BAB II HAMBATAN SERTIFIKASI TANAH EKS
B. Hambatan Sertifikasi Tanah Eks Hutan Tanaman
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tanah Buntu Turunan yang luasnya sebelum dibagi menjadi dua adalah seluas 680 Ha yang merupakan tanah adat (hak ulayat). Kemudian, tanah yang sebelumnya merupakan kawasan hutan sejak tahun 1980 itu dilepaskan melalui SK Menhut Nomor: 53/Menhut- II/2005 tanggal 23 Pebruari 2005.
Hal yang perlu dijelaskan dalam hal ini adalah adanya pengaturan dalam pendaftaran tanah mengenai prosedur pelepasan hak atas tanah. Pelepasan hak atas tanah oleh pemegangnya dapat dilakukan di antaranya adalah dengan surat keterangan dari pemegang hak bahwa pemegang hak yang bersangkutan melepaskan hak tersebut yang dibuat di depan dan disaksikan oleh Camat letak tanah yang bersangkutan, atau surat keterangan dari pemegang hak bahwa pemegang hak yang bersangkutan melepaskan hak tersebut yang dibuat dan disaksikan oleh Kepala Kantor Pertanahan.114
Penerima imbalan membuat surat pernyataan pelepasan/penyerahan hak atas tanah, bangunan, tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah sebagai tanda pelepasan hak, bersamaan dengan pembayaran dan penerimaan imbalan dalam bentuk uang. Sebagai bukti telah dilaksanakan pembayaran dan penerimaan imbalan serta pelepasan hak, Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota membuat
114
Pasal 131 ayat (3) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Berita Acara Pembayaran Ganti Rugi dan Pelepasan Hak atas Tanah atau Penyerahan Hak.
Dalam penelitian ini, masyarakat Dusun I, Buntu Turunan sebagai pihak yang menyerahkan tanah Buntu Turunan kepada Kehutanan sebagai pihak yang menerima penyerahan hak tanggal 28 Mei 1980. Atas penyerahan itu, Kehutanan memberikan pago-pago kepada masyarakat Buntu Turunan sebesar Rp.3.570.000,- (tiga juta lima ratus tujuh puluh ribu rupiah). Adapun tujuan pemanfaatan tanah tersebut oleh pihak Kehutanan adalah untuk reboisasi.
Setelah pelepasan hak terjadi, maka status tanah adat tersebut berubah menjadi tanah negara, maka pihak yang membutuhkan harus melakukan prosedur permohonan hak terhadap tanah negara. Tata cara permohonan hak, dapat digunakan apabila tanah yang tersedia berstatus tanah negara, yaitu tanah yang langsung dikuasai oleh negara. Dalam pengertian ini, termasuk tanah negara yang berasal dari pembebasan hak atau pelepasan hak untuk kepentingan pihak lain. Melalui tata cara tersebut, dapat diperoleh tanah dengan hak-hak atas tanah yang primer, seperti Hak Milik.
Seseorang dikatakan mempunyai hak atas tanah atau mendapatkan penetapan hak atas tanah, harus dapat dibuktikan terlebih dahulu adanya dasar penguasaan seseorang dalam menguasai, menggunakan dan memanfaatkan tanah, yang tidak ditentang oleh pihak manapun dan dapat diterima menjadi bukti awal untuk pengajuan hak kepemilikannya. Dengan perkataan lain, pemberian/penetapan hak
atas tanah harus dibuktikan terlebih dahulu dengan adanya dasar penguasaan yang menunjukkan adanya hubungan hukum dengan tanah tersebut.
Berdasarkan Surat Sesdalopbang Bina Graha Nomor: B-430/SEKBANG/5/93 tanggal 8 Mei 1993, Ny. Sarintan Br. Purba merupakan wakil masyarakat Dusun I, Desa Buntu Turunan. Ny. Sarintan Br. Purba menyampaikan kepada Menteri Kehutanan bahwa mengalami kesulitan melakukan sertifikasi tanah seluas 340,70 Ha yang telah dilepaskan oleh Departemen Kehutanan sesuai SK Menhut Nomor: SK.53/Menhut-II/2005. Kemungkinan kesulitan ini disebabkan adanya institusi lain yang mengatasnamakan masyarakat Buntu Turunan, yaitu Farpem (Farpem Aksi Reformasi Pemberdayaan Masyarakat).
Mengenai pelepasan kawasan hutan di Desa Buntu Turunan bahwa sebagian kawasan hutan tersebut dilepaskan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.53/Menhut-II/2005 tentang Pelepasan Sebagian Kawasan Hutan Seluas 340,70 (Tiga ratus empat puluh, tujuh puluh perseratus) Hektar, terletak di Kawasan Hutan Buntu Turunan, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, untuk Hak atas Tanah atas Nama Masyarakat Dusun I, Desa Buntu Turunan, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Surat Menteri Kehutanan tersebut berdasarkan permohonan masyarakat Dusun I, Desa Buntu Turunan, yang difasilitasi oleh Forum Aksi Reformasi Pemberdayaan Masyarakat (Farpem).
Masyarakat Dusun I, Desa Buntu Turunan dengan Surat Nomor: 011/M- Farpem/98 tanggal 7 Juli 1998 mengajukan permohonan untuk memperoleh hak atas tanah seluas ± 340,70 (tiga ratus empat puluh, tujuh puluh perseratus) hektar, yang terletak di Kawasan Hutapadang, Desa Buntu Turunan, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Surat Nomor: 011/M-Farpem/98 tersebut tidak Peneliti dapatkan hingga saat ini, sehingga Peneliti tidak mengetahui penjelasan tentang permohonan yang diajukan masyarakat Dusun I, Buntu Turunan tersebut.
Kemudian, Menteri Kehutanan dan Perkebunan dengan Surat Nomor: 170/Menhut-VII/1999 tanggal 23 Pebruari 1999 telah memberikan persetujuan prinsip permohonan hak atas tanah di Huta Padang, Desa Buntu Turunan, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, atas nama masyarakat Desa Buntu Turunan. Untuk menjamin kepastian hukum sesuai UU Nomor 41 Tahun 1999, maka dipandang perlu untuk melepaskan sebagian Kawasan Hutan Huta Padang seluas 340,70 (tiga ratus empat puluh, tujuh puluh perseratus) hektar, terletak di Desa Buntu Turunan, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, untuk hak atas tanah atas nama masyarakat Dusun I, Desa Buntu Turunan.
Pada tanggal 7 Pebruari 2006, Ny. Sarintan Br. Purba mengirimkan surat kepada Menteri Kehutanan RI, Perihal: Kekeliruan. Di dalam surat itu, Ny Sarintan Br. Purba menyampaikan bahwa Pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun kesulitan untuk mengukur, mengkapling dan mensertifikatkan tanah sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor: SK.53/Menhut-II/2005, atas tanah seluas 340 Ha
yang baru dikembalikan oleh PT. Sintong Sari Union. Menanggapi surat Ny. Sarintan Br. Purba tersebut, maka Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 433/Menhut-VII/2006 tanggal 17 Juli 2006 tentang Penyelesaian atas Penguasaan Tanah Seluas 340,70 Ha di Lokasi Buntu Turunan, Kabupaten Simalungun.
Di dalam SK Menhut Nomor: 433/Menhut-VII/2006 tersebut di atas, pada poin kelima jelas disebutkan perihal Surat Ny. Sarintan Br. Purba tanggal 7 Pebruari 2006. Berkenaan dengan itu pula, Menteri Kehutanan memberikan alternatif penyelesaian, yaitu dengan jalan musyawarah, dan apabila tidak tercapai kesepakatan, maka ditempuh jalur hukum.115
Kakanwil BPN Provinsi Sumatera Utara kemudian memberi perintah kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun untuk tidak melakukan perbuatan hukum apapun, baik penerbitan sertifikat maupun tindakan lain atas tanah yang terletak di lokasi eks Kawasan Hutan Desa Buntu Turunan, Nagori Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun sebelum ada penyelesaian secara musyawarah antara pihak-pihak yang bersengketa sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor: 433/Menhut-VII/2006 tanggal 17 Juli 2006.116
Mengenai hambatan teknis di lapangan pada proses sertifikasi tanah Buntu Turunan, Peneliti tidak dapat mewancarai Ny. Sarintan Br. Purba, yang melihat terjadi hambatan maupun kesulitan yang terjadi di lapangan, baik pada saat
115
Surat Keputusan Nomor: 433/Menhut-VII/2006 tanggal 17 Juli 2006 tentang Penyelesaian atas Penguasaan Tanah Seluas 340,70 Ha di Lokasi Buntu Turunan, Kabupaten Simalungun.
116
Surat Kakanwil BPN Provinsi Sumatera Utara Nomor: 570.1300 tanggal 25 Agustus 2006, Perihal: Penyelesaian atas Pengukuran Tanah Seluas 340,70 Ha di Desa Buntu Turunan.
pengukuran, pengkaplingan maupun pada saat pensertifikatan tanah tersebut. Hal ini disebabkan karena satu dan lain hal.
Pihak lain yang merupakan Panitia Pengembalian Lahan Eks HTI, di antaranya adalah Tunggul Tampubolon, sebagai Sekretaris Panitia Pengembalian Lahan Eks HTI dan Januar Sinaga, Pangulu Buntu Bayu serta M. Andreas Simamora, Camat Hatonduhan tidak transparan dalam memberikan keterangan saat diwawancarai. Mereka hanya mengatakan bahwa sertifikasi tanah telah selesai dilakukan. Sebanyak 42 Ha, sudah disertifikatkan.117
Sedangkan warga Buntu Turunan yang lain, yang ketika itu juga diwawancarai mengatakan bahwa tanah tersebut sudah dibagikan kepada masyarakat, dan setiap orang mendapat 1 Ha.118 Yang lainnya mengatakan bahwa peserta petani yang mendapatkan pembagian tanah adalah sebanyak 203 orang.119
Namun, bila melihat Surat Ny. Sarintan tanggal 7 Pebruari 2006, Perihal: Kekeliruan, Peneliti menyimpulkan bahwa telah terjadi kendala atau hambatan di lapangan dalam proses sertifikasi tanah eks HTI, dimana Pegawai Kantor Pertanahan kesulitan (bingung) menjalankan tugasnya untuk mengukur, mengkapling dan mensertifikatkan tanah sesuai dengan SK Menhut Nomor: SK. 53/Menhut-II/2005.
117
Wawancara dengan Januar Sinaga, Pangulu Buntu Bayu, tanggal 10 Juni 2010.
118
Wawancara dengan Trisepandri Nainggolan, warga Nagori Buntu Bayu, tanggal 10 Juni 2010.
119
Setelah Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten mengadakan rapat tanggal 21 Agustus 2007, maka proses penerbitan sertifikat atas tanah eks HTI di lokasi Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, dapat dilanjutkan karena sesuai dengan Surat Panitia Pengembalian Lahan Eks HTI di lokasi Buntu Bayu, telah dimusyawarahkan dan sudah terjadi kata mufakat antara kedua belah pihak agar proses pensertifikatan dapat segera ditindaklanjuti. Sesuai dengan permohonan masyarakat Buntu Turunan, Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun akan menindaklanjuti permohonan Sertifikat Hak Milik. Sebagian masyarakat mau mensertifikatkan tanahnya melalui Program Sertifikat Massal Swadaya (SMS) tahun 2007.120
Setelah diadakannya Rapat pada tanggal 21 Agustus 2007 antara Panitia Pengembalian Lahan Eks HTI, Pangulu Buntu Bayu, Camat Hatonduhan, Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun, Tapem, dan Asisten I Pemkab Simalungun, disimpulkan bahwa proses penerbitan sertifikat atas tanah eks HTI di Lokasi Buntu Turunan, dapat ditindaklanjuti. Setelah diadakannya musyawarah, maka tuntutan- tuntutan atas tanah tersebut yang mengakibatkan keresahan di tengah-tengah masyarakat tidak disikapi. Apabila Badan Planologi Kehutanan mengeluarkan suatu
120
Surat Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun Nomor: 570/2138/11-07 tanggal 30 Nopember 2007, Perihal: Mohon Petunjuk Penyelesaian Sertifikat Eks HTI Buntu Turunan, Kecamatan Hatonduhan, Seluas 340,70 Ha.
kebijakan agar terlebih dahulu mengklarifikasi ke Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun.121
Mengenai kendala yang timbul dalam proses sertifikasi eks tanah HTI di Desa Buntu Turunan, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun telah meminta petunjuk penyelesaian sertifikat eks HTI di Desa Buntu Turunan kepada Kakanwil BPN Provinsi Sumatera Utara.122 Kemudian, Kakanwil BPN Provinsi Sumatera Utara memberikan petunjuk untuk melakukan pensertifikatan tanah seluas 340,70 Ha di lokasi Buntu Turunan, Kabupaten Simalungun.123
Sejak keluarnya SK Menhut Nomor: SK.53/Menhut-II/2005 sampai saat ini belum ada sertifikat yang keluar/selesai, meskipun tahap awal telah selesai dilaksanakan oleh kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun.124 Dengan adanya kendala atau hambatan tersebut di atas, maka harus segera dicari solusinya. Usaha untuk menyelesaikan permasalahan tersebut telah dilakukan termasuk di antaranya adalah dengan melakukan musyawarah sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 433/Menhut-VII/2006, yaitu pada poin kelima. Mengenai penyelesaian permasalahan tersebut akan dijelaskan pada Bab berikutnya.
121
Surat Panitia Pengembalian Lahan Eks HTI Lokasi Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun Nomor: 03/PAN/BB/2007 tanggal 30 Agustus 2007, Perihal: Laporan.
122
Surat Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun Nomor: 570/2138/11-07 tanggal 30 Nopember 2007, Perihal: Mohon Petunjuk Penyelesaian Sertifikat Eks HTI Buntu Turunan, Kecamatan Hatonduhan Seluas 340,70 Ha.
123
Surat Kakanwil BPN Provinsi Sumatera Utara Nomor: 570-1494 tanggal 10 September 2008, Perihal: Pensertifikatan Tanah Seluas 340,70 Ha di Lokasi Buntu Turunan, Kabupaten Simalungun.
124
Surat Panitia Pengembalian Lahan Eks HTI, Lokasi Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun Nomor: 03/PAN/BB/2007 tanggal 30 Agustus 2007, Perihal: Laporan.