• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV SEJARAH DAN DESKRIPSI KONFLIK

5.1 Analisis Konflik Menggunakan Model SIPABIO

5.1.7 Hasil Akhir (Output)

Bagian ini akan membahas apa dampak yang ditimbulkan setelah adanya tindakan-tindakan dari pihak-pihak yang berkonflik. Sudah dijelaskan di atas bahwa ada beberapa aktor-aktor yang memainkan peranannya dalam konflik nelayan. Dampak yang paling nyata adalah pembakaran kapal-kapal pukat tarik II yang dilakukan oleh nelayan-nelayan tradisional dengan koordinasi dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Munculnya lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam

konflik masyarakat nelayan membentuk situasi baru. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk memiliki fungsi laten dan manifest dalam kerangka kerjanya. Kelembagaan dibentuk dengan mengatasnamakan nelayan kecil hanya akan bertindak ketika masalah besar muncul seperti kasus pembakaran kapal dan ini yang disebutkan sebagai fungsi manifest. Munculnya sikap “bayar di belakang” yang dilakukan oleh pemilik modal kepada lembaga swadaya masyarakat menjadi fungsi laten. Hal ini bertujuan agar pembakaran tidak terjadi dan fakta dilapangan pembakaran kapal tetap terjadi.

Kehadiran lembaga keamanan masyarakat khususnya Polairud dengan membentuk Nota Kesepahaman (MoU) dinilai gagal dalam memainkan peranannya. Fakta dilapangan bahwa MoU ini dilanggar dan pembakaran terus berlanjut dan ini menandakan kekuatan perjanjian ini dinilai lemah. Lemahnya perjanjian ini tidak semerta dibebankan kepada pihak kepolisian sebagai institusi keamanan masyarakat. Ketidakhadiran pemerintah daerah menunjukkan bahwa tingkat partisipatif pemerintah daerah dalam penyelesaian konflik antar nelayan dinilai rendah. Tidak tepatnya penyaluran bantuan bagi nelayan tradisional menunjukkan bahwa pemerintah daerah terkesan setengah hati dalam mengayomi masyarakat nelayan. Dalam hal ini proses pembiaran khususnya konflik nelayan menjadi tindakan paling efektif yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Hasil akhir yang paling kontras dilapangan adalah konflik terus terjadi hanya saja intensitasnya bersifat fluktuatif dan minimnya pendapatan dan pendidikan menjadi masalah utama masyarakat nelayan tradisional.

Bagan Pemetaan Konflik Berdasarkan SIPABIO KONFLIK SOURCE ISSUE PARTIES INTERVENTION ATTITUDES BEHAVIOUR OUTCOMES 1. Alat Tangkap 2. Batas Tangkpa 3. Manipulasi GT

Isu realistis yang lebih mengarah kepada materi 1. Nelayan tradisional 2. Nelayan pukat trawl 1. Sikap positif: mempererat hubungan antar nelayan 2. Sikap negatif: perasaan benci terhadap nelayan pukat trawl

1. Perilaku koersif 2. Perilaku non-koersif

1. Polairud 2. LSM

Konflik tetap terjadi, hanya saja bersifat fluktuatif

Bagan Hubungan Aktor-Aktor Yang Berkonflik

Bagan diatas menjelaskan hubungan antara aktor-aktor yang sedang berkonflik di Desa Bagan Asahan. Bagan ini mencoba untuk menganalisis berdasarkan pengembangan dari model SIPABIO yang ditelaah oleh peneliti sendiri. Nelayan tradisional menjadi sentra atau pusat dari bentuk konflik yang mengatasnamakan nelayan. Nelayan tradisional memiliki hubungan yang erat dengan elemen-elemen yang dituliskan di atas.

1. Nelayan Tradisional dengan Nelayan Pukat

Secara kasat mata, hubungan yang terjadi sangat erat khususnya aspek konflik nelayan. Konflik yang berkepanjangan dilihat oleh peneliti dikarenakan adanya selisih paham terhadap pengelolaan sumber daya laut. Pengelolaan yang dimaksud

Nelayan Tradisional Aparat Keamanan Pemerintah Nelayan Pukat Lembaga Swadaya Masyarakat

adalah tentang wilayang tangkap dan penggunaan alat tangkap. Berdasarkan analisis SIPABIO dari aspek isu (issue) dijelaskan bahwa isu yang berkembang adalah nelayan pukat masuk pada wilayah tangkap nelayan tradisional. Masuknya nelayan pukat menjadi alasan utama dalam memicu konflik diantaranya. Di Desa Bagan sendiri tidak terdapat nelayan tradisional yang menjadi nelayan pukat, karena karakteristik nelayan Desa Bagan hanya pencari udang, kepiting, ikan gulamo, ikan lilies, dan lainnya. Jaring yang digunakan juga tergolong sederhana seperti jaring tangkul, jarring udang, jaring ikan kecil dengan diameter. Sedangkan nelayan pukat memiliki karakteristik seperti jenis tangkapan hasil laut berupa ikan-ikan besar seperti tongkol, gembung, kerang, dan lain-lain. Hasil laut yang didapat juga dalam jumlah yang besar mulai dari 500 kg hingga 5 ton. Alat tangkap yang digunakan seperti jaring dengan tarikan satu kapal dan dua kapal. Jaring yang digunakan juga bervariasi, mulai dari lubang kecil hingga lubang besar. Jaring dengan lubang kecil ditentang oleh beberapa LSM karena merugikan nelayan lainnya.

2. Nelayan Tradisional dengan Lembaga Swadaya Masyarakat

Berdasarkan hasil pengamatan, hubungan diantaranya tidak terlalu kelihatan secara intens. Secara teoritis, keberadaan lembaga swadaya masyarakat menjadi wadah untuk menyalurkan tujuan bersama dari kepentingan yang sama suatu masyarakat. Lembaga-lembaga yang berkonsentrasi kepada nelayan seharusnya berjuang bersama nelayan untuk mencapai tujuan yang sama dalam pengelolaan sumber daya laut. Sumber daya laut yang begitu banyaknya tersedia, akan berguna jika penggunaannya juga terorganisir dengan teratur.

Fakta di lapangan mengatakan bahwa ada beberapa kasus yang terjadi antara nelayan tradisional dengan para LSM. Dari salah satu penuturan seorang nelayan bahwa LSM hanya mengatasnamakan nelayan tradisional untuk mendapatkan keuntungan ekonomi atau dengan kata lain menjual “nelayan tradisional”. Nelayan tradisional yang dijual namanya tidak bisa berbuat banyak yang ditambah dengan minimnya pengetahuan terhadap alur bantuan yang ingin disampaikan. Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memiliki beberapa syarat ketika ingin mendapatkan bantuan dari pemerintah dan salah satunya adalah melalui kelompok.

Kondisi nelayan tradisional yang begitu banyak jumlahnya sudah selayaknya membentuk kelompok nelayan sebagai penunjang keberadaan nelayan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa nelayan-nelayan yang ada tidak memiliki kelompok nelayan sebagai wadah aspirasi mereka. Aktivitas bernelayan dilakukan secara individu tanpa dilakukan secara komunal. Di masyarakat Desa Bagan sudah berkembang paham bahwa “selamatkan periok sendiri, jangan campuri periok orang lain”. Paham yang berkembang semakin mempertegas konsep individualistic di masyarakat Bagan Asahan.

Melihat kondisi seperti ini, peneliti memberikan kesimpulan bahwa hal ini dimanfaatkan oleh beberapa LSM untuk mendapatkan keuntungan. Salah satu LSM yang pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah tidak pernah meneruskan bantuan tersebut ke nelayan tradisional. Salah satu bentuk bantuan tersebut adalah kapal. Nelayan tradisional tidak pernah mendapatkan kapal-kapal bantuan dari pemerintah. Hal seperti ini sudah dikritik oleh nelayan-nelayan tradisional tetapi hanya bersifat

sementara. Ketidakberanian dalam mengungkapkan pendapat menjadi salah satu kelemahan dari masyarakat Desa Bagan Asahan. Hubungan yang yang terjadi adalah adanya posisi subordinat (Nelayan Tradisional) dan superordinat (LSM).

3. Hubungan Nelayan Tradisional dengan Pemerintah

Keberadaan pemerintah melalui Dinas Perikanan dan Kelautan menjadi sosok yang krusial bagi nelayan tradisional. Segalan bentuk kebijakan dan peraturan mengenai pengelolaan sumber daya laut diatur oleh dinas terkait. Isu yang beredar di Desa Bagan Asahan adalah adanya kecurangan dilakukan oleh nelayan pukat dalam menentukan Gross Tonnase (GT) dan jenis alat tangkap yang digunakan. Kecurangan ini bertujuan agar nelayan-nelayan pukat bisa masuk ke daerah wilayah tangkap dari nelayan tradisional. Masuknya nelayan pukat ke zona nelayan tradisional menjadi pemicu dari konflik diantaranya. Tidak adanya keseimbangan antara tonnase dan alat tangkap pukat menjadi pemicu utama jika dibandingkan dengan alat tangkap nelayan tradisional. Nelayan tradisional merasa terganggu aktivitasnya ketika wilayah mereka juga dimasuki. Beberapa dinas terkait sering melakukan razia terhadap nelayan- nelayan pukat guna mengevaluasi besaran dan kelayakan dari kapal. Kegiatan seperti ini seharusnya dilakukan secara berkelanjutan khususnya pengelolaan sumber daya laut.

Banyaknya kasus-kasus kecurangan yang terjadi di Dinas Perikanan dan Kelautan menjadi hambatan bagi nelayan tradisional dan menjadi korban akan ketidakadilan seperti itu. Seharusnya pemerintah menjadi pengayom dan memberikan

kebijakan-kebijakan bagi nelayan sehingga tercipta keseimbangan antara pengguna seumber daya laut yang terorganisir.

4. Hubungan Antara Nelayan Tradisional dengan Aparat Keamanan

Aparat keamanan yang dimaksud adalah Polairud, Kamla, KKP, dan TNI AL menjadi instansi yang mengawasi seluruh aktivitas kelautan. Di dalam pengelolaan sumber daya laut terdapat sensivitas-sensivitas yang muncul di dalamnya. Sensivitas yang terbangun menjadi pemicu konflik diantaranya. Beberapa kasus yang terjadi sebelumnya, sangat kelihatan bahwa masih minimnya keamanan yang diberikan oleh aparat keamanan khususnya dari Polairud. Pada kasus pembakaran kapal sebelumnya, aparat keamanan dinilai lambat dalam mengamankan kejadian sehingga pembakaran tidak dapat dielakkan lagi.

Polairud dalam hal ini sedikit memberikan kritikan akan keterlambatan yang terjadi. Minimnya personil dan sarana yang dimiliki menjadi faktor utama. Selain itu, petugas tidak dapat melakukan patroli secara berkala karena keterbatasan sarana yang dimiliki. Keterbatasan ini juga sempat dikritisi oleh beberapa LSM. Kritikan itu berisikan memaksimalkan kinerja walaupun berada di posisi keterbatasan sarana. Secara umum, keberadaan Polairud dinilai membantu dalam kasus-kasus nelayan yang ada di Desa Bagan Asahan. Hubungan antara nelayan tradisional dan aparat kemanan masih terjaga walaupun masyarakat beranggapan bahwa berurusan dengan pihak petugas akan menyulitkan mereka dalam bernelayan.

5.2 Hubungan Lembaga Swadaya Masyarakat Dengan Nelayan Tradisional

Dokumen terkait