TINJAUAN UMUM SURAT DAKWAAN
E. Hal-hal yang Diuraikan dalam Surat Dakwaan
Dalam KUHAP Pasal 143 hanya disebut hal yang harus dimuat dalam surat dakwaan ialah uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai delik yang didakwakan dengan menyebut waktu dan tempat delik itu dilakukan.
Bagaimana cara menguraikan secara cermat dan jelas hal itu tidak ditentukan oleh KUHAP. Tentulah masalah ini masih tetap sama dengan kebiasaan yang berlaku sampai kini yang telah diterima oleh yurisprudensi dan doktrin.22
Dalam peraturan lama yaitu HIR pun demikian, cara penguraian diserahkan kepada yurisprudensi dan doktrin itu. Menurut J. E. Jonkers,sebagai dikutip oleh Andi Hamzah, yang harus dimuat ialah selain dari perbuatan
22
Andi Hamzah. Hukum Acara Pidana Indonesia. Jakarta : Sapta Artha Jaya, 1996. Hlm. 172
yang sungguh dilakukan yang bertentangan dengan hukum pidana juga harus memuat unsur-unsur yuridis kejahatan yang bersangkutan.23
Sesuai dengan itu, sebenarnya pada pemeriksaan pendahuluan itu telah dibuat suatu arah yang pasti menuju kepada pembuatan surat dakwaan. Di sinilah terbukti dengan jelas bahwa penyidikan dan penuntutan itu tidak dapat dipisahkan dengan tajam, hanya dapat dibedakan.
Ini berarti harus dibuat sedemikian rupa, sehingga perbuatan yang sungguh-sungguh dilakukan dan bagaimana dilakukan bertautan dengan perumusan delik dalam undang-undang pidana di mana tercantum larangan atas perbuatan itu. Pekerjaan ini tidaklah mudah, sehingga KUHAP telah memperingatkan supaya disusun dengan cermat dan jelas.
Perumusan dakwaan itu didasarkan pada hasil pemeriksaan pendahuluan di mana dapat diketemukan baik berupa keterangan terdakwa maupun keterangan saksi dan alat bukti yang lain termasuk keterangan ahli misalnya visum et repertum. Di situlah dapat ditemukan perbuatan sungguh-sungguh dilakukan (perbuatan materiel) dan bagaimana dilakukannya.
24
Pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi dengan mencantumkan pasal undang-undang pidana yang menjadi dasarnya, tidak mengikat penuntut umum untuk mengikutinya. Penuntut umum dapat mengubah pasal undang-undang yang disebut oleh polisi itu untuk menyesuaikan dakwaan dengan fakta-fakta dan data dan menyusun dakwaan berdasarkan perumusan delik tersebut. Misalnya polisi mencantumkan Pasal 352 KUHP (penganiayaan ringan) dengan fakta-fakta dan data hasil pemeriksaan yang dibuat polisi dan visum
23
Ibid., hlm. 173.
24
et repertum, penuntut umum dapat mengubahpasal yang dicantumkan oleh polisi itu menjadi Pasal 351 KUHP (penganiayaan biasa), dan menyusun dakwaan sesuai unsur-unsur Pasal 351 tersebut.
Sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh yurisprudensi Mahkarnall Agung dalarn putusannya tanggal 28 Maret 1957, Reg No. 47/K Kr 1956, yang menyatakan:
"Yang menjadi dasar tuntutan Pengadilan ialah surat tuduhan (dakwaan), jadi bukan tuduhan (dakwaan) yang dibuat oleh polisi."
Sebagaimana disebutkan sebelumnya KUHAP menghendaki agar surat dakwaan itu disusun secara cermat, jelas dan sederhana, menurut bahasa yang mudah dimengerti oleh terdakwa, untuk memudahkan membela dirinya.
Walaupun seluruh unsur delik pada suatu perumusan harus dimuat dalam dakwaan masih dapat dilakukan penyederhanaan metode dakwaan itu. Keterangan singkat tentang perbuatan yang didakwakan bermanfaat secara praktis jika dilakukan penyederhanaan secara formil semua unsur delik yang disyaratkan dalam dakwaan.
Penunjukan kepada pasal-pasal undang-undang dapat member i keterangan terdakwa daripada penguraian perbuatan-perbuatan nyata. Suatu pembelaan yang baik bukan saja pent ing untuk mengetahui perbuatan yang mana yang didakwakan tetapi juga apa arti perbuatan itu menurut hukum pidana.
Yurisprudensi pun telah cenderung untuk memandang suatu soal yang kecil-kecil jangan sampai, dijadikan masalah sehingga tujuan acara
pidana mencari kebenaran materiel tidak tercapai.25
Bahagian yang tidak terbukti pada dakwaan tetapi tidak merupakan bagian inti atau unsur delik tidak perlu mengakibatkan dibebaskannya terdakwa
Pencantuman tempat dan waktu dalam dakwaan berlaku hal yang sama. Suatu dakwaan jelas ataukah tidak jelas (tidak kualitatif) adalah relatif dan hendaknya fAkurannya didasarkannya kepada keadaan konkret, yaitu apakah keadaan itu menunjukkan terdakwa dirugikan ataukah tidak. Jika terdakwa telah mengetahui apa sebab ia didakwa, maka halnya sudah memadai.
Meskipun terdakwa telah mengerti apa sebab ia didakwa, tentuk-bentuk dakwaan harus memenuhi syarat dan tidak dikaitkan dengan kepentingan terdakwa.
Oleh karena itu, menurut KUHAP, dakwaan sudah memadai jika waktu dan tempat terjadinya delik dan uraian secara cermat jelas dan lengkap delik (tindak pidana) yang didakwakan telah disebut, Kebiasaan penuntut umum menguraikan panjang lebar tentang latar belakang delik itu tidak perlu sama sekali. Bahkan dengan berbuat demikian, ia membuka arena lebih luas lagi, yaitu ia harus membuktikan pula hal-hal yang ditambahkan itu.
Hakim berpegang teguh kepada surat dakwaan yang diajukan oleh penuntut umum akan menuntut agar semua bagian dalam dakwaan itu harus dapat dibuktikan.
25
Menurut Taverne : Pada umumn ya peradilan telah men gajarkan bah wa jika yang menjadi soal ialah hal-hal yang kurang teliti atau yang tidak per lu yan g oleh pen yu sun tuduh an dican tumkan di dalamnya, maka hal-hal itu demi kepentingan dipertahankannya asas secara konsekuen, tidak boleh berpengaruh dengan tidak patut atas kesudahan suatu perkara pidana. Lihat Andi Hamzah, ibid., hlm. 176.
Yang jelas dapat disimpulkan di sini ialah istflah-istilah yuridis yang kurang dipahami oleh umum harus dihindari, dalam rangka usaha supaya terdakwa betul-betul mengerti apa yang didakwakan kepadanya, dengan bahasa yang mudah dimengerti olehnya.
Jadi, perumusan delik yang ada dalam undang-undang tidak perlu, dihindari seluruhnya sepanjang sesuai dengan bahasa sehari-hari. Yang dihindari ialah istilah yuridis yang lain dari bahasa sehari-hari dan juga kualifikasi delik.
Di samping itu menurut Andi Hamzah, perumusan dakwaan tidak perlu mengikuti urutan unsur-unsur (bestanddelen) delik yang didakwakan.26