• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

A. ANALISA DATA

3. Hasil analisa tambahan

a. Gambaran kecenderungan perilaku delinkuensi remaja berdasarkan jenis kelamin

Pada penelitian ini juga dapat diperoleh gambaran kecenderungan perilaku delinkuensi remaja berdasarkan jenis kelamin dengan menggunakan teknik statistik independent sample t-test. Hasil uji statistik berdasarkan jenis kelamin selengkapnya dapat dilihat dari Tabel. 17 berikut ini:

Tabel 17. Gambaran kecenderungan perilaku delinkuensi berdasarkan jenis kelamin Jenis kelamin N Mean SD

Laki-laki 103 76.85 15.089

Dari Tabel. 17 diatas dapat dilihat bahwa untuk jenis kelamin laki-laki rata-rata kecenderungan perilaku delinkuensinya lebih tinggi dibandingkan rata-rata kecenderungan perilaku delinkuensi perempuan.

Untuk dapat melihat apakah ada perbedaan yang signifikan antara kecenderungan perilaku delinkuensi remaja laki-laki dan perempuan, dapat dilihat dari hasil uji t. Uji t dua sampel dilakukan dalam dua tahapan, tahapan pertama adalah menguji apakah varians dari dua populasi bisa dianggap sama dan tahapan kedua dilakukan pengujian untuk melihat ada tidaknya perbedaan rata-rata populasi (Santoso, 2007). Hasil uji-t penelitian ini dapat dilihat pada Tabel. 18 dibawah ini:

Tabel 18. Hasil perhitungan Uji-t kecenderungan perilaku delinkuensi remaja berdasarkan jenis kelamin

Tes Levene t-Test

F Sig. T Sig

Equal variances not assumed 4.565 0.034 6.800 0.000

Nilai p < 0.05 menunjukkan bahwa kedua varians benar-benar berbeda (Santoso, 2007). Dari Tabel. 17 diperoleh nilai F = 4.565 dengan nilai p = 0.034 sehingga dapat dikatakan bahwa kedua varians benar-benar berbeda. Perbedaan yang nyata dari kedua varians membuat penggunaan varians untuk membandingkan rata-rata populasi dengan uji-t sebaiknya menggunakan dasar Equal variances not assumed.

Nilai t dengan Equal variances not assumed adalah 6.800 dengan p = 0.000. Jika nilai p < 0.05 maka rata-rata populasi adalah berbeda (Santoso, 2007). Dari hasil analisa didapat nilai p < 0.05 (p = 0.000), sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata kecenderungan perilaku delinkuensi remaja laki-laki sangat signifikan berbeda dengan rata-rata kecenderungan perilaku delinkuensi remaja perempuan. Jika dilihat dari rata-rata

kedua kelompok maka kecenderungan perilaku delinkuensi remaja laki-laki lebih tinggi dari perempuan.

b. Pengaruh aspek-aspek keharmonisan keluarga terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja

Analisa tambahan pada penelitian ini adalah melihat pengaruh keempat aspek keharmonisan keluarga terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja dengan bantuan program SPSS versi 15.0 for windows. Analisa data yang digunakan adalah analisa regresi linier berganda, karena aspek-aspek keharmonisan keluarga yang menjadi variabel bebas lebih dari satu variabel.

Metode yang dipakai adalah metode backward, dimana pada metode backward, analisa regresi linier dimulai dengan metode enter, yaitu memasukkan semua variabel bebas kedalam model, selanjutnya secara bertahap dilakukan analisa dengan mengeluarkan satu persatu variabel yang tidak layak masuk dalam regresi (Santoso, 2007). Pada tabel 19, dapat dilihat variabel yang dimasukkan dan dikeluarkan sebagai berikut:

Tabel 19. Variabel-variabel analisa regresi linier berganda

Model Variabel yang dimasukkan Variabel yang dikeluarkan Metode 1

Dari tabel 19 dapat dilihat bahwa pada model 2, variabel yang dikeluarkan dari model regresi adalah variabel pengertian, kemudian pada model 3, variabel yang dikeluarkan

dari model regresi adalah variabel kerjasama. Dengan demikian, setelah melewati tiga tahapan, variabel bebas yang layak dimasukkan kedalam model regresi adalah variabel kasih sayang dan komunikasi.

Hasil analisa regresi berganda dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel 20 berikut ini:

Tabel 20. Hasil analisa regresi berganda

Model Adjusted R² F Sig

3 0.504 92.352 0.000

Model regresi yang digunakan adalah model 3. Nilai F yang diperoleh adalah 92.352 dengan signifikansi 0.000 (F = 92.352 ; p = 0.000). Nilai signifikansi yang diperoleh jauh lebih kecil dari 0.05 (p < 0.05), maka model regresi ini bisa dipakai untuk memprediksi kecenderungan perilaku delinkuensi remaja. Atau bisa dikatakan, variabel kasih sayang dan komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga secara bersama-sama berpengaruh terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja. Koefisien regresi yang dilihat pada analisa regresi linier berganda adalah Adjusted R² atau R² yang disesuaikan, dimana R² yang disesuaikan adalah R² yang telah dikoreksi dengan parameter yang lebih dari satu (Santoso, 2007). Nilai R² yang disesuaikan adalah 0.504. Hal ini berarti, sekitar 50,4 % variasi kecenderungan perilaku delinkuensi remaja bisa disebabkan oleh variabel kasih sayang dan komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga. Sedangkan sisanya 49.6 % disebabkan faktor-faktor lain.

Parameter-parameter dalam persamaan garis regresi linier berganda yang terbentuk dapat dilihat pada tabel 21 berikut ini:

Tabel 21. Parameter-parameter persamaan garis regresi linier berganda

Persamaan garis yang dihasilkan pada analisa regresi linier berganda ini adalah : Y = 150.166 – 1.495*X1 – 0.815*X2

Keterangan :

Y = kecenderungan perilaku delinkuensi remaja X1 = kasih sayang antar anggota keluarga

X2 = komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga

Persamaan garis tersebut memiliki arti jika tidak ada kasih sayang dan komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga, maka kecenderungan perilaku delinkuensi remaja adalah sebesar 150.166 satuan. Koefisien regresi kasih sayang sebesar – 1.495 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 satuan kasih sayang antar anggota keluarga dan jika tidak ada komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga, maka kecenderungan perilaku delinkuensi remaja akan menurun sebesar 1.495 satuan. Koefisien regresi komunikasi sebesar – 0.815 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 satuan komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga dan jika tidak ada kasih sayang antar anggota keluarga, maka kecenderungan perilaku delinkuensi remaja akan menurun sebesar 0.815 satuan. Dengan demikian, kecenderungan perilaku delinkuensi remaja akan menurun sebesar 147.856 satuan jika terjadi penambahan 1 satuan kasih sayang dan 1 satuan komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga.

Uji t dilakukan untuk menguji nilai signifikansi parameter-parameter regresi. Nilai t yang dihasilkan untuk variabel kasih sayang adalah sebesar - 5.939 dengan signifikansi

sangat signifikan atau kasih sayang antar anggota keluarga sangat berpengaruh secara sangat signifikan terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja. Sedangkan nilai t yang dihasilkan untuk variabel komunikaasi adalah sebesar – 3.210 dengan signifikansi sebesar 0.002 (t = - 3.210 ; p = 0.002). Hal ini menunjukkan bahwa koefisien regresi sangat signifikan atau komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga sangat berpengaruh secara sangat signifikan terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja.

Model regresi yang baik adalah model yang tidak memiliki kolinier atau korelasi antar variabel bebas. Kolinier dapat dilihat dari nilai VIF, dimana jika nilai VIF melebihi 5, maka terjadi kolinier. Kolinier juga akan terjadi jika nilai Eugen mendekati 0 dan memiliki condition index melebihi 15 dan akan terjadi masalah yang serius jika indeks melebihi 30 (Santoso, 2007). Gambaran diagnosa korelasi antar variabel bebas dapat dilihat pada tabel 22 berikut ini:

Tabel 22. Diagnosa kolinieritas antar variabel Model Dimensi Eigenvalue Condition index VIF

Pada model terakhir yang dipakai (model 3), terlihat variabel kasih sayang dan komunikasi (kode 2 dan 3) memiliki nilai VIF dibawah 5, sehingga dapat dikatakan kedua variabel tersebut tidak memiliki kolinieritas yang serius. Akan tetapi, nilai Eugen yang didapat mendekati 0 dan condition index-nya melebihi angka 15. sehingga dapat disimpulkan bahwa ada dugaan terjadinya kolinieritas namun tidak serius antara variabel kasih sayang dan komunikasi.

B. PEMBAHASAN

Hasil utama penelitian dengan menggunakan analisa regresi linier sederhana (R = 0.691, p = 0.000) menunjukkan ada pengaruh yang sangat signifikan antara keharmonisan keluarga terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja, dimana terdapat hubungan yang negatif antara keharmonisan keluarga dengan kecenderungan perilaku delinkuensi remaja. Dari hasil analisis penelitian tersebut maka hipotesa yang menyatakan bahwa ada pengaruh negatif antara keharmonisan keluarga terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja dapat diterima. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Santrock (1999), bahwa faktor keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku delinkuensi remaja, dimana kurangnya perhatian, kasih sayang, dan tidak efektifnya penerapan disiplin dapat menjadi pemicu timbulnya perilaku delinkuensi.

Cashwell dan Vacc (dalam Matherne & Thomas, 2001) juga menyatakan bahwa hubungan antar anggota keluarga memiliki peran yang besar dalam memprediksi kecenderungan perilaku delinkuensi. Berdasarkan penelitian beberapa ahli juga menemukan bahwa setiap individu yang terlibat dalam tindakan kriminal dan perilaku delinkuensi banyak yang mengalami masalah di dalam keluarga (Gunarsa, 2003).

Haditono (dalam Mönks, 1998) dalam penelitiannya juga menunjukkan hal yang sama, bahwa motif remaja melakukan perilaku delinkuensi salah satunya adalah mencari pelarian karena keadaan keluarga yang tidak harmonis.

Interaksi antar anggota keluarga yang dapat menentukan keadaan harmonis atau tidaknya keluarga juga berpengaruh terhadap pribadi-pribadi yang ada dalam keluarga (Gunarsa, 2000), dimana keadaan yang tidak harmonis pada keluarga akan ditandai

dengan munculnya ketegangan, kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap keberadaan diri seseorang. Keadaan inilah yang akan menciptakan reaksi kompensatoris anak khususnya remaja sehingga tercipta perilaku delinkuensi seperti tidak patuh, lari dari rumah, mengkonsumsi alkohol, bolos sekolah, melanggar jam malam dan melakukan tindakan kriminal seperti melakukan penyerangan dan pencurian.

Nilai koefisien determinasi (R²) yang diperoleh sebesar 0.477 menunjukkan sumbangan efektif yang diberikan variabel keharmonisan keluarga cukup besar dalam mempengaruhi kecenderungan perilaku delikuensi remaja, yaitu 47.7 %. Sedangkan 52.3

% sisanya menunjukkan besar pengaruh keberadaan variabel-variabel lain yang juga mempengaruhi kecenderungan perilaku delinkuensi remaja. Menurut Santrock (1999) faktor-faktor lain tersebut dapat berupa pembentukan identitas, kontrol diri, usia, jenis kelamin, harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah, pengaruh teman sebaya, kelas sosial ekonomi dan kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal.

Deskripsi data penelitian berdasarkan mean hipotetik menunjukkan bahwa sebanyak 111 orang (61.33 %) subjek penelitian memiliki keharmonisan keluarga yang tergolong tinggi. Hal ini berarti hampir sebagian dari subjek penelitian menilai keluarganya termasuk keluarga yang harmonis, dimana telah terjadi keselarasan antar anggota keluarga sehingga tercipta kebahagiaan bagi masing-masing anggota keluarga.

Keharmonisan keluarga tersebut dapat dilihat dari kasih sayang, pengertian, komunikasi, dan kerjasama antar anggota keluarga. Deskripsi data penelitian berdasarkan mean hipotetik juga menemukan bahwa sebanyak 135 orang (74.59 %) subjek penelitian memiliki kecenderungan perilaku delinkuensi yang tergolong rendah. Hal ini berarti

subjek penelitian memiliki keyakinan, perasaan dan kecenderungan yang relatif rendah untuk melakukan tindakan dalam bentuk perilaku delinkuensi remaja.

Hasil analisa tambahan untuk melihat perbedaan kecenderungan perilaku delinkuensi remaja berdasarkan jenis kelamin (t = 6.800 ; p = 0.000) menunjukkan bahwa rata-rata kecenderungan perilaku delinkuensi remaja laki-laki (µ=76.85) sangat signifikan lebih tinggi dibandingkan rata-rata kecenderungan perilaku delinkuensi remaja perempuan (µ = 63.23). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Gottfredson dan Hirschi (dalam Landsheer, Oud & Dijkum, 2008) bahwa terdapat perbedaan jenis kelamin terhadap terjadinya perilaku delinkuen, dimana laki-laki cenderung lebih delinkuen dibandingkan perempuan. Berdasarkan beberapa hasil penelitian (Booth, Farrel & Varano, 2008), perbedaan tersebut dapat diperoleh dari dampak hubungan dan kelekatan orang tua yang berbeda antara remaja perempuan dan remaja laki-laki. Kelekatan dan ikatan emosional yang diberikan orang tua lebih memiliki dampak yang dapat menjaga remaja perempuan untuk tidak melakukan bentuk perilaku delinkuensi dibandingkan remaja laki-laki.

Hasil analisa tambahan untuk melihat pengaruh aspek-aspek keharmonisan keluarga terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja menunjukkan bahwa dari empat aspek keharmonisan keluarga, aspek kasih sayang dan komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja. Selain itu, aspek kasih sayang memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap kecenderungan perilaku delinkuensi remaja dibandingkan aspek komunikasi yang terjalin antar anggota keluarga (β1 = - 1.495, β2 = - 0.815). Kedua aspek tersebut memberikan sumbangan efektif (R² yang disesuaikan = 0.504) yang cukup besar terhadap terbentuknya kecenderungan perilaku delinkuensi remaja, yaitu sebesar 50.4 %.

Hal ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian (Baumrind, 1991; Greenberger & Chen, 1996; Grotevant, 1998; Steinberg & Morris, 2001 dalam Berns, 2004) yang menunjukkan bahwa keluarga yang memiliki kehangatan, kasih sayang dan lebih komunikatif akan mengurangi terjadinya perilaku delinkuensi daripada keluarga yang tidak memiliki hubungan yang baik antar anggota keluarga. Hubungan antara orang tua dan remaja memiliki banyak tantangan. Kebutuhan dalam kehidupan keluarga sehari-hari seperti penyelesaian tugas-tugas rumah tangga, memberikan perhatian dan berkomunikasi antar anggota keluarga dapat menjadi area konflik antara orang tua dan remaja. Kasih sayang yang kurang dan komunikasi yang buruk antar anggota keluarga dapat memperburuk keadaan tersebut dan dapat mempengaruhi sikap, nilai dan perilaku remaja.

Hipotesa penelitian diterima dapat disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya kontrol yang dilakukan peneliti mengenai usia. Pada penelitian ini, subjek yang dipilih adalah remaja madya. Menurut Ausubel (dalam Mönk, 1998) perilaku delinkuensi berjalan lambat pada usia remaja awal, namun segera melonjak pada usia remaja madya. Sarwono (2003) menyatakan bahwa remaja pada tahap ini berada dalam kondisi kebingungan karena adanya perubahan-perubahan yang dialami. Hal ini dapat menjadi pemicu untuk melakukan perilaku delinkuensi apabila remaja tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Selain itu, subjek yang dipilih adalah subjek yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Subjek yang tinggal bersama orang tua lebih dapat merasakan interaksi antar anggota keluarga, sehingga subjek dapat lebih mengetahui keadaan keluarganya.

Penelitian ini juga tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan. Kelemahan yang ada pada penelitian ini antara lain terdapat aitem yang menunjukkan bahwa subjek bukan

anak tunggal, sedangkan saat pengambilan data ditemukan beberapa anak tunggal, sehingga peneliti harus menjelaskan kembali isi skala yang sesuai dengan subjek. Peneliti juga kurang mengantisipasi penggunaan istilah dalam skala yang kurang dimengerti oleh subjek penelitian. Aitem-aitem skala kecenderungan perilaku delinkuensi juga cenderung memiliki social desirability yang cukup tinggi, sehingga respon yang diberikan terkadang tidak sesuai dengan diri subjek.

Populasi penelitian yang hanya berada pada satu kecamatan menjadikan generalisasi penelitian ini hanya terbatas pada kecamatan tersebut dan tidak mencakup kawasan yang lebih luas. Selain itu, Peneliti juga tidak memperhitungkan status ekonomi subjek penelitian yang dapat memperkaya hasil penelitian.

BAB V

Dokumen terkait