HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.3 Hasil Analisa Data
Data lengkap distribusi frekuensi jawaban kuesioner responden pada setiap pertanyaan dapat dilihat pada tabel 5.5.
Tabel 5.5. Jawaban Kuesioner Responden
No Pertanyaan Benar Salah
Frekuensi % Frekuensi % 1 71 71 29 29 2 64 64 36 36 3 75 75 25 25 4 92 92 8 8 5 72 72 28 28 6 60 60 40 40 7 58 58 42 42 8 52 52 48 48 9 60 60 40 40 10 54 54 46 46 11 61 61 39 39 12 54 54 46 46 13 52 52 48 48
No Pertanyaan Benar Salah Frekuensi % Frekuensi % 14 52 52 48 48 15 49 49 51 51 16 53 53 47 47 17 46 46 54 54 18 60 60 40 40 19 55 55 45 45 20 66 66 34 34
Berdasarkan tabel 5.5, pertanyaan yang paling banyak dijawab benar adalah pertanyaan ke 4 iaitu pertanyaan tentang definisi imunisasi campak yaitu sebanyak 92 orang (92%) sedangkan pertanyaan yang paling banyak dijawab salah adalah pertanyaan tentang gejala yang timbul setelah pemberian imunisasi DPT yaitu sebanyak 54 orang (54%).
Data lengkap distribusi tingkat pengetahuan tentang imunisasi dasar berdasarkan kelompok usia dapat dilihat pada tabel 5.6
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Kelompok Usia
Usia
Pengetahuan
Baik Kurang Total
F % F % F %
20-30 45 63.4 26 36.6 71 100
31-40 16 55.2 13 44.8 29 100
Total 61 61.0% 39 39.0% 100 100%
Berdasarkan tabel 5.6, dapat dillihat bahawa kelompok usia 20-30 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 45 orang (63.4%) sedangkan kelompok usia 31-40 tahun yang memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 16 orang (55.2%). Tingkat pengetahuan kurang pada kelompok usia 20-30 tahun yaitu sebanyak 26 orang (36.6%) sedangkan pada kelompok usia 31-40 tahun
memiliki tingkat pengetahuan kurang baik sebanyak 13 orang (44.8%). Presentase berdasarkan jumlah masing-masing kelompok.
Data lengkap distribusi tingkat pengetahuan tentang imunisasi dasar berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada tabel 5.7
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Usia
Pengetahuan
Baik Kurang Total
F % F % F % Sarjana 8 100 0 0 8 100 D3 22 73.3 8 26.7 30 100 SMU 24 64.9 13 35.1 37 100 SMP 6 33.3 12 66.7 18 100 SD 1 14.3 6 85.7 7 100 Total 61 61.0% 39 39.0% 100 100%
Dilihat pada tabel 5.7 kelompok responden lulusan sarjana mempunyai tingkat pengetahuan baik yaitu sebanyak 8 orang (100%) dan tidak ada responden lulusan sarjana yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang baik. Sebanyak 22 orang (73.3%) responden lulusan D3 memiliki tingkat pengetahuan yang baik sedangkan 8 orang (26.7%) responden lulusan D3 memiliki tingkat pengetahuan kurang baik. Seterusnya, sebanyak 24 orang (64.9%) responden lulusan SMU dan 6 responden (33.3%) lulusan SMP memiliki tingkat pengetahuan yang baik sedangkan sebanyak 13 orang (35.1%) responden lulusan SMU dan 6 orang (85.7%) lulusan SMP memiliki tingkat pengetahuan yang kurang baik. Responden lulusan SD menunjukkan hanya 1 orang (14.3%) yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik dan 6 orang (85.7%) memiliki tingkat pengetahuan yang kurang baik. Presentase berdasarkan jumlah masing-masing kelompok.
Data lengkap distribusi tingkat pengetahuan tentang imunisasi dasar berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel 5.8.
Tabel 5.8. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan
Pengetahuan
Baik Kurang Total
F % F % F %
PNS 19 76.0 6 24.0 25 100
Wiraswasta 14 58.3 10 41.7 24 100
IRT 28 54.9 23 45.1 51 100
Total 61 61.0% 39 39.0% 100 100%
Tabel 5.8 menunjukkan distribusi frekuensi tingkat pengetahuan berdasarkan pekerjaan ibu yang membawa anak untuk diimunisasi. Telah didapatkan dalam penelitian, bahwa responden yang berkerja sebagai PNS memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 19 orang (76%) sedangkan pada responden yang bekerja sebagai wiraswasta memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 14 orang (58.3%) diikuti dengan responden yang tidak bekerja atau IRT memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 28 orang (54.9%). Seterusnya, tingkat pengetahuan kurang baik pada responden yang bekerja sebagai PNS yaitu sebanyak 6 orang (24%) dan diikuti dengan responden yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 10 orang (41.7%). Sebanyak 23 orang (45.1%) responden yang tidak bekerja atau IRT juga didapatkan memiliki tingkat pengetahuan kurang baik. Presentase berdasarkan jumlah masing-masing kelompok.
5.2 Pembahasan
Dari data hasil penelitian yang telah diperoleh, pembahasan dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada bayi di Puskesmas Darussalam, Medan pada tahun 2013.
Pertanyaan yang paling banyak benar dijawab responden adalah pertanyaan nomor 4, 5 dan 6. Untuk pertanyaan nomor 4 dijawab benar oleh 92 responden (92%), pertanyaan nomor 3 dijawab benar 75 responden (75%) dan pertanyaan nomor 5 dijawab benar oleh 72 responden (72%). Dari jawaban
responden diketahui bahwa mayoritas responden telah mengetahui pengertian imunisasi ataupun tujuan imunisasi dasar diberikan kepada bayi.
Jawaban yang paling banyak salah dijawab responden adalah pertanyaan nomor 8, 13, 14, 15 dan 17. Pertanyaan nomor 17 salah dijawab oleh 54 responden (54%), pertanyaan nomor 15 salah dijawab oleh 49 responden (49%) dan pertanyaan nomor 8, 13 dan 14 salah dijawab oleh 48 responden (48%). Dari jawaban responden dapat diketahui bahwa mayoritas responden belum mengetahui gejala yang timbul setelah pemberian imunisasi DPT. Mayoritas responden juga tidak mengetahui usia pemberian imunisasi Hepatitis B, Polio dan campak.
Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 61 responden (61%). Sebanyak 39 responden (39%) memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori kurang baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok umur yang mempunyai tingkat pengetahuan baik dijumpai pada kelompok umur 20-30 tahun sebanyak 45 responden (63,4%) sebaliknya pada kelompok umur 31-40 tahun. Hal ini sesuai dengan penyataan Notoatmodjo (2007) bahwa, usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Pada usia 20-30, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang pada usia ini akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Pada penelitian yang dilakukan oleh Noor (2000), menyatakan bahwa perbedaan pengalaman terhadap masalah kesehatan/penyakit dan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh umur individu tersebut. Beberapa penelitian lainnya menemukan bahwa usia ibu berhubungan dengan tingkat pengetahuan dan status imunisasi anak mereka. Hal ini sejalan dengan penelitian Ali (2002) bahwa usia ibu berhubungan dengan pengetahuan dan perilaku mereka terhadap imunisasi. Menurut Hoclak (1998) dalam Nursalam (2001) semakin cukup umur maka seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari hasil penelitian tersebut bahwa sebagian besar responden adalah ibu yang masih muda di mana
pada umur tersebut daya tangkap ibu terhadap segala bentuk informasi yang disampaikan oleh tenaga kesehatan akan memperluas pengetahuan ibu tentang imunisasi terhadap bayi, sehingga ibu akan melakukan kelengkapan imunisasi pada bayinya. Hal ini sesuai dengan penelitian dari Yustifa (2008) bahwa responden penelitian yang memiliki ciri dari kedewasaan fisik dan kematangan pribadi yang erat hubungannya dengan pengambilan keputusan adalah mulai usia 21 tahun.
Tingkat pengetahuan ibu yang bervariasi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sesuai dengan pendapat Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2002), bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang terdiri dari: pendidikan, persepsi, motivasi dan pengalaman. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kesemua responden yang berpendidikan sarjana yaitu sebanyak 8 responden (100%) pada penelitian ini memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Berdasarkan penelitian Mahmudah (2007) yang mengatakan bahwa pendidikan mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu karena semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakin banyak pula informasi yang diperoleh. Pengetahuan ibu tentang imunisasi tersebut bisa diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Sebagai contoh pendidikan formal yaitu dengan mengikuti pendidikan di sekolah kesehatan dan pendidikan non formal yaitu melalui informasi yang diperoleh ibu baik secara langsung maupun tidak langsung seperti iklan dan penyuluhan. Sebagai contoh ibu yang mempunyai tingkat pendidikan sarjana maka tingkat pengetahuannya akan lebih baik daripada ibu yang memiliki tingkat pendidikan SMU. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Kasnodiharjo (2006) yang mengatakan bahwa pendidikan seseorang yang berbeda-beda akan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan, pada ibu yang berpendidikan tinggi lebih mudah menerima suatu ide baru dibandingkan ibu yang berpendidikan rendah sehingga informasi lebih mudah dapat diterima dan dilaksanakan. Tingkat pendidikan yang diperoleh seseorang dari bangku sekolah formal dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Makin tinggi pendidikan seseorang maka makin tinggi pengetahuannya
tentang kesehatan. Penelitian ini juga didukung oleh teori WHO (Word Health Organization) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007), pengetahuan dipengaruhi faktor pendidikan formal, pengetahuan saat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Hal ini mengingat bahwa peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan formal saja, akan tetapi dapat diperoleh melalui pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan sikap seseorang. Semakin banyak aspek positif dari objek diketahui, maka akan menimbulkan sikap semakin positif terhadap objek tetentu, salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri. Berdasarkan hasil penelitian, penelitian terkait dan teori diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu masih rendah tentang pentingnya imunisasi dasar pada bayi, hal ini sangat terkait dengan pendidikan yang didapat oleh ibu hanya SD, maka dengan memberikan penyuluhan tentang imunisasi diharapkan ibu mendapatkan pengetahuan yang lebih baik serta pemahaman seseorang sehingga dapat menentukan sikap dan tingkah laku dalam menghadapi persoalan yang baru terutama dalam mengambil keputusan dan memberikan respon yang lebih rasional yang mempunyai dampak dalam kehidupan sehari-hari misalnya pentingnya imunisasi dasar pada bayi.
Pada penelitian ini mayoritas responden adalah ibu rumah tangga dengan jumlah 51 orang (51%) sedangkan yang berkerja sebagai wiraswasta dan PNS sebanyak 49 orang. Adapun kaitan pekerjaan dengan tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar adalah semakin luas lingkup pergaulan (ibu yang bekerja) akan memudahkan ibu mendapatkan segala informasi tentang imunisasi pada anak. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Mahmudah (2007) menyatakan bahwa informasi sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi. Informasi dapat diperoleh ibu yang bekerja baik melalui media cetak maupun melalui media elektronik atau informasi dari orang lain maupun
kader kesehatan. Sebagai contoh informasi yang diperoleh dari kader kesehatan yang ada di puskesmas melalui penyuluhan juga sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi. Dari penelitian yang dilakukan oleh Susanto (2005) menyatakan bahwa pekerjaan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku, ibu yang bekerja dapat memilih tempat-tempat pelayanan kesehatan. Ibu yang bekerja mempunyai status sosial yang menunjang untuk peningkatkan status kesehatan anak, tetapi disisi lain bisa menjadi masalah waktu untuk membawa anak ke unit pelayanan kesehatan pada saat jam kerja ibu. Ibu bekerja dan ibu tidak bekerja tentang kelengkapan imunisasi dapat dijadikan bahan pertimbangan terutama bagi perusahaan tempat ibu bekerja melalui poliklinik kesehatan untuk lebih memberi perhatian, dan lebih banyak penjelasan tentang arti imunisasi. Ibu yang bekerja dengan status imunisasi dasar lengkap karena bekerja diluar rumah lebih cepat untuk mendapatkan informasi misalnya tentang kesehatan anak dan mendapatkan penyuluhan tentang kesehatan ditempat kerja, disetiap perusahaan memiliki poliklinik yang bisa dimanfaatkan oleh ibu- ibu untuk fasilitas kesehatan keluarga. Dengan adanya poliklinik perusahaan, maka diharapkan kerjasama antara perusahaan dan petugas kesehatan setempat untuk meningkatkan kesehatan didesa terutama mengenai kegiatan imunisasi dasar.
Pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar memegang peranan penting dalam tercapainya kebijakan program imunisasi dasar yang dilakukan pemerintah. Selain itu tingkat keberhasilan program imunisasi dasar juga berkaitan dengan faktor-faktor individu secara tidak langsung seperti faktor yang mendukung terhadap peningkatan pelayanan kesehatan imunisasi dasar khususnya.