• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Ke-12 : Metode Belajar Fiqih

Ada lima metode yang harus diperhatikan ketika belajar; Tadarruj (bertahap), Tarkiiz (fokus), Tikraar (berulang), Tataabu’ (berkesinambungan), dan Takaamul (saling menyempurnakan).

Tadarruj : Ilmu bertingkat-tingkat. Setiap tingkatan memiliki matan yang sesuai untuk dipelajari. Diantara bentuk perhatian ulama adalah menyiapkan bahan ajar yang sesuai dengan tingkatan masing-masing. Ibnu Qudamah rahimahullah telah menulis empat jenis kitab fiqih yang disesuaikan dengan tingkatan pembelajaran. Kitab beliau adalah Umdah, Muqni’, Al-Kaafi, dan Al-Mughni.

Cara belajar secara bertahap artinya memilihkan matan yang singkat untuk para pemula, menjelaskan intisari pembahasan dan menguraikan permasalahan secara singkat. Pada tahap selanjutnya, peserta didik dilatih untuk menghubungkan setiap pembahasan dengan dalil-dalil dan menjelaskan sisi pendalilan yang benar. Terakhir, pembahasan khilaf para ulama dan dalil setiap pendapat yang ditujukan untuk tahap lanjutan. Pada tahapan ini peserta didik dituntut untuk menerapkan ilmu ushul fiqih dan kaidah fiqhiyah pada pembahasan yang dikaji.

Tarkiiz. Ilmu adalah samudera yang sangat luas. Setiap tahapan pembelajaran memiliki materi yang telah disesuaikan dengan tingkatannya. Jangan sampai seorang guru berpindah ke materi pada tahapan yang lebih tinggi tanpa dia sadari. Bahkan poin ini termasuk kesalahan yang sering dilanggar oleh peserta didik. Ketika ada suatu halaqah ilmu, terkadang seseorang mengikutinya

karena teman, suka kepada yang menyampaikan, atau berbagai sebab yang lainnya tanpa memperhatikan dan bertanya dari mana seharusnya dia mulai belajar.

Tikraar. Hendaknya setiap peserta didik menghafal matan-matan yang ringkas kemudian mengulangi hafalannya secara berkala. Sebagian ulama mengatakan,

ﺮﺜﻛأ ﻦﻣ ﻠﻋ ﺎﻣ ﺲﻨﻳ ﱂ ،ﻢﻠﻌﻟﺎﺑ ةﺮﻛاﺬﳌا

ﻢﻠﻌﻳ ﱂ ﺎﻣ دﺎﻔﺘﺳاو ،ﻢ

Barangsiapa yang banyak mengulangi pelajaran pasti tidak lupa dengan ilmu yang telah diperolehnya dan bahkan dapat menambah ilmu yang belum diketahuinya.

Tatabu’. Belajar harus berkesinambungan. Tidak istiqomah dan terputus-putus ketika belajar merupakan penghalangan mendapatkan ilmu. Bahkan bisa menyebabkan seseorang berhenti dari mencari ilmu.

Takamul. Jangan mencukupkan diri dengan satu cabang ilmu. Misalnya seorang guru fiqih, maka dia juga harus belajar usul fiqih, kaidah fiqih, ilmu nahwu, dan ilmu aqidah yang merupakan pokok paling penting di dalam Islam.

Takwa. Siapapun yang belajar ilmu syari harus ikhlas karena Allah ta’ala.

Belajar ilmu agama merupakan ibadah yang paling utama yang dapat mendatangkan pahala dan menyelamatkan seseorang dari azab neraka.

Materi Ke-13 : Pentingnya Belajar Secara Bertahap

Para ulama selalu mengingatkan tentang pentingnya belajar agama secara bertahap. Setiap cabang ilmu memiliki garis awal dan garis akhir. Merupakan kesalahan dalam belajar ketika seseorang memulai dari akhir sebelum mempelajari yang awal. Allah ta’ala berfirman

ﻮُﺳُرْﺪَﺗ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ﺎَِﲟَو َبﺎَﺘِﻜْﻟا َنﻮُﻤﱢﻠَﻌُـﺗ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ﺎَِﲟ َﲔﱢﻴِﻧﺎﱠﺑَر اﻮُﻧﻮُﻛ ْﻦِﻜَﻟَو َن

Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah karena kamu mengajarkan kitab dan memperlajarinya. (QS. Ali Imran : 79)

Mujahid meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan disebutkan di dalam shahih Imam Bukhari,

ﻩرﺎﺒﻛ ﻞﺒﻗ ﻢﻠﻌﻟا رﺎﻐﺼﺑ سﺎﻨﻟا ﰊﺮﻳ يﺬﻟا : ﱐﺎﺑﺮﻟا

“Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu dasar sebelum ilmu yang lebih besar.”

Ibnu Hajar berkata,

جرﺪﺘﻟﺎﺑ :يأ

“Maksudnya belajar secara bertahap.”

Sejak dahulu para ulama selalu memberikan nasehat agar para pemula memulai dengan matan-matan yang ringkas. Dihafal, diperhatikan, diulang-ulang dan diperkuat karena matan adalah pondasi dari bangunan keilmuan seseorang. Dikatakan dalam sebuah ungkapan,

ﲎﳚ ﻻ سﺮﻏ ﲑﻏ ﻦﻣ ﺮﻤﺜﻟاو ،ﲎﺒﻳ ﻻ سأ ﲑﻏ ﻰﻠﻋ ءﺎﻨﺒﻟا

Bangunan tidak mungkin berdiri tanpa pondasi dan buah tidak mungkin dipanen sebelum ditanam.

Syaikh As-Sa’di juga menegaskan tentang pentingnya belajar secara bertahap,

،... ﻪﻴﻓ ﻞﻐﺘﺸﻳ يﺬﻟا ﻦﻔﻟا تاﺮﺼﺘﳐ ﻦﻣ ﺮﺼﺘﳐ ﻆﻔﺣ ﰲ ﻢﻠﻌﻟا ﺐﻟﺎﻃ ﺪﻬﺘﳚ ﻆﻔﺣ اذإ نﺎﺴﻧﻹا نﺈﻓ ،... اﲑﺜﻛ رﺮﻜﻴﻟﺎﻓ ،ﺎﻈﻔﻟ ﻪﻈﻔﺣ ﻪﻴﻠﻋ ﺮﺴﻌﺗ وأ رﺬﻌﺗ نﺈﻓ ﺎﻫرﺎﻐﺻ ،ﺎﻬﻠﻛ ﻦﻔﻟا ﺐﺘﻛ ﻪﻴﻠﻋ ﺖﻧﺎﻫ ،ﺎﻬﺘﻓﺮﻌﻣ ﰲ ﺔﻣﺎﺗ ﺔﻜﻠﻣ ﻪﻟ ترﺎﺻو لﻮﺻﻷا .لﻮﺻﻮﻟا مﺮﺣ لﻮﺻﻷا ﻊﻴﺿ ﻦﻣو ،... ﺎﻫرﺎﺒﻛو

Seorang penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh untuk menghafal matan ringkasan dari cabang ilmu yang akan dipelajari, kalau seandainya tidak bisa menghafal, maka perbanyaknya membaca dan mengulanginya. Ketika seseorang telah mengahafal dasar suatu ilmu dan memiliki pemahaman yang baik tentangnya, berarti dia telah menaklukkan kitab-kitab yang berkaitan dengan cabang ilmu tersebut. Sebaliknya, siapapun yang melalaikan ilmu dasar maka tidak mungkin menguasai yang besar.

Andaikan para penuntut ilmu mengikuti metode para ulama dalam belajar, niscaya dia akan berhasil mendapatkan ilmu yang banyak. Selain itu, para pemula akan menyadari kemampuan dirinya sehingga tidak tergesa-gesa untuk berbicara tentang agama tanpa memiliki ilmu yang cukup. Diantara tanda utama yang menunjukkan kurangnya ilmu seseorang adalah masih

bingung untuk memilih pendapat ulama yang paling kuat dan masih bingung untuk memilih salah satu dari dua pendapat yang paling dekat dengat kebenaran.

Lebih parah dari itu adalah ketika seorang pemula menganggap bahwa semua pendapat ulama sama saja dan dia bebas memilih salah satu yang dia suka.

Akibatnya alasan yang digunakan memilih suatu pendapat adalah hawa nafsu dan bukan ilmu. Misalnya seseorang yang memilih pendapat qashar shalat ketika sedang safar walaupun singgah disuatu tempat dalam waktu yang lama.

Sehingga dia tidak pergi ke masjid dan selalu melaksanakan shalat dengan mengqashar. Bentuk kasusnya adalah seseorang yang berasal dari Pekanbaru kemudian safar ke Jember dan tinggal di Jember selama empat tahun untuk kuliah.

Imam Abu Hanifah berkata, “Aku telah mendampingi guruku (Hammad) dan belajar darinya selama sepuluh tahun. Kemudian muncul keinginan dalam hatiku untuk mencari kedudukan. Akupun berniat untuk membuat halaqah tersendiri. Pada suatu sore aku berangkat dari rumah dan telah bertekad untuk melakukan apa yang aku niatkan. Ketika sampai di masjid, aku melihat guruku dan seketika itu pula aku tak kuasa untuk meninggalkan halaqahnya.

Akhirnya aku duduk dan belajar seperti biasa.

Pada malam itu sampailah sebuah berita bahwa keluarga guruku meninggal dunia di Basrah dan tidak memiliki ahli waris selain dia. Aku pun diminta untuk menggantikan posisinya. Selama kepergiannya, aku mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku berusaha menjawab dan mencatat jawaban tersebut.

Ketika guruku sudah kembali, aku sodorkan jawaban pertanyaan yang berjumlah sekitar 60 an. Guruku menyetujui 40 jawabanku dan mengingkari 20 yang lainya. Sejak saat itu aku berjanji tidak akan meninggalkan halaqah guruku sampai dia meninggal atau aku yang meninggal terlebih dahulu.”

(Abu Hanifah karya Muhammad Abu Zahrah halaman 29-30. Dikutip dari kitab Tarikh Baghdad karya Al-Khatib. Disebutkan dalam kitab Tabyidhush Shahiifah karya As-Suyuthi halaman 24 dan Siyar A’lam An-Nubala halaman 398)