• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan dalam menanggulangi terjadinya peningkatan penyalahgunaan narkotika oleh anak di Kota medan, Pendekatan penanggulangan penyalahgunaan Narkotika di Kota Medan saat ini belum benar-benar terpadu dan terlihat setiap instansi atau kelompok masyarakat bekerja sendiri-sendiri sehingga hasil yang diperoleh belum optimal. Sebenarnya banyak instansi selain Polri yang memiliki tugas memberantas penyalahgunaan Narkotika.Belum ada upaya pembinaan khusus terhadap pengguna sebagai korban, karena masih beranggapan bahwa para pengguna itu adalah penjahat dan tanpa mendalami lebih jauh mengapa mereka sampai mengkonsumsi atau menyalahgunakan Narkotika.

Peran serta masyarakat sangat rendah karena mereka masih berpan-dangan bahwa pemberantasan penyalahgunaan Narkotika adalah tugas dan tanggung jawab polisi. Dengan demikian mereka kurang peduli dan kurang berpartisipasi aktif dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan Narkotika.

Beberapa LSM yang peduli dalam penyalahgunan Narkotika seperti GRANAT, GERAM, GANAS dan lain-lain. Namun sayangnya kegiatan mereka masih cenderung belum konsisten dan belum berkesinambungan. Mereka lebih banyak untuk menyoroti dan mencari kelemahan dan kesalahan yang dilakukan oleh penyidik/aparat penegak hukum dari pada melakukan kemitraan, dengan kata lain kadar kemitraannya dengan aparat penegak hukum masih meragukan.

Lingkungan internal Polri sendiri, kegiatan antar fungsi masih belum terpadu dan belum terencana secara baik. Yang terkesan hanya kegiatan represif

130

saja oleh fungsi Reserse. Fungsi Binamitra, Intelijen dan Samapta kurang proaktif dalam melakukan upaya pre-emtif dan preventif, sebagai contoh bahwa penyuluhan atau komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat lebih banyak menunggu jika ada permintaan dari pihak lain (kelompok masyarakat).

Fungsi Dokkes belum berperan secara maksimal dalam upaya kuratif dan rehabilitatif, yaitu membantu korban atau pengguna untuk keluar dari ketergantungan terhadap Narkotika untuk dapat hidup produktif kembali dalam masyarakat. Saat ini peran Dokkes baru pada tingkat memberikan ”back up”

kepada fungsi operasional, seperti pemberian informasi kepada fungsi Reserse dalam menentukan tanda-tanda ketergantungan/ sebagai pengguna atau dalam pembuatan Visum/BAP test urine tersang-ka dan kepada fungsi Binamitra dalam memberikan materi penyuluhan terhadap masyarakat.

BKNN (Badan Koordinasi Narkotika Nasional) yang kemudian diubah menjadi BNN (tahun 2002), yang lebih bersifat operasional, maka terlihat jelas bahwa penanganan kasus penyalagunaan Narkotika menjadi lebih terkoordinasi, lebih banyak kasus terungkap dan juga lebih banyak barang bukti dapat disita.

Dan yang lebih penting lagi adalah akan lebih banyak lagi generasi muda terselamatkan dari bahaya Narkotika.

LPKA Klas I Medan selaku tempat pembinaan anak yang telah terjerat masalah narkotika memiliki hambatan yaitu lebih kemasalah teknis. Jumlah penghuni Lapas yang tidak sesuai dengan daya tampung (over kapasitas), kurangnya sarana dan prasarana serta minimya anggaran. Bagi pihak Lapas agar

lebih meningkatkan mutu pembinaan, pembinaan agar disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di luar lembaga, perlunya ditambah personil di Lapas dan perlunya peran aktif Pemerintah khususnya Departemen Hukum dan HAM agar mengatasi masalah kekurangan dana anggaran dan peningkatan fasilitas.

Dalam proses menanggulangi penyalahgunaan narkotika oleh anak khususnya di kota Medan para aparat penegak hukum memiliki hambatan tersendiri yaitu : menurut pendapat Jeremiya Leonta Sinuraya S.H.,M.H hambatan yang ada lebih ke faktor teknis di lapangan. Upaya yang dilakukan oleh aparat sudah sesuai dengan standart operasional di dalam lapas, dengan cara memberikan program-program pembinaan dan pembekalan rohani kepada narapidana anak agar tidak lagi mengulangi dan kembali terjerat narkotika dimasa depan. Tetapi walaupun berbagai cara dilakukan pihak lapas untuk meminimalisir kesempatan narapidana narkotika kembali mengulangi perbuatannya tersebut apabila telah bebas, tetap kembali kepada individu narapidana anak tersebut dapat memperbaiki kehidupannya setelah bebas ataukah kembali terjerat narkotika.

Masyarakat juga menjadi hambatan bagi mantan narapidan narkotika, apakah ia diterima kembali dilingkungannya dan memperoleh pendidikan serta pekerjaan yang layak ataukah malah di cap sebagai mantan narapidana sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Hal inilah yang menyebabkan mantan narapidana kembali terjerat di dunia narkotika.

Hambatan yang ada di dalam lapas anak itu sendiri juga ada, selain dapat beredarnya narkotika di lapas pada masa sekarang ini obat nyamuk juga dapat menjadi zat yang menyerupai narkotika bila di campur dengan obat-obatan biasa.

132

Contohnya seperti obat nyamuk lotion di campur dengan bubuk bodrek yang di haluskan dapat menjadi zat yang menyerupai narkotika dan berefek hampir sama.

Hal inilah yang pada masa sekarang ini ditemui di dalam lapas anak.107 Disaat mereka mulai terbiasa tanpa narkotika kesempatan dan pengetahuan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab kembali datang untuk menjerumuskan mereka dalam kecanduan narkotika.

Menurut pengalaman Jeremiya Leonta Sinuraya,S.H.,M.H selaku Kasie Adm. Keamanan dan Ketertiban LPKA Klas I Medan, seorang mantan narapidana yang telah bebas belum tentu dapat terbebas dari jeratan narkotika di lingkungan masyrakat. Bila seorang pecandu narkotika yg telah bebas dari hukumannya kembali ke lingkungan masyarakat dan bertemu dengan teman-teman lamanya, banyak yang tidak dapat menahan godaan untuk kembali merasakan zat adiktif tersebut tanpa adanya kontrol dari pihak keluarga. Mantan pecandu tersebut seakan merasa mendidih apabila melihat narkotika dan kembali ingin menggunakannya. Seberapapun besar usaha pihak lapas dalam menanggulangi untuk tidak kembali terjadinya penyalahgunaan narkotika di kalangan anak, tetapi yang menjadi faktor penentu keberhasilan untuk tidak kembali terjerumus kedalam kecanduan narkotika adalah diri anak sendiri dan lingkungan sekitar.

Berdasarkan hal itu pembekalan bagi kepribadian anak sangatlah diutamakan pada masa sekarang dan masa depan, terutama pembekalan dan pembinaan jasmani, rohani dan ilmu pengetahuan baik agama serta umum.

Dorongan semangat, nasihat dari keluarga dan masyarakat yang peduli terhadap

107 Hasil wawancara dengan Bapak Jeremiya Sinuraya SH.,MH. di LPKA Tanjung Gusta Medan,Kamis, 17 Maret 2016

kehidupan generasi muda akan mempengaruhi perubahan besar bagi diri anak.

Memberikan pandangan jelas akan masa depan yang cerah dan harapan-harapan untuk hidup lebih baik sangat di butuhkan anak dari masyarakat, keluarga dan pemerintah agar dapat memperbaiki dan mempertahankan kualitas hidup anak sebagai generasi yang akan meneruskan tujuan serta cita-cita bangsa ini.

BAB V

PENUTUP