Analisis yang digunakan untuk menguji keempat hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah analisis varians dua jalan. Hasil analisis data berdasarkan ANAVA 2 x 2 secara ringkas disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.20
Hasil Analisis Varians dari Kemampuan Pemecahan masalah dan Kemampuan pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas X MAS
Al-Washliyah 22 Tembung Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Model Pembelajaran Learning Cycle
Sumber Varian dk JK RJK F hitung F tabel (α 0,05) antr kolom (A) 1 235,200 235,200 4,322
3,923 antar baris (B) 1 313,633 313,633 5,763 Interaksi 1 80,033 80,033 1,471 antar klmpk 3 628,9 209,622 3,852 2,683 dlm klmpk 116 6312,600 54,419 ttl reduksi 119 6941,467 Kriteria Pengujian:
a. Karena Fhitung (A) = 4,322 > 3,923, maka terdapat perngaruh yang signifikan antar kolom. Ini menunjukkan bahwa terjadi pengaruh kemampuan siswa yang diajar menggunakan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD dan Model Pembelajaran Learning Cycle.
b. Karena Fhitung (B) = 5,763 > 3,923, maka terdapat pengaruh yang signifikan antar baris. Ini menunjukkan bahwa tidak terjadi pengaruh kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan pemehaman konsep matematika siswa.
Proses perhitungan bisa dilihat pada lampiran 18 halaman 201.
Setelah dilakukan analisis varians (ANAVA) melalui uji F dan koefisien Qhitung, maka masing-masing hipotesis dan pembahasan dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Hipotesis Pertama
Hipotesis penelitian: Tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model pembelajaran
Learning Cycle.
Hipotesis Statistik Ho: 𝜇𝐴1𝐵1 = 𝜇𝐴2𝐵1
Ha : 𝜇𝐴1𝐵1 ≥ 𝜇𝐴2𝐵1
Terima Ho, jika : FHitung< FTabel
Langkah selanjutnya adalah melakukan uji ANAVA satu jalur untuk mengetahui pengaruh antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD (A1) dan learning cycle (A2) terhadap pada kemampuan pemecahan masalah (B1). Rangkuman hasil analisis dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.21
Perngaruh antara A1 dan A2 yang terjadi pada B1 sumber varians dk JK RJK F hitung F table
antar kolom (A) 1 294,817 294,817 5,914 4,007 dalam kelompok 58 2891,367 49,851
total direduksi 59 3186,183 Berdasarkan hasil analisis uji F, diperoleh nilai FHitung = 5,914 dan nilai pada Ftabel pada taraf α(0,05) = 4,007. Dengan membandingkan nilai FHitung dengan nilai FTabel untuk menentukan kriteria penerimaan dan penolakan H0, diketahui bahwa nilai koefisien FHitung > FTabel. Hal ini berarti menolak Ho dan menerima Ha.
Berdasarkan hasil pembuktian hipotesis pertama ini memberikan temuan bahwa: kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle pada materi SPLTV.
b. Hipotesis Kedua
Hipotesis penelitian: Tingkat kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning
Cycle.
Hipotesis Statistik Ho: 𝜇𝐴1𝐵2 = 𝜇𝐴2𝐵2
Ha : 𝜇𝐴1𝐵2 ≥ 𝜇𝐴2𝐵2 Terima Ho, jika : FHitung< FTabel
Langkah selanjutnya adalah melakukan uji ANAVA satu jalur untuk mengetahui perbedaan antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD (A1) dan learning cycle (A2) terhadap pada kemampuan pemahaman konsep (B2). Rangkuman hasil analisis dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.22
Pengaruh antara A1 dan A2 yang terjadi pada B2
sumber varians Dk JK RJK F hitung F tabel antar kolom (A) 1 20,417 20,417 0,346 4,007 dalam kelompok 58 3421,233 58,987
Berdasarkan hasil analisis uji F, diperoleh nilai FHitung = 0,346, dan diketahui nilai pada Ftabel pada taraf α(0,05) = 4,007. Dengan membandingkan nilai FHitung dengan nilai FTabel untuk menentukan kriteria penerimaan dan penolakan H0, diketahui bahwa nilai koefisien FHitung < FTabel. Hal ini berarti menerima Ho dan menolak Ha.
Proses perhitungan bisa dilihat dilampiran 18 halaman 205.
Berdasarkan hasil pembuktian hipotesis kedua ini memberikan temuan bahwa: Kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD tidak lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning
Cycle pada materi SPLTV.
c. Hipotesis Ketiga
Hipotesis Penelitian: Tingkat kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD lebih baik daripada siswa yang diajar dengan menggunakan Model Pembelajaran
Learning Cycle.
Hipotesis Statistik Ho : 𝜇𝐴1 = 𝜇𝐴2
Ha : 𝜇𝐴1 ≥ 𝜇𝐴2 Terima Ho, jika : FHitung< FTabel
Berdasarkan hasil analisis uji F yang terdapat pada rangkuman hasil ANAVA sebelumnya, diperoleh nilai FHitung = 4,322 (model
pembelajaran) dan nilai FHitung = 5,763 (kemampuan pemecahan masalah dan pemahaman konsep) serta nilai pada Ftabel pada taraf α(0,05) = 3,923. Selanjutnya dilakukan perbandingan antara FHitung dengan FTabel untuk menentukan kriteria penerimaan dan penolakan Ho. Diketahui bahwa nilai koefisien FHitung > FTabel, hal ini berarti menerima Ha dan menolak Ho.
Proses perhitungan bisa dilihat dilampiran 18 halaman 204.
Dari hasil pembuktian hipotesis ketiga, hal ini memberikan temuan bahwa: Berdasarkan rata-rata nilai, maka siswa yang diajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD memiliki kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan pemahaman konsep siswa lebih tinggi dari siswa yang diajar menggunakan Model Pembelajaran Learning Cycle. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle pada materi SPLTV.
Tabel 4.23
Rangkuman Hasil Analisis
No. Hipotesis Statistik Temuan Kesimpulan 1. H0 : 𝜇𝐴1 = 𝜇𝐴2 Ha : 𝜇𝐴1 ≥ 𝜇𝐴2 Kemampuan pemecahan masalah Matematika siswa yang diajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD lebih baik Secara keseluruhan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa
yang diajar dengan Menggunakan model
No. Hipotesis Statistik Temuan Kesimpulan daripada siswa yang diajar dengan Model Pembelajaran Learning Cycle pada
materi SPLTV Pembelajaran Reciprocal Teaching pada materi kubus dan balok.
Kooperatif Tipe STAD
lebih baik daripada siswa yang diajar
dengan model Model Pembelajaran Project Based Learning lebih baik daripada siswa yang diajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Learning
Cycle Pada materi SPLTV. Dengan model
Learning Cycle,
mendorong siswa untuk memiliki kemampuan membangun
pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar kelompok. 2. H0: 𝜇𝐴1𝐵1 = 𝜇𝐴2𝐵1 Ha : 𝜇𝐴1𝐵1 ≥ 𝜇𝐴2𝐵1 Kemampuan pemahaman konsep Matematika siswa yang diajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD tidak lebih baik siswa yang diajar dengan Model Learning Cycle pada materi SPLTV.. Secara keseluruhan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan
menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning tidak lebih baik daripada siswa yang diajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project pada materi Turunan. Penggunaan Model Project Based Learning dan
Model Kooperatif
Tipe STAD tidak lebih
baik daripada siswa yang diajar dengan menggunakan model
learning Cycle pada
materi SPLTV. Penggunaan model
Kooperatif dan Model Learning Cycle untuk
pemahaman konsep matematika siswa tidak jauh berbeda. 3. H0 : 𝜇𝐴1𝐵2 = Kemampuan
pemecahan
No. Hipotesis Statistik Temuan Kesimpulan 𝜇𝐴2𝐵2 Ha : 𝜇𝐴1𝐵2 ≥ 𝜇𝐴2𝐵2 masalah dan kemampuan pemahaman konsep Matematika siswa yang diajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD lebih baik daripada siswa yang diajar dengan Model Pembelajaran Learning Cycle pada
materi SPLTV. Pembelajaran Reciprocal Teaching pada materi kubus dan balok.
kemampuan
pemecahan masalah dan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan menggunakan
Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD
lebih baik daripada siswa yang diajar dengan menggunakan
model pembelajaran
Learning Cycle.