PT BMI Laporan Laba Rugi
IV. 2 Hambatan-Hambatan dan Risiko yang Dihadapi Dalam Penerapan Perhitungan Bagi Hasil atas Pembiayaan Musyarakah Pada PT. Bank
Muamalat Indonesia
Salah satu hambatan yang harus dihadapi oleh PT. Bank Muamalat Indonesia,
Tbk apabila melakukan suatu transaksi yang berkaitan dengan pembiayaan
musyarakah yaitu dana dari pembiayaan tersebut berpotensi hilang bila nasabah mengalami kerugian dan gagal bayar. Hambatan ini merupakan yang sering
terjadi dalam pembiayaan musyarakah. Hal ini dapat disebut sebagai risiko
pembiayaan macet (bermasalah). Risiko pembiayaan macet (bermasalah) hampir
sama dengan apa yang disebut risiko kredit macet pada bank konvensional yang
mana adalah kesulitan pengembalian dana dari nasabah ke bank. Risiko ini
merupakan salah satu hal yang krusial bagi sebuah lembaga pembiayaan dimana
jika nasabah mengalami kesulitan atau gagal bayar, hal tersebut akan berpengaruh
terhadap profitabilitas bank, dan jika hal ini terus berlanjut maka akan
menyebabkan bank kesulitan likuiditas. Untuk itu, diperlukan pengelolaan risiko
yang baik untuk mengurangi risiko yang terjadi dalam pembiayaan.
Hambatan berikutnya adalah nasabah yang tidak menaati akad atau berbuat
wanprestasi. Dalam musyarakah telah diketahui bahwa pengelola usaha
merupakan mitra aktif yang ditunjuk oleh nasabah maupun nasabah itu sendiri,
pihak bank selaku mitra pasif berkontribusi pada pemberian modal dan
pemantauan usaha secara berkala. Pada saat akad berjalan, pengawasan usaha
yang dilakukan bank tidak dilakukan rutin setiap hari, sehingga memungkinkan
kecurangan yang dilakukan nasabah selaku mitra aktif sebagai contoh adalah
yang diserahkan pada pihak bank akan menurun. Hal ini tentu mempengaruhi
penyajian laporan keuangan dan menimbulkan kerugian material pada pihak bank.
Hambatan selanjutnya adalah penggunaan dana modal yang tidak sesuai dengan
kesepakatan pada saat terjadinya akad. Karena pihak bank adalah pihak pasif yang
tidak berkontribusi secara langsung pada pengelolaan usaha, nasabah dapat
mempergunakan dana tersebut diluar kepentingan usaha yang telah disepakati.
Hal ini tentu akan berpengaruh buruk untuk penyajian laporan keuangan yang
akan dilaporkan kepada pihak bank, karena hal tersebut tidak sesuai kesepakatan
dimana disebutkan bahwa penggunaan modal hanya untuk biaya operasional
usaha. hal ini tetap dikatakan sebagai kecurangan bila saat penyajian laporan
keuangan, mitra aktif membebankan pemakaian modal secara pribadi tersebut
pada beban operasional. Penggunaan dana yang tidak sesuai, secara langsung
telah mengkhianati isi kesepakatan yang disetujui pada saat akad.
Secara umum, risiko yang dihadapi perbankan syariah diklasifikasikan sama
seperti bank konvensional, dan risiko yang muncul sebagai dampak penerapan
prinsip syariah. Risiko kredit, risiko pasar, risiko benchmark, risiko operasional,
risiko likuiditas, dan risiko hukum mungkin timbul dan harus dihadapi oleh bank
syariah sama seperti bank konvensional, namun dengan prinsip syariah dan
keharusan untuk mematuhi aturan-aturan syariah, maka risiko-risiko yang akan
dihadapi bank syariah akan berbeda.
Risiko yang timbul karena penerapan prinsip syariah pada bank adalah
withdrawal risk, fiduciary risk, dan displaced commercial risk. Risiko-risiko tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Withdrawal Risk yaitu merupakan bagian dari spektrum risiko bisnis. Risiko
ini sebagian besar dihasilkan dari tekanan kompetitif yang dihadapi bank.
Bank syariah dapat terkena withdrawal risk (risiko penarikan dana)
disebabkan oleh deposan bila keuntungan yang mereka terima lebih rendah
dari tingkat return yang diberikan oleh rival kompetitornya.
2. Fiduciary Risk, yaitu risiko yang secara hukum bertanggung jawab atas
pelanggaran kontrak investasi baik ketidaksesuaiannya dengan ketentuan
syariah atau salah kelola (mismanagement) terhadap dana investor.
3. Displaced commercial risk. Displaced commercial risk adalah transfer risiko
yang berhubungan dengan simpanan kepada pemegang ekuitas. Risiko ini bisa
muncul ketika bank berada di bawah tekanan untuk mendapatkan profit,
namun bank justru harus memberikan sebagian profitnya kepada deposan
akibat rendahnya tingkat return .
Langkah-langkah dalam Meminimalisir Risiko
Selama ini, manajemen risiko perbankan syariah masih mengikuti bank
konvensional, namun operasi bank syariah yang memiliki karakteristik berbeda
dengan bank konvensional mendesak untuk menerapkan manajemen risiko agar
tidak dihantui oleh risiko-risiko. Namun, Bank Indonesia selaku bank sentral di
Indonesia telah mengeluarkan dua kebijakan baru untuk mengelola risiko dalam
bank syariah yang sesuai dengan Islamic Financial Services Board yakni, equity
investment risk dan Rate of Return Risk. Equity investment risk (risiko investasi) dan Rate of Return Risk (risiko imbal hasil) merupakan pengelolaan risiko bagi
pembiayaan dengan sistem bagi hasil yang pada umunya digunakan pada akad
Equity investment risk merupakan pengelolaan risiko karena adanya potensi dana bank hilang akibat nasabah merugi, sedangkan Rate of Return Risk merupakan
risiko hilangnya Dana Pihak Ketiga (DPK) karena imbal hasil simpanan di Bank
syariah yang fluktuatif.
Lembaga keuangan syariah setidaknya harus memperhatikan cara untuk
meminimalisir risiko-risiko untuk tetap mempertahankan daya saing, profitabilitas
bank, dan kesetiaan nasabah.
Untuk mencegah proyek pembiayaan musyarakah agar tidak menjadi proyek
yang bermasalah, unit manajemen risiko PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk.
telah menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Prinsip Keterbukaan
Adanya keterbukaan (transparansi) atas semua aspek yang
berkaitan dengan kegiatan pembiayaan merupakan faktor utama dalam
menangani proyek bermasalah. Account Manager dan pejabat pembiayaan
lainnya tidak dibenarkan untuk menyembunyikan atau menutupi gejala atau
tanda-tanda adanya pembiayaan bermasalah, karena tindakan tersebut akan
menyebabkan tertundanya penanganan secara dini terhadap proyek
bermasalah, yang kemudian dapat berakibt proyek tersebut mengarah kepada
kondisi yang lebih buruk;
2. Prinsip Deteksi Dini
Penanganan proyek bermasalah atau diduga bermasalah dilakukan secara dini
dan sesegera mungkin. Untuk itu manajemen PT. Bank Muamalat Indonesia,
adanya pembiyaan bermasalah atau yang diduga akan menjadi proyek
bermasalah.
3. Prinsip Tidak Ada Pengecualian
PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk tidak membenarkan adanya pengecualian
dalam penyelesaian proyek bermasalah, khususnya untuk pembiayaan
bermasalah kepada pihak-pihak yang terkait dengan bank dan
nasabah-nasabah besar tertentu.
Dalam proyek pembiayaan bermasalah PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk
menggolongkan ke dalam klasifikasi, diantaranya: IA (memerlukan
perhatian), II (kurang lancar), III (diragukan), dan IV (macet). Penentuan
klasifikasi tersebut tidak boleh bertentangan dengan ketentuan PT. Bank
Muamalat Indonesia Tbk. kolektabilitas pembiayaan dan tidak boleh
melakukan pengecualian, khusunya untuk pihak-pihak yang terkait dengan
bank dan nasabah-nasabah besar tertentu;
4. Prinsip Optimalisasi Sistem Pelaporan
Sistem penilaian/klasifiaksi pembiayaan dan laporan-laporan penyimpangan
(seperti tunggakan, laporan overdraft, laporan jatuh tempo, laporan document
to be obtained, dan laporan-laporan sejenis lainnya) harus dioptimalkan penggunaannya sebagai sarana untuk melakukan deteksi dini terhadap
kemungkinan adanya proyek bermasalah.
PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk berusaha menghindari penyelesaian
proyek bermasalah dengan cara menambah plafon pembiayaan, kecuali jika
terhadap prospek penyelesaian proyek bermasalah yang mendukung
dilakukannya tindakan tersebut. PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk
memberikan perhatian dan pengawasan secara khusus terhadap pembiayaan
termasuk dalam daftar laporan pembiayaan yang diklasifikasi tersebut, dan
segera melakukan tindakan/usaha-usaha konkrit untuk menyehatkan proyek
kembali. Perhatian dan tindakan yang lebih serius harus dilakukan terhadap
pembiayaan yang diklasifikasi II (diragukan) dan IV (macet).
Cara Mengatasi Risiko Dalam Penyaluran Pembiayaan
Selain itu, unit manajemen risiko PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk mempunyai
cara untuk mengatasi risiko dalam penyaluran pembiayaan, yang bertujuan untuk
meminimalisasi risiko yang ditimbulkan dari pembiayaan musyarakah, antara
lain:
a. Hasil penjualan/pendapatan dari bisnis yang dibiayai seluruhnya harus
melalui mekanisme mutasi rekening dibank sehingga dapat dengan mudah
dikontrol bersama dengan nasabah tanpa perlu klarifikasi lagi untuk
memastikan kebenaran data penjualan/pendapatan tersebut.
b. Menggunakan objek bagi hasilnya adalah Revenue Sharing.
c. Didalam bisnis yang dibiayai terdapat suatu media/alat yang mencatat
realisasi penjualan/pendapatan yang keamanannya terjamin, sehingga juga
dapat mempermudah klarifikasi data realisasi penjualan tersebut.
d. Fasilitas musyarakah ini sebaiknya diberikan kepada nasabah yang sudah
eksisting dengan past performance yang tergolong prime customer dan telah
e. Sebaiknya bank membiayai suatu bidang usaha dengan kondisi sedang dalam
tahap pertumbuhan, bukan dalam tahap penurunan usaha sehingga jika dilihat
dari sisi product life cycle, produk dari bidang usaha tersebut harus sedang
dalam masa pertumbuhan juga bukan dalam masa pengenalan, kematangan
dan bahkan penurunan.
f. Sebaiknya bidang usaha yang dibiayai disesuaikan dengan kemampuan staf
marketing banknya dalam menguasai aspek-aspek teknis dari usaha tersebut.
g. Jangan memberikan fasilitas musyarakah kepada suatu perusahaan yang
tergolong start up company (baru memulai usaha).
h. Bidang usaha yang akan dibiayai harus telah diyakini benar dampak
risikonya (pilih usaha yang paling manageble risikonya).
i. Sedapat mungkin alur nasabah dikuasai oleh bank.
j. Memberikan covenant, yaitu jika realisasi objek bagi hasil tidak sesuai
dengan proyeksi, maka bank berhak ikut melakukan pengelolaan usaha
tersebut minimal aspek keuangannya.
k. Memonitor dengan baik keteraturan dan ketepatan waktu nasabah dalam
memberikan laporan objek bagi hasil sebagai ukuran bank dalam menilai
aspek character nasabah.
Penanganan Pembiayaan Bermasalah.
Jika pembiayaan ini sudah terlanjur bermasalah, maka pihak bank akan
melakukan penanganan dengan beberapa cara berikut ini:
1. Melakukan evaluasi ulang pembiayaan yang menyangkut :
a) Aspek Management
c) Aspek Produksi
d) Aspek Keuangan
e) Aspek Yuridis
f) Aspek Jaminan
g) Aspek Nilai
Khusus untuk aspek Yuridis dan Jaminan mintakan Opini Legal, untuk
penyempurnaan kelemahan-kelemahan yang mungkin ada dalam pengikatan
pembiayaan maupun jaminan, agar tidak terdapat peluang bagi nasabah dan
pihak ketiga untuk melakukan usaha-usaha yang dapat menimbulkan kerugian
bagi bank.
2. Lakukan pengelompokan penanganan account penyelesaian pembiayaan
menjadi :
A. Revitalisasi Proses
B. Penyelesaian Melalui Jaminan
C. Litigasi Proses
Setiap usaha penyelesaian pembiyaan bermasalah harus dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan/hukum yang berlaku, namun harus senantiasa dilaksanakan
agar dapat diselesaiakan diluar Proses/Sidang Pengadilan.
Revitalisasi Proses
Revitalisasi proses dilakukan apabila berdasarkan evaluasi ulang pembiayaan
yang dilakukan terdapat indikasi bahwa usaha nasabah masih berjalan dan
hasil usaha nasabah diyakini masih mampu untuk memenuhi kewajiban
Revitalisasi Proses meliputi :
a) Rescheduling
Perubahan ketentuan yang hanya menyangkut jadwal pembayaran dan
atau jangka waktunya.
b) Restructuring
Perubahan sebagian atau seluruh ketentuan-ketentuan pembiayaan
termasuk perubahan maksimum saldo pembiayaan.
c) Reconditioning
Perubahan sebagian atau seluruh ketentuan pembiayaan termasuk
perubahan jangka waktu dan persyaratan lainnya sepanjang tidak
menyangkut perubahan maksimum saldo pembiayaan.
d) Bantuan Management
Penyehatan pembiayaan melalui penempatan sumber daya insani pada
posisi management oleh bank. Hal ini dilakukan bila :
1) Permasalahan terjadi karena kesalahan management
2) Sumber pengembalian pembiayan masih potensial.
Langkah-Langkah Proses Revitalisasi adalah :
1. Melakukan evaluasi tentang potensi usaha nasabah
2. Membuat rekomendasi untuk diajukan kepada Komite Pembiayaan
3. Melakukan pengikatan-pengikatan
Penyelesaian Melalui Jaminan
Penyelesaian melalui jaminan dilakukan bila berdasarkan hasil evaluasi ulang
pembiayaan, nasabah sudah tidak memiliki usaha dan nasabah tidak cooperatif
untuk menyelesaikan pembiayaan. Revitalisasi proses tidak dapat dilakukan.
Penyelesaian melalui jaminan dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Penyelesaian dengan cara non litigasi
Penyelesaian sengketa yang diselesaikan diluar pengadilan.
Penyelesaian dengan cara Non Litigasi adalah sebagai berikut:
a) Dengan cara Off-Set
Off-Set adalah penyelesaian pembiayaan melalui penyerahan jaminan secara sukarela oleh nasabah kepada Bank , sebagai upaya
penyelesaian pembiayaannya.
Off-Set dapat dilakukan bila dalam prosesnya nasabah bersedia untuk menjual jaminan secara sukarela kepada Bank .
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan Off-Set
adalah sbb:
1) Analisa kecukupan nilai jaminan untuk menutup seluruh
kewajiban dan biaya-biaya untuk proses Off-Set (Nilai beli Bank).
Dengan ketentuan :
(1) Bila nilai beli bank lebih kecil dari nilai taksasi, maka semua
kewajiban dan biaya-biaya dapat dimasukkan dalam
(2) Bila nilai beli bank lebih besar dari nilai taksasi, maka harga
beli bank maksimal sebesar nilai pasar, sisanya tetap dalam
bentuk pembiayaan
(3) untuk diangsur sampai dengan lunas, pada kondisi ini
tunggakan margin tidak dapat dimasukkan sebagai harga beli
bank.
2) Lakukan negosiasi dengan nasabah untuk pembelian jaminan.
3) Bila nasabah ingin membeli kembali jaminan yang akan dibeli
oleh bank, maka berikan Hak Opsi dengan jangka waktu
berdasarkan persetujuan kedua belah pihak.
4) Setelah mendapat persetujuan Komite Penyelesaian Pembiayaan
lakukan pengikatan jual beli.
5) Lakukan pelunasan pembiayaan dan proses pengadministrasian
lainnya.
Penyelesaian dengan cara litigasi
Penyelesaian dengan cara litigasi adalah proses penyelesaian dimana seorang
individu atau badan membawa sengketa, atau kasus ke pengadilan. Pada Bank
Muamalat, penyelesaian melalui cara ini ada dua cara, yaitu melalui
Basyarnas, dan melalui Pengadilan Agama
1) Melalui BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional)
Sesuai denagn klausul pasal 17 Perjanjian Pembiayaan, setiap sengketa
yang timbul berdasarkan perjanjian yang dibuat antara nasabah dan Bank
Muamalat, maka akan diselesaikan melaui Badan Arbitrase Muamalat
2) Pengadilan agama.
Ini merupakan pilihan kedua, jika salah satu pihak merasa ingin membawa
kasus ketingkat pengadilan.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sbb :
1. Pembuatan Usulan Penyelesaian ke Komite Pembiayaan 2. Pembuatan Surat Gugatan ke Basyarnas
3. Pengajuan Gugatan ke BAMUI (pendaftaran perkara) 4. Sidang Basyarnas (jangka waktu paling lama 6 bulan) 5. Putusan Basyarnas
6. Pendaftaran putusan Basyarnas ke Pengadilan Negeri
7. Permohonan Pelaksanaan Putusan Basyarnas ke Pengadilan Negeri 8. Pelaksanaan Eksekusi oleh Pengadilan Negeri.
Keputusan yang dikeluarkan oleh Basyarnas akan didaftarkan di PN untuk
mendapatkan pengesahan, sehingga akan mempunyai kekuatan
eksekutorial.
Tahap selanjutnya adalah melakukan lelang dengan penyelesaian secara
IV. 3 Perbandingan perhitungan bagi hasil atas musyarakah dengan partnership