HASIL DAN PEMBAHASAN
4.10 Harapan kedepannya terhadap penggunaan bahasa isyarat
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang mendalam yang dilakukan dengan informan yakni enam pasangan suami istri yang dilakukan di Kota Kabanjahe, hasilnya adalah:
Pasangan pertama:
Pasangan kedua:
“Pengennya sih, biar orang-orang gak mengolok-ngolok kami yang pakai bahasa isyarat tangan ini”
Pasangan ketiga:
“Semoga kedepannya kami sekeluarga semakin akrab dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi antar aku, istri, anak dan sanak famili la.”
Pasangan keempat:
“InsyaAllah bahasa apapun yang digunakan, asal hati dan pikiran kita saling terbuka ketika berkomunikasi, akanmampu menyiratkan arti-arti dan penciptaan makna, jadi tidak selamanya kalau pakai bahasa isyarat itu pesan yang disampaikan akan gagal dimaknai orang lain.Kedepannya yah, pemerintah maulah lebih memberi pelatihan kepada masyarakat tentang bahasa ini, biar kaum difabel tunawicara tidak selalu jadi kaum marginal.”
Pasangan kelima:
“Saya selalu bilang ke keluarga untuk terus bersyukur dengan apa yang kita miliki, dan kami pun bersyukur orang-orang sekitar mau nerima kekurangan kami.”
Pasangan keenam:
“Yang penting sehat-sehat lah, biar lah kami tetap pakai bahasa ini, karena bahasa ini membawa kebahagiaan buat kelompok kami yang ditakdirkan Tuhan punya kekurangan”
Dari hasil transkrip wawancara di atas diketahui bahwa keenam pasangan difabel tunawicara dalam penelitian ini memiliki harapan-harapan yang berbeda satu sama lainnya mengenai penggunaan bahasa isyarat ini. Harapan terbesar yang tersirat dari setiap wawancara adalah keinginan agar mereka kaum difabel tunawicara tidak dijadikan sebagai bahan olokan ketika mereka menggunakan bahasa isyarat untuk berbicara dengan orang-orang di sekitar mereka.Ketidakmampuan mereka berbicara layaknya manusia normal lainnya tidaklah menjadi sebuah penghalang dalam upaya penciptaan makna-makna bersama ketika pesan disampaikan secara verbal ataupun nonverbal.Menurut pandangan interaksi simbolis, makna suatu objek sosial serta sikap dan rencana
tindakan tidak merupakan sesuatu yang terisolasi satu sama lain. Seluruh ide paham interaksionisme simbolik menyatakan bahwa makna muncul melalui interaksi. Orang-orang terdekat memberikan pengaruh besar dalam kehidupan kita. Mereka adalah orang-orang dengan siapa kita memiliki hubungan dan ikatan emosional seperti orang tua atau saudara. Mereka memperkenalkan kita dengan kata-kata baru, konsep-konsep tertentu atau kategori-kategori tertentu yang kesemuanya memberikan pengaruh kepada kita dalam melihat realitas. Orang terdekat membantu kita dalam belajar membedakan antara diri kita dan orang lain sehingga kita terus memiliki sense of self.
4.3 Pembahasan
Seperti kita ketahui, komunikasi manusia tidak hanya menggunakan simbol-simbol verbal melainkan juga simbol-simbol non verbal. Begitu juga halnya dalam komunikasi antarpribadi, kita tidak hanya menyampaikan pesan secara verbal, tetapi juga secara nonverbal. Pesan-pesan nonverbal tersebut bukan hanya memperkuat pesan verbal yang disampaikan, terkadang malah menyampaikan pesan tersendiri.Oleh karena itu, diperlukan keterampilan untuk menafsirkan dan memahami pesan-pesan nonverbal tersebut.
Sama halnya dengan bahasa verbal, pesan-pesan nonverbal pun terikat pada lingkungan budaya tempat komunikasi berlangsung. Oleh sebab itu, dalam komunikasi antarpribadi yang banyak menggunakan pesan-pesan nonverbal, diperlukan juga pemahaman atas lingkungan budaya tempat kita berkomunikasi. Tanpa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai ada kemungkinan komunikasi nonverbal disalah artikan atau disalah tafsirkan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui pengertian, fungsi dan jenis-jenis komunikasi nonverbal yang biasa kita pergunakan dalam kegiatan komunikasi kita sehari-hari.
Bahasa isyarat atau tanda bahasa hampir kompleks dan mencapai komunitas yang alamiah dan lebih gampang. Bahasa isyarat pada dasarnya digunakan oleh orang-orang untuk mengekspresikan makna dari apa yang diucapkan. Setiap pengguna bahasa isyarat harus juga mengekspresikan bahasa tubuh mereka dan maksud yang ingin dicapai. Jenis-jenis bahasa isyarat dapat dibagi berdasarkan bahasa isyarat secara simbolis dari keseharian si pengguna
misalnya dalam mengangkat bahu pertanda tidak tahu ataupun terserah, mengangkat jempol jari pertanda semuanya beres, bahasa isyarat OK pertanda jangan khawatir, bahasa isyarat/ pertanda isyarat kemenangan atau damai dan lain sebagainya.
Bahasa isyarat adalah bahasa yang mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh, dan gerak bibir, bukannya suara, untuk berkomunikasi. Kaum tunawicara adalah kelompok utama yang menggunakan bahasa ini, biasanya dengan mengkombinasikan bentuk tangan, orientasi dan gerak tangan, lengan, dan tubuh, serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan pikiran mereka. Secara umumn orang yang memiliki masalah pendengaran/tunawicara menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi di antara satu sama lain.
Menurut Effendy (2003:7), yang mencoba mengutip paradigma Laswell, ada lima komponen penting yang menyebabkan suatu komunikasi dapat berjalan dengan baik. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan who adalah suami ataupun istri penyandang tunawicara yang berusaha menyampaikan pesan mereka menggunakan gerakan tangan/ komunikasi non verbal, melalui sebuah media langsung (face to face communication), to whom merupakan pasangan suami ataupun istri mereka sesama difabel tunawicara ataupun normal dan with what effect merupakan pemahaman akan pesan yang disampaikan tadi, apakah mengerti akan pesan yang dikirimkan melalui gerakan tangan tersebut. Jadi, komponen komunikasi tetap terjalin pada penyandang tunawicara walaupun mereka memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi dengan orang lain khususnya dengan orang terdekat mereka yakni pasangan hidup seperti suami ataupun istri.
Jika dikaitkan dengan penelitian ini, maka penggunaan simbol-simbol nonverbal dalam komunikasi sehari-hari dengan pasangan sangat intens dilakukan, terlebih yang berkaitan dengan komunikasi antarpribadi mereka. Penggunaan simbol-simbol ini seperti dalam usaha melakukan kontak hubungan seksual dan juga meminta maaf dengan pasangan setelah adanya konflik diantara mereka. Sebagai seorang difabel tentu saja simbol-simbol ini sangat nyaman dan juga aman untuk digunakan sebagai sebuah usaha dalam mengirimkan pesan. Masing-masing orang dari tiap pasangan ini juga merasa sangat nyaman dengan pola komunikasi nonverbal ini. Walaupun mereka memiliki keterbatasan, ternyata
komunikasi menggunakan lambang berupa gerakan isyarat tangan ini tidak menjadi sebuah halangan dalam menciptakan suasana komunikasi intim dengan pasangannya maupun orang-orang disekitar mereka.
BAB V