• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan dan Kendala Pelayanan Pendidikan pada Masyarakat Suku

Dalam dokumen Pelayanan pendidikan bagi komunitas adat (Halaman 66-69)

BAB II PELAYANAN PENDIDIKAN KOMUNITAS ADAT SUKU LAUT

3.3 Hambatan dan Kendala Pelayanan Pendidikan pada Masyarakat Suku

Pelayanan pendidikan untuk masyarakat Suku Baduy telah dilakukan oleh pemerintah daerah Lebak dan masyarakat serta dukungan dari pemerintah pusat (Kemendikbud). Kendati telah diupayakan untuk melayani pendidikan dengan berbagai jenis dan cara, namun tingkat partisipasi masyarakat Baduy untuk mengikuti pendidikan belum berkembang secara optimal. Diakui bahwa pada masyarakat Suku Baduy Luar sudah mulai lebih menerima pendidikan formal maupun nonformal kendati dengan beberapa cara yang “tersembunyi” dan dalam jumlah peserta didik yang masih terbatas. Ada beberapa hambatan dan kendala mengapa pelayanan pendidikan bagi masyarakat Suku Baduy belum optimal seperti yang diharapkan, terutama untuk mendukung wajib belajar; antara lain sebagai berikut.

61

3.3.1 Aspek Budaya

Norma adat dan masyarakat adat Suku Baduy, terutama para tokoh adat secara budaya menganggap bahwa mereka telah memiliki sistem pendidikan sendiri untuk menginternalisasikan berbagai pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang keluhuran hidup, alam semesta, sistem kepercayaan, kekerabatan, mata pencaharian hidup, bahasa, kesenian, dan religi serta nilai-nilai budaya lainnya untuk kelangsungan hidup dan melestarikan nilai-nilai luhur nenek moyangnya. Kondisi ini dipercaya telah mencukupi untuk bekal hidup sesuai yang digariskan oleh leluhurnya. Oleh sebab itu pendidikan dari luar yang sifatnya “formal” pada prinsipnya masyarakat Baduy tidak mau menerimanya. Bahkan ada anggapan bahwa pendidikan formal atau “sekolah” dianggap oleh masyarakat adat Suku Baduy hanya memberikan kemampuan yang sifatnya keduniawian semata dan dapat berakibat warga Baduy meninggalkan komunitas dan aturan adat. Pendidikan persekolahan dinilai bertentangan dengan nilai-nilai komunitas adat yang mengarah pada kesederhanaan dan kebahagiaan karena akan menjadikan orang Baduy serakah, tidak jujur, melawan adat dan sumber malapetaka. Hal ini merupakan hambatan dan kendala yang bersifat budaya untuk kelancaran pelayanan pendidikan pada masyarakat Baduy. Kepercayaan bahwa pendidikan sekolah merupakan “petaka” terutama terdapat pada masyarakat Baduy Dalam, sedangkan pada masyarakat Baduy Luar telah mulai ada kesadaran akan arti pentingnya pendidikan persekolahan bagi kelangsungan dan perkembangan kehidupan masyarakat Baduy di masa depan. Oleh karena itu wilayah Desa Kanekes, terutama di wilayah hak tanah ulayat komunitas adat Suku Baduy belum ada bangunan sekolah. Adat melarang pembangunan sekolah di wilayah adat Baduy. Bagunan sekolah adanya di luar wilayah adat Baduy.

3.3.2 Aspek Geografis

Kondisi geografis pemukiman masyarakat Baduy menghambat akses pelayanan pendidikan. Masyarakat Baduy di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar bermukim di daerah Pegunungan Kendeng yang tersebar di lebih dari 50 pedukuhan. Di lokasi Desa Kanekes yang berbukit tersebut belum ada infrastruktur jalan antar desa, semuanya masih asli berupa jalan setapak yang sempit dan licin. Pembangunan jalan dan pemukiman memang dilarang adat; kondisi dan struktur tanah dilarang diratakan dan dirubah. Oleh sebab itu hingga saat ini tidak ada infrastruktur jalan yang memudahkan transportasi baik untuk hubungan antar pedukuhan, lebih-lebih untuk menjangkau daerah di luar Desa

62

Kanekes yang jauh dan sulit. Masyarakat adat juga melarang warganya untuk menggunakan peralatan transportasi, baik sepeda maupun sepeda motor untuk perjalanan mereka. Oleh sebab itu, untuk menjangkau wilayah luar Desa Kanekes mereka berjalan kaki menempuh waktu 1-4 jam perjalanan kaki.

Sekolah formal, yakni SD, SMP, SMA dan SMK serta pelayanan pendidikan nonformal berada di luar Desa Kanekes yang jaraknya 1-4 jam juga. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala sulitnya menjangkau pelayanan pendidikan bagi warga masyarakat Baduy. Beberapa warga Baduy sendiri yang telah memiliki keinginan untuk memperoleh pendidikan di luar lingkungan Desa Kanekes juga mengalami kesulitan transportasi, karena jauh, lama perjalanan kaki dan kondisi alam yang sulit. Demikian pula para aktifis dan petugas pendidikan mengalami kesulitan untuk menjangkau mereka.

3.3.4 Orangtua Tidak Mampu

Pada umumnya masyarakat Suku Baduy kemampuan ekonominya minim, oleh karena sumber penghasilannya sebagian besar dari pertanian dan beberapa warga berjualan hasil hutan dan kain tenun. Oleh sebab itu dari segi ekonomi masyarakat Baduy termasuk miskin, karena penghasilan dari pertanian dan hasil menenun hanya cukup untuk kebutuhan dasar, terutama sandang dan pangan, sedangkan untuk keperluan lain kemampuannya terbatas. Kondisi ini terjadi pada masyarakat Baduy Dalam maupun Baduy Luar. Oleh sebab itu beberapa warga masyarakat Baduy Luar yang telah mengikuti pendidikan KF, kesetaraan dan sekolah di luar Desa Kanekes mengalami kesulitan jika harus menyiapkan biaya pendidikan. Para peserta didik masyarakat Baduy Luar menemui kesulitan untuk membeli alat tulis, uang jantas untuk sekolah; bahkan untuk biaya transport dari Desa Kanekes ke PKBM atau sekolah. Ketiadaan dana untuk keperluan tersebut seringkali menghambat kehadiran siswa di PKBM atau sekolah. Umumnya para siswa dan warga belajar tidak mampu membeli buku-buku, alat tulis, dan keperluan belajar lainnya.

3.3.5 Kemampuan Lembaga Pendidikan

Hambatan lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat seperti PKBM dalam pelaksanaan program kesetaraan adalah keterbatasan dana. PKBM telah berupaya untuk menjangkau sebanyak mungkin warga belajar yang berasal dari Suku Baduy, namun mengalami keterbatasan dalam hal pendanaan untuk

63

biaya pelaksanaan pembelajaran yang mencakup sarana prasarana belajar, alat dan bahan pembelajaran, ATK dan honor bagi para tutor. Oleh sebab itu, pelaksanaan pembelajarannya belum dapat berjalan secara maksimal.

3.3.6 Kehadiran Warga Belajar

Hambatan lain yang dihadapi dalam pelaksanaan program kesetaraan ini adalah tingkat kehadiran dari masyarakat Baduy yang belum mencapai seratus persen. Hal ini dikarenakan sebagian warga Baduy terkadang harus berladang sehingga mereka terpaksa meninggalkan pembelajaran di PKBM. Meskipun demikian, pihak penyelenggara PKBM tetap optimis bahwa program kesetaraan ini dapat tetap berjalan baik.

Dalam dokumen Pelayanan pendidikan bagi komunitas adat (Halaman 66-69)

Dokumen terkait