BAB II: KAJIAN TEORI
B. Komunikassi pada Anak Autis
2. Hambatan-hambatan Komunikasi pada Anak Autis
Setiap individu melakukan komunikasi semenjak dia berada di dalam
paling penting dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan keluarga
adalah salah satu contoh komunikasi yang terjalin, yaitu komunikasi antara ayah
dan ibu, atau antara anak dan orang tua. Komunikasi antara orang tua dan anak
berperan dalam memberikan pemahaman kepada anak mengenai kehidupan sosial
atau cara hidup yang bisa diinternalisasikan melalui norma-norma perilaku yang
perlu diajarkan. Gangguan autis adalah salah satu gangguan perkembangan yang
membuat anak tidak mampu melakukan interaksi sosial dan mengalami gangguan
dalam komunikasi baik verbal maupun nonverbal. Keadaan tersebut menghambat
komunikasi mereka dengan orang tua terutama dalam penerimaan informasi dan
pemahaman mereka. Kondisi seperti ini yang memerlukan perhatian cukup serius
bagi orang tua dengan anak yang menyandang autis (Prianti, 2011:1-2).
Sebagian besar anak autis mengalami keterlambatan dalam aspek
komunikasi. Secara umum anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara jika:
kemampuan true speech (bicara benar) muncul terlambat atau bahkan tidak
muncul sama sekali; ada penyimpangan bunyi, suku kata, dan kata; perbedaan dan
norma bahasa berada satu tingkat dibawahnya (Boham, 2013: 8). Masalah lain
bagi anak autistik dengan kemampuan verbal ditimbulkan oleh ungkapan kiasan.
Kata-kata yang abstrak dan kata-kata yang memiliki makna ganda terlalu sulit
difahami (Petters, 2008: 75).
Perkembangan bahasa merupakan salah satu aspek dalam autism yang
tidak mengikuti pola yang seragam. Disamping itu, tampak pula kesenjangan
antara kemampuan bahasa reseptif (pemahaman) dengan bahasa aktif (berbicara).
Proses penguasaan bahasa pada masing-masing anak juga berbeda. Ada diantara
mereka yang menunjukkan perkembangan bahasa secara bertahap, mulai dari
meniru suara, kata dan akhirnya mengucapkan kalimat. Jumlah penguasaan
kosakata juga akan bertahap meningkat sesuai dengan usianya. Sementara itu ada
juga anak yang tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan dalam kemampuan
komunikasi sampai usai tertentu. Tetapi beberapa diantara mereka mampu
bercerita dengan kalimat yang cukup baik (Ginanjar, 2008: 63).
Karena komunikasi verbal bersifat abstrak, kita harus membantu mereka
dengan menggunakan sistem komunikasi visual, di mana hubungan antara
lambang dan makna menjadi jauh lebih terlihat (ikonik/ berlambang). Sebagian
besar tanda memiliki makna yang hampir sama. Itulah sebabnya mengapa
pengajaran bahasa tanda menuntut pemahaman yang terlalu tinggi bagi
penyadang autis. Anak autis tidak bisa menciptakan kembali tanda-tanda ini
dengan mudah meskipun mereka memahaminya. Proses timbal balik dalam
sistem komunikasi dengan gambar seperti ini juga menjadi lebih mudah karena
dapat divisualisasikan. Beberapa penyandang autis yang memiliki tingkat
perkembangan yang sangat rendah sehingga sebuah gambar saja dianggap terlalu
abstrak. Anak autis yang seperti ini tidak dapat melihat hubungan antara sesuatu
berusia 12 bulan sudah bisa memahami hubungan antara suatu benda dan suatu
aksi. Anak yang tumbuh dengan normal mengetahui bahwa ketika ibu membawa
kunci mobil, maka tandanya ia akan pergi ke luar, jika dia melihat piring maka itu
tandanya waktunya makan, dan lain sebagainya (Petter, 2008:81-82).
Anak autis memiliki kemampuan dan ketertarikan untuk bercakap-cakap
yang sangat beragam. Sebagian anak autis berbicara terlalu banyak dan sebagian
jarang mengekspresikan diri secara verbal. Anak autis yang berbicara
terus-menerus kemungkian terfokus pada sebuah topik tertentu tentang hal khusus yang
disukai. Misalnya jika anak sangat menyukai kereta api, maka ia akan
menyampaikan informasi yang mendetail tentang kereta api. Anak autis lainnya
jarang memulai percakapan dan hanya merespons dengan jawaban yang singkat.
Pada kedua situasi ini terdapat kesulitan-kesulitan dengan dialog dan percakapan
bersama. Satu orang mendominasi dan tidak berhasil mengetahui kebutuhan
teman yang dia ajak bicara. Sedangkan anak lainnya mencoba menarik diri dari
tuntutan sebuah dialog. Mengalami kesulitan dalam berkomunikasi seharusnya
tidak menyingkirkan hak dan kesempatan murid autis untuk menyuarakan
pendapat dalam pendidikan mereka (Brower, 2010: 23).
Jika seorang anak penyandang autis menjatuhkan diri ke lantai atau
membenturkan kepalanya ke tembok, hal ini sering terjadi karena dia ingin
mengubah sesuatu dalam lingkungannya. Namun, terkadang usahanya untuk
memahaminya. Pada intinya, anak mendapati bahwa contonya dengan menunjuk
piring memberikan hasil yang lebih baik daripada mengamuk. Orang juga
memulai dengan benda bagi anak-anak penyandang autis dengan usia
perkembangan mental yang rendah. Jika seseorang tidak banyak berkomunikasi
dengan benda, maka orang tersebut masih bisa mempengaruhi kehidupan anak
autis dengan menyadarkan mereka bahwa mereka dapat mempengaruhi
lingkungan melalui komunikasi. Hal ini merupakan realisasi bahwa meminta
suatu benda lebih efektif daripada mengamuk atau menyakiti diri sendiri.
Penyadang autis sering benar-benar ingin melakukan komunikasi tapi tidak tahu
bagaimana cara melakukannya (Petters, 2008: 82-83).
Sebagian besar orang menganggap bahwa komunikasi merupakan seni
berbicara. Pada keyataannya komunikasi merupakan kombinasi dari gerakan
tubuh, bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi (nada suara), dan konteks atau
kondisi yang berlaku pada saat itu. Hampir semua anak autis bisa menghadapi
kesulitan besar dalam berkomunikasi. Sehingga ketika mengajak anak autis
berkomunikasi hendaklah membuat komunikasi itu sebagai suatu pemahaman dan
mengurangi rasa frustasi mereka (Brower, 2010: 16).
Ketika anak mampu mengucapkan kata-kata, sering kali muncul kebiasaan
untuk mengulang-ulang kata atau kalimat tertentu. Hal inilah yang disebut dengan
ekolalia. Kebiasaan ini tampak mengganggu bagi orang lain, namun ekolalia bagi
a. Menimbulkan perasaan senang karena suara-suara tertentu memang disukai
oleh anak autis
b. Menenangkan diri dan memblokir suara-suara dari luar ketika berada pada
situasti yang amat bising
c. Membantu pemahaman terhadap kata-kata yang diucapkan oleh orang lain.
Pada saat berkomunikasi, ekolalia membantu mereka untuk memperjelas arti
kalimat dalam benak mereka. Dengan mengulang-ulang kata atau kalimat
tertentu berarti makna kalimat menjadi lebih jelas sehingga respon yang
diberikan oleh anak juga lebih cepat
Suatu pemahaman yang lebih jelas tentang ekolali yang tertunda
berlawanan dengan kalimat klise tentang anak autis yang mengindari kontak. Ada
yang menemukan bahwa justru sebaliknya adalah yang benar, anak-anak itu
berusaha mengambil bagian dalam pembicaraan. Mereka berusaha berkomunikasi
namun yang mereka lakukan hanya sebatas kemampuannya saja. Sebagai contoh ketika seorang anak ingin mendengarkan music, di selalu berkata “jangan
mendekati radio itu, nanti rusak”. Hal ini terjadi karena anak selalu mendengarkan
kalimat itu ketika anak mendekati radio. Jika kita memahami masalah yang
dimiliki anak-anak penyandang autism saat mempelajari kata-kata sederhana, kita
juga dapat membayangkan mengapa begitu banyak kalimat mereka adalah
ciri-ciri ekolalia dan mereka terkesan membatasi diri pada pengulangan kalimat yang
tanpa makna seperti yang dipersepsikan orang-orang sebelumnya. Tetapi ekolali
merupakan usaha untuk mengendalikan situasi dengan keterbatasan makna yang
dimiliki. Sekitar separuh penyandang autis adalah orang yang mampu
berkomunikasi. 75% diantara peyandang autis menunjukkan ungkapan-ungkapan
ekolali yang jelas, dan 25% lainnya menunjukkan ungkapan ekolali yang kurang
jelas (Petters, 2009: 71-72).