BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.3 Hasil Analisa Statistik
Pada penelitian ini, pasien anak dengan gastroenteritis yang mendapatkan antibiotik lebih banyak dijumpai pada jenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan. Hal ini sesuai dengan data Kementerian Kesehatan RI bahwa penderita dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari perempuan. Namun di berbagai penelitian sebelumnya belum ditemukan hubungan antara jenis kelamin dan penyakit gastroenteritis.
Dari 97 pasien yang diteliti ditemukan kejadian gastroenteritis terbanyak pada kelompok umur 1 hingga 4 tahun yaitu sebanyak 77 orang, diikuti kelompok umur 5 hingga 9 tahun. Hal ini sesuai dengan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 yang mendapatkan bahwa prevalensi diare atau gastroenteritis yang tertinggi adalah pada anak balita (1-4 tahun). Hal ini mungkin disebabkan oleh anak pada
kelompok umur tersebut mulai aktif bermain di luar rumah dan berisiko terkena pelbagai infeksi, termasuklah gastroenteritis.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UNPAD (2008), didapatkan bahwa dari 1100 resep yang diteliti, sebesar 64,82% meresepkan antibiotik terutama golongan cephalosporin untuk terapi gastroenteritis. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian ini dimana jenis antibiotik yang paling banyak digunakan adalah cefotaxime, yang merupakan golongan cephalosporin yaitu sebanyak 18 kasus, diikuti dengan penggunaan antibiotik kombinasi ampicillin dan cefotaxime sebanyak 11 kasus..Pilihan utama antimikroba berdasarkan educated guess pada gastroenteritis tergantung pada mikroba penyebabnya. Infeksi Shigella dapat diobati dengan kotrimoksazol, florokuinolon, dan ampisilin. Vibrio cholera diobati dengan tetrasiklin dan kotrimoksazol. Entamuba histolytica dengan metronidazol. Campylobacter jejuni dengan eritromisin, florokuinolon dan tetrasiklin (Cakrawardi et al., 2009).
Ketepatan dosis yang digunakan dalam penelitian ini dilihat dari segi dosis dan frekuensi pemberian antibiotik berdasarkan sumber textbook serta pedoman penggunaan antibiotik dari WHO. Neonatus dan anak memerlukan pertimbangan khusus dalam perhitungan dosis obat karena perbedaan usia secara fisiologis akan merubah farmakokinetika banyak obat. Penghitungan dan pemberian dosis obat disesuaikan dengan berat badan anak (Katzung, 2009). Ditinjau dari segi ketepatan pemberian dosis obat antibiotik, didapat 61 dari 97 sampel (62.9%) mendapat dosis yang tidak tepat sedangkan 36 sampel (37.1%) mendapatkan dosis yang tepat. Jika selama terapi terdapat terapi salah satu antibiotik yang dosis penggunaannya tidak tepat maka terapi antibiotik diasumsikan tidak tepat dosis. Ketidaktepatan dosis juga berlaku mungkin karena adanya pengelompokkan dosis berdasarkan kelompok umur tertentu. Ataupun dapat disebabkan adanya perbedaan referensi yang digunakan antara peneliti dengan praktisi medis di lapangan (Meyta, 2012). Pemberian dosis antibiotik yang tidak tepat, tidak hanya berisiko menyebabkan kegagalan terapi tapi dapat juga menyebabkan terjadinya resistensi terhadap obat tersebut.
Lama pemberian merupakan durasi penderita mendapat antibiotik. Lama pemberian antibiotik yang optimal tidak selalu diketahui, karena bergantung pada tingkat keparahan dan jenis infeksi yang terjadi. Pada penelitian ini, persentase penderita paling banyak adalah pada lama pemberian 1-5 hari yaitu seramai 54 orang (55.7%). Hal ini disebabkan karena secara umum terapi dapat dihentikan tiga hari setelah gejala infeksi hilang (Aslam M dkk, 2003). Terdapat 38 orang (39.2%) diberikan antibiotik selama 1-3 hari, padahal durasi pemberian antibiotik yang terlalu singkat dapat menimbulkan resistensi bakteri dan memungkinkan kumatnya infeksi. Sesuai dengan standar penanganan medis, pemberian antibiotik biasanya berlangsung selama 5-10 hari, namun pemberian antibiotik yang singkat tersebut kemungkinan disebabkan karena pasien sudah tidak membutuhkan perawatan intensif sehingga pengobatan dengan antibiotik dapat diteruskan di rumah (Cakrawardi et al., 2009).
Lama perawatan merupakan lamanya penderita mendapatkan perawatan di rumah sakit yang ditentukan berdasarkan lama hari mulai pasien masuk sampai dengan keluar dari rumah sakit. Lama perawatan digolongkan menjadi hari rawat kurang dari 14 hari dan hari rawat lebih dari/sama dengan 14 hari. Batasan tersebut ditentukan atas dasar kejadian Gastroenteritis yang disebabkan oleh bakteri biasanya terjadi dalam jangka masa 7-14 hari. Berdasarkan tabel 5.4, didapatkan sebagian besar lama perawatan adalah kurang dari 8 hari yaitu seramai 65 orang (67%). Hal ini mungkin disebabkan oleh keadaan umum pasien yang dianggap sudah membaik, dan dapat berobat jalan atau pulang atas permintaan orang tua pasien.
Pada penelitian ini didapatkan nilai p = 0,600 dan nilai korelasi Spearman sebesar 0,054 (CI= 95%, 1,53-1,73) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara ketepatan dosis antibiotik dengan lama perawatan. Hal ini menunjukkan bahwa dosis yang tepat belum tentu dapat memperpendek masa rawatan. Hal ini dimungkinkan karena kondisi klinis dan penyakit penyerta yang dialami oleh pasien. Dalam penelitian ini, terdapat beberapa penyakit penyerta yang terjadi bersamaan dengan diare antara lain
infeksi saluran nafas, infeksi susunan saraf pusat, infeksi saluran kemih dan infeksi sistemik lain, kurang gizi, penyakit jantung dan penyakit ginjal Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulaiman pada tahun 2011.
Lama penggunaan antibiotik pada umumnya 3-5 hari. Pada penelitian ini, didapatkan nilai p = 0,0001 dengan nilai korelasi Spearman sebesar 0,918 (CI = 95%, 5,80-8,86) yang menunjukkan bahawa terdapat hubungan yang bermakna antara lama pemberian antibiotik dengan lama perawatan. Lama terapi optimal antibiotik tidak selalu diketahui, karena bergantung pada tingkat keparahan dan jenis infeksi yang terjadi (Emma Surahman et al., 2008).
Hubungan antara ketepatan dosis dan lama pemberian antibiotik dengan lama perawatan pada pasien anak dengan gastroenteritis dianalisis menggunakan uji korelasi non-parametrik Spearman. Dari uji tersebut, didapatkan hasil bahwa ketepatan dosis dan lama pemberian antibiotik berkorelasi positif dengan lama perawatan dengan nilai koefisien korelasi,r = 0,219 dan nilai batas kemaknaan p = 0,031.
Pada penelitian ini, terdapat beberapa keterbatasan antara lain tidak tersedianya sampel dalam jumlah yang banyak. Hal ini diasumsikan lebih banyak penderita gastroenteritis yang mengunjungi puskesmas atau praktek persendirian yang berdekatan dengan tempat tinggal mereka. Selain itu, terbatasnya data mengenai hasil pemeriksaan laboratorium pada kebanyakan pasien anak menyebabkan peneliti tidak dapat memastikan penyebab dari gastroenteritis yang berlaku pada sampel penelitian.