• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan-Hambatan yang di Hadapi Oleh Petugas Pemasyarakatan dalam Melaksanakan Pembinaan Terhadap Anak pidana

Petugas pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Sleman telah melaksanakan pembinaan terhadap anak pidana, namun demikian pelaksanaan pembinaan terhadap anak pidana tersebut masih belum maksimal. Hal ini terjadi karena masih terdapat beberapa hambatan yang hingga saat ini masih sering dijumpai di lapangan. Hambatan-hambatan tersebut dapat berasal dari Lembaga Pemasyarakatan Sleman, petugas pemasyarakatan itu sendiri maupun berasal dari anak pidana yang merupakan subjek pembinaan. Hambatan-hambatan yang dihadapi oleh petugas pemasyarakatan tersebut antara lain:

1. Hambatan yang berasal dari Lembaga Pemasyarakatan Sleman a. Faktor over capacity

Saat ini lembaga pemasyarakatan Sleman di huni oleh berjumlah 306 orang, padahal kapasitas hunian dari Lembaga Pemasyarakatan Sleman adalah 163 orang. 306 orang tersebut menghuni 6 (enam) blok/kampung. Untuk anak pidana ditempatkan di kamar khusus yang berada di blok D.

Setiap blok/kampung dihuni kurang lebih 50 orang yang terdiri dari beberapa kamar. Blok/kampung yang ditempati oleh anak pidana terdiri dari 5 kamar, 4 kamar dihuni oleh narapidana dewasa dan 1 kamar khusus diperuntukkan bagi narapidana dan tahanan anak yang berada di Lembaga Pemasyarakatan Sleman. Untuk kamar yang ditempati oleh anak pidana berukuran 6 m x 5m, dengan luas 30 m2. Pada saat peneliti melakukan penelitian, kamar tersebut dihuni oleh 15 orang. Padahal standartnya satu orang napi membutuhkan ruang sebanyak 5,4 m2/orang (Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia No: M.01.PL.01.01 Tahun 2003), sehingga maksimal kamar yang berukuran 30 m2 tersebut dihuni oleh 6 orang,bahkan di Lembaga Pemasyarakatan Sleman juga dapat dijumpai 1 kamar dihuni hingga 25 orang narapidana. Dengan terjadinya hal tersebut, maka akan mempengaruhi keadaan psikologis anak pidana yang ada di Lapas Sleman, karena dalam hal ini anak-anak tersebut

memerlukan ruang khusus anak agar mereka dapat berkembang layaknya anak-anak lain.

b. Keterbatasan sarana dan prasarana pembinaan

Di Lembaga Pemasyarakatan Sleman, saat ini telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana guna menunjang berbagai kegiatan pembinaan yang berlangsung di dalam Lembaga Pemasyarakatan tersebut. Namun demikian, terdapat beberapa sarana dan prasarana yang telah rusak sehingga terkadang menghambat kegiatan pembinaan anak pidana di Lembaga Pemasyarakatan Sleman.

Selain itu keterbatasan sarana dan prasarana terlihat pada bangunan Lembaga Pemasyarakatan Sleman. Misalnya saja masjid yang digunakan untuk kegiatan pembinaan mental spiritual memiliki luas 8m x 10m. masjid tersebut tidak muat menampung seluruh warga binaan pemasyarakatan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Sleman. Bahkan terkadang jika waktu melaksanakan kegiatan Sholat Jum’at, narapidana dan petugas pemasyarakatan sampai ke halaman dan teras-teras kantor untuk melaksanakan Sholat Jum’at.

c. Lembaga Pemasyarakatan Sleman bukan Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak

Lembaga Pemasyarakatan Sleman berstatus Lembaga Pemasyarakatan untuk laki-laki dewasa bukan untuk anak pidana, namun warga binaan pemasyarakatan yang terdapat di Lembaga

Pemasyarakatan terdiri dari laki-laki dewasa, wanita dewasa dan anak laki-laki. Hal ini tidak di dukung dengan sarana dan prasarana yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Sleman, karena bagi anak pidana memerlukan perlakuan khusus tidak seperti penanganan pada narapidana dewasa. Anak pidana memerlukan ruang untuk bermain dan mengembangkan diri, layaknya anak-anak lain yang berada di Luar Lembaga Pemasyarakatan. Selain hal tersebut di Lembaga Pemasyarakatan Sleman tidak ada petugas yang secara khusus menangani pembinaan terhadap anak pidana. Dengan kondisi tersebut mengakibatkan pembinaan anak pidana kurang terfokus, sehingga tujuan dari pembinaan tersebut tidak sesuai yang diharapkan.

Terkait dengan penempatan anak pidana di Lembaga Pemasyarakatan Sleman masih dijadikan satu blok/kampung dengan narapidana dewasa, padahal hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak tersebut. Mereka dikhawatirkan akan terpengaruh oleh narapidana dewasa, karena anak-anak tersebut masih dalam proses pencarian jati diri.

2. Hambatan yang berasal dari Petugas Pemasyarakatan

Hambatan yang berasal dari petugas pemasyarakatan adalah kerbatasan jumlah dan kualitas tenaga petugas pemasyarakatan yang bertugas untuk membina anak pidana. Sumber daya manusia pendukung di Lembaga Pemasyarakatan Sleman, secara keseluruhan adalah 113

orang. Dari 113 orang tersebut 20 orang diantaranya berstatus sebagai pembina pemasyarakatan, yang bertugas melakukan pembinaan, pembimbingan, pelayanan/perawatan, pemeliharaan/ pengelolaan. Hal ini tidak sebanding dengan jumlah narapidana dan tahanan yang telah mencapai 306 orang. Karena para pegawai tersebut, tidak semuanya terjun ke lapangan, namun juga bekerja di dalam kantor untuk mengurus registrasi dan administrasi pembinaan.

Kuantitas pegawai yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan Sleman belum memadai, untuk petugas yang membawahi bimbingan mental spiritual, baik bagi warga binaan yang beragama nasrani maupun muslim hanya ada 1 orang. Hal ini menjadi hambatan tersendiri, jika petugas tersebut tidak hadir atau sedang ditugaskan untuk melaksanakan pelatihan di luar Lembaga Pemasyarakatan. Berkaitan dengan hal ini, pelaksanaan tugas tersebut terkadang digantikan oleh kepala sub seksi registrasi dan bimbingan kemasyarakatan.

Disamping kuantitas, kualitas pegawai yang terdapat di Lapas Sleman jjuga belum memadai, dimana pegawai tersebut direkrut bukan untuk melakukan pembimbingan, terutama pada bimbingan kemasyarakatan di bidang pembinaan mental spiritual. Petugas pemasyarakatan tersebut berlatar belakang pendidikan Sarjana Hukum, namun pada kenyataannya bertugas untuk melakukan kegiatan pembinaan mental spiritual, padahal idealnya hal tersebut dilakukan oleh seorang Sarjana Agama.

3. Hambatan yang berasal dari Anak pidana

Salah satu hambatan dalam kegiatan pembinaan yang di lakukan di Lembaga Pemasyarakatan Sleman berasal dari anak pidana itu sendiri.

Hambatan tersebut adalah kemauan dari si anak tersebut, ia tidak mau mengikuti kegiatan pembinaan yang telah di jadwalkan oleh petugas pemasyarakatan. Mereka lebih memilih untuk tetap di kamar atau berbincang-bincang dengan narapidana dewasa. Hal tersebut mengakibatkan tujuan dari kegiatan pembinaan tidak dapat tercapai, yakni agar napi anak tersebut dapat berubah menjadi seorang warga negara yang baik.

Hal ini tentu saja sangat memengaruhi kegiatan pembinaan yang akan berlangsung, karena perubahan seseorang tergantung pada kemauan dari orang tersebut. Jika dari anak pidana tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk berubah, maka pembinaan yang dilakukan tidak akan berhasil.

E. Upaya Untuk Mengatasi Hambatan yang di Hadapi Oleh Petugas

Dokumen terkait