• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.2.1. Hasil Analisis

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan persentase responden yang menderita kelelahan mata cenderung lebih tinggi pada responden wanita yakni sebesar 84,6% (33 dari 39 responden) daripada pria sebesar 78% (32 dari 41 responden). Hal ini sejalan dengan penelitian Dinesh J. Bhanderi et al., (2008) pada pengguna

28

komputer di India yang menyatakan bahwa persentase responden yang mengalami kelelahan mata cenderung lebih tinggi pada wanita yakni 47,1% (66 dari 140 responden) dibandingkan pria 45,9% (128 dari 151 responden). Hal ini berbeda dengan penelitian Cheng-Cheng Han et al., (2013) di Fakultas Kedokteran Universitas Jiaotong, Cina mendapatkan pada mahasiswa yang mengalami kelelahan mata lebih besar pada laki-laki (58,7%) daripada mahasiswa wanita (41,3%). Menurut Cheng-Cheng Han et al., (2013) hal tersebut dimungkinkan karena adanya faktor aktifitas sehari-hari seperti merokok, minum-minuman beralkohol dan aktifitas fisik. Menurut penelitian Yeni Anggraini (2013) menyatakan bahwa perempuan memiliki 28 faktor resiko lebih besar daripada laki-laki karena penurunan akomodasi yang lebih besar pada perempuan dan faktor hormonal yakni sekresi komponen lipid oleh kelenjar Meibom dan Zeis antara lain dipengaruhi oleh faktor androgen seperti testosteron yang dapat meningkatkan sekresi, sedangkan faktor estrogen akan menekan sekresi kelenjar tersebut.

Semakin tua titik dekat mata semakin menjauh dan sulit melihat jarak dekat pada usia 40-50 tahun akibat penurunan daya akomodasi otot-otot mata. Peneliti mendapatkan persentase responden yang menderita kelelahan mata cenderung sedikit lebih tinggi pada kelompok responden dengan umur 40 tahun sebesar 81,9% (18 dari 22 responden) daripada responden dengan usia <40 tahun sebesar 81% (47 dari 58 responden). Hal yang sama juga terlihat pada penelitian Iwan Setiawan (2012) pada pengguna komputer di PT. Surveyor Indonesia menyatakan bahwa persentase responden yang mengalami keluhan kelelahan mata lebih tinggi pada responden yang berusia 40 tahun sebesar 93,7% (15 dari 16 responden) dibandingkan dengan responden yang berusia <40 tahun sebesar 81,7% (67 dari 82 responden). Hal ini sejalan juga dengan penelitian Noer Haeny (2009) pada

radar controller di PT. Angkasa Pura II (Persero) Cabang Utama Bandara

Soekarno-Hatta, Tangerang tahun 2009 didapatkan bahwa persentase responden dengan umur 40 tahun cenderung lebih tinggi mengalami kelelahan mata yakni sebanyak 33 responden 86,8% (33 dari 38 responden) daripada responden dengan

29

Kelainan refraksi merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kelelahan mata. Namun dalam penelitian ini peneliti mendapatkan persentase responden yang menderita kelelahan mata cenderung lebih tinggi pada kelompok responden tidak mengalami kelainan refraksi yakni sebesar 82,4% (14 dari 17 responden) dibandingkan dengan responden yang mengalami kelainan refraksi yakni 81% (51 dari 63 responden). Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian Noer Haeny (2009) pada radar controller di PT. Angkasa Pura II (Persero) Cabang Utama Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang tahun 2009 didapatkan bahwa persentase responden yang mengalami kelelahan mata lebih tinggi pada responden yang memiliki gangguan refraksi mata yakni 88,9% (24 dari 27 responden) dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki gangguan penglihatan yakni 84,8% (28 dari 33 responden). Pada penelitian Depita Meriyani (2014) pada pengguna komputer di PT. Bukit Asam Persero, TBK UPTE tahun 2014 juga memperoleh hal yang berbeda yakni persentase responden yang mengalami kelelahan mata lebih tinggi pada responden yang mengalami kelainan refraksi yakni 78,9% (30 dari 38 responden) daripada responden yang tidak mengalami kelainan refraksi mata yaitu 74% (37 dari 50 responden). Hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi kelelahan mata.

Pemakaian komputer secara terus-menerus dalam waktu yang lama merupakan faktor resiko terjadinya kelelahan mata. Seperti pada penelitian ini peneliti mendapatkan bahwa seluruh responden pada penelitian ini bekerja dengan durasi >4 jam per hari dengan persentase lebih tinggi pada responden yang mengalami kelelahan mata yakni 81,3% (65 dari 80 responden) dan yang tidak mengalami kelelahan mata adalah 18,7% (15 dari 80 responden). Hal ini terlihat sama pada penelitian Wiga Virgian Utami (2014) pada karyawan Harian Sumatera Ekspres Group Palembang tahun 2014 yang mendapatkan persentase keluhan CVS lebih besar dialami responden dengan durasi kerja 4 jam yakni 66,1% (37 dari 56 responden) daripada responden yang berkerja <4 jam yakni sebesar 43,6% (17 dari 39 responden). Hal ini terlihat pula dalam penelitian Dinesh J. Bhanderi et al., (2008) pada pengguna komputer di India yang menyatakan bahwa persentase responden yang mengalami keluhan kelelahan mata cenderung lebih

30

tinggi pada responden yang bekerja >40 jam/minggu yakni 50,8% (64 dari 126 responden) daripada responden dengan lama kerja 40 jam/minggu yakni sebesar 44,4% (130 dari 293 responden). Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama durasi bekerja maka tingkat resiko mengalami kelelahan mata akan semakin tinggi. Mata akan berakomodasi dan berkonvergensi agar dapat melihat dan memfokuskan benda yang dekat. Bila dalam waktu yang lama otot-otot mata akan bekerja lebih keras dan dapat menyebabkan mata lelah (Nourmayanti D., 2009).

Masa kerja didepan komputer merupakan faktor yang mempengaruhi kerja otot-otot akomodasi mata. Pada penelitian ini peneliti mendapatkan persentase responden yang menderita kelelahan mata cenderung lebih tinggi pada kelompok responden yang bekerja > 4 tahun yakni sebesar 82,6% (57 dari 69 responden) daripada responden yang bekerja 4 tahun yakni 72,7% (8 dari 11 responden). Hal ini sesuai dengan penelitian Wiga Virgian Utami (2014) pada karyawan Harian Sumatera Ekspres Group Palembang tahun 2014 yang mendapatkan persentase keluhan CVS lebih tinggi dialami responden dengan masa kerja 4 tahun yakni 69,8% (37 dari 53 responden) daripada responden yang bekerja 4 tahun sebesar 40,5% (17 dari 42 responden). Hal ini sejalan pula dengan penelitian Noer Haeny (2009) pada radar controller di PT. Angkasa Pura II (Persero) Cabang Utama Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang tahun 2009 didapatkan bahwa persentase responden dengan masa kerja 4 tahun yakni 87,5% (49 responden dari 56 responden) lebih tinggi dari responden dengan masa kerja < 4 tahun yaitu 75% (3 responden dari 4 responden). Berdasarkan 2 penelitian sebelumnya mendapatkan bahwa semakin lama responden bekerja maka akan semakin tinggi faktor resiko untuk terkena kelelahan mata.

Pemakaian antiglare dapat mengurangi banyaknya radiasi cahaya komputer yang masuk kemata. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mendapatkan seluruh responden pada penelitian ini bekerja dengan pemakaian komputer tanpa

anti-glare. Persentase responden yang mengalami kelelahan mata lebih tinggi yakni

81,3% (65 dari 80 responden) dan responden yang tidak mengalami kelelahan mata sebanyak 15 responden (18,7%). Hal yang sama juga terlihat dalam

31

Indonesia menyatakan bahwa persentase responden yang mengalami keluhan kelelahan mata lebih tinggi pada responden yang tidak menggunakan anti-glare yakni sebanyak 84,6% (77 dari 91 responden) daripada yang menggunakan

anti-glare yakni 71,4% (5 dari 7 responden).

Dokumen terkait