IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hantaran Hidrolik Jenuh pada Hutan Bambu dan Tegalan
Analisis ragam hantaran hidrolik jenuh (Tabel Lampiran 1) menunjukkan bahwa nilai hantaran hidrolik jenuh tanah nyata dipengaruhi oleh penggunaan lahan dan lokasi. Tabel 4 menyajikan nilai hantaran hidrolik jenuh pada penggunaan lahan hutan bambu dan tegalan.
Tabel 4. Nilai Rata-rata dan Koefisien Keragaman Hantaran Hidrolik Jenuh pada Hutan Bambu dan Tegalan
Penggunaan Lahan Hantaran Hidrolik Jenuh Rata-rata (cm/jam) Kelas Koefisien Keragaman (%) Kelas Keragaman
Hutan Bambu 3.00a Sedang 62.73 Sedang
Tegalan 0.90b Agak Lambat 62.06 Sedang
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda dalam setiap kolom berbeda nyata pada taraf α = 0.05 .
Hutan bambu memiliki nilai hantaran hidrolik jenuh lebih besar, yaitu 3.00 cm/jam (kelas sedang) dibandingkan tegalan yang memiliki hantaran hidrolik jenuh sebesar 0.90 cm/jam (kelas agak lambat). Nilai hantaran hidrolik jenuh pada hutan bambu dan tegalan tidak terlepas dari sifat-sifat fisika yang dimiliki kedua
penggunaan lahan tersebut seperti indeks stabilitas agregat, porositas, pori drainase dan bahan organik.
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa hantaran hidrolik jenuh hutan bambu dan tegalan memiliki koefisien keragaman 62.73 % dan 62.06 % dengan kelas sedang. Tingginya nilai koefisien keragaman pada hantaran hidrolik jenuh karena mudahnya perubahan hantaran hidrolik jenuh di lapangan yang diakibatkan oleh sifat keruangan (geometri) yang mudah berubah. Hal ini dikemukakan oleh Hillel (1972) yang mengatakan bahwa hantaran hidrolik jenuh tidak selalu tetap karena secara umum hantaran hidrolik jenuh dipengaruhi oleh pori total, ukuran pori, tekstur, struktur dan peristiwa yang terjadi selama proses aliran.
Tabel 5 menyajikan perbandingan sifat-sifat fisika tanah pada penggunaan lahan hutan bambu dan tegalan.
Tabel 5. Sifat-sifat Fisika Tanah pada Hutan Bambu dan Tegalan
Sifat Fisika Tanah
Penggunaan Lahan
Hutan Bambu Tegalan
Rata-rata Stdev KK (%) Rata-rata Stdev KK (%) ISA 230.15a 240.14 104.34 166.17b 250.80 150.92 Porositas (%) 51.68a 3.51 6.79 44.08b 4.59 10.41 Pori Drainase (%) 16.80a 5.13 30.53 11.89b 2.09 17.70
Pori Air Tersedia (%) 29.75a 3.70 12.43 6.90b 1.62 23.47
Bobot Isi (g/cm3) 1.39a 0.09 6.74 1.57b 0.12 7.64
Bahan Organik (%) 5.15a 0.98 19.02 3.69b 1.27 34.41
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang tidak sama dalam setiap baris berbeda nyata pada taraf α = 0.05
Hasil analisis ragam (Tabel Lampiran 2-7) menunjukkan pengaruh nyata penggunaan lahan terhadap sifat-sifat fisika tanah.
Hutan bambu memiliki ISA (230.15 %), porositas (51.68 %), bahan organik (5.15%), pori drainase (16.80 %), dan pori air tersedia 29.75 (%) lebih besar dibandingkan tegalan yang memiliki ISA (166.17 %), porositas (44.08 %), bahan
organik (3.69 %), pori drainase (11.89 %) dan pori air tersedia 6.90 (%), sedangkan bobot isi hutan bambu (1.39 g/cm) lebih rendah dibandingkan tegalan (1.57 g/cm).
Sifat-sifat fisika tanah pada kedua penggunaan lahan tersebut dipengaruhi oleh penutupan tanah oleh tajuk dan pengolahan tanah. Pada Gambar 1 dapat dilihat kondisi hutan bambu yang tertutup rapat oleh tajuk dengan tumpukan serasah pada permukaan tanah sehingga sifat fisika tanah dapat terjaga. Sedangkan lahan tegalan merupakan areal tanah terbuka dan tidak terlindungi tajuk ataupun serasah dan sering mengalami gangguan akibat pengolahan tanah.
a b
Gambar 1. Hutan Bambu (a) dan Tegalan (b)
Faktor lokasi nyata mempengaruhi hantaran hidrolik jenuh. Tabel 6 menunjukkan nilai hantaran hidrolik jenuh hutan bambu dan tegalan di tiga lokasi penelitian, yaitu Gunung Malang, Curug Luhur dan Ciherang. Hutan bambu memiliki
hantaran hidrolik tertinggi di lokasi Gunung Malang (4.61cm/jam), diikuti Curug Luhur (2.45 cm/jam) dan Ciherang (1.95 cm/jam). Sedangkan pada tegalan hantaran hidrolik tertinggi terdapat di lokasi Curug Luhur (1.33 cm/jam), diikuti Gunung Malang (0.98 cm/jam) dan Ciherang (0.39 cm/jam).
Tabel 6. Hantaran Hidrolik Jenuh Hutan Bambu dan Tegalan di Tiga Lokasi Penelitian
Lokasi
Hutan Bambu Tegalan
Hantaran Hidrolik Jenuh (cm/jam) Kelas Hantaran Hidrolik Jenuh (cm/jam) Kelas Gunung Malang 4.61a
Sedang 0.98a Agak Lambat
Curug Luhur 2.45b Sedang 1.33b Agak Lambat
Ciherang 1.95c Agak Lambat 0.39c Lambat
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda dalam setiap kolom berbeda nyata pada taraf α = 0.05.
Proses geomorfik dan pedogenetik tanah di setiap lokasi merupakan faktor yang membuat perbedaan hantaran hidrolik jenuh di setiap lokasi. Proses-proses tersebut menyebabkan perbedaan kelerengan, topografi, kedalaman solum dan
ketebalan lapisan tanah. Proses geomorfik dan pedogenetik berbeda di setiap lokasi diantaranya karena dipengaruhi proses geologi, iklim dan bahan induk tanah. Tabel 7 menunjukkan deskripsi lereng, kedalaman solum dan topografi ketiga lokasi di lapangan. Pengukuran hantaran hidrolik jenuh di setiap lokasi pada hutan bambu dilakukan pada kemiringan lereng dan topografi yang hampir sama tetapi pada kedalaman solum yang berbeda. Sedangkan pada tegalan kemiringan lereng berbeda karena sulit menemukan lokasi tegalan dengan kelerengan yang sama.
Tabel 7. Deskripsi Lahan Hutan Bambu dan Tegalan pada Tiga Lokasi Penelitian
Lokasi Hutan Bambu Tegalan
Lereng (%) Kedalaman Solum (cm) Topografi Lereng (%) Kedalaman Solum (cm) Topografi Gunung
Malang 30 110 Berbukit 20 100 Berbukit
Curug
Luhur 30 71 Berbukit 15 70 Datar
Ciherang 30 100 Berbukit 30 80 Berbukit
Meskipun hubungan antara lokasi dengan hantaran hidrolik jenuh belum bisa dijelaskan secara kuantitatif akan tetapi pengaruh lokasi terhadap hantaran hidrolik jenuh sedikitnya mendekati uraian berikut. Profil tanah hutan bambu di lokasi Gunung Malang (Tabel Lampiran 8) menunjukkan tekstur liat mendominasi seluruh horizon tanah. Pada horizon A terdapat struktur remah dan struktur granular pada horizon AB serta banyak perakaran kasar pada sebagian besar horizon menyebabkan
pergerakan air dalam tanah lebih lancar sehingga membuat hantaran hidrolik menjadi tinggi. Panjang dan ukuran akar yang mencapai horizon paling bawah (BC) menyebabkan aliran air masih bisa mencapai kedalaman tersebut. Sedangkan pada profil tanah di lokasi Curug Luhur (Tabel Lampiran 9) terdapat tekstur lempung liat berdebu pada horizon bagian atas (A dan AB). Sedangkan struktur pada horizon A adalah remah, horizon AB granular, horizon B1 gumpal dan horizon B2 gumpal bersudut. Akibat tekstur yang lebih kasar di setiap lapisan membuat hantaran hidrolik jenuh lebih besar ditambah dengan adanya struktur remah dan granular pada horizon bagian atas. Hal yang cukup menarik terdapat pada profil tanah hutan bambu di lokasi Ciherang (Tabel Lampiran 10), dimana terdapat tekstur liat berdebu (horizon A), lempung liat berdebu (horizon AB), dan liat (Bt1 dan Bt2). Beberapa struktur yang terdapat adalah remah (horizon A), granular (horizon AB), gumpal (Bt1) dan gumpal membulat (Bt2). Rendahnya hantaran hidrolik jenuh pada profil ini kemungkinan besar diakibatkan adanya lapisan liat yang tebal (Bt1=32 cm dan Bt2= 34 cm). Akibat tebalnya lapisan liat ini gerakan air menjadi lebih lambat karena terbentuk lapisan yang padat dan kompak.
Profil tanah tegalan di lokasi Gunung Malang (Tabel Lampiran 11) terlihat bahwa terdapat tekstur lempung berpasir (horizon Ap dan E) dengan struktur remah dan granular, sedangkan tekstur liat pada horizon Bt1 dan Bt 2 dengan struktur granular dan gumpal bersudut. Kemungkinan gerakan air pada lapisan atas (horizon Ap dan E) lebih cepat akan tetapi ketika air mencapai lapisan bawah (horizon Bt1 dan Bt2) gerakan air menjadi lambat karena adanya lapisan liat sehingga hantaran hidrolik
jenuh berkurang. Lahan tegalan pada lokasi Curug Luhur memiliki hantaran hidrolik jenuh yang lebih tinggi dibandingkan lokasi Gunung Malang dan Ciherang. Hal ini kemungkinan besar disebabkan pengaruh tekstur lapisan tanah. Profil tanah tegalan di lokasi Curug Luhur (Tabel Lampiran 12) memperlihatkan bahwa semua horizon tanah pada lokasi tersebut didominasi oleh tekstur lempung berpasir, sedangkan struktur pada setiap horizon adalah struktur remah. Dengan adanya tekstur yang lebih kasar tersebut, maka hantaran hidrolik jenuh tanah menjadi lebih besar jika dibandingkan tekstur yang lebih halus. Sementara pada profil tanah tegalan di lokasi Ciherang (Tabel Lampiran 13) memperlihatkan adanya tekstur liat berpasir (horizon Ap) sedangkan horizon liat terdapat pada lapisan di bawahnya (horizon E, Bt1, Bt2 dan BC).
Akan tetapi hasil penelitian Soedarmo (1995) dan Zarqoni (1988) menunjukkan hantaran hidrolik jenuh yang rendah tidak selalu diakibatkan oleh tingginya kandungan liat tanah atau sebaliknya (Tabel 8). Hantaran hidrolik jenuh yang tinggi dapat terjadi pada tanah dengan kandungan liat tinggi sebaliknya hantaran hidrolik jenuh yang rendah dapat terjadi pada tanah dengan kandungan pasir tinggi. Adanya lapisan impermeable atau lapisan tapak bajak pada horizon tanah dapat mengurangi kecepatan hantaran hidrolik jenuh tanah.
Tabel 8. Hasil Analisis Sifat-sifat Fisik Tanah Latosol oleh Zarqoni (1988) dan Soedarmo (1995) Tekstur Jenis Tanah Pasir (%) Debu (%) Liat (%) RPT (%) Hantaran Hidrolik Jenuh (cm/jam) Halus Latosol* 6.70 17.41 75.89 60.00 3.64 Halus Latosol** 3.85 11.47 84.68 61.18 11.95 Halus Latosol** 3.99 17.40 78.61 59.23 10.27 Halus Latosol** 3.18 5.94 90.88 67.15 1.84 Halus Latosol** 10.78 25.31 63.91 63.37 1.97 Sumber Data: * = Soedarmo (1995)
** = Zarqoni (1988)
4.2. Sifat-sifat Fisika Tanah Pada Hutan Bambu dan Tegalan