• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KINERJA PEREKONOMIAN 2010 DAN PROYEKSI 2011

B. PEREKONOMIAN DOMESTIK

5. Harga dan Lifting Minyak

Sepanjang empat tahun terakhir, rata-rata konsumsi minyak dunia mengalami peningkatan yaitu dari 86,3 juta barel per hari pada tahun 2007 menjadi 86,7 juta barel per hari pada tahun 2010 (Grafik II.29). Peningkatan konsumsi ini terutama terjadi di negara-negara non-OECD yang naik menjadi 46,0 juta barel per hari pada tahun 2010 dan kembali menguatnya permintaan negara-negara OECD terutama dalam memenuhi

34

konsumsi heating oil dalam menghadapi musim dingin yang ekstrim. Pergerakan permintaan minyak dunia selama periode tersebut juga diimbangi oleh meningkatnya produksi minyak dunia, terutama produksi minyak yang berasal dari negara-negara non-OPEC. Rata-rata produksi minyak dunia yang pada tahun 2007 sebesar 84,5 juta barel per hari naik hingga menjadi 86,4 juta barel per hari pada tahun 2010 atau mengalami kenaikan sebesar 2,2 persen (Grafik II. 27).

Grafik II.27

Perkembangan Produksi Minyak Dunia

Grafik II.28

Perkembangan Konsumsi Minyak Dunia 34,4 35,7 33,9 34,8 35,6 37,1 50,2 49,8 50,5 51,6 52,2 52,4 84,5 85,5 84,3 86,4 87,8 89,5 0 30 60 90 2007 2008 2009 2010 2011 2012 (MBCD)

OPEC Non-OPEC Total Produksi

Sumber: IEA 37,0 38,2 38,9 40,7 42,1 43,6 49,3 47,6 45,4 46,0 46,1 46,2 86,3 85,8 84,3 86,7 88,2 89,8 00 30 60 90 2007 2008 2009 2010 2011 2012 (MBCD)

Non-OECD OECD Total Konsumsi

Sampai dengan bulan Maret 2011, baik konsumsi maupun produksi minyak dunia menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan konsumsi di awal tahun ini antara lain dipicu oleh langkah Amerika Serikat untuk menjaga persediaan minyak di Amerika Serikat, musim dingin yang ekstrem dan meningkatnya aktivitas manufaktur di negara-negara OECD. Sementara dari sisi produksi, instabilitas kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah telah memicu penurunan produksi minyak OPEC. Namun, naiknya produksi minyak negara non OPEC seperti Rusia dan negara-negara kawasan Laut Utara telah memberikan kontribusi pada peningkatan produksi minyak dunia pada tiga bulan pertama tahun 2011.

Harga minyak mentah dunia bergerak dengan volatilitas yang relatif tinggi. Rata-rata harga minyak mentah WTI pada tahun 2007 relatif tinggi. Bergejolaknya harga minyak dunia pada akhir tahun 2007 terus berlanjut hingga menyentuh titik tertinggi pada bulan Juni 2008 dengan rata-rata pada bulan tersebut mencapai US$133,6 per barel.

35 Selanjutnya harga minyak merosot menuju titik terendahnya dalam kurun empat tahun pada Februari tahun 2009 sebesar US$39,2 per barel. Rata-rata harga minyak WTI pada tahun 2009 menjadi US$61,7 per barel atau lebih rendah 38,0 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar US$99,6 per barel.

Tren harga rata-rata ICP juga mengikuti tren pergerakan harga minyak dunia, dengan level tertingginya terjadi pada Juli 2008 dengan rata-rata sebesar US$135,0 per barel yang kemudian menyentuh level terendahnya rata-rata sebesar US$38,5 per barel pada Desember 2008. Pada bulan-bulan berikutnya harga ICP secara berangsur-angsur mengalami kenaikan sehingga selama tahun 2009 secara rata-rata mencapai US$61,6 per barel atau lebih rendah 36,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$97,0 per barel.

Memasuki tahun 2010, harga minyak WTI mengalami kenaikan seiring dengan mulai pulihnya perekonomian global yang mendorong meningkatnya permintaan minyak mentah. Selain itu, kenaikan harga minyak juga dipicu oleh terjadinya penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat. Sejalan dengan meningkatnya harga minyak dunia, rata-rata harga ICP pada periode yang sama juga meningkat menjadi US$79,4 per barel atau naik 27,2 persen dibanding rata-rata harga ICP pada tahun sebelumnya.

Krisis geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu Libya, sebagai salah satu produsen minyak mentah dunia, menurunkan produksinya hingga 1,6 juta barel per hari. Kondisi ini telah mengganggu pasokan minyak dunia. Selain itu, perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia yang sebesar 4,4 persen (WEO April, IMF) juga mendorong kenaikan harga minyak yang menurut Badan Energi Amerika Serikat (EIA) akan menyentuh rata-rata US$106,4 per barel (STEO April, EIA). Dampak dari krisis geopolitik dan perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia tersebut telah berpengaruh pada harga minyak mentah dunia pada tahun 2011, termasuk harga minyak ICP.

Sampai dengan bulan April tahun 2011, harga minyak ICP menunjukkan volatilitas kenaikan yang cukup tinggi. Rata-rata harga minyak ICP selama periode Januari–April 2011 mencapai US$109,2 per barel atau meningkat 38,5 persen dibanding rata-rata harga ICP pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu untuk periode yang sama, harga minyak mentah WTI dan Brent masing-masing sebesar US$98,0 per barel dan US$109,4 per barel. Pergerakan harga ICP selama tahun 2011 menunjukkan adanya

36

perubahan tren. Selama ini harga ICP mengikuti pergerakan harga minyak mentah khususnya WTI, berubah menjadi mengikuti pergerakan harga minyak mentah Brent. Dengan memperhatikan perkembangan faktor-faktor tersebut dan perkiraan harga minyak mentah WTI dan Brent, rata-rata harga ICP tahun 2011 diperkirakan akan berada sekitar US$90-US$100 per barel, sedikit lebih tinggi dari asumsi harga ICP pada APBN 2011 yang sekitar US$80 per barel.

Grafik II.29

Perkembangan Harga Minyak Dunia 2010-2011 60 70 80 90 100 110 120 130

Jan-2010 Jun-2010 Nov-2010 Apr-2011 Sep-2011

(US$/brl)

WTI Brent ICP

Rata-rata Harga ICP 2011 = US$90 - US$100/barrel

Sumber: EIA, Bloomberg, ESDM dan Kemenkeu

Sementara itu, realisasi lifting minyak sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 menunjukkan peningkatan yaitu dari 899 ribu barel per hari menjadi 954 ribu barel per hari. Namun bila dilihat dari target yang ditetapkan, pencapaian realisasi tersebut masih lebih rendah (lihat Grafik.II.30). Beberapa kendala yang dihadapi pada sepanjang tahun 2007–2010 dalam kegiatan produksi minyak diantaranya adalah faktor penurunan produksi alamiah, tertundanya pembangunan fasilitas produksi dan pengadaan fasilitas produksi apung serta terjadinya kebocoran pipa dan kerusakan pada anjungan KKKS akibat tabrakan.

Realisasi lifting diperkirakan akan mengalami penurunan dibanding target APBN 2011 yang sebesar 970 ribu barel per hari. Lifting minyak periode Januari–Maret 2011 baru

37 mencapai 872 ribu barel per hari. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu belum optimalnya sumur-sumur baru, terbatasnya investasi di sektor migas, unplanned

shutdown, keterbatasan peralatan dan teknologi, cuaca buruk dan perubahan iklim,

serta dampak penerapan asas cabotage. Berdasarkan kondisi tersebut, lifting minyak pada tahun 2011 diperkirakan mencapai 945 ribu – 970 ribu barel per hari.

Grafik II.30

Lifting Minyak (ribu barel per hari)

2007 2008 2009 2010 2011*

950 927 960 965 945 -970 899 931 944 954 872 APBNP Realisasi

*realisasi tahun 2011, periode Jan-Mar 2011.

Sumber: Kementerian ESDM dan Kemenkeu