

نونقوي

Artinya: "Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat". (Q. S. al-Baqarah [2]: 2-4.

Begitu penting makna shalat bagi setiap muslim sehingga Allah SWT menjadikannya sebagai barometer ketaqwaan seseorang. Disebutkan pada permualaan tulisan ini bahwa shalat jum'at itu hukumnya fardhu 'Ain artinya wajib atas setiap laki-laki dewasa yang beragama Islam, merdeka dan menetap di dalam suatu negeri.

Pertanyaannya adalah bagaimana hukum seorang yang mengaku dirinya Islam, akan tetapi meninggalkan shalat jum'at?

Kalau dia seorang muslim meyakini bahwa shalat jum'at tidak wajib sehingga dia tidak mau melakukannya, maka orang tersebut dianggap sudah keluar dari Islam karena mengingkari suatu perintah yang sudah jelas diwajibkan oleh Allah SWT dalam al-Qur'an, hadist serta ijma' (kesepakatan ulama).

Lain halnya kalau seorang muslim yang sengaja meninggalkan jum'at karena malas melakukannya, maka ia telah melakukan dosa besar dan mereka pantas mendapatkan

ancaman Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

دقل تممه نأ رما لاجر لىصي سالناب مث قرحأ عل لاجر نوفلختي

نع

ةعملجا مهتويب

Artinya: Sungguh aku ingin menyuruh seseorang melakukan shalat jum'at bersama orang-orang, kemudian akan aku bakar rumah orang yang tidak ikut mengerjakannya bersama para penghuninya. (H. R. Muslim).

Hadist ini memberikan pelajaran bagi kita umat Islam bahwa orang yang meninggalkan shalat jum'at dengan sengaja mendapatkan ancaman dari Allah dan Rasul-Nya, bahkan kalau diperbolehkan rumah-rumah mereka yang tidak shalat itu layak untuk dibakar. Hal ini memberikan isyarat bahwa jum'at itu sangat penting dan wajib dilakukan.

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda:

نم كرت ةعملجا ثلاث تارم انواهت اهب عبط للها عل هبلق

Artinya: "Barangsiapa meninggalkan shalat jum'at sebanyak tiga kali karena mengabaikannya, maka Allah akan mengunci mati hatinya". (H. R. al-Tirmidzi).

Ancaman apa yang lebih tegas dari meninggalkan jum'at.

Mereka yang meninggalkan jum'at tiga kali maka Allah SWT mengunci mati hati mereka, dan kalau hati seseorang sudah mati, maka tentu dia tidak akan menerima sebuah kebenaran.

Hati merupakan barometer penilaian baik buruknya seseorang, kalau hatinya baik maka orang tersebut juga baik.

Akan tetapi kalau sebaliknya, hatinya tidak baik, maka yang

akan terlihat juga perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

Bagaimana dengan hati yang sudah tertutup? Tentu tidak akan pernah menampakkan perbuatan yang baik, karena Allah SWT sendiri yang sudah menutupnya.

Pada saat ini, berapa banyak orang muslim yang tidak melaksanakan shalat jum'at karena bermalas-malasan. Hanya karena malamnya begadang menonton sepak bola, mereka tidak memperdulikan kewajibannya kepada Allah SWT. Maka orang-orang tersebut harus selalu diberikan peringatan, agar mereka terhindar dari kemurkaan Allah SWT. Lebih tegas Rasulullah SAW memberikan peringatan dalam sabdanya:

ينهتنلي ماوقأ نع مهعدو تاعملجا ,

وأ نمتخلي للها عل مهبولق مث ننوكلي

نم ينلفاغلا

Artinya: "Hendaklah orang-orang yang biasa meninggalkan shalat jum'at berhenti dari kebiasaannya itu, atau kalau tidak, maka Allah SWT akan mengunci mati hati mereka sehingga mereka termasuk orang-orang yang lalai. (H.

R. Muslim).

Hadist lain, Rasulullah SAW bersabda:

نم عمس ءادلنا موي ةعملجا ملف اهتأي مث س هعم ملف اهتأي مث , هعمس ملف اهتأي

عبط للها عل هيلق لعجو هبلق بلق قفانم

Artinya: "Barangsiapa yang mendengar seruan adzan pada hari jum'at, namun ia tidak mendatanginya, kemudian mendengar lagi seruan itu pada jum'at berikutnya, namun tidak mendatanginya, kemudian mendengar lagi pada jum'at berikutnya namun ia mengabaikannya, maka Allah SWT akan

tutup hati mereka dan Allah akan menjadikan hati mereka seperti hati orang munafik. (H. R. al-Baihaqi).

Demikian berat ancaman Allah SWT atas mereka yang suka meninggalkan shalat jum'at. Maka janganlah kita sekali-kali meninggalkannya agar terhindar dari ancaman itu.

Dalam konteks kekinian di mana seluruh dunia sedang menghadapi pandemic global berupa virus corona. Bagaimana hukumnya meninggalkan sholat jumat dan diganti dengan sholat zuhur? Dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 14 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi terjadi wabah COVID-19, terdapat ketentuan hukum untuk orang sehat dan orang yang belum diketahui terpapar COVID-19 atau tidak, sebagai berikut:

Pertama, jika orang tersebut berada dalam kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia boleh meninggalkan sholat jum’at. Sebagai ganti, ia melakukan sholat zuhur di tempat kediaman.

Kedua, jika penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat jumat.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan bahwa ada lima jenis uzur yang membuat seseorang diperkenakan meninggalkan sholat jumat. Uzur-uzur tersebut berupa hujan yang dapat membasahi pakaian, adanya salju, keadaan dingin, sakit berat dan kekhawatiran atas gangguan keselamatan jiwa, kehormatan diri atau harta benda.

Berdasarkan hal itu, Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM-PBNU) menyampaikan pandangan tentang pelaksanaan Sholat Jumat di Daerah Terjangkit Covid-19, bahwa orang yang tidak melaksanakan sholat jumat tiga kali berturut-turut karena uzur covid-19 tidak termasuk

ke dalam golongan orang yang dimaksud dalam hadits sebagai orang munafik.

Bahkan LBM PBNU menganjurkan umat Islam di zona kuning untuk mengambil dispensasi (rukhsah) dalam syariat Islam,yaitu melaksanakan shalat zuhur di rumah masing-masing pada hari jumat.

Hal yang sama dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam surat edaran Nomor 02/EDR/I.0/E/2020 tentang Tuntunan Ibadah dalam kondisi Darurat COVID-19, diterangkan bahwa dalam situasi pandemi covid-19, karena sholat jumat sebagai kewajiban pokok tidak dapat dilakukan, maka dialihkan ke kewajiban pengganti yaitu shalat zuhur empat rakaat yang dikerjakan di rumah masing-masing.

Peralihan kepada kewajiban pengganti dapat didasarkan kepada mafhum aula (argumentum a minore and maius), bahwa apabila suatu hal yang lebih ringan dapat membenarkan untuk melakukan suatu yang wajib, maka hal yang lebih berat tentu lebih dapat lagi membenarkan untuk tidak melakukan yang wajib tersebut. Rujukannya adalah riwayat ‘Abdullah bin

‘Abbas yang berkata kepada muazzinya suatu hari ketika hujan:” jika engkau sudah mengumandangkan “asyhadu an laa ilaha illallah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, maka jangan ucapkan hayya ‘alassalah, namun ucapkan Shallu fii buyutikum (salatlah kalian di rumah masing-masing).

Argumentasinya adalah bahwa sesungguhnya hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari kita yaitu Rasulullah saw ketika bersabda: “sesungguhnya salat jumat itu adalah wajib (‘azimah) namun aku tidak suka memberatkan kepada kalian sehingga kalian berjalan di jalan becek dan jalan licin.

(H.R. Muslim). Hujan yang tidak menimbulkan bahaya dan mudharat, hanya menyebabkan sedikit ketidaknyamanan,

dapat mejadi alasan untuk tidak menghadiri salat jumat. Oleh karenanya, keadaan yang jauh lebih berat, seperti penyebaran COVID-19 tentu lebih dapat lagi untuk menjadi alasan tidak menghadiri salat jumat.

D. HUKUM MENDIRIKAN DUA KALI JUM'AT DALAM

Dokumen terkait