B. HASIL PENELITIAN
3. Hasil Analisa Tambahan
Selain mencari hubungan antara setiap virtue dengan kepuasan hidup, peneliti juga memberikan analisa tambahan penelitian yaitu bagaimana hubungan masing-masing karakter pembentuk virtue dengan kepuasan hidup, perbandingan mean empirik dan mean hipotetik baik pada kepuasan hidup dan virtue, gambaran deskriptif mengenai kepuasan hidup dan virtue, dan kategorisasi kepuasan hidup dan virtue pada etnis Tionghoa di kota Medan dalam penelitian ini.
a. Hubungan Karakter dan Kepuasan Hidup
Hubungan setiap karakter pembentuk virtue dengan kepuasan hidup subjek penelitian, yaitu:
Tabel.17 Gambaran Hubungan Setiap Karakter dan Kepuasan Hidup
No Karakter Kepuasan Hidup Koefisien Korelasi Sig (1-tailed) Simpulan Virtue Wisdom
1 Kreativitas 0,091 0,096 Tidak berhubungan 2 Keingintahuan 0,229 0,001 Berhubungan positif 3 Kecintaan Belajar 0,054 0,216 Tidak berhubungan 4 Perspektif 0,184 0,005 Berhubungan positif
Virtue Courage
6 Kegigihan 0,117 0,051 Tidak berhubungan 7 Integritas 0,043 0,271 Tidak berhubungan 8 Vitalitas 0,146 0,020 Berhubungan positif
Virtue Humanity
9 Cinta 0,170 0,001 Berhubungan positif
10 Kecerdasan Bermasyarakat
0,167 0,009 Berhubungan positif Virtue Justice
11 Keadilan 0,002 0,491 Tidak berhubungan 12 Kepemimpinan 0,093 0,095 Tidak berhubungan
Virtue Temperance 13 Pengampunan dan
belas kasih
0,057 0,211 Tidak berhubungan 14 Kerendahan hati 0,045 0,266 Tidak berhubungan 15 Kehati-hatian 0,041 0,281 Tidak berhubungan 16 Pengaturan diri 0,076 0,136 Tidak berhubungan
Virtue
Transcendence
17 Harapan 0,131 0,035 Berhubungan positif
18 Humor 0,275 0,000 Berhubungan positif
19 Spiritualitas -0,013 0,430 Tidak berhubungan Berdasarkan tabel 17 dapat kita lihat, karakter yang berhubungan positif dengan Kepuasan Hidup adalah karakter Humor (r= 0,275), Keingintahuan (r= 0,229), Perspektif (r=0,184), Cinta (r= 0,170), kecerdasan bermasyarakat (r= 0,167), Vitalitas (r= 0,146), dan Harapan (r= 0,131).
b. Perbandingan Nilai Mean Empirik dan Mean Hipotetik Skor Kepuasan Hidup
Tabel .18 Deskripsi Mean Empirik dan Hipotetik Kepuasan Hidup
Variabel Mean Empirik Mean Hipotetik
Mean SD Mean SD
Kepuasan
Hidup 21,87 6,044 20 4,6
Berdasarkan tabel 18 di atas dapat dilihat nilai mean empirik Kepuasan Hidup (ME 21,87 > MH 20), sehingga dapat disimpulkan bahwa subjek penelitian memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan alat ukur.
Artinya subjek penelitian memiliki penilaian kognitif yatas kehidupannya dengan lebih baik daripada yang diperkirakan alat ukur.
c. Gambaran Mean Kepuasan HidupPada Etnis Tionghoa di Kota Medan Tabel. 19 Gambaran Mean Kepuasan Hidup
No Aitem Mean
1 Dalam berbagai hal, kehidupan saya sudah mendekati kriteria ideal menurut saya
4,55 2 Kondisi kehidupan saya saat ini sangat
baik 4,85
3 Saya puas dengan kehidupan saya saat ini 4,74 4 Sejauh ini, saya sudah mendapatkan hal
penting yang inginkan dalam hidup 4,21 5 Jika saya dapat memutar kehidupan saya,
hampir tidak ada yang ingin saya ubah 3,52
Berdasarkan tabel 19 secara umum, subjek memiliki kepuasan hidup yang baik, terlihat dari mean yang tinggi, kecuali pada aitem ke-5, yaitu aspek Penilaian Orang Lain terhadap Kehidupan Seseorang.
d.Kategorisasi Skor Kepuasan Hidup
Adapun gambaran kategorisasi kepuasan hidup subjek penelitian adalah: Tabel.20 Sebaran Pengkategorisasian Kepuasan Hidup
Variabel Rentang Nilai Kategori Skor Jumlah (Orang) Persentase (%) Kepuasan Hidup X < 15,3 Rendah 13 11,8 15,3 ≤ X < 24,6 Sedang 53 48,1 X ≥ 24,6 Tinggi 44 40 Total 110 100
Berdasarkan tabel 20 dapat diketahui gambaran kepuasan hidup pada etnis Tionghoa yang diteliti. Dari 110 orang, ada 13 orang (11,8%) yang berada di
tingkat rendah. Sementara itu ada 53 orang (48,1%) yang berada di tingkat sedang, dan 44 orang (40%) berada di tingkat tinggi.
e. Perbandingan Nilai Mean Empirik dan Mean Hipotetik Skor Virtue
Tabel. 21 Deskripsi Mean Empirik dan Hipotetik Virtue
Variabel Mean Empirik Mean Hipotetik
Mean SD Mean SD Wisdom 40,70 6,746 35 8,3 Courage 44,25 5,481 35 8,3 Humanity 21,07 3,364 17,5 4,1 Justice 12,30 2,437 10,5 2,5 Temperance 43,02 5,121 35 8,3 Transendence 32,43 4,610 28 6,6
Berdasarkan tabel. 21 dapat disimpulkan bahwa keenam virtue yang dimiliki subjek penelitian lebih tinggi daripada yang diperkirakan oleh alat ukur. Artinya, virtue yang dimiliki subjek penelitian lebih kuat daripada yang diperkirakan oleh alat ukur.
f. Gambaran MeanVirtue Pada Etnis Tionghoa di Kota Medan Tabel. 22 Gambaran MeanVirtue
Variabel Mean Transendence 4,63 Courage 4,42 Humanity 4,21 Temperance 4,3 Justice 4,1 Wisdom 4,07
Berdasarkan tabel 22, diketahui bahwa subjek penelitian memiliki mean yang paling tinggi pada virtue transcendence dan diikuti oleh virtue courage, humanity, temperance, justice, dan wisdom. Artinya etnis Tionghoa yang diteliti
memiliki kekuatan yang paling besar pada virtue transendence, diikuti courage, humanity, temperance, justice, dan wisdom.
g. Kategorisasi Skor Virtue
Berdasarkan nilai mean hipotetik skor virtue wisdom, courage, humanity, justice, temperance, transendence, dan kepuasan hidup maka dibuat pengkategorisasian virtue wisdom, courage, humanity, justice, temperance, transendence ke dalam kelompok tinggi dan rendah.
Berikut kategorisasi virtue wisdom, courage, humanity, justice, temperance, transendence, dan kepuasan hidup pada etnis Tionghoa di kota Medan:
Tabel.23 Pengkategorisasian Virtue Wisdom
Virtue Karakter Kategori Kuat (X>X+Z( /2)Se) Tidak Terkategori (X- Z( /2)Se <X<+ Z( /2)Se) Lemah (X<X-Z( /2)Se) Wisdom Total 46 62 2 Kreatifitas 21 85 4 Keingintahuan 48 57 5 Kecintaan belajar 46 62 2 Perspektif 18 78 14
Berdasarkan tabel. 23 menunjukkan bahwa subjek penelitian banyak yang tidak terkategori. Subjek yang dikategori kuat paling banyak berada di karakter Keingintahuan. Subjek yang tidak terkategori, paling banyak di karakter Kreatifitas, dan subjek yang dikategori lemah paling banyak berada di karakter Perspektif.
Tabel.24 Pengkategorisasian Virtue Courage Virtue Karakter Kategori Kuat X>X+(Z( /2)Se) Tidak Terkategori (X- Z( /2)Se <X<+Z( /2)Se) Lemah (X<X-Z( /2)Se) Courage Total 74 35 1 Keberanian 47 63 0 Kegigihan 47 63 0 Integritas 26 84 0 Vitalitas 29 77 4
Berdasarkan tabel.24, jumlah orang yang termasuk kategori kuat dan tidak terkategori relatif sama. Subjek yang dikategori kuat paling banyak berada di karakter Keberanian dan Kegigihan. Subjek yang tidak terkategori, paling banyak di karakter Integritas, dan subjek yang dikategori lemah paling banyak berada di karakter Vitalitas.
Tabel.25 Pengkategorisasian Virtue Humanity
Virtue Karakter Kategori Kuat X>X+(Z( /2)Se) Tidak Terkategori (X- Z( /2)Se <X<+Z( /2)Se) Lemah (X<X-Z( /2)Se) Humanity Total 47 61 2 Cinta 49 61 0 Kecerdasan bermasyarakat 20 78 12
Tabel 25. Menggambarkan banyak subjek penelitian yang tidak terkategori. Subjek yang dikategori kuat paling banyak berada di karakter Cinta. Subjek yang tidak terkategori, paling banyak di karakter Kecerdasan Bermasyarakat, dan subjek yang dikategori lemah paling banyak berada di karakter Kecerdasan Bermasyarakat.
Tabel.26 Pengkategorisasian Virtue Justice Virtue Karakter Kategori Kuat X>X+(Z( /2)Se) Tidak Terkategori (X- Z( /2)Se <X<+Z( /2)Se) Lemah (X<X-Z( /2)Se) Justice Total 50 55 5 Keadilan 50 51 9 Kepemimpinan 56 47 7
Tabel 26 menggambarkan jumlah orang yang berada pada kategori kuat dan tidak terkategori relatif sama. Subjek yang dikategori kuat paling banyak berada di karakter Kepemimpinan. Subjek yang tidak terkategori, paling banyak di karakter Keadilan, dan subjek yang dikategori lemah paling banyak berada di karakter Keadilan.
Tabel.27 Pengkategorisasian Virtue Temperance
Virtue Karakter Kategori Tinggi X>X+(Z( /2)Se) Tidak Terkategori (X- Z( /2)Se <X<+Z( /2)Se) Rendah (X<X-Z( /2)Se) Temperance Total 49 61 0 Pengampunan
dan Belas Kasih 43 64 3
Kerendahan hati 19 86 5
Kehati-hatian 107 3 0
Pengaturan diri 28 79 3
Pada tabel 27, Subjek yang dikategori kuat paling banyak berada di karakter Kehati-hatian. Subjek yang tidak terkategori, paling banyak di karakter Kerendahan Hati, dan subjek yang dikategori lemah paling banyak berada di karakter Kerendahan Hati.
Tabel.28 Pengkategorisasian Virtue Transendence Virtue Karakter Kategori Kuat X>X+(Z( /2)Se) Tidak Terkategori (X- Z( /2)Se <X<+Z( /2)Se) Lemah (X<X-Z( /2)Se) Transcendence Total 52 55 3 Harapan 64 46 0 Humor 50 50 10 Spiritualitas 78 28 4
Berdasarkan tabel 28, jumlah subjek yang berada di kategori kuat dan tidak terkategori relatif sama. Subjek yang dikategori kuat paling banyak berada di karakter Spiritualitas. Subjek yang tidak terkategori, paling banyak di karakter Humor, dan subjek yang dikategori lemah paling banyak berada di karakter Humor.
C. PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa virtue wisdom, courage, humanity, dan transcendence memiliki hubungan positif dengan kepuasan hidup subjek penelitian. Artinya subjek penelitian yang memiliki virtue wisdom, courage, humanity, dan transcendence yang kuat juga memiliki tingkat kepuasan hidup yang tinggi, demikian pula sebaliknya. Sementara virtue justice, dan temperance tidak berhubungan dengan kepuasan hidup. Penemuan ini berkaitan dengan adanya faktor sosial budaya yang berperan dalam pembentukan karakter etnis Tionghoa di Kota Medan.
Salah satu kegiatan yang dilakukan etnis Tionghoa di Kelenteng adalah belajar mengenai kearifan hidup, seperti keseimbangan alam, tubuh, dan
spiritualitas. Etnis Tionghoa juga memiliki sebuah prinsip hidup etnis Tionghoa yaitu Ti, dimana manusia diajarkan berpikir bijaksana (Seligman, 2004;Sitanggang, 2010). Oleh karena itu, ajaran dan prinsip kehidupan ini membentuk virtue wisdom pada etnis Tionghoa yang pada penelitian ini memiliki hubungan positif dengan kepuasan hidup. Virtue wisdom adalah kekuatan kognitif yang memerlukan kemahiran dan penggunaan pengetahuan, yang dibentuk oleh karakter kreativitas, keingintahuan, keterbukaan pikiran, kecintaan belajar, dan persepektif (Seligman, 2004). Ada dua karakter pembentuk virtue wisdom yang berhubungan positif dengan kepuasan hidup,yaitu Keingintahuan dan Perspektif.
Budaya Tionghoa meyakini bahwa bakat itu tidak ada, yang ada hanya usaha dan keinginan, dalam hal ini mau mengumpulkan informasi, dan mau belajar (Emsan, 2012). Keyakinan inilah yang membuat etnis Tionghoa memiliki karakter Keingintahuan, yaitu adanya pengakuan dan ketertarikan terhadap hal-hal baru, ketidakpastian, dan tantangan yang dapat meningkatkan kemampuan pribadi dan interpersonal (Kashdan, Rose, & Fincham, 2002). Penelitian yang dilakukan oleh Cacioppo et al., 1996; Kashdan et al., 2002; Marshal, Wortman, Vickers, Kusulas, & Hervig, 1994; McCrae 1993-1994 menggambarkan ada hubungan unik antara karakter Keingintahuan dengan kepuasan hidup, meskipun tidak lebih lanjut dijelaskan (Seligman, 2004). Hal ini memperjelas hubungan antara Keingintahuan dengan Kepuasan Hidup.
Salah satu prinsip yang berkaitan dengan tujuan dan makna hidup adalah
―kaya dan berkedudukan adalah dambaan setiap orang, namun bila tidak bisa
tidak semata hanya mengejar hasil, akan tetapi proses yang baik dan sehat juga penting (Yusuf, 2000). Oleh karena itu, tujuan hidup saja tidak perlu, bila kita tidak memaknai arti kehidupan yang baik itu seperti apa. Filosofi tersebut membentuk karakter Perspektif pada etnis Tionghoa, dimana karakter Perspektif adalah kemampuan seseorang dalam memahami makna hidup, dan memaknai kehidupannya, dan orang yang tingkat kepuasan hidupnya tinggi adalah orang-orang yang memiliki tujuan dan makna hidup (Seligman, 2004).
Pada karakter Keingintahuan, ada 48 orang yang berada di kategori kuat, 5 orang di kategori lemah, dan 57 orang tidak terkategori. Hal ini menunjukkan bahwa karakter Keingintahuan patut dipertahankan oleh etnis Tionghoa untuk peningkatan kepuasan hidup. Karakter Perspektif, sebanyak 18 orang berada di ketegori kuat dalam karakter Perspektif, dan 14 orang berada di kategori lemah, dan 78 orang tidak terkategori. Hal tersebut menunjukkan bahwa karakter Perspektif harus ditingkatkan oleh etnis Tionghoa agar kepuasan hidup tetap terjaga.
Nilai budaya selanjutnya adalah sebuah filosofi pohon bambu yang diyakini etnis Tionghoa. Salah satu makna filosofi bambu adalah selama manusia mau berusaha dengan gigih, maka akan mencapai kesuksesan dan latar belakang seseorang tidak ada hubungannya dengan kesuksesan (Azizi, 2011). nilai yan terkandung di dalam filosofi ini menempa etnis Tionghoa untuk memiliki virtue courage dimana dalam penelitian ini courage berhubungan positif dengan kepuasan hidup. Virtue courage adalah kekuatan emosi yang melibatkan kemampuan dalam menuntaskan suatu tujuan dan dihadapkan pada perlawanan
atau pertentangan baik dari luar maupun dari dalam diri sendiri. Filosofi pohon bambu juga merupakan gambaran dari karakter Vitalitas yang juga berhubungan positif dengan kepuasan hidup. Karakter Vitalitas merupakan aspek well-being yang ditandai dengan pengalaman subjektif mengenai kekuatan dan aliveness (Ryan & Frederick, dalam Seligman & Peterson, 2004). Vitalitas berkaitan dengan melakukan aktivitas dengan semangat dan sepenuh hati. Menurut pendekatan activity teori, keterlibatan dalam aktivitas akan menyebabkan kebahagiaan, meskipun tidak semua aktivitas dapat meningkatkan subjective well being (Diener, 2009). Etnis Tionghoa memang dikenal sebagai etnis yang tidak setengah hati dan mereka konsisten melakukan apa yang ingin mereka capai (Emsan, 2012).
Pada karakter Vitalitas, ada 29 orang berada di katgeori kuat, 4 orang di kategori lemah, dan 77 orang tidak terkategori. Dilihat dari jumlah orang yang sedikit di kategori lemah dan banyaknya yang tidak terkategori mengindikasikan bahwa karakter Vitalitas layak dipertahankan dan bisa ditingkatkan.
Dalam budaya dan prinsip hidup Tionghoa, Jin (manusia harus memiliki cinta kasih) diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Sitanggang, 2010), salah satunya dengan membentuk perkumpulan untuk kalangan mereka sendiri, disinilah mereka saling berbagi keakraban, relasi, dan kekeluargaan (Emsan, 2012). Selanjutnya, prinsip Jin tercermin dari ritual pemberian angpau, dan membantu saudara yang kurang mampu. Sejalan dengan itu, menurut Fordyce (dalam Diener, 2009) kontak sosial dalam penggunaannya, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepuasan hidup dan subjective well being. Oleh karena
itu, prinsip Jin telah membentuk virtue humanity pada etnis Tionghoa dan di dalam penelitian ini keterlibatan prinsip Jin dalam kehidupan sehari-hari berhubungan positif dengan kepuasan hidup. Virtue humanity adalah kemampuan untuk menunjukkan kepedulian dan perhatian. Lebih lanjut, ada karakter pembentuk humanity ditemukan bahwa Cinta dan Kecerdasan Bermasyarakat berhubungan postif dengan kepuasan hidup. Diketahui bahwa ajaran Konfusius mengutamakan pengertian terhadap sesama, saling memberi dan menerima, serta simpati dan bersedia untuk berbagi (Muhammad, 2011). Dalam konteks sosial, etnis Tionghoa harus menjadi orang yang fleksibel seperti yang diajakan filosofi pohon bambu. Sebagai manusia kita tidak boleh kaku melainkan harus memiliki mental yang matang agar mampu beradaptasi dengan masyarakat. Hal inilah yang mengilhami etnis Tionghoa untuk berbagi cinta kasih dan menjalin hubungan dengan orang lain. Penemuan ini juga didukung oleh pendapat Seligman dan Peterson (2004), dimana individu yang memiliki kasih sayang dan kecerdasan bermasyarakat memiliki banyak dukungan dari teman dan keluarga mereka sehingga mereka akan puas dengan kehidupan mereka.
Pada karakter Cinta, ada 49 orang yang berada di kategori kuat, 61 orang tidak terkategori dan tidak ada satupun yang berada di kategori lemah. Banyaknya subjek yang berada dikategori kuat dan tidak terkategori menunjukkan bahwa karakter Cinta layak dipertahankan. Sementara pada karakter Kecerdasan Bermasyarakat, ada 20 orang yang berada di kategori kuat, 12 orang berada dikategori lemah, dan 78 orang tidak terkategori. Oleh karena itu, karakter Kecerdasan Bermasyarakat layak dipertahankan dan ditingkatkan oleh subjek.
Tradisi berbakti kepada orang tua maupun leluhur juga dimiliki etnsi Tionghoa. Salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur adalah melakukan pemujaan di Kelenteng, dan meletakkan foto leluhur di atas shio atau gambar dewa-dewi (Yusuf, 2000; Muhammad, 2011). Tradisi ini membentuk virtue transcendence pada etnis Tionghoa yang berhubungan positif dengan kepuasan hidup. Virtue Transcendence adalah kemampuan untuk menilai sesuatu secara positif, sehingga memberikan makna pada kehidupan individu tersebut dan membentuk hubungan dengan alam semesta sehingga memberikan makna bagi kehidupan individu. Karakter pembentuk virtue transcendence ,yaitu Harapan, dan Humor berhubungan positif dengan kepuasan hidup subjek.
Budaya Tionghoa, meyakini filosofi dari pohon bambu, yaitu ―sekalipun
bambu meliuk diterpa angin, namun dia tetap mempunyai pegangan, akar yang kuat menghunjam tanah. Sehingga ia tidak mudah roboh‖ (Tse, dalam Azizi,
2011). Etnis Tionghoa beranggapan bangkit dari keterpurukan adalah sifat yang harus dimiliki bila ingin sukses. Oleh karena itu, filosofi pohon bamboo juga membentuk karakter Harapan pada etnis Tionghoa, dimana mengaharapkan sesuatu yang terbaik terjadi dalam hidup kita, dan kita berusaha mencapainya dengan cara-cara yang diyakini agar dapat mempertahankan kegembiraan.
Di dalam kepercayaan dan buku-buku cerita etnis Tionghoa, mereka memiliki figur Dewa Hotei yang digambarkan sebagai laki-laki berkepala botak, tersenyum dengan perut buncit, mempunyai jambang dan dahi yang kecil. Etnis Tionghoa yang juga mempunyai seni budaya berpantun, tak-teki, palindrom, gurindam (Chunjiang, 2009). Penggambaran Dewa dan seni budaya tersebut
membentuk karakter Humor yaitu kemampuan individu untuk melihat sisi terang dalam kesulitan dengan mmepertahankan suasana hati yang baik. Oleh karena itu, karakter Humor dalam penelitian ini berhubungan positif dengan kepuasan hidup, selain karena faktor budaya, keterlibatan karakter Humor yang berkontribusi pada kepuasan hidup juga didukung oleh pendapat yang menyatakan bahwa humor dapat meningkatkan kesehatan psikologis (Cousins, dalam Seligman, 2004).
Penelitian ini menemukan, pada karakter Harapan ada 64 orang yang berada di kategori kuat, tidak ada seorang pun di kategori lemah, dan ada 46 orang yang tidak terkategori. Hal ini mengindikasikan bahwa karakter Harapan layak dipertahankan oleh subjek. Karakter Humor, jumlah di katgeori kuat dan tidak terkategori seimbang, yaitu 50 orang, dan ada 4 orang di katgeori lemah. Sehingga karakter Humor dapat ditingkatkan.
Seligman (2004) mengatakan bahwa walapun karakter berhubungan dan dapat berdampak pada kepuasan hidup seseorang akan tetapi, terkadang karakter tersebut bisa saja tidak disertai hasil positif pada kehidupan seseorang, akan tetapi karena budaya dan masyarakat menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang bernilai moral maka karakter tersebut tetap dinilai sebagai karakter positif karena faktor budaya.
Walaupun virtue justice dan temperance tidak berhubungan dengan kepuasan hidup akan tetapi masyarakat Tionghoa tetap mengembangkan virtue ini. Misalnya dalam prinsip kehidupan etnis Tionghoa yang kental dengan ajaran Konfusius, yaitu prinsip Gi yang artinya manusia harus menjunjung kebenaran (Sitanggang, 2010). Menurut ajaran ini manusia harus bertindak secara terhormat
dan mengontrol diri dalam segala hubungan personal daripada hanya untuk mengambil keuntungan diri sendiri (Seligman, 2004). Prinsip Gi ini sama dengan konsep pada virtue justice. Maka virtue justice dalam penelitian ini memang tidak berhubungan dengan kepuasan hidup, tetapi ia masih dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga inilah yang mengindikasikan meskipun masih mengalami diskriminasi kepuasan hidup etnis Tionghoa yang diteliti tetap terjaga. Apalagi adanya karakter Harapan dan Humor yang dapat membantu mengatasi dampak negatif dari diskriminasi.
Ajaran Konfusius yang juga masih dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari adalah manusia harus selalu rendah hati dan mampu mengontrol diri dalam bertindak (Seligman, 2004). Konsep memberikan muka juga dilibatkan dalam kehidupan sosial, artinya tidak hanya memafkan saja, tetapi juga memaklumi, mengingat jasa orang tersebut atau karena kerabatnya (Tong, 2011). Dalam ajaran Konfusius, demi kebaikan mental atau pikiran, manusia harus memaafkan kesalahan orang lain. Ajaran-ajaran inilah yang membentuk virtue temperance pada etnis Tionghoa dalam penelitian ini. Virtue temperance adalah menahan diri untuk melakukan sesuatu yang berlebihan. Etnis Tionghoa dalam penelitian ini memang tidak mengaitkan virtue temperance dengan kepuasan hidup akan tetapi nilai-nilai yang berkaitan dengan virtue temperance masih dihargai dan dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bahwa Kepuasan Hidup etnis Tionghoa yang menjadi subjek penelitian rata-rata di atas yang diperkirakan alat ukur. Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum subjek penelitian memiliki
kepuasan hidup yang tinggi. Jika dilihat dari aspek-aspek Kepuasan Hidup ditemukan bahwa ada 1 aspek yang berada di bawah rata-rata yaitu aspek Penilaian Orang Lain Terhadap kehidupan Seseorang. Hal ini dapat menghambat subjek penelitian memiliki penilaian kognitif yang lebih baik dan memuaskan atas kehidupannya. Secara keseluruhan, dari 110 subjek penelitian, didapatkan bahwa 44 orang (40%) dikategorisasikan pada kelompok yang memiliki kepuasan hidup tinggi, 53 orang (48%) dikategorisasikan pada kelompok yang memiliki kepuasan hidup sedang, dan 13 orang (11,8%) dikategorisasikan pada kelompok yang memiliki kepuasan hidup rendah.
Penelitian ini mendapati bahwa secara umum etnis Tionghoa memiliki kekuatan virtue wisdom, courage, humanity, justice, temperance, dan transendence yang kuat dari yang diperkirakan alat ukur. Artinya etnis Tionghoa yang menjadi subjek penelitian memiliki kekuatan virtue yang lebih besar yang digunakan dalam kehidupannya.
BAB V