• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian

5.1.3 Hasil analis Data

Tabel 5.1 Prevalensi ibu hamil yang menderita preeklampsia berat (PEB) dan Eklampsia (E) di

RSUP H.Adam Malik dalam Tahun 2008-2010

Diagnosis Frekuensi (n) Persentase (%)

Eklamsia (E) 11 18,0

Total 61 100,0

Berdasarkan tabel 5,1 ditemukan sebanyak 61 kasus PEB dan eklampsia sepanjang tahun 2008 hingga 2010 dengan Preeklampsia berat (PEB) sebanyak 50 kasus (82,0%) manakala Eklampsia sebanyak 11 kasus (18,0%).

Tabel 5.2 Karakteristik penderita PEB dan Eklampsia berdasarkan usia ibu hamil di RSUP

H.Adam Malik dalam Tahun 2008-2010

Usia Ibu Hamil Preeklampsia Berat (PEB) Eklampsia Frekuensi (n) Persentase (%) Frekuensi (n) Persentase (%) < 20 tahun 2 4,0 1 9,1 21-30 tahun 28 56,0 5 45,4 31-40 tahun 13 26,0 4 36,4 >40 tahun 7 14,0 1 9,1

Total 50 100,0 11 100,0

Berdasarkan tabel 5,2 di atas, ibu hamil yang menderita PEB yang paling banyak adalah pada kelompok usia 21-30 tahun yaitu sebanyak 28 kasus (56,0 %) manakala untuk usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sebanyak 2 kasus (4,0 %). Bagi usia 31-40 tahun, terdapat 13 kasus (26,0 %), manakala untuk usia di atas 31-40 tahun ditemukan 7 kasus (14,0 %).

Bagi penderita eklampsia, paling banyak adalah pada kelompok 21-30 tahun yaitu sebanyak 5 kasus (45,4 %), diikuti kelompok usia 31-40 tahun sebanyak 4 kasus (36,4 %). Untuk usia di bawah 20 tahun dan di atas 40 tahun, masing-masing terdapat 1 kasus (9,1 %).

Tabel 5.3 Karakteristik penderita PEB dan Eklampsia berdasarkan jumlah paritas di RSUP

Jumlah Paritas Preeklampsia Berat (PEB) Eklampsia

Frekuensi (n) Persentase (%) Frekuensi (n) Persentase (%) 1 17 34,0 3 27,3 2 4 8,0 2 18,2 3 11 22,0 3 27,3 4 5 10,0 2 18,2 5 8 16,0 1 9,1 6 4 8,0 0 0,0 7 1 2,0 0 0,0 Total 50 100,0 11 100,0

Berdasarkan tabel 5,3 di atas, kejadian PEB paling banyak ditemukan pada ibu dengan kehamilan pertama kali (primigravida), yaitu sebanyak 17 kasus (34,0 %). Bagi kehamilan kali kedua dan ketiga masing-masing mencatatkan sebanyak 4 kasus (8,0 %) dan 11 kasus (22,0 %). Untuk PEB pada kehamilan kali keempat didapatkan sebanyak 5 kasus (10,0 %), kehamilan kali kelima sebanyak 8 kasus (16,0 %), kehamilan kali keenam sebanyak 4 kasus (8,0 %) manakala PEB pada kehamilan kali ketujuh menunjukkan frekuensi terendah yaitu 1 kasus (2,0 %).

Bagi penderita eklampsia dengan primigravida dan kehamilan kali ke-3 ditemukan masing-masing sebanyak 3 kasus (27,3 %), pada kehamilan kali ke-2 dan ke-4 masing-masing sebanyak 2 kasus (18,2 %) dan kehamilan kali ke-5 sebanyak 1 kasus (9,1 %).

Tabel 5.4 Karakteristik penderita PEB dan Eklampsia berdasarkan tingkat pendidikan di RSUP

H.Adam Malik dalam Tahun 2008-2010

Tingkat Preeklampsia Berat (PEB) Eklampsia Pendidikan Frekuensi (n) Persentase (%) Frekuensi (n) Persentase (%) SD 21 42,0 4 36,3 SLTP 7 14,0 3 27,3 SLTA 17 34,0 3 27,3 Sarjana 5 10,0 1 9,1 Total 50 100,0 11 100,0

Berdasarkan tabel 5,4, didapatkan penderita PEB dan E tertinggi pada ibu hamil dengan tingkat pendidikan SD, yaitu sebanyak 21 kasus (42,0 %) untuk PEB dan 4

kasus (36,3 %) bagi eklampsia, diikuti oleh SLTA sebanyak 17 kasus (34,0 %) bagi PEB dan SLTP sebanyak 7 kasus (14,0 %). Bagi ibu hamil dengan tingkat pendidikan sarjana mencatatkan 5 kasus (10,0 %).

Untuk eklampsia, dicatatkan masing-masing 3 kasus (27,3 %) untuk tingkat pendidikan SLTP dan SLTA, manakala sarjana 1 kasus (9,1 %).

Tabel 5.5 Karakteristik penderita PEB dan Eklampsia berdasarkan sosioekonomi di RSUP

H.Adam Malik dalam Tahun 2008-2010

Pekerjaan Preeklampsia Berat (PEB) Eklampsia Frekuensi (n) Persentase (%) Frekuensi (n) Persentase (%) Dokter 1 2,0 0 0,0 IRT 44 88,0 9 81,8 Pegawai Negeri 1 2,0 1 9,1 Wiraswasta 4 8,0 1 9,1 Total 50 100,0 11 100,0

Berdasarkan tabel 5,5, didapatkan angka kejadian preeklampsia berat dan eklampsia paling banyak pada ibu rumah tangga (IRT) yaitu sebanyak 44 kasus (88,0 %) bagi PEB dan 9 kasus (81,8 %) bagi eklampsia. Kasus PEB yang bekerja sebagai

wiraswasta ditemukan sebanyak 4 kasus (8,0 %), pegawai negeri sebanyak 1 kasus (2,0 %), manakala dokter sebanyak 1 kasus (2,0 %). Bagi penderita eklampsia yang bekerja sebagai pegawai negeri dan wiraswasta masing-masing mencatatkan 1 kasus (9,1 %).

Tabel 5.6 Karakteristik penderita PEB dan Eklampsia berdasarkan tempat tinggal di RSUP

H.Adam Malik dalam Tahun 2008-2010

Tempat Tinggal Preeklampsia Berat (PEB) Eklampsia

Frekuensi (n) Persentase (%) Frekuensi (n) Persentase (%) Kota Medan 19 38,0 8 72,7 Luar Kota 31 62,0 3 27,3 Total 50 100,0 11 100,0

Berdasarkan tabel 5,6, didapatkan angka kejadian preeklampsia berat sebanyak 19 kasus (38,0 %) dan eklampsia sebanyak 8 kasus (72,7 %) di dalam kota Medan manakala untuk luar kota Medan ditemukan sebanyak 31 kasus (62,0 %) bagi PEB dan 3 kasus (27,3 %) bagi eklampsia.

Tabel 5.7 Karakteristik penderita PEB dan Eklampsia berdasarkan riwayat hipertensi di RSUP

H.Adam Malik dalam Tahun 2008-2010

Hipertensi Frekuensi (n) Persentase (%) Frekuensi (n) Persentase (%) Hipertensi 4 16,7 2 18,2 Tidak Hipertensi 20 83,3 9 81,8 Total 24 100,0 11 100,0

Berdasarkan tabel 5,7, daripada 35 pasien yang datanya lengkap, didapatkan sebanyak 4 kasus PEB (16,7%) dan 2 kasus eklampsia (18,2 %) yang mempunyai riwayat hipertensi.

Tabel 5.8 Karakteristik penderita PEB dan Eklampsia berdasarkan riwayat Diabetes Mellitus

(DM) di RSUP H.Adam Malik dalam Tahun 2008-2010

Riwayat Preeklampsia Berat (PEB Eklampsia DM Frekuensi (n) Persentase (%) Frekuensi (n) Persentase (%) DM 3 12,5 2 18,2 Tidak DM 21 87,5 9 81,8 Total 24 100,0 11 100,0

Berdasarkan tabel 5,7, daripada 35 pasien yang datanya lengkap, didapatkan sebanyak 3 kasus PEB (12,5 %) dan 2 kasus eklampsia (18,2 %) yang mempunyai riwayat diabetes Mellitus (DM).

Tabel 5.9 Karakteristik penderita PEB dan Eklampsia berdasarkan riwayat Kehamilan ganda di

RSUP H.Adam Malik dalam Tahun 2008-2010

Riwayat Preeklampsia Berat (PEB Eklampsia

DM Frekuensi (n) Persentase (%) Frekuensi (n) Persentase (%) Gameli 3 6,0 0 0 Bukan Gameli 47 94,0 11 100,0 Total 50 100,0 11 100,0

Berdasarkan tabel 5,9, daripada 50 kasus, didapatkan sebanyak 3 kasus (6,0%) gameli atau kehamilan ganda pada preeklampsia berat (PEB).

5.2 Pembahasan

Dalam pembahasan akan difokuskan kepada hal-hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian dilakukan yaitu untuk mengetahui gambaran karakteristik dari kejadian preeklampsia berat(PEB) dan eklampsia(E) yang terdapat di RSU H.Adam Malik,Medan dari tahun 2008-2010. Dari penelitian yang dijalankan bermula Januari 2008 hingga Oktober 2010 di RSUP H.Adam Malik, didapatkan sejumlah 62 kasus preeklampsia berat. Data yang tercatat di dalam rekam medis termasuk berdasarkan usia ibu hamil (dalam tahun), status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, alamat tempat tinggal ( luar kota atau dalam kota Medan), jumlah paritas, riwayat hipertensi dan DM.

Didapatkan bahawa sepanjang tahun 2008 hingga 2010, terdapat sebanyak 50 kasus (82,0%) Preeklampsia berat (PEB) manakala Eklampsia sebanyak 11 kasus (18,0%). Distribusi kejadian preeklampsia-eklampsia berdasarkan umur, menurut beberapa referensi banyak ditemukan pada kelompok usia ibu yang ekstrim, yaitu kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun. Dalam penelitian ini, kejadian terbanyak didapatkan pada kelompok usia 21-30 tahun yaitu sebanyak 33 kasus, 28 kasus (56,0 %) bagi PEB dan 5 kasus (45,4 %) bagi eklampsia.manakala untuk usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sebanyak 3 kasus. Bagi penderita PEB dari kelompok usia 31-40 tahun, terdapat 13 kasus (26,0 %), manakala untuk usia di atas 40 tahun ditemukan 7 kasus (14,0%). Bagi penderita E dari kelompok usia 31-40 tahun, terdapat 4 kasus (36,4 %), manakala untuk usia di atas 40 tahun ditemukan 1 kasus (9,1%). Hasil ini sesuai dengan apa yang didapatkan oleh Hadi S. (1997) di RSHS Bandung dan Siregar MF. (1997) di RS Pirngadi. Sedangkan Wibowo H. (1993) mendapatkan kejadian preeklampsia-eklampsi terbanyak pada kelompok umur di atas 35 tahun (58,3%), di mana status multigravida lebih dominan pada penelitian ini (54,24%).

Kejadian PEB dan Eklampsia paling banyak ditemukan pada ibu dengan kehamilan pertama kali (primigravida), yaitu sebanyak 17 kasus (32,8%) bagi PEB dan 3 kasus (27,3 %) bagi Eklampsia. Pada primigravida frekuensi preeklampsia lebih tinggi jika dibandingkan dengan multigravida, terutama primigravida muda. Sudinaya (2000) mendapatkan angka kejadian preeklampsia dan eklampsia di RSU Tarakan Kalimantan Timur sebesar 74 kasus (5,1%) dari 1431 persalinan selama periode 1 Januari 2000 sampai 31 Desember 2000, dengan preeklampsia sebesar 61 kasus (4,2%) dan eklampsia 13 kasus (0,9%). Dari kasus ini terutama dijumpai pada usia 20-24 tahun dengan primigravida (17,5%).Hal ini juga sebanding dengan hasil penelitian sebanyak 30 kasus di RSU Haji Adam Malik, Medan bagi Mei 2005-Mei 2006 menunjukkan kasus preeklampsia mayoritas terjadi pada umur 20-30 tahun sebanyak 10 kasus (33,3%).

Tingginya kejadian preeklampsia-eklampsia di negara-negara berkembang dihubungkan dengan masih rendahnya status sosialekonomi dan tingkat pendidikan yang dimiliki kebanyakan masyarakat. Kedua hal tersebut saling terkait dan sangat berperan dalam menentukan tingkat penyerapan dan pemahaman terhadap berbagai informasi/masalah kesehatan yang timbul baik pada dirinya ataupun untuk lingkungan sekitarnya. Teori pendidikan mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu kegiatan atau usaha untuk meningkatkan kepribadian, sehingga proses perubahan perilaku menuju kepada kedewasaan dan penyempurnaan kehidupan manusia. Semakin banyak pendidikan yang didapat seseorang, maka kedewasaannya semakin matang, mereka dengan mudah untuk menerima dan memahami suatu informasi yang positif. Kaitannya dengan masalah kesehatan, dari buku safe motherhood menyebutkan bahwa wanita yang mempunyai pendidikan lebih tinggi cenderung lebih menperhatikan kesehatan dirinya. Hasil penelitian Agung Supriandono dan Sulchan Sofoewan menyebutkan bahwa 80 (49,7) kasus preeklampsia berat mempunyai pendidikan kurang dari 12 tahun, dibanding 72 (44,2%) kasus bukan preeklampsia berat berpendidikan kurang dari 12 tahun.

Dalam penelitian ini, didapatkan bahwa penderita PEB dan E tertinggi pada ibu hamil dengan tingkat pendidikan SD, yaitu sebanyak 21 kasus (42,4 %) bagi PEB dan 4 kasus (36,3 %) bagi Eklampsia. Bagi tingkat pendidikan SLTP, pada PEB ditemukan sebanyak 7 kasus (14,0 %) manakala 3 kasus (27,3 %). Bagi tingkat pendidikan SLTA, ditemukan 17 kasus pada PEB dan 3 kasus pada Eklampsia, manakala tingkat sarjana sebanyak 5 kasus bagi PEB dan 1 kasus bagi E. Hal ini sebanding dengan hasil penelitian sebanyak 30 kasus di RSU Haji Adam Malik, Medan bagi Mei 2005-Mei 2006 menunjukkan kasus preeklampsia berdasarkan pendidikan mayoritas berpendidikan SD sebanyak 18 kasus (60%).

Status sosial mempunyai risiko yang sama, tetapi kelompok masyarakat yang miskin biasanya tidak mampu untuk membiayai perawatan kesehatan sebagai mana mestinya. Bahkan orang miskin tidak percaya dan tidak mau menggunakan fasilitas pelayanan medis walupun tersedia. Mereka itulah yang mempunyai risiko untuk mengalami eklampsia. Pasien yang miskin dengan pemeriksaan antenatal yang kurang atau tidak sama sekali merupakan faktor predisposisi terjadinya pre-eklampsia/eklampsia. Dari segi sosioekonomi, penderita PEB di kalangan ibu rumah tangga (IRT) mencatatkan 44 kasus (88,0 %), wiraswasta 4 kasus (8,0 %), manakala dokter dan pegawai negeri masing-masing 1 kasus (2,0 %). Bagi penderita eklampsia di kalangan ibu rumah tangga (IRT) terdapat 9 kasus (81,8 %), wiraswasta dan pegawai negeri masing-masing 1 kasus (9,1 %). Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa wanita dengan sosio ekonominya lebih maju jarang terkena preeklampsia (Cunningham, 2003).

Dari hasil penelitian, didapatkan angka kejadian preeklampsia berat dan eklampsia di dalam kota Medan sebanyak 27 kasus (44,3%) manakala untuk luar kota Medan ditemukan sebanyak 34 kasus (55,7%). Masyarakat yang tinggal di luar kota lebih sering menderita PEB mungkin kerana keterlambatan dalam melakukan rujukan.

Salah satu faktor predisposing terjadinya pre-eklampsia atau eklampsia adalah adanya riwayat hipertensi kronis, atau penyakit vaskuler hipertensi sebelumnya, atau hipertensi esensial. Sebagian besar kehamilan dengan hipertensi esensial berlangsung normal sampai cukup bulan. Pada kira-kira sepertiga diantara para wanita penderita tekanan darahnya tinggi setelah kehamilan 30 minggu tanpa disertai gejala lain. Kira-kira 20% menunjukkan kenaikan yang lebih mencolok dan dapat disertai satu gejala preeklampsia atau lebih, seperti edema, proteinuria, nyeri kepala, nyeri epigastrium, muntah, gangguan visus ( Supperimposed preeklampsia ), bahkan dapat timbul eklampsia dan perdarahan otak. Dalam penelitian yang dijalankan di RSUP H.Adam Malik dalam tahun 2008-2010, daripada 35 pasien yang datanya lengkap, ditemukan 4 kasus (16,7%) penderita PEB yang mempunyai riwayat preeklampsia, manakala pada penderita Eklampsia sebanyak 2 kasus (18,2 %).

Daripada 35 pasien yang datanya lengkap, ditemukan 3 kasus (12,5 %) penderita PEB yang mempunyai riwayat diabetes mellitus, manakala pada penderita Eklampsia sebanyak 2 kasus (18,2 %). Hasil penelitian Agung Supriandono dan Sulchan sofoewan menyebutkan bahwa dalam pemeriksaan kadar gula darah sewaktu lebih dari 140 mg terdapat 23 (14,1%) kasus preeklampsia, sedangkan pada kelompok kontrol (bukan preeklampsia) terdapat 9 (5,3%) kasus.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait