kewaspadaan standarM
HASIL PENELITIAN
4.2. Hasil Analisis Bivariat
Dilakukan analisisi bivariat untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku responden dengan karakteristik responden. Untuk hal ini tingkat PSP kurang dan cukup dijadikan satu dan dibandingkan dengan tingkat PSP baik.
Tabel 4.3. Hubungan Karakteristik Responden Dengan Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan kurang/cukup Penegetahuan baik Odds ratio Iterval kepercayaan 95% p n % n % Jenis kelamin Laki-laki 36 94.7 2 5.3 ref Perempuan 54 90.0 6 10.0 2 0.4-10.5 0,404 Status mahasiswa
Calon coass 56 94.9 3 5.1 ref
Coass 34 87.2 5 12.8 2.8 0.7-12 0.171
.
Berdasarkan tabel di atas baik mahasiswa sedang coass dan calon coass sama-sama mempunyai persentase yang tinggi untuk kategori kurang/cukup terhadap kewaspadaan standar yaitu 94.9% dan 87.2%. meskipun yang sedang menjalani coass sedikit lebih tinggi persentase kategori baik-nya yaitu 12.8% berbanding dengan 5.1% tetapi tidak bermakna (p = 0,171) (p>0,05).
Berdasarkan tabel di atas, tidak ditemukan perbedaan bermakna antara tingkat pengetahuan laki-laki dengan perempuan, karena p = 0,404 (p>0,05). Mahasiswa laki-laki dan perempuan sama-sama mempunyai persentase yang tinggi untuk kategori kurang/cukup terhadap kewaspadaan standar yaitu 94.7%
Sedang Coass
Int
dan 90%. meskipun mahasiswa perempuan sedikit lebih tinggi persentase kategori baik-nya yaitu 10% berbanding dengan 5.3%.
Tabel 4.4 Hubungan Karakterisik Dengan Tingkat Sikap
Sikap kurang/cukup
Sikap baik Odds
ratio Iterval kepercayaan 95% p n % n % Jenis kelamin Laki-laki 14 36.8 24 63.2 ref Perempuan 25 41.7 35 58.3 0.82 0.36-1.9 0,634 Status mahasiswa
Calon coass 35 59.3 24 40.7 ref
Coass 4 10.3 35 89.7 12.8 4-40 0.000
Berdasarkan tabel di atas, tampak terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat sikap terhadap kewaspadaan standar pada mahasiswa sedang coass dan calon coass. Mahasiswa sedang coass mempunyai sikap baik 12,8 kali dibandingkan calon coass (OR=12,8, p= 0,000). Mahasiswa yang sedang coass, 89.7% menunjukkan sikap baik, sedangkan untuk calon coass 40.7%.
Pada tabel di atas, tampak proporsi mahasiswa laki-laki dan perempuan yang menunjukkan sikap baik terhadap kewaspadaan standar, tidak jauh berbeda, yaitu 60.3% dan 58.3%. meskipun yang laki-laki sedikit lebih tinggi persentase kategori baik-nya namun tidak bermakna (p>0,05)
Sedang Coass Sedang Coass
Tabel 4.5 Hubungan Karakterisik Responden Dengan Tingkat Perilaku
Perilaku kurang/cukup
Perilaku baik Odds
ratio Iterval kepercayaan 95% p n % n % Jenis kelamin Laki-laki 10 25.6 18 41 Ref Perempuan 18 30.5 41 69.5 0.542 0.3-1.4 0.194 Status mahasiswa
Calon coass 23 39 36 61 Ref
Coass 5 12.8 34 87.2 7.6 2.7-21.7 0,000
Berdasarkan tabel di atas, tampak perbedaan yang bermakna antara perilaku baik terhadap kewaspadaan standar antara mahasiswa sedang coass dan calon coass (p=0,000). Perilaku kategori baik untuk mahasiswa yang sedang coass adalah 87.2%, sedangkan calon coass tahun ini adalah 61.0%. Mahasiswa yang sedang coass, perilaku baik 7,6 kali dibandingkan mahasiswa calon coass.
Pada tabel di atas juga dapat dilihat, bahwa perempuan lebih tinggi persentase yang masuk kedalam kategori baik, yaitu 69.5%, dibandingkan laki=laki hanya 41% namun belum dapat dikatakan berbeda bermakna (p=0,194)
Sedang Coass
BAB V. PEMBAHASAN
Orang yang menerima maupun memberikan perawatan kesehatan baik di rumah sakit maupun klinik mempunyai risiko terkena penyakit infeksi, kecuali menerapkan kewaspaadaan untuk pencegahan infeksi tersebut. Penyakit infeksi yang terjadi di RS adalah masalah yang signifikan dan berkembang di seluruh dunia. Contohnya, infeksi yang terjadi di RS angka kejadiannya berkisar antara 1% untuk di negara-negara bagian Eropa dan Amerika Serikat, dan 40% lebih di sebagian Negara Asia, Amerika Latin, dan Afrika.5
Salah satu yang berperan penting dalam masalah ini adalah pendidikan, banyak sekali kejadian-kejadian yang terjadi karena rendahnya pendidikan orang yang bersangkutan terhadap kewaspadaan standar. Di Amerika ditemukan lebih dari 800.000 luka tusuk jarum setiap tahunnya. Akhirnya dilakukan usaha dan edukasi yang bertujuan untuk menurunkan angka luka tusuk jarum. Usaha itu antara lain adalah:
Mengurangi penggunaan jarum suntik yang tidak perlu dan tidak aman.
Memberikan pelatihan kepada petugas untuk segera membuang jarum yang telah pakai ke dalam tempat sampah khusus kedap jarum tanpa menutupnya terlebih dahulu sepertiga dari angka kejadian tusuk jarum adalah saat pekerja melakukan penutupan jarum suntik.
Menempatkan tempat sampah kedap jarum di tempat yang terjangkau.
Bagaimanapun juga di berbagai negara berkembang yang masih sangat minim pengetahuan dan kesadarannya terhadap kewaspadaan standar, risiko terjadinya infeksi terhadap tenaga kesehatan lebih tinggi dibandingkan negara lainnya. Terlebih lagi beberapa komponen kewaspadaan standar tidak dapat dilakukan pada pihak yang mempunyai tingkat ekonomi yang rendah, karena terbatasnya sarana dan fasilitas. Untuk menutupi kekurangan itulah para pekerja kesehatan wajib memahami dan menerapkan kewaspadaan standar semaksimal mungkin saat bekerja. 5
Menurut hasil penelitian, pengetahuan mahasiswa kedokteran UIN-SH mengenai kewaspadaan standar masih tergolong rendah yaitu dari 98 responden yang terdiri dari mahasiswa angkatan 2005-2007 yang diambil secara acak, 90 orang atau 91.8% mempunyai tingkat pengetahuan mengenai kewaspadaan standar yang termasuk kategori kurang/cukup atau yang hasil tesnya kurang dari 80. Pada data didapatkan semakin tinggi angkatan semakin besar pula persentase yang masuk kategori baik. Mungkin ini memang disebabkan karena perbedaan pengalaman dan juga tenaga ajar di RS yang lebih banyak mengajarkan maupun memberikan contah yang baik terhadap kewaspadaan standar.
Perbandingan pengetahuan antara mahasiswa yang sedang coass dan calon coass, perbedaannya tidak cukup bermakna. Yang masuk kategori baik di mahasiwa sedang coass adalah 12.8% dan calon coass adalah 5.1%. Menurut tabel chi-square perbedaan persentase ini dengan jumlah responden yang demikian, tidak bermakna. Begitu juga perbandingan laki-laki dan perempuan dari hasil penelitian ini tidak didapatkan perbedaan yang bermakna dari segi pengetahuan terhadap kewaspadaan standar.
Perilaku mahasiswa terhadap kewaspadaan standar pada mahasiswa kedokteran UIN-SH tergolong cukup baik dimana 60.2% termasuk kategori baik. Namun terdapat perbedaan yang bermakna antara mahasiswa yang sedang coass dengan calon coass. Didapatkan bahwa 40.7% mahasiswa calon coass yang masuk dalam kategori baik, sedangkan 89.7% mahasiswa sedang coass masuk kedalam ketegori baik dari segi perilaku terhadap kewaspadaan standar. Perbedaan ini menurut tabel chi-square merupakan perbedaan yang bermakna.
Hal di atas mungkin didapatkan karena lebih besarnya kesadaran mahasiswa yang sedang coass lebih besar karena telah menjalaninya secara langsung, dan mengerti bahaya dan ruginya akan kecerobohon yang dapat mengakibatakn infeksi di RS. Untuk masalah sikap laki-laki yang masuk kedalam kategori baik lebih tinggi sedikit dibandingkan perempuan, namun perbedaan ini tidak bermakna.
Penilaian perilaku kewaspadaam standar dalam penelitian ini hanya dilakukan berdasarkan hasil jawaban dari kuesioner saja, memang ini adalah salah
satu kekurangan dalama penelitian ini. Menurut peneliti, untuk menilai perilaku sebaiknya adalah dengan pengamatan perilaku mahasiswa sehari-hari. Hasilnya adalah hanya 24 dari 98 mahasiswa (24.5%) yang masuk kedalam kategori baik terhadap kewaspadaan standar.
Hasil ini seperti yang disebutkan di atas dinilai dari hasil jawaban kuesioner yang diberikan. Di sini hanya yang mendapatkan nilai 100% yang masuk kategori baik. Menurut peneliti adalah karena perilaku menjadi tujuan utama pelatihan ataupun pengajaran tentang kewaspadaan standar, dan juga terjadinya infeksi tidak dapat diduga. Apabila perilakunya hanya mendapat nilai 90%, bisa saja saat dimana 10%-nya itulah terjadi hal yang tidak terduga. Bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain, baik itu pasien atau tenaga kerja kesehatan lainnya (contoh: petugas kebersihan).
Ditemukan perbedaan bermakna antara yang sedang coass dan calon coass, dimana mahasiswa yang sedang coass terdapat 46.2% yang masuk kedalam kategori baik, dan untuk mahasiswa calon coass hanya 10.2%. Dilihat berdasarkan jenis kelamin laki-laki mempunyai persentase sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan, sehingga diambil kesimpulan bahwa perilaku terhadap kewaspadaan standar di Fakultas Kedokteran UIN-SH, antara laki-laki dan perempuan tidak terdapat perbedaan bermakna.
Di atas sudah disinggung bahwa kenapa mahasiswa tidak melakukan kewaspadaan standar yang sesuai adalah mungkin keterbatasan alat yang disediakan oleh institusi pendidikan, baik dari kampus maupun pihak rumah sakit. Berikut adalah tabel yang menunjukan berapa jumlah mahasiswa yang merasa tidak dapat menjalani kewaspadaan standar karena keterbatasan alat dari pihak institusi pendidikan, baik itu universitas maupun rumah sakit.
Tabel.5.1 Distribusi Responden Yang Merasa Kurang Tersedianya Komponen Kewaspadaan Standar Oleh Institusi Pendidikan.
Ket: Apabila terdapat 1 atau lebih jawaban dari 5 pertanyaan yang menyatakan kurang tersedianya komponen kewaspadaan standar maka dianggap masuk kategori “kurang tersedia”.
Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa yang merasa kurang tersedianya komponen kewaspadaan standar baik di rumah sakit (untuk mahasiswa sedang coass) maupun di kampus (untuk mahasiswa calon coass) adalah sebesar 18.4%. Jika dihubungkan dengan perilaku mahasiswa UIN-SH terhadapa kewaspadaan standar, maka kita akan mendapatkan hasil seperti berikut: dari 98 mahasiswa FK UIN-SH 70 (71.4%) masuk kategori perilaku baik terhadap kewaspadaan standar, dan 28 (28.6%) masuk ke kategori kurang/cukup. Namun dari ke 28 mahasiswa tersebut 18 (64.3%) diantaranya merasa tidak dapat menerapkan kewaspadaan standar dengan baik karena keterbatasan alat yang disediakan oleh institusi pendidikan.
VI.KESIMPULAN
1. Tingkat pengetahuan terhadap kewaspadaan standar mahasiswa kedokteran UIN-SH 8.2% yang tergolong baik 8.2%, cukup 57.1% dan kurang 34.7%.
2. Tingkat sikap terhadap kewaspadaan standar mahasisawa kedokteran UIN-SH yang tergolong baik 60.2%, cukup 28.6% dan kurang 11.2%. 3. Tingkat perilaku terhadap kewaspadaan standar kedokteran UIN-SH
yag tergolong baik 71.4%, cukup 18.4% dan kurang 10.2%.
4. Tidak ditemukan perbedaan bermakna antara tingkat pengetahuan mahasiswa sedang coass dengan calon coass, namun terdapat perbedaan bermakna pada sikap dan perilaku antara mahasiswa yang sedang coass dan calon coass.
5. Tidak ditemukan perbedaan bermakna antara jenis kelamin mahasiswa dari segi pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap kewaspadaan standar.
VII. SARAN
1. Mahasiswa perlu dibekali dengan pengetahuan yang lebih baik mengenai kewaspadaan standar.
2. Sikap dan perilaku mengenai kewaspadaan standar perlu ditingkatkan, dengan supervisi dari staf pengajar, maupun staf Rumah Sakit, agar mahasiswa dapat terlindung dari penularan penyakit infeksi di tempat kerja
3. Mahasiswa perlu disediakan alat pelindung diri yang cukup, agar dapat menunjukkan perilaku kewaspadaan standar yang baik