2014 No. Lokasi Parkir Liar
4. Hambatan Dalam Penegakan Hukum Terhadap Parkir Liar
Dalam mengatasi masalah Parkir liar, Pemerintah Kota Salatiga dalam hal ini Dinas Perhubungan memiliki beberapa hambatan, antara lain :17
a. Keterbatasan dana, sehingga karena keterbatasan dana tersebut Dinas Perhungan sub UPTD Parkir tidak dapat mengajak Satpol PP, Polisi Lalu Lintas, untuk dapat saling bekerja sama melakukan penegakan hukum dalam mengatasi masalah Parkir liaryang ada di Kota Salatiga. b. Keterbatasan kewenangan, seperti dalam hal tilang, pihak Dinas
Perhubungan hanya dapat memperingatkan para pengendara sepeda motor, karena kewenagan tilang itu adalah wewenang dari pihak Kepolisian Lalu Lintas Kota Salatiga.
c. Karena belum adanya Organisasi yang terstruktur dengan baik.
d. Keterbatasan waktu, sehingga tidak mungkin pihak Dinas Perhubungan, Polisi Lalu Lintas selalu memperingati pelaku parkir liar untuk tidak melakukan parkir liar di tempat tersebut, karena masih banyak tugas-tugas Dinas Perhubungan, Polisi Lalu Lintas yang harus dilakukan maupun dikerjakan.
17
Hasil wawancara dengan kepala UPTD Parkir Kota Salatiga, Bpk. Agus Nursholichin, tanggal 24-10-13
e. Belum adanya Peraturan Daerah yang memadai untuk mengatasi masalah secara khusus tentang pelaksanaan penyelenggaraan perparkiran di Kota Salatiga.
C. Analisis
Setelah penulis menguraikan hasil dari penelitian mengenai Penegakan Hukum terhadap parkir liar di Kota Salatiga, maka selanjutnya dalam sub bab ini penulis akan menganalisis terhadap Penegakan Hukum terhadap Parkir Liar di Kota Salatiga.
Penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi suatu kenyataan. Keinginan-keinginan-keinginan tersebut adalah pikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan hukum.18Secara konseptional, maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam
18
Satjipto rahardjo, Masalah-Masalah Hukum Sebagai Suatu Tinjauan Sosiologis, Sinar Bandung, Bandung, 1986, Hal. 24.
kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.19
Kaidah-kaidah tersebut kemudian menjadi pedoman atau patokan atau sikap tindak yang dianggap pantas, atau seharusnya. Perilaku atau sikap tindak tersebut bertujuan untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian. Demikianlah konkretisasi daripada penegakan hukum. Penegakan hukum sebagai suatu proses, pada hakikatnya merupakan penerapan diskresi yang menyangkut membuat keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum, akan tetapi mempunyai unsur penilaian pribadi.
Atas dasar uraian tersebut diatas dapatlah dikatakan bahwa gangguan terhadap penegakan hukum mungkin terjadi, apabila ada ketidakserasian antara nilai kaidah dan pola perilaku. Gangguan tersebut terjadi, apabila terjadi ketidakserasian antara nilai-nilai yang berpasangan, yang menjelma di dalam kaidah-kaidah yang bersimpang siur, dan pola perilaku tidak terarah yang mengganggu kedamaian peraulan hidup.
Dari uraian diatas Dasar Hukum yang mengatur tentang Penegakan Hukum terhadap Parkir liar di kota Salatiga, adalah:
1. Sebagaimana penulis kembangkan mengenai Penegakan Hukum terhadap Parkir Liar di Kota Salatiga, namun Undang-Undang No 22
19
Soejono soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993, Hal. 13.
Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan,dalam Pasal 287 ayat (3) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar tata cara berhenti dan parkir dalam Pasal 106 ayat (4) huruf e. dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).
Dari Konsep diatas dalam realitanya Undang-undang No.22 Tahun 2009 tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena tidak ada denda atau kurangan penjara bagi parkir liar hanya sebatas peringatan saja.
2. Sehubungan dengan Pasal 106 ayat (4) huruf e berbunyi: Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan: berhenti dan parkir.
Namun jika dilihat dari hasil penelitian penulis dari fakta yang didapat tidak semua masyarakat mematuhi peraturan dalam pasal tersebut, masih banyak pengendara kendaraan bermotor yang parkir atau berhenti bukan pada tempat atau area parkir. Sehingga kini masalah parkir liar belum dapat diberantas sepenuhnya oleh Pemerintah daerah dan masalah parkir liar ini merusak tata kota Salatiga serta mengahambat kelancaran lalu lintas.
3. Peraturan Daerah Kota Salatiga No. 15 tahun 2013 Pasal 16 Ayat (1)yang berbunyi :Walikota menetapkan lokasi Parkir pada badan Jalan dan diluar badan jalan dengan memperhatikan :
a. Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah
b. Analisis dampak Lalu Lintas
c. Kemudahan bagi Pengguna jasa
d. Kebutuhan penegendalian Lalu Lintas
e. Ketersediaan Lahan.
4. Dalam hal menetukan penetapan lokasi parkir diatur dengan Pasal 16 ayat (2) yang berbunyi : prosedur penetapan lokasi parkir sebagaimana pada ayat (1) sebagai berikut :
a. Pengumpulan data kinerja jalan
b. Analisis kebutuhan ruang Parkir
c. Menetukan pola Parkir dan kelengkapan pendukung
d. Analisis kinerja jaringan Jalan sebelum dan sesudah
penetapan ruang Parkir
e. Informasi lokasi Parkir ditampilkan dalam peta jaringan lokasi
Parkir dan dipublikasikan untuk mendapat masukan
masyarakat.
5. Dalam suatu metode perencanaan penyelenggaraan fasilitas parkir kendaraan di badan jalan,Pihak yang berwenang dalam mengatasi masalah parkir adalah SKPD Dinas Perhubungan sub bidang UPTD parkir Kota Salatiga yangdiatur oleh Pasal 17 yang berbunyi :
a. penyelenggaraan parkir pada badan jalan dilaksanakan oleh Satuan Kerja Peerangkat Daerah (SKPD) yang membidangi perhubungan.
b. Penyelenggaraan Parkir pada badan Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilaksanakan di tempat tertentu pada Jalan kota dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas dan / atau Marka Jalan.
6. Dalam suatu metode perencanaan, penyelenggaraan fasilitas parkir kendaraan di luar badan jalan diatur olehPasal 18 yang berbunyi:
Penyelenggaraan fasilitas parkir di luar badan jalan dapat dilakukan oleh perseorangan warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berupa :
a. Usaha khusus perparkiran; atauPenunjang usaha pokok.
b. Penyelanggaraan fasilitas parkir diluar badan jalan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan pajak parkir yang ditetapkan dengan peraturan daerah sendiri.
c. Penyelenggaraan fasilitas parkir diluar badan jalan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan parkir insidentil tetap memperhatikan prosedur penetapan lokasi parkir sebagaimana pasal 16 ayat (2) huruf a, b, dan c.
7. Adapun tentang izin penyelenggaraan fasilitas parkir diatur dalam Pasal 19 yang berbunyi :Setiap penyelenggara parkir diluar badan jalan sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 ayat (1) wajib memiliki
izin penyelenggaraan fasilitas parkir yang diterbitkan oleh Walikota.Ketentuan lebih lanjut menegenai persyaratan dan tata cara pemberian izin penyelenggara parkir diluar badan jalan diatur dengan Peraturan Walikota.
Dalam realitanya, fakta yang terjadi banyak Parkir liar yang di kota Salatiga, masih banyak juru parkir/ tukang parkir yang tidak memiliki ijin penyelenggaraan parkir dan menggunakan tempat larangan sebagai lahan parkir. Hingga kini pihak dinas perhubungan sub UPT Parkir belum dapat menyelesaikan masalah ini secara tuntas, dan sanksi untuk para juru parkir liar masih sebatas wacana saja dan belum ada penerapannya.
8. Selama ini belum ada aturan tertulis tentang zonasi, baru ada dalam bentuk draft. SKPD terkait yakni Dinas Perhubungan sub UPTD parkir yang membuat kebijakan zonasi parkir yaitu:20
a. Setiap ruas jalan yang ditetapkan sebagai lokasi tempat parkir, dinyatakan dengan rambu parkir, dan atau marga parkir.
b. Lokasi parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibedakan menjadi 3 kawasan, yaitu kawasan utama I, kawasan utama 2, dan kawasan pengembangan.
c. Kawasan Utama I yang meliputi ruas- ruas jalan. d. Kawasan Utama II yang meliputi ruas- ruas jalan.
20
Hasil Wawancara dengan Kepala UPTD Parkir Kota Salatiga, Bpk. Agus Nursholichin, Tanggal 01-04-14.
e. Kawasan Pengembangan yang meliputi seluruh ruas jalan pada wilayah Kota Salatiga yang tidak termasuk dalam Kawasan Utama I dan Kawasan Utama II.
Dalam melakukan observasi penulis melihat Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan No. 22 Tahun 2009 Pasal 106 ayat (4) dan Peraturan Daerah Nomor15 Tahun 2013 Pasal 16, 17 dan 18 ini paling sering dilanggar yakni adanya Parkir liar.