• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan – Hambatan dalam Melakukan Penguatan Politik

PERANAN PESADA DALAM MENINGKATKAN KESADARAN POLITIK PEREMPUAN

IV. Hambatan – Hambatan dalam Melakukan Penguatan Politik

Dalam melakukan pendidikan politik, ada beberapa hambatan yang akan kita temui yakni hambatan yang dapat kita sebut dengan hambatan ideologis dan hambatan material. Hambatan ideologis dapat berupa paradigma/frame berfikir yang cenderung mengamini patriarkhis serta nilai-nilai yang masih mendidik anak perempuan dan anak laki-laki secara berbeda sesuai dengan identitas atau label feminine pada perempuan dan maskulin pada laki-laki (ideologi gender). Hambatan material berupa rendahnya tingkat pendidikan perempuan, ketrampilan dan pengalaman perempuan yang mana hal ini juga terkait dengan kesempatan dan akses perempuan yang dibatasi serta masalah pengorganisiran.

Selain itu menurut Dina Lumbantobing48, “kelompok patriarkhis atau fundamentalis yang masih berpandangan buruk/negatif terhadap LSM/NGO, kelompok adat dan agama yang masih mengangap feminis adalah perusak rumah tangga dan moral perempuan serta para pelaku tindak kekerasan (kekerasan terhadap perempuan atau kekerasan dalam rumah tangga) atau pengusaha yang terlibat dalam tindakan kekerasan kepada perempuan (trafficking) merupakan hambatan utama dan paling sering terjadi dalam proses penguatan perempuan”.

48

BAB IV KESIMPULAN

Sejak Kongres Pergerakan Perkumpulan Perempuan pertama yang diadakan pada tahun 1928 masalah ketimpangan posisi dan kondisi antara perempuan dan laki-laki merupakan masalah dan keprihatinan bagi kaum perempuan itu sendiri. Lebih khusus misalnya, dalam bidang politik para peserta Kongres pada waktu itu sudah menyadari perlunya peningkatan peran dan posisi perempuan dalam lembaga-lembaga pengambilan keputusan. Mereka bahkan juga ikut memperjuangkan Indonesia berparlemen dan menuntut agar terdapat keterwakilan perempuan di dalamnya. Namun semenjak diberlakukannya kebijakan domestikasi perempuan pada masa orde baru, kondisi dan posisi perempuan tidak banyak mengalami perubahan atau kemajuan.

Jika dianalisis mengenai mengapa perempuan menjadi subordinat atau warga kelas dua, termarjinalisasi atau secara umum kita sebut dengan diskriminasi terdapat beragam pandangan mengenai hal ini. Ada yang menyebut karena kapitalisme, karena perbedaan jenis kelamin, karena penjajahan barat, atau bahkan karena penafsiran agama maupun sosialisasi/pendidikan. Apapun aliran yang dianut seseorang dalam menganalisis atau menguraikan mengapa perempuan mengalami diskriminasi dapat dipahami dengan menggunakan analisis gender, atau cara menguraikan pembedaan ini dengan melihat pembedaan yan dilakukan oleh masyarakat berdasarkan peran-peran dan fungsi perempuan dan laki-laki. Semua pembedaan tersebut bukanlah pembedaan yang alami atau sering disebut kodrati, akan tetapi pembedaan tersebut karena pemahaman masyarakat mengenai apa yang seharusnya, sepantasnya, sebaiknya dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Ini dipelajari mulai dari seseorang lahir, dan memang mulanya adalah dari pembedaan yang kodrati seperti rahim perempuan, yang melebar dan

diperpanjang menjadi terkodratkan untuk mengasuh bayi, mencuci, dan sebagainya yan bersifat merawat, mengasuh dan lain-lain.

Secara bebas, ‘gender’ dapat diartikan sebagai deretan atau sejumlah perbedaan perempuan dan laki-laki secara sosial dan psikologis yakni perbedaan yang dbangun dan dikembangkan oleh masyarakat sendiri (oleh karenanya sangat historis dan kultural). Menurut Anne Oakley, gender bukanlah jenis kelamin, karena perbedaan laki-laki dan perempuan ini dipelajari melalui proses sosialisasi (keluarga, institusi pendidikan, negara, dll) dan budaya. Gender juga dinamis sesuai perubahan waktu (Tobing, Makalah Issu Gender Dalam Pemilu Indonesia).

Kerancuan pemahaman terhadap kodrat ini berpengaruh besar terhadap pemahaman mengenai masalah politik, dimana peran perempuan yang dianggap kodrati seperti ketelitian, merawat, mengasihi, dianggap tidak cocok dengan dunia politik yang dianggap sebagai dunianya maskulin. Untuk itu fungsi perempuan di dunia politik pada umumnya terbatas pada tugas yang dekat dengan peran perempuan, yaitu bendahara & bagian administrasi (karena teliti mengatur uan di dalam rumah tangga), Juru kampanye, atau hanya sebagai anggota biasa di partai. Tentu saja semua ini mempengaruhi atau berimplikasi terhadap partisipasi perempuan dalam dunia politik.

Secara sederhana jika dilihat partisipasi politik perempuan dalam pemilu, maka bisa dikatakan partisipasi politik perempuan tergolong cukup tinggi, namun yang menjadi pertanyaannya adalah apakah partisipasi yang dilakukan tersebut dilakukan dengan kesadaran penuh atau tidak. Pada dasarnya partisipasi yang dilakukan perempuan masih bersifat pasif, perempuan mengikuti pemilu hanya karena takut atau otomatis harus ikut. Hal ini dikarenakan hak-hak politik perempuan belum dipahami sebagai hak individual, tetapi sangat patriarkhis atau didasarkan pada relasi kekuasaan yang ada di sekitar perempuan seperti bapak atau suami. Semua ini menunjukkan kesadaran politik formal yang masih rendah, bukan hanya itu hal ini juga bisa kita ketahui dari jumlah keterwakilan perempuan

yang tidak proporsional pada smua tingkat pengaruh dan pengambilan keputusan, padahal persentase jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki.

Salah satu cara atau kegiatan awal untuk meningkatkan partisipasi dan representasi politik perempuan adalah dengan mengadakan pendidikan politik. Sesuai definisi partai politik menurut Undang-undang No.2 tahun 2011, partai politik adalah organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara Republik Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat, bangsa dan negara melalui pemilihan umum. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa partai politik memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem demokrasi serta mempunyai fungsi utama adalah pendidikan politik terhadap konstituennya. Partai politik tidak hanya melakukan pendidikan memilih untuk memenangkan calegnya atau partainya, lebih luas dari itu adalah memberikan pemahaman kesadaran ideologis konstituennya untuk menjadi warga negara yang baik dan tidak pragmatis. Terlebih partai politik setiap tahunnya memperoleh anggaran bantuan pemerintah (baik APBN maupun APBD) yang salah satu prioritasnya adalah untuk kegiatan pendidikan politik kepada masyarakat.

Pendidikan politik merupakan suatu upaya untuk membangun kesadaran masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, sehingga masyarakat semakin mampu memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan demokrasi dan penyelenggaraan Pemilu dalam tataran ideologis, sehingga mampu menentukan pilihannya secara tepat dan sadar (rational voters). Secara umum program pendidikan politik diarahkan pada tiga tataran perubahan yang hendak dicapai, yaitu perubahan pengetahuan (cognitive), perubahan sikap (attitude) dan perubahan perilaku (behaviour). Pendidikan politik sendiri bertujuan untuk membangun pengetahuan politik, menimbulkan kesadaran politk dan untuk meningkatkan partisipasi politik. Dalam wawancara dengan Dina Lumbantobing (Pendiri Pesada) “ Langkah awal dalam melakukan pendidikan politik ialah

dengan membangun kesadaran kritis, dan kesadaran kritis tidak akan terbangun jika tidak adanya pengorganisasian yang dapat diwujudkan dalam bentuk CU serta penguatan politik perempuan. Selain itu dengan adanya advokasi kebijakan pemerintah yng responsif gender maka akan timbul yang namanya partisipasi, partisipasi akan terjadi jika tidak ada kekerasan yang terjadi (bebas dari kekerasan dan intervensi). Karena inti daripada pendidikan politik adalah penguatan politik yang bertujuan untuk membangun kesadaran politik sehingga perempuan dapat mengambil keputusan secara mendiri”.

Namun tidak berjalannya fungsi partai politik dalam memberikan pendidikan politik, dibutuhkan alternatif lembaga lain, yang dalam hal ini adalah LSM/NGO. Dan salah satu LSM/NGO yang konsern terhadap pendidikan politik perempuan adalah PESADA (Perkumpulan Sada Ahmo). PESADA (Perkumpulan Sada Ahmo) yang dulu disebut dengan Yayasan Sada Ahmo (YSA) merupakan Organisasi Non-Pemerintah/ORNOP lokal di Sumatera Utara yang berdiri pada awal Oktober 1990. Dengan visi terciptanya kondisi masyarakat yang dijiwai oleh semangat, ketulusan hati, disiplin, kesederhanaan, solidaritas, pengabdian, kesetaraan, dan keadilan gender. Serta misi untuk melakukan penyadaran hak perempuan, anak, dan kelompok marjinal, penguatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik perempuan, anak, dan kelompok marjinal, advokasi dan pembelaan perempuan, anak, dan kelompok marjinal, serta kajian dan pengembangan kapasitas khususnya perempuan. Organisasi ini didirikan oleh 15 orang yang konsern terhadap kondisi sosial politik di Indonesia dan sebagai respon atau reaksi atas eksistensi masyarakat Pakpak sebagai suku asli Kabupaten Dairi yang saat itu termarjinalisasi.

Sejalan dengan perkembangannya, ada beberapa temuan permasalahan pada masyarakat pakpak yakni berhubungan dengan keadilan gender dan masalah ekonomi, untuk itu YSA mengadakan program pendidikan poltik untuk membangun kesadaran politik perempuan. Tema daripada program/kegiatan ini adalah menggugat peran sektor domestik dan akses ke sumber daya, serta budaya

patriarkhi yang dipandang telah membatasi ruang gerak perempuan. Melalui strategi pendidikan dan pengorganisasian dan penerapan kerangka pemberdayaan yang ditawarkan Sarah Longwe, dapat dilakukan upaya pemberdayaan perempuan yang meliputi lima tingkatan pemerataan, yakni: (1) pemerataan tingkat kesejahteraan, (2) pemerataan tingkat akses, (3) pemerataan tingkat kesadaran, (4) pemerataan tingkat partisipasi, dan (5) pemerataan tingkat kontrol/kekuasaan. Sebagai langkah atau tahapan dalam melakukan pendidikan atau penguatan politik perempuan dan anak, YSA mendirikan beberapa TBAA (Taman Bina Asuh Anak) untuk membantu para ibu dalam merawat anak-anaknya, mendirikan CU (Credit Union) sebagai wadah para perempuan untuk berkumpul dalam memperoleh akses modal maupun informasi, melakukan pendidikan politik, serta mengadakan Rumah Aman Sinceritas untuk korban kekerasan dan trafficking. Meskipun sejak awal berdirinya hingga tahun 1997, Pesada yang saat itu masih bernama YSA belum secara nyata mengadakan penguatan yang bersifat politis secara formal, hal tersebut diakibatkan oleh situasi politik yang sangat repressif. Namun pada momentum reformasi 1998, merupakan angin segar bagi perempuan untuk membuka akses dan memiliki hak-haknya sebagai perempuan dan warga negara.

Pada tahun 1998, YSA mengadakan program penguatan politik perempuan dimana sasaran utamanya adalah perempuan Pakpak dan perempuan di akar rumput lainnya dengan tema ‘Membangun Kesadaran Perempuan Tentang Politik Dan Hak-Hak Politik Perempuan’. Pendidikan politik yng dilakukan Pesada dibagi menjadi dua bagian yakni Pendidikan Pemilih (Voter Education) yaitu kursus dan lokakarya bagi Credit Union dampingan Pesada dan lokakarya untuk kader/tokoh perempuan. Materi dalam pendidikan pemilih ini antara lain: Pengantar untuk Kesadaran Gender, pengenalan hak-hak politik perempuan, issue perempuan dalam politik, pengenalan isi pokok 3 UU Politik, Sistem Pemilu, dan pengenalan partai politik peserta pemilu. Dan yang kedua , Civic Education sebagai lanjutan daripada Voters Education, dan lebih memfokuskan pada issue Hak Azasi Perempuan atau pengenalan UU No.7/1984, Kekerasan Terhadap

Perempuan & Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Pengenalan UU OTDA khususnya substansi dan masalah otonomi, Penerbitan Bulletin bulanan “Suara Perempuan”, pembentukan organisasi perempuan, dan ‘praktek lapang’ melalui delegasi, hearing untuk dialog dengan DPRD & PEMDA.

Secara sederhana, dengan program tersebut diharapkan perempuan pedesaan dan perempuan di akar rumput lainnya dapat memaha mi isi dari Hak Azasi Perempuan (UU No.7/1984) khususnya hak politik perempuan, memahami sistem Pemilu dan platform partai sehingga pada akhirnya para perempuan berani/dapat memutuskan secara mandiri pilihan mereka. Program ini dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti misalnya; Lokakarya bagi para tokoh perempuan di pedesaan, talkshow di radio, penerbitan bulletin ‘Suara Perempuan’ secara berkala, diskusi kelompok CU bulanan, serta lokakarya akhir untuk evaluasi. Fokus utama yang menjadi perhatian program ini adalah Kesadaran Gender, HAM, Hak Azasi Perempuan dan Masalah Perempuan dalam Politik.

Metode implementasi dari rangkaian program itu adalah pelatihan, lokakarya, dan diskusi berkala. Khusus untuk informasi yang bersifat publikatif dilakukan melalui talkshow di radio dan penyebaran bulletin. Kegiatan talkshow dirancang secara spesifik untuk mensosialisasikan dan memancing debat mengenai Paket UU Politik dan issue hangat seputar Pemilu dan Politik. Sementara Bulletin Suara Perempuan menyebarkan tulisan pendukung untuk pendidikan politik dan secara khusus dijadikan topik bagi kelompok CU dalam rapat bulanan kelompok Credit Union. Dan untuk memperkuat aspek tindakan sebagai praksis dari implementasi program tersebut, secara berkala, wakil-wakil kelompok melakukan delegasi ke DPRD dan Pemkab. Upaya seperti ini penting selain untuk melatih kepekaan dan keberanian juga menempa pengalaman berdialog dalam memperjuangkan aspirasi dan kepentingan bersama.

Dari data yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat saya simpulkan bahwa Pesada mempunyai peranan yang sangat penting dalam melakukan pendidikan

politik sehingga kesadaran politik masyarakat khususnya perempuan mengalami peningkatan. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa pendapat perempuan dampingan Pesada mengenai politik, pemilu, dan hak-hak politik perempuan yang sebagian besar telah paham dan mengerti. Dan untuk lebih memperkuat penelitian ini, saya akan paparkan pendapat salah seorang ibu yang kesehariannya berjualan kue-kue kecil yang bernama Ibu Saroja. Menurut Ibu Saroja, Pesada telah melakukan bantuan kepada para perempuan terkhusus untuk masyarakat yang kurang mampu. Ibu Saroja berkenalan dengan Pesada pada tahun 2004, yang awalnya merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga, kini ibu saroja adalah aktivis perempuan yang mendampingi perempuan korban kekerasan, tentu saja setelah beliau diberikan pelatihan –pelatihan dan materi-materi advokasi dalam melakukan pendampingan kepada korban. Meskipun telah secara sukses melakukan pendidikan politik kepada perempuan ada beberapa masalah atau kendala dalam melakukannya yakni mengenai asumsi atau pandangan negatif masyarakat dalam hal ini kelompok patriarkhis, adat atau bahkan agama.

Saran

Melihat kondisi dan realita yang ada yang dialami masyarakat terkhusus perempuan, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama terutama untuk pemerintah dan lembaga-lembaga penyokong demokrasi agar terciptanya masyarakat yang berkeadilan gender demi suksesnya pembangunan dan terwujudnya kemajuan bangsa dan negara.

 Dari unit terkecil yaitu faktor internal terutama untuk kaum perempuan itu sendiri dimana harus mempunyai kemauan untuk maju dan berkembang, memotivasi diri untuk tidak rendah diri, berkompetisi untuk menjadi yang terbaik serta mencoba untuk membuka akses dan paradigma berfikir yang lebih terbuka.

 Ideologi gender merupakan sistem nilai atau aturan yang dibentuk oleh masyarakat, untuk itu dibutuhkan sebuah masyarakat yang mengerti atau paham mengenai gender sehingga tidak ada kesalahpahaman mengenai penafsiran antara gender dengan kodrat.

 LSM/NGO merupakan salah satu lembaga alternatif yang sangat potensial dalam menciptakan civil society termasuk Pesada, namun harapannya dalam melakukan pendidikan politik atau advokasi/pendampingan agar sekiranya diberikan akses atau kesempatan kaum muda terutama mahasiswa agar terjganya regenerasi dalam melakukan kerja-kerja untuk masyarakat.

 Partai politik sebagai lembaga negara penyokong demokrasi yang berfungsi untuk melakukan pendidikan politik agar menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sehingga masyarakat terutama perempuan memiliki pengetahuan dan kesadaran politik yang tinggi. Serta sebagai lembaga yang menampung aspirasi masyarakat, sudah selayaknya partai politik menyampaikan aspirasi atau kepentingan-kepentinga perempuan yang juga merupakan sebagian besar penduduk indonesia.

 Pemerintah tanpa rakyat bukanlah pemerintah, dan sudah merupakan tugas pemerintah melayani rakyatnya bukan dilayani rakyatnya. Sebagai pemerintah yang sebagian besar penduduknya perempuan sudah sepantasnya pemerintah memperhatikan hak-hak dan kepentingan perempuan yang selama ini telah diabaikan. Meskipun pemerintah telah meratifkasi beberapa UU terkait kepentingan perempuan namun belum ada keseriusan pemerintah dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan masyarakat.

Dokumen terkait