Widya Wiwaha Jangan Plagiat
HAS IL PENELITIAN DAN PEMBAHAS AN
A. Profil kelas VIII D
Penelitian dilakukan di kelas VIII D SM P Negeri 38 Purworejo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 28 siswa pada pembelajaran M atematika dengan Kompetensi Dasar Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV). Pada awalnya hasil belajar siswa yang sangat rendah. Terlihat dari nilai siswa di kelas VIII D SM P Negeri 38 Purworejo. Pada mata pelajaran M atematika dimana masih ada siswa yang mendapat nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM ) yaitu 69.
Dengan demikian diperoleh data hasil pembelajaran siswa sebelum dilakukan tindakan penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1
Kondisi Awal Nilai Siswa Kelas VIII D SM P Negeri 38 Purworejo
No Nilai Ketuntasan
Sebelum Tindakan Jumlah Siswa Persentase
1. < 69 Tidak Tuntas 13 46%
2. ≥ 69 Tuntas 15 54%
Jumlah 28 100%
Rata-rata 63,57
Berdasarkan tabel 4.1 terlihat perbandingannya siswa yang mencapai ketuntasan belajar atau memenuhi KKM (69) adalah sebanyak 15 siswa
54
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
Plagiat
(54%) sedangkan siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar sebanyak 13 siswa (46%), dengan nilai tertinggi adalah 80 sedangkan nilai terendah adalah 35.
Setelah di observasi lebih lanjut rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII D SMP Negeri 38 Purworejo dipengaruhi oleh guru belum menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan banyak siswa yang kurang memperhatikan pada saat guru menjelaskan pelajaran. Guru masih terlalu dominan dalam menjelaskan materi sehingga cenderung bosan dalam kelas. Guru lebih sering menggunakan metode ceramah. M embuat siswa tidak tertarik, bosan, selama pelajaran berlangsung. Siswa juga tidak antusias dalam menjawab dan bertanya karena memiliki rasa keingintahuan yang rendah.
Dengan diperolehnya data hasil belajar siswa yang masih rendah dari kelas VIII D SM P Negeri 38 Purworejo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017, maka peneliti melakukan Penelitin Tindakan Kelas (PTK). Dalam penelitian di kelas VIII D SMP Negeri 38 Purworejo peneliti bekerja sama dengan guru M atematika menggunakan model Cooperative Learning Type Student Teams Achievement Divisions (STAD).
B. Hasil Penelitian S iklus I
Siklus 1 dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan yaitu pada hari Senin tanggal 01 Agustus 2016 dan hari Kamis tanggal 04 Agustus 2016 dengan masing-masing pertemuan berlangsung selama 2 x 40 menit. Subyek
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
penelitian adalah kelas VIII D SM P Negeri 38 Purworejo semester I Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 28 siswa dengan 15 siswa putra dan 13 siswa putri. Kegiatan belajar mengajar dilakukan oleh peneliti sendiri dengan dibantu oleh seorang guru mata pelajaran matematika.
1. Pertemuan 1
Kegiatan belajar mengajar diawali guru dengan mengecek kehadiran siswa dan memberi informasi tentang model pembelajaran yang akan digunakan. Guru mengingatkan pelajaran sebelumnya dan memberi informasi betapa pentingnya pelajaran yang akan dipelajari ini. Guru menyampaikan materi, guru membagi kelompok dalam satu kelas menjadi 7 kelompok yang terdiri dari 4 siswa tiap kelompok. Tiap kelompok terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan yang heterogen. Guru melakukan tahapan-tahapan yang ada pada pembelajaran kooperatif dengan cukup baik, hal ini dapat diketahui dari skor rata-rata pengamatan pembelajaran kooperatif guru sebesar 2,11 (terlampir). Namun pada pertemuan pertama guru tidak sempat memberikan kuis pada siswa karena keterbatasan waktu. Hal ini disebabkan pengelolaan waktu yang belum baik. Disamping itu juga bimbingan terhadap siswa belum bisa merata masih terdapat beberapa kelompok yang belum dapat menjawab soal dengan benar.
Skor rata-rata hasil observasi siswa sebesar 2,14 (terlampir) dari skor rata-rata maksimal 4. Sehingga pembelajaran masih kurang baik . M asih banyak siswa yang kurang aktif dalam bekerja kelompok. Hal ini
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
dikarenakan siswa masih dalam tahap penyesuaian dengan anggota kelompoknya. M eskipun demikian pada pertemuan terdapat beberapa siswa yang mewakili kelompoknya untuk mempresentasikan hasil kerjanya kedepan kelas. Dan tanggapan dari teman-temannya cukup baik.
Nilai perkembangan individu dan nilai perkembangan kelompok belum dapat dihitung karena individu dan kelompok diambil dari hasil PR dari anggota kelompok pada pertemuan 2 siklus 1. Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus 1 juga belum dapat diketahui, karena evaluasi siklus 1 dilakukan pada pertemuan 2.
2. Pertemuan 2
Kegiatan belajar mengajar pada pertemuan 2 tetap dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh seorang guru mata pelajaran matematika. Guru mengabsen siswa dan dilanjutkan untuk membahas PR. Guru juga mengingatkan pelajaran yang lalu. Guru menerangkan materi pada pertemuan 2, lalu guru membagi siswa dalam 7 kelompok sesuai dengan kelompok sebelumnya. Guru melakukan tahapan-tahapan pada pembelajaran kooperatif dengan cukup baik, hal ini dapat diketahui pada skor rata-rata pengamatan kooperatif untuk guru sebesar 2,44 (lampiran 29:123) pada pertemuan 2 untuk siklus 1. Pada pertemuan 2 siklus 1 guru sudah dapat mengelola waktu dengan baik sehingga guru dapat memberikan evaluasi siklus 1 pada akhir pertemuan 2. Bimbingan pada siswa juga sudah merata, sudah terdapat beberapa kelompok yang dapat menyelesaikan soal dengan benar sesuai dengan waktu yang ditentukan.
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
Skor rata-rata hasil observasi untuk siswa pada pertemuan 2 siklus 1 sebesar 2,28 (lampiran 33:131) dari skor rata-rata maksimal 4. Pembelajaran pada pertemuan 2 sudah berjalan cukup baik. Setiap anggota kelompok sudah dapat kerja sama dengan anggota kelompoknya. Kegiatan diskusi kelompoknya juga sudah ada peningkatan. Tetapi juga masih ada beberapa anggota kelompok yang menyelesaikannya secara individu. Hal ini disebabkan mereka masih merasa bisa sendiri. Nilai perkembangan individu dan nilai perkembangan kelompok sudah dapat diketahui dari hasil PR tiap anggota kelompok. Skor awal diambil dari mid semester tiap anggota kelompok. Terdapat 1 tim yang kriterianya Superteam, 3 kelompok yang kriterianya Great Team, 2 kelompok dengan kriteria Good Team, dan 1 kelompok tidak mendapat kriteria yaitu kelompok 6.
Dari hasil observasi siswa terhadap pembelajaran dapat diketahui bahwa siswa merasa senang dengan pembelajaran kooperatif STAD, dan siswa juga merasa senang dengan adanya kerja kelompok yang dipresentasikan ke depan kelas, juga penghargaan yang diberikan kepada kelompok yang terbaik. Kegiatan tersebut akan memotivasi siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar dan juga berani untuk bertanya, menanggapi dan menghargai pendapat temannya.
Hasil belajar siswa pada siklus 1 diperoleh setelah siswa melakukan evaluasi pada akhir pertemuan 2. Dengan nilai rata-rata 68,75 naik sebesar 5,18 dari rata-rata nilai awal, sedangkan persentase
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
ketuntasan pada akhir siklus 1 sebesar 71 %. Juga naik dibandingkan nilai awal sebesar 18% (lampiran 38:127). Hasil penelitian pada siklus 1 masih belum memenuhi indikator yang telah ditentukan, maka perlu diadakan penelitian pada siklus 2.
Refleksi dilakukan setelah pelaksanaan siklus I berakhir. Dari hasil refleksi yang dilakukan diperoleh kendala-kendala yang dihadapi antara lain:
a. Guru belum bisa melakukan tahapan-tahapan yang ada pada pembelajaran kooperatif dengan baik, dan dalam pembagian waktu juga belum sesuai.
b. Dalam bimbingan kelompok juga belum bisa merata.
c. Siswa didalam bekerja kelompok juga belum semaksimal mungkin, karena belum terbiasa. Hal ini dapat dilihat dari hasil di atas.
C. Hasil Penelitian S iklus II
Siklus 2 dilaksanakan setelah siklus 1 selesai. Dari hasil siklus 1 diketahui bahwa guru belum dapat mengelola pembelajaran dengan baik sehingga peneliti melakukan siklus 2. Siklus 2 dilaksanakan 2 kali pertemuan yaitu pada hari Senin tanggal 08 Agustus 2016 dan hari Kamis tanggal 11 Agustus 2016 dengan masing-masing pertemuan berlangsung selama 2 x 40 menit. Subyek penelitian kelas VIII D SM P Negeri 38 Purworejo semester I Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 28 siswa dengan 15 siswa putra
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
dan 13 siswa putri. Kegiatan belajar mengajar dilakukan oleh peneliti dan dibantu seorang guru mata pelajaran matematika.
1. Pertemuan 1
Kegiatan belajar mengajar dilakukan guru dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif STAD. Guru mengabsen siswa, memberi salam dan guru membahas PR. Kemudian guru menerangkan materi dilanjutkan membagi kelompok menjadi 7 kelompok dengan anggota 4 siswa tiap kelompok dengan kemampuan anak yang heterogen. Guru melakukan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif dengan baik, hal ini dapat diketahui dari skor rata-rata pengamatan pembelajaran untuk guru sebesar 2,88 (terlampir). Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang akan dicapai, memotivasi siswa agar giat belajar dan memberi bimbingan kepada siswa secara merata. Dalam mempresentasikan hasil pemecahan masalah kelompok, guru memberi kesempatan kepada kelompok secara adil. Penghargaan kelompok diberikan kepada kelompok yang presentasinya terbaik dan tercepat.
Skor rata-rata hasil observasi siswa sebesar 2,57 (lampiran 34: 124) dari skor rata-rata maksimal 4 sehingga pembelajaran berjalan baik. Setiap anggota kelompok mau berdiskusi dengan anggota kelompoknya. Sehingga tiap-tiap kelompok berlomba-lomba untuk dapat mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas. Jika terdapat kesalahan dalam mempresentasikan anggota kelompok maka anggota yang lain mampu untuk mengoreksinya. Kuis dilakukan pada akhir pembelajaran
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah diajarkan. Nilai kuis pada pertemuan 1siklus 2 dijadikan nilai perkembangan individu dan nilai kelompok. Dari hasil perhitungan terdapat 1 tim yang kriterianya Superteam, 3 kelompok yang kriterianya Great Teamdan 4 kelompok dengan kriteria Good Team.
2. Pertemuan 2
Pada pertemuan akhir siklus 2 guru tetap menggunakan kooperatif STAD. Dengan membagi kelas menjadi 7 kelompok terdiri dari 4 anak tiap kelompok dengan kemampuan yang heterogen. Guru menjelaskan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif dengan baik, hal ini dapat diketahui dari skor rata-rata pengamatan guru sebesar 3,11 (lampiran 33: 122) guru menyampaikan semua pembelajaran yang akan dicapai pada peremuan tersebut, membimbing siswa secara marata, sehingga tiap siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi mendapat bantuan dari guru.
Kesempatan yang diberikan guru untuk mempresentasikan hasil kelompok diberikan secara adil. Kelompok yang belum pernah mempresentasikan diberi kesempatan untuk mempresentasikan kedepan kelas. Pada akhir pembelajaran siswa diberi kuis untuk mengetahui apakah siswa sudah bisa untuk memahami pelajaran yang telah diberikan atau belum. Soal kuis diambil dari buku paket halaman 60 latihan 8 no:1,2,3,4,5. Dari skor pengamatan untuk guru pada pertemuan 2 siklus 2
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
diperoleh sebesar 3,11 (lampiran 31:127). Jadi pembelajaran pada siklus 2 berjalan dengan baik.
Skor rata-rata hasil observasi siswa sebesar 3,14 (lampiran 37:126) dari skor rata-rata maksimal 4. Sehingga pembelajaran berjalan dengan baik. Kegiatan diskusi kelompok juga berjalan dengan baik. Hampir seluruh kelompok mampu menyelesaikan masalah kelompoknya tepat waktu dan benar. Kegiatan presentasinya pun juga berjalan dengan baik. Sehingga pembelajaran pada siklus 2 berlangsung baik. Hasil belajar siswa pada siklus 2 diperoleh setelah siswa melakukan evaluasi akhir setelah siklus 2. Nilai rata-rata hasil evaluasi akhir siklus 2 sebesar 73,75 naik sebesar 5,00 dari rata-rata nilai pada siklus 1 (lampiran 38:127). Sedangkan persentasi ketuntasan belajar pada siklus 2 sebesar 86% naik 15% dari persentasi ketuntasan belajar pada siklus 1 sebesar 71 % (lampiran 38:127). Refleksi dilakukan setelah pelaksanaan siklus 2 berakhir. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa guru sudah dapat melaksanakan tahap-tahap pembelajaran kooperatif dengan baik, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. M aka peneliti tidak perlu melakukan siklus 3 karena semua indikator kinerja sudah tercapai pada siklus 2.
Refleksi dilakukan setelah pelaksanaan siklus II berakhir. Dari hasil refleksi yang dilakukan diperoleh simpulan bahwa guru sudah dapat melaksanakan tahapan-tahapan pembelajaran kooperatif dengan baik, bimbingan terhadap tiap-tiap kelompok juga sudah merata, begitu juga
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
untuk siswa dalam kerja kelompok sudah kompak atau berjalan dengan baik, karena sudah terbiasa. Sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai rata-rata pada akhir siklus II, sudah memenuhi target indikator kinerja. M aka peneliti tidak perlu melakukan siklus III.
D. Pembahasan
Pembahasan dalam penelitian tindakan kelas didasarkan atas hasil penelitian dan catatan penelitian selama melakukan penelitian. Pelaksanaan pembelajaran kooperatif STAD pada siklus 1 cukup baik, dengan skor sebesar 2,44. Namun masih terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki, yaitu bimbingan guru pada siswa, penyampaian tujuan pembelajaran yang dicapai, dan pengelolaan waktu didalam kelas. Bimbingan siswa pada siklus 1 kurang merata sehingga terdapat beberapa kelompok yang tidak dapat menyelesaikan soal dengan tepat waktu. Banyak siswa yang mengalami kesulitan materi yang disampaikan. Akhirnya terdapat beberapa anak dalam mengerjakan soal yang mengalami kesalahan. Karena kurangnya anak-anak dalam mendengarkan dan perhatian pada pelajaran yang diterangkan kurang serius dan bicara sendiri dengan temannya. Guru kurang memberikan penekanan pada konsep-konsep penting, terutama penentuan himpunan penyelesaian persamaan linear dua variabel (PLDV) dan menggambar grafik. Hal ini akan mengakibatkan salah dalam menggambar grafiknya dan menentukan himpunan penyelesaiannya juga salah. Pengelolaan waktu di dalam kelas juga
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
belum baik. Pada awal kelompok saja yang dapat mengerjakan soal dengan baik dan tepat waktu. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi bimbingan guru belum merata dan baru pertama kali jadi belum bisa mengatur waktunya pertemuan siklus 1 guru tidak sempat memberikan kuis sehingga guru tidak bisa mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Tapi guru memberikan kesempatan untuk mempresentasikan kerja kelompoknya. Guru juga membimbing dan mengarahkannya. M enurut peneliti pada pertemuan siklus 1 masih belum baik. Karena siswa belum bisa beradaptasi dengan anggota kelompoknya dengan pembelajaran kooperatif yang dilakukan. Kegiatan diskusi kelompok juga belum berjalan dengan baik. M asih banyak yang mengerjakannya secara individu, hanya ada beberapa kelompok saja yang dapat mengarjakan soal dengan baik dan tepat waktu. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi bimbingan guru belum merata dan baru pertama kali jadi belum bisa mengatur waktunya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa indikator kinerja 1 dan 2 belum tercapai disiklus 1, sedangkan indikator 4 dan 5 sudah tercapai. Untuk indikator 3 belum bisa diketahui, diketahui di siklus 2. Pelaksanaan pembelajaran kooperatif untuk guru pada siklus 2 sudah baik dengan skor sebesar 3,11 dari skor maksimal 4 (terlampir). Guru sudah mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus 1. Setelah awal kegiatan guru selalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Bimbingan guru pada siswa sudah merata, setiap siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dibantu oleh guru. Sebagian besar kelompok mampu
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
untuk menyelesaikan permasalahan kelompok yang diberikan tepat waktu, hanya sebagian kecil kelompok yang masih belum mampu menyelesaikan permasalahan kelompok tepat waktu.
Pengelolaan waktu oleh guru sudah baik, kesempatan presentasi yang diberikan guru sudah cukup baik. Kuis dapat diberikan guru pada akhir pertemuan sehingga guru dapat mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran pada pertemuan tersebut.
Data hasil pengamatan rata-rata pengamatan pembelajaran kooperatif untuk guru dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.2 Kemampuan Guru
Siklus Pertemuan 1 Pertemuan 2
I 2,11 2,44
II 2,88 3,11
M enurut peneliti, aktivitas siswa pada siklus 2 sudah baik, dengan skor rata-rata observasi aktivitas siswa sebesar 3,14 dengan skor rata-rata maksimum 4. Siswa melakukan kegiatan diskusi kelompok dengan baik. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok juga meningkat, sebagian besar siswa mampu untuk bekerja sama dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru.
Data hasil pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
Tabel 4.3
Pengamatan Aktivitas Siswa
Siklus Pertemuan 1 Pertemuan 2
I 2,14 2,28
II 2,57 3,14 Kesempatan presentasi yang diberikan guru dimanfaatkan dengan baik
oleh siswa, banyak siswa yang antusias maju ke depan mewakili kelompoknya untuk presentasi. Siswa yang tidak presentasi juga antusias dalam menanggapi hasil presentasi temannya.
Tabel 4.4 Nilai Rata-rata Kelas
Siklus Nilai Rata-rata Kelas
Awal 63,57 I 68,75 II 72,32
Tabel 4.5 Tuntas Belajar
Siklus Tuntas Belajar
Awal 54 I 71 II 86
Tabel 4.6
Persentase Ketuntasan Belajar Antar Siklus
Kriteria Siklus I Siklus II Peningkatan Rata-rata hasil belajar siswa 72 86 14
Ketuntasan belajar siswa 71% 86% 15% Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa ada peningkatan yang signifikan pada rata–rata hasil belajar siswa dari Siklus I ke siklus II, yaitu
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
sebesar 14 begitu pula pada ketuntasan belajar matematika terjadi peningkatan sebesar 15% dari siklus I ke siklus II. Dengan demikian pada siklus II telah mencapai target awal bahwa Cooperative Learning type STAD
mampu meningkatkan hasil prestasi belajar matematika. Hal ini sesuai dengan pendapat Edward, bahwa “Cooperative Learning tipe STAD telah unggul dalam meningkatkan hasil akademik bila dibandingkan dengan pengalaman belajar individu/kompetitif”. Karena kelompok yang terdiri dari dari empat orang terbukti sangat efektif. Sedangkan Sudjana mengemukakan, beberapa siswa dihimpun dalam satu kelompok dapat terdiri dari 4-6 orang siswa. Jumlah yang paling tepat menurut hasil penelitian Slavin adalah hal itu dikarenakan kelompok yang beranggotakan 4-6 orang siswa lebih sepaham dalam menyelesaikan suatu permasalahan dibandingkan dengan kelompok yang beranggotakan 2-4 orang (Isjoni, 2010: 55).
M enurut peneliti, semua indikator kinerja sudah tercapai pada siklus II. M ateri sistem persamaan linier dua variabel yang diberikan oleh peneliti kepada siswa sudah cukup baik sehingga guru tinggal melanjutkan kegiatan pembelajaran pada materi selanjutnya.
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
BAB V PENUTUP
A. S impulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dengan subyek penelitian siswa kelas VIII D SM P Negeri 38 Purworejo, diperoleh simpulan sebagai berikut.
1. M elalui model Cooperative Learning Type Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII D SM P Negeri 38 Purworejo pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLD V) dengan skor rata-rata yang dicapai 73,75 dengan ketuntasan belajar 86%.
2. M elalui model Cooperative Learning Type Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa SM P Negeri 38 Purworejo.
B. S aran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, maka peneliti dapat menyampaikan saran-saran sebagai berikut:
1. Hendaknya dalam menyampaikan materi sistem persamaan liniear dua variabel guru dapat menggunakan model Cooperative Learning Type
Student Teams Achievement Divisions (STAD) karena dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. 68
STIE
Widya
Wiwaha
Jangan
Plagiat
2. Hendaknya guru dapat menggunakan model Cooperative Learning Type Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi yang lain karena dapat menumbuhkan keaktifan belajar siswa.