B. Pergeseran Paradigma Pesantren dalam Pro gram
1. Harmoni Dua Kepentingan
Keberadaan pesantren di sekitar Purwokerto sedikitnya banyak berdampak pada pola pengembangan keilmuan di IAIN Purwokerto. Sebab, baik IAIN maupun pesantren keduanya sama-sama merupakan intitusi pendidikan keagamaan yang keberadaannya diakui oleh negara. Selain itu, interaksi yang tidak mungkin untuk dihindari antara civitas akademik IAIN Purwokerto dengan komunitas pesantren semakin memperkuat keterpengaruhan satu sama lain. Hampir di setiap pesantren yang ada di wilayah Purwokerto terdapat mahasiswa IAIN,
113 Ibid., hlm. 29.
beberapa dosen IAIN juga pengasuh pesantren, belum lagi realitas bahwa sebagian dosen IAIN memiliki background pendidikan pesantren. Ini semua tentunya membawa pengaruh pada arah gerak pemikiran keagamaan di IAIN Purwokerto.
Dalam konteks pesantren, keberadaan IAIN tentunya semakin menambah dinamika pemikiran keagamaan mereka yang dalam.waktu.cukup.lama.terbelenggu.oleh.eksklusifitas.ketika.
menyikapi perubahan.
Meskipun demikian, antara pesantren dan IAIN Purwokerto adalah dua institusi yang memiliki cara pandang, nilai dan aturan main berbeda. Kondisi ini dalam beberapa hal sering menjadikan keduanya bertemu dalam tarik ulur kepentingan. Misalnya, ketika pesantren begitu kuat mempertahankan tradisi, IAIN justeru membuka peluang untuk melakukan kritik terhadap tradisi yang ada. Ketika pesantren tetap menjaga etika santri-kyai yang begitu berjarak, dunia kampus justeru menawarkan pola relasi keduanya yang hampir tak berjarak. Masih banyak persoalan lain yang mempertemukan pesantren dan IAIN secara berhadap-hadapan. Meskipun dalam banyak hal keduanya bisa menciptakan relasi yang harmonis.
Dalam konteks pembelajaran BTA-PPI, program pe-santrenisasi mahasiswa di beberapa Pesantren Mitra IAIN Purwokerto memiliki 3 (tiga) tujuan utama, yaitu:
1. Meningkatkan kompetensi dasar Baca Tulis al-Qur’an (BTA) dan Pengetahuan Pengamalan Ibadah (PPI).
2. Mempersiapkan pribadi muslim yang berilmu pengetahuan, berakhlak mulia, dan berkhidmat kepada agama, masyarakat dan negara.
3. Mempersiapkan kader ulama/sarjana yang kompeten di bidang agama dan umum serta konsisten dalam menjaga tradisi salaf shalih.
Berdasarkan tiga tujuan ini seharusnya antara pesantren dan IAIN berada dalam posisi saling mendukung dan melengkapi.
Namun, perlu diingat bahwa para santri yang tidak lain berstatus mahasiswa setiap harinya hidup di dua alam (komunitas) yang berbeda. Di satu sisi mereka adalah santri dengan berbagai atribut nilai yang melekat pada diri mereka, namun disisi lain mereka juga mahasiswa yang memiliki pranata nilai berbeda.
Contoh kecil misalnya, hubungan antara santri putera dan puteri di pesantren begitu ketat. Bahkan untuk belajar saja mereka harus disekat oleh pembatas yang memungkinkan terhalangnya pandangan mereka melihat satu sama lain. Namun di kampus kondisi ini tentunya tidak mungkin dilakukan. Relasi antara mahasiswa-mahasiswa, kalaupun ada regulasi yang mangatur, hampir sulit untuk dikontrol atau dipantau apakah sejalan dengan norma-norma keislaman atau tidak.
Dalam hal peningkatan kompetensi dasar BTA-PPI, baik pesantren maupun IAIN Purwokerto sepakat bahwa itu perlu dilakukan. Namun pada praktiknya, seringkali program pesantrenisasi membawa pengaruh pada proses pembelajaran di pesantren, khususnya kebijakan yang menetapkan bahwa kewajiban nyantri bagi mereka yang tidak lulus BTA-PPI hanya 1 (satu) tahun. Padahal, masa studi di pesantren tidak dibatasi oleh waktu 1 tahun, melainkan oleh kemampuan mereka lulus mengikuti setiap ujian pelajaran yang dilaksanakan di pesantren.
Jika dihitung normal, rata-rata masa studi di pesantren berkisar antara 3-4 tahun. Ini bagi santri yang masuk ke pesantren mulai dari kelas dasar (ibtida/ awwal).
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa santri, ketika peserta pesantrenisasi sudah lulus ujian BTA-PPI dan keluar dari pesantren, maka ini akan berdampak pada kondisi psikologis santri yang lain. Apalagi jika mereka yang keluar dari pesantren tidak melalui ijin resmi dari pesantren atau melalui
proses keluar yang ditentukan pesantren.114 Kondisi prikologis santri yang lain biasanya berupa kecemburuan dan rasa tidak betah tinggal di pesantren.
Bagi pengelola pesantren, keluarnya santri BTA-PPI setelah masa studi 1 tahun selesai juga berdampak pada proses pembelajaran di pesantren. Sebab, semua santri BTA-PPI mengikuti pelajaran diniyyah yang diselenggarakan di pesantren. Mereka juga berbaur dengan santri lain yang bukan peserta program pesantrenisasi. Ketika kebetulan, misalnya, dalam satu kelas ada 10 orang santri BTA-PPI yang keluar, maka ini jelas akan berdampak pada penataan kelas di pesantren.
Apalagi jika jumla 10 santri tersebut adalah mayoritas dalam kelas diniyyahnya. Persoalan kecemburuan juga diakui oleh pengasuh pesantren. Banyak santri yang cemburu ketika ada temannya dengan leluasa bisa keluar dari pesantren karena program BTA-PPI nya sudah selesai, padahal santri tersebut harus menunggu kelulusan di pesantren dalam waktu yang relatif lama.
Masa 1 tahun pembelajaran, tentunya tidak mendukung tujuan kedua dan ketiga di atas. Agak sulit hanya dalam masa tersebut (1 tahun) bisa mewujudkan santri yang berilmu pengetahuan, berakhlak karimah, berkhidmat kepada agama, masyarakat dan negara. Demikian pula untuk mencapai tujuan mempersiapkan kader ulama/sarjana yang kompeten di bidang agama dan umum serta konsisten dalam menjaga tradisi salaf shalih dalam kurun waktu 1 tahun seperti bukan usaha realistis.
Dalam kasus lain “benturan” dua kepentingan juga tampak
114 Wasancara dengan Khayatul Hasanah, santri dari Pon-Pes Darul Abror, di kampus IAIN Purwokerto, 11 September 2015, pukul 14:51 WIB. Wawancara dengan Pujiati, santri dari Pon-Pes Darussalam, kampus IAIN Purwokerto 11 September 2015 pukul 16 : 45 WIB. Hampir semua responden juga mengatakan hal yang sama.
ketika IAIN Purwokerto sedang memaksimalkan potensi keorganisasian mahasiswa dengan program scoring kegiatan mahasiswa. Kebijakan kampus IAIN Purwokerto mendorong mahasiswa untuk aktif berorganisasi, baik intra maupun ekstra. Namun kebijakan ini harus berhadapan dengan aturan di beberapa pesantren yang membatasi ruang gerak santri-mahasiswa untuk terlibat aktif dalam organisasi kesantri-mahasiswaan di IAIN Purwokerto.
Selain itu, keterbatasan ruang kelas yang memaksa pihak IAIN Purwokerto mengadakan kualiah malam, sepertinya juga harus berbenturan dengan aturan di beberapa pesantren yang melarang santrinya keluar di waktu malam. Apalagi pada waktu malam itulah kegiatan pembelajaran di pesantren sedang aktif-aktifnya dilaksanaka.
Beberapa contoh kasus di atas dan kasus-kasus lainnya menunjukkan bahwa seringkali antara pesantren dan IAIN harus berbeda persepsi mengenai kebijakan masing-masing. Dalam kondisi tertentu bisa saja ini menjadi tidak baik bagi kerjasama yang sedang dibangun oleh keduanya.