• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HAMBATAN DALAM PELAKSANAAN PEMBERIAN

B. Hambatan-Hambatan Dari Segi Eksternal

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor penghambat yang dapat mempengaruhi dalam pelaksaan pemberian pembiayaan secara Mudharabah kepada koperasi, yaitu :

1. Koperasi Tidak Mempunyai Surat Pengesahan dari Dinas Koperasi

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Riduansyah bagian Support pembiayaan Bank Muamalat Cabang Medan, salah satu bentuk hambatan dalam pelaksanaan pemberian pembiayaan kepada koperasi, koperasi belum mendapatkan

********************

Wawancara dengan Account Manager Bank Muamalat Cabang Medan (Winda), pada tanggal 13 Desember 2008.

pengesahan dari dinas koperasi, sehingga koperasi tersebut belum dikatakan sebagai Badan Hukum, hal ini berdasarkan ketentuan pasal pasal 9 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian menentukan. Koperasi memperoleh status badan hukum setelah akta pendiriannya disahkan oleh pemerintah. Dengan tidak adanya pengesahan dari pemerintah dalam hal ini Dinas Koperasi, maka, permohonan dari koperasi tsersebut tidak dapat ditindak lanjuti oleh bank muamalat.

Hal tersebut diatas dibenarkan oleh Bapak Aiyub Sarjana Hukum, Ketua Koperasi Pegawai Republik Indonesia Media (KPRI Media), pengurusan surat pengesahan badan dari Dinas koperasi membutuhkan dana, sedangkan koperasi ini hanya bergerak dari anggota untuk anggota tidak dipergunakan untuk melaksanakan pekerjaan pemborongan dan jasa lain. Jadi kami rasa tidak perlu mengurus pengesahan dari permerintah. Jalan keluar yang ditempuh oleh Bank Muamalat apabila berhadapan dengan koperasi yang belum berbadan hukum, bank muamalat akan membantu pengurusannya melalui Dinas Koperasi secara paralel dalam artian proses pembiayaan jalan terus dan pengurusan pengesahan dimohonkan.††††††††††††††††††††

2. Koperasi Tidak Memeliki surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)

Disamping faktor yang telah disebutkan di atas terdapat juga koperasi yang tidak memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan, hal ini menjadi salah satu persyaratan pemberian pembiayaan kepada koperasi karena dalam petunjuk pelaksanan dan

††††††††††††††††††††

. Wawancara dengan Support Pembiayaan Bank Muamalat Cabang Medan (Riduansyah), pada tanggal 12 Desember 2008.

petunjuk teknis bank muamalat menentukan salah satu syarat koperasi harus dapat menyerahkan surat izin usaha perdagangan. Jalan keluar yang ditempuh oleh Bank Muamalat apabila berhadapan dengan koperasi yang belum memiliki surat izin usaha perdagangan, Bank Muamalat akan membantu pengurusannya melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan secara paralel dalam artian proses pembiayaan jalan terus sambil menunggu surat izin usaha perdagangan keluar.

Dari ketentuan-ketentuan dan Petunjuk Pelaksanaan ( Juklak) serta Petunjuk Teknis (Juknis ), sebagian sudah dapat dijalankan walaupun masih ada penyimpangan yang terjadi dan sering pula disebut sebagai Set Streaming. Penyimpangan ini

kebanyakan terjadi karena:

a. Salah pengertian

Sering sekali ditemukan baik pengurus maupun anggota koperasi menanyakan tentang bunga pinjaman mereka atau anggota menanyakan langsung sisa utang atau bunga pinjaman mereka ke Bank Muamalat. Hal ini jelas merupakan kesalahan karena pada hakekatnya di Bank Muamalat tidak ada pinjaman uang yang sifatnya komersil sehingga tidak ada bunga. Ini menunjukkan, bahwa baik pengurus koperasi maupun anggota koperasi tidak mengetahui bahwa mereka adalah partner yang saling mengikat dalam akad jual beli. Dalam jual beli tidak ada transaksi uang, yang ada hanyalah transaksi barang sehingga kelebihan yang didapatkan bukanlah bunga tapi laba/keuntungan.

Kemudian dalam hal anggota koperasi yang menanyakan langsung sisa hutangnya ke Bank Muamalat, ini juga merupakan indikasi ketidak mengertian

anggota maupun pengurus koperasi akan skim yang sedang dijalani dalam pembiayaan di Bank Muamalat, karena pada hakekatnya antara Bank Muamalat dengan anggota koperasi tidak ada hubungan langsung sehingga anggota tidak punya hak untuk bertanya langsung. Kalau masing-masing pihak mengerti alur yang benar, seharusnnya anggota menanyakannya kepada pengurus koperasi dan pengurus koperasi menanyakan langsung kepada Bank Muamalat. Hal ini dilakukan karena skim yang diterapkan adalah skim Al-Mudharaabah Wal-Murabahah.

b. Ketidak Jujuran Pengurus Koperasi

Pada saat pengajuan fasilitas pembiayaan, pengurus koperasi mengajukan nama-nama calon debitur yang akan mendapatkan fasilitas pembiayaan dalam daftar nominatif, lengkap dengan daftar pangkat dan penghasilan bulanan serta kegunaannya. Dalam hal inilah terjadi ketidakjujuran pengurus koperasi karena memberikan data yang palsu, sehingga nasabah yang mendapatkan fasilitas tersebut adalah nasabah fiktif dan akibatnya pasti akan menyebabkan kredit bermasalah.

c. Kesalahan Manajemen

Kesalahan manajemen ini termasuk juga ketidak amanahan pengurus koperasi, karena hal ini terjadi diakibatkan peminjaman dana angsuran anggota untuk kepentingan lain. Contoh, adanya proyek pengadaan yang menguntungkan dalam jangka waktu singkat misalnya 2 (dua) minggu atau 3 (tiga) Mingg, sehingga angsuran anggota yang sudah disetorkan oleh bendahara gaji pada tanggal 1 kepada bendahara koperasi, dipakai untuk membiayai proyek tersebut, atau dana angsuran

anggota digunakan sementara untuk kepentingan operasional koperasi.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡

Kesalahan manajemen atau ketidak amanahan pengurus ini bisa berakibat fatal dan menjadikan pembiayaan ini menjadi macet, bila prediksi semula salah.

d. Kurangnya maintenance Account Manager terhadap account yang menjadi tanggung jawabnya

Pada dasarnya seorang Account Manager di Bank Muamalat bertanggung jawab penuh atas nasabah yang dibinanya. Artinya Account Manager harus melayani segala keperluan nasabah tersebut terutama mengenai hal-hal yang berkaitan dengan faslitas pembiayaan. Kurangnya perhatian, akan menyebabkan berkurangnya komitmen nasabah dan tergiur untuk melakukan penyimpangan yang akhirnya bisa membahayakan kredit yang disalurkan melalui koperasi tersebut.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§

Dari hasil analisa tersebut diatas menunjukkan bahwa penyaluran pembiayaan kepada koperasi dengan skim Mudharabah kebanyakan sudah sesuai dengan juklak dan juknis, karena produk perbankan Syariah berlandaskan kepada dua jenis hukum yaitu hukum positif di Negara Kesatuan Rapublik Indonesia dan hukum Syariat Islam yang Universal. Sebelum pembiayaan direalisasikan, tim Financing suport akan

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡

Wawancara dengan Bussines Manager Bank Muamalat Cabang Medan (Okky Surdian), pada tanggal 12 Desember 2008.

§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§

. Wawancara dengan Opersional Manager Bank Muamalat Cabang Medan (Hamsari Nazli), pada tanggal 9 Desember 2008.

melakukan analisa hukum, baik hukum formal maupun syariahnya sehingga kesalahan diupayakan senantiasa diminimalisir.

Dokumen terkait