• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil analisis data mengenai peran Public Relations dalam Program CSR Patra Jasa Anyer Beach Resort, terdapat empat peran PR dalam perusahaan yang dikemukakan oleh Rosadi Ruslan, yaitu sebagai communicator, relationship, back up

management dan good image maker. Adapun data yang didapat dari hasil observasi

yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa humas Patra Jasa telah berperan sebagai communicator dimana pihaknya memiliki kemampuan komunikasi secara lisan kepada masyarakat sekitar dan para nelayan.

Hal ini diperkuat dengan wawancara yang dilakukan kepada informan, Bapak Sarmana:

“Hubungan kami dengan Patra Jasa Anyer baik. Patra Jasa memberikan tempat untuk kami menaruh perahu. Selain itu juga Pak Harry kadang suka main kesini untuk ngobrol-ngobrol. Ya baik-baik saja.”

Hal senada juga diungkapkan oleh key informan,Bapak Hadi Soemarno: “Patra Jasa Anyer Beach Resort tidak pernah memiliki masalah atau memiliki

track record yang buruk dengan KUB Ketapang. Justru sebaliknya, Patra Jasa Anyer

Beach Resort berhubungan baik dengan KUB Ketapang. Kami seringkali disuguhi hasil tangkapan nelayan KUB Ketapang yang sudah dimasak dan kita makan bersama.”

Penuturan dari key informan diperkuat oleh keterangan dari informan lain, Bapak Sehabudin:

“Hubungannya baik, tidak ada masalah. Ya saling membantu dan rukun-rukun saja.”

Dalam mengimplementasikan program CSR, ada beberapa tahap-tahap yang dapat dilakukan oleh perusahaan, yaitu tahap perencanaan, tahap implementasi,

internalisasi, tahap evaluasi dan tahap pelaporan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan kepada key informan dan informan, Patra Jasa Anyer Beach Resort telah melakukan beberapa tahap-tahap tersebut. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaan

Dalam tahap ini ada tiga langkah utama, yang pertama adalah awareness

building, dimana Patra Jasa Anyer Beach Resort menyadari pentingnya arti CSR

dan komitmen perusahaan. Hal ini tertuang dalam tata nilai perusahaan, yaitu

Envirenmental & Social Responsibility yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh

segenap karyawan PT Patra Jasa. Selain itu, tata nilai ini turunkan menjadi prinsip kebijakan CSR dan mengerucut pada program kerja CSR.

Dari hasil wawancara yang dilakukan, terdapat beberapa program CSR yang telah dilakukan, antara lain seperti yang dikemukakan oleh key informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Secara umum Patra Jasa Anyer telah melakukan beberapa kegiatan CSR sama dengan unit hotel lainnya. Kalau dari segi pendidikan kita memberikan peralatan sekolah ke 50 siswa/i SD, SMP dan SMA yang datanya kita dapat dari Kepala Desa Tambang Ayam. Beliau yang mengumpulkan data dari sekolah-sekolah yang berada di desa ini. Dari segi kepedulian lingkungan, kita biasanya ikut partisipasi dalam kerja bakti, terus kalau ada kegiatan-kegiatan masyarakat, kita pasti bantu dengan tenaga ataupun materi walaupun nilainya tidak seberapa. Kegiatan lainnya terkait pemberdayaan masyarakat kita merekrut warga di sini untuk kerja di hotel. Selain itu juga kita memberikan bantuan kapal motor ke paguyuban nelayan Desa Tambang Ayam yang dinamai KUB Ketapang.”

Penuturan dari Bapak Hadi Soemarno juga dikuatkan oleh penuturan dari

“Ya Patra Jasa Anyer setiap tahunnya selalu melakukan CSR, mulai dari yang kecil seperti partisipasi kegiatan kerja bakti atau kegiatan sosial lainnya, pemberian bantuan untuk renovasi masjid, terus bantuan penerangan listrik dan bantuan lainnya. Selain itu Patra Jasa Anyer juga memberikan bantuan peralatan sekolah kepada siswa/i SD, SMP dan SMA, jumlahnya ada 50 orang. Terakhir yang Patra Jasa Anyer lakukan itu berupa pemberian kapal motor ke kelompok nelayan Ketapang.”

Langkah kedua adalah CSR assessment. Patra Jasa Anyer Beach Resort memetakan kondisi perusahaan dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu mendapat prioritas. Dari langkah ini Patra Jasa Anyer Beach Resort mendapatkan data bahwa ada paguyuban atau kelompok nelayan yang berada di dekat hotel yang perlu dibantu. Hal ini sesuai dengan penuturan dari key informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Unit hotel Patra Jasa yang berada di pinggir pantai ada dua, yaitu Patra Anyer dan Patra Bali. Tetapi program CSR yang dilakukan Patra Jasa Bali terkait dengan pemberdayaan masyarakat dilakukan kepada petani organik yang letaknya cukup jauh dari lokasi hotel, sekitar 2 jam perjalanan. Dan disana juga memang jarang ada nelayan karena lokasinya yang berada di pinggir Pantai Kuta. Jadi baru Patra Jasa Anyer yang memberdayakan masyarakat yang berada sangat dekat dengan lokasi hotel. Tahap awal pasti kami melakukan identifikasi masalah dulu. Melihat bagaimana kondisi di lingkungan sekitar hotel.”

Dari hasil identifikasi tersebut, Patra Jasa Anyer Beach Resort merumuskan program CSR untuk mengatasi masalah yang dihadapi para nelayan KUB Ketapangm yaitu dengan pemberian bantuan kapal motor. Hal ini diungkapkan langsung oleh key informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Yang kami lakukan adalah melakukan komunikasi dan identifikasi dari masalah yang kami temukan. Kemudian kami buat program untuk mengatasi masalah tersebut. Mengapa memberikan kapal motor, karena memang benda

itulah yang sangat mereka butuhkan. Sebelumnya kami sudah identifikasi apa yang dibutuhkan oleh para nelayan. Dan setelah kami lakukan pengamatan dan wawancara santai dengan mereka, diketahui bahwa perahu adalah kendala yang mereka hadapi saat ini. Lagipula, kami menilai bahwa perahu merupakan alat utama untuk mencari ikan. Kalau tidak ada perahu, bagaimana bisa ke tengah laut dan membawa hasil laut ke darat.”

Penuturan dari Bapak Hadi Soemarno ditambahkan dengan keterangan yang peneliti dapat dari key informan lain, Bapak Harry Muradz:

“Pertama, karena alat itulah yang mereka butuhkan sesuai dengan identifikasi masalah yang kami lakukan. Kedua, kapal motor yang kami berikan bukan lagi berbahan kayu tetapi fiber. Bahan fiber lebih kuat sehingga masa penggunaannya juga lebih panjang, bisa sampai satu minggu. Patra Jasa Anyer Beach Resort memilih KUB Nelayan Ketapang karena identifikasi yang kami lakukan yaitu kepada KUB tersebut.”

Selain itu, pemberian bantuan ini juga dilakukan karena belum ada hotel atau instansi lain yang memberikan bantuan serupa. Hal ini diutarakan oleh informan, Bapak Sarmana:

“Selama ini sih belum pernah ada yang kasih bantuan ke kita. Paling bantuan ke sekolah-sekolah atau yayasan. Dari hotel lain juga belum ada, paling cuma kunjungan dari kantor dinas daerah sini.”

Penjelasan dari informan juga dikuatkan dengan keterangan dari key

informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Kalau untuk Patra Jasa, ini merupakan program baru. Sama halnya dengan hotel lain yang menjadi kompetitor. Saya perhatikan hotel-hotel lain di kawasan Anyer juga belum pernah melakukan kegiatan ini.”

Atas dasar itu maka Patra Jasa Anyer melaksanakan program CSR berupa pemberian bantuan kapal motor kepada KUB Nelayan Ketapang.

Menurut Cutlip-Center-Broom, terdapat empat langkah implementasi program, yaitu pada tahap awal langkah ini adalah menentukan masalah. Para nelayan masih menggunakan perahu berbahan kayu sebagai alat transportasi untuk mendapatkan hasil tangkapan laut. Oleh karena itu, Patra Jasa Anyer Beach Resort melakukan perencanaan dan penyusunan program untuk mengatasi masalah tersebut.

Adapun program yang direncanakan dan disusun oleh Patra Jasa Anyer adalah pemberian bantuan kepada para nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ketapang. KUB nelayan ini dipilih karena lokasi tempat perkumpulan mereka persis berada di sebelah hotel dan juga nelayan yang tergabung dalam KUB tersebut merupakan masyarakat desa di sekitar lokasi hotel.

Terkait dengan tahapan melakukan tindakan dan berkomunikasi, Patra Jasa Anyer Beach Resort melakukan tindakan berupa pemberian kapal motor kepada KUB nelayan Ketapang, sesuai dengan kebutuhan utama dan keluhan mereka tentang minimnya alat transportasi untuk mencari hasil tangkapan laut.

Hal ini diungkapkan oleh key informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Sebagai awal, kami memberikan 4 buah kapal motor, nantinya akan ada program lanjutan. Hal ini juga sejalan dengan prinsip CSR yaitu pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Dan ada manfaat dari jumlah 4 tadi. Karena kurang, mereka menyisihkan uang hasil melaut untuk membuat kapal motor baru yang juga terbuat dari fiber. Hal itulah yang kami harapkan. Kami ingin mengajak para nelayan untuk

tidak manja, hanya menunggu bantuan tetapi juga berusaha memperbaiki kehidupan mereka dengan kemampuan yang dimiliki.”

Pada tahap implementasi ini, Patra Jasa Anyer Beach Resort mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan PT Patra Jasa sebagai induk unit hotel Patra Jasa Anyer Beach Resort dan juga sosialisasi ke karyawan Patra Jasa Anyer Beach Resort mengenai implementasi program CSR yang dilaksanakan.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada key informan¸ Bapak Harry Muradz, didapatkan informasi sebagai berikut:

“Pihak-pihak yang terkait secara langsung antara lain GM Patra Jasa Anyer Beach Resort, kemudian staf humas dari kantor pusat. Selain itu, para nelayan KUB Ketapang sendiri dan juga Kepala Desa Tambang Ayam yang turut membantu proses pelaksanaan bantuan CSR ini.”

Hal ini dibenarkan oleh key informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Pihak yang terlibat tidak banyak. Hanya saya selaku perwakilan dari kantor pusat, GM Patra Jasa Anyer Beach Resort dan staf maintenance, Pak Achmad yang menjadi penghubung pertama saya dengan para nelayan tersebut.”

Penuturan kedua key informan tersebut ditambahkan oleh informan, Bapak Sehabudin:

“Ada Pak Hadi dari kantor pusat sama Pak Harry, Kalau Pak Harry bos di Patra Anyer.”

Hal yang sama juga diungkapkan oleh informan lain, Bapak Samsuri: “Pak Harry. Kalau tidak salah pangkatnya diatas manajer di Patra Anyer. Satu lagi Pak Hadi yang dari Patra Pusat.”

Adapun anggaran yang digunakan untuk mengadakan 4 buah kapal motor berasal dari anggaran PT Patra Jasa, seperti yang diungkapkan oleh key

informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Anggarannya menggunakan anggaran pusat karena jumlahnya juga cukup besar. Jika nilainya kecil, di bawah Rp 5juta masih di-handle unit, tetapi jika besar dari pusat. Sepengetahuan saya, unit-unit hotel tidak memiliki budget CSR.”

Senada dengan yang diungkapkan oleh Bapak Hadi Soemarno, key

informan lain, Bapak Harry Muradz juga mengatakan:

“Untuk anggaran berasal dari pusat karena nilainya melebihi Rp 5Juta. Kalau dibawah Rp 5Juta menggunakan anggaran unit.”

Dalam melakukan komunikasi, terdapat beberapa saluran komunikasi yang bisa digunakan, seperti media massa, komunikasi tatap muka ataupun media lainnya seperti website, billboard, dan lain-lain. Terkait saluran komunikasi yang digunakan, key informan, Bapak Hadi Soemarno mengungkapkan tidak ada komunikasi khusus yang dilakukan kepada para nelayan.

”Patra Jasa Anyer tidak membuat atau mengadakan sosialisasi yang mengundang mereka atau ada kegiatan komunikasi lainnya untuk program CSR ini. Disini, kamilah yang langsung datang ke tempat mereka biasa kumpul, berbicara secara lisan dari awal sampai eksekusi pemberian kapal motor. Seperti yang sudah dijelaskan, bentuk sosialisasinya hanya melalui komunikasi verbal. Selain komunikasi dengan para nelayan yang merupakan target sasaran program, kami juga melakukan sosialisasi dengan manajemen dan para karyawan hotel. Bentuknya sama, hanya komunikasi lisan dalam rapat.”

Hal ini juga diperkuat dengan penjelasan dari key informan lainnya, Bapak Harry Muradz:

“Untuk sosialisasi Patra Jasa Anyer Beach Resort tidak membuat kegiatan apa-apa, hanya melakukan komunikasi dan pendekatan dengan target khalayak dan pemangku jabatan di sini saja.”

Keterangan dari kedua key informan diperjelas dan dibenarkan oleh informan, Bapak Sehabudin:

“Tidak ada sosialisasi. Ya berjalan begitu saja. Orang dari Patra Jasa suka datang kesini, ngobrol, lalu mengatakan ingin kasih bantuan. Akhirnya diberikan kapal motor empat. Ya kita terima, ada buktinya juga di kertas dan ditanda tangani. Disaksikan juga oleh Pak Kades jadi resmi.”

Sosialisasi dilakukan secara lisan karena penyesuaian kemampuan target khalayak menyerap pesan yang ingin disampaikan, seperti yang diutarakan oleh

key informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Kami menyesuaikan dengan kondisi target khalayak. Mereka merupakan nelayan dengan tingkat pendidikan yang dapat dikatakan rendah. Sehingga bentuk sosialisasi yang kami rasa paling tepat adalah dengan komunikasi lisan, tidak perlu melakukan kegiatan sosialisasi yang besar yang juga membutuhkan dana lebih.”

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari informan dan key informan tersebut, peneliti mencoba lebih menggali informasi terkait tidak adanya sosialisasi dan juga terkait proses komunikasi yang dilakukan, yaitu dengan melihat ketersediaan Sumber Daya Manusia dari pihak Patra Jasa Anyer Beach Reort. Dari hasil wawancara yang dilakukan, key informan, Bapak Harry Muradz mengatakan:

“Jumlah SDM disini sudah cukup, tetapi memang belum ada staf yang khusus menangani kegiatan-kegiatan PR, sehingga lebih banyak di-handle oleh GM dan juga staf humas PT Patra Jasa.”

Hal ini juga serupa dengan keterangan yang peneliti dapatkan dari key

informan lain, Bapak Hadi Soemarno:

“Selama ini sebagian besar kegiatan PR unit-unit memang dilakukan oleh Humas PT Patra Jasa. Jadi kalau ada masukan dari unit, kami lihat, kami survey, kalau memang perlu dilakukan tindakan atau dilakukan sebuah program dan sudah disetujui, humas PT Patra Jasa datang ke lokasi hotel untuk pelaksanaannya. Kalau untuk Patra Jasa Anyer, pihak dari hotel yang menjalankan kegiatan PR adalah General Manager-nya langsung, tetapi sifatnya sebatas pendekatan dengan pemangku jabatan di sini ataupun untuk handle kegiatan PR yang sifatnya tidak rutin.”

Terkait dengan temuan ini, Bapak Hadi selaku staf humas PT Patra Jasa merasa Patra Jasa Anyer Beach Resort membutuhkan staf PR yang dapat menjalankan seluruh kegiatan PR baik yang rutin maupun program-program seperti CSR. Selain itu, sesuai dengan prinsip kesinambungan dan berkelanjutan dari konsep CSR, dibutuhkan adanya staf yang memonitor pelaksanaan program CSR yang telah dilaksanakan. Hal ini diungkapkan oleh key informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Saya rasa perlu, karena kegiatan PR pada dasarnya banyak dan unit hotel belum menjalankannya. Sedangkan kegiatan PR itu penting untuk perusahaan yang bergerak di bidang jasa perhotelan. Seperti hubungan dengan media yang belum tersentuh, monitoring berita baik yang berhubungan dengan hotel maupun yang berpotensi berkaitan dengan hotel. Hubungan dengan pihak internal dan eksternal juga butuh pembinaan terus-menerus. Selain itu, dalam kaitannya dengan program CSR, karena program CSR itu berkelanjutan dan terus berkembang, perlu ada staf yang mengurus soal itu. Jika tidak, program CSR bisa berpotensi berhenti di jalan bahkan mungkin mengalami kemunduran.”

Penuturan serupa diungkapkan oleh key informan lain, Bapak Harry Muradz:

“Kami sedang mengusahakan untuk meminta tambahan karyawan yang mengurus hal tersebut. Namun hingga saat ini masih mengandalkan staf humas dari pusat karena kegiatannya juga belum banyak.”

Selain pihak-pihak yang menjadi komunikator, hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasi sebuah program CSR adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada target khalayak. Dalam bukunya, Morrisan mengklasifikasikan media menjadi tiga jenis, yaitu cetak, audio dan audiovisual.

Media cetak memiliki sifat dengan daya jangkau yang terbatas dan daya rangsang yang rendah, namun mengeluarkan biaya yang relatif murah, mudah dibaca, dimana dan kapan saja serta dapat dibaca berulang-ulang. Sedangkan untuk audio memiliki ciri yang sama namun hanya dapat didengar bila disiarkan. Terakhir media audiovisual, dimana memiliki keunggulan yang merupakan gabungan dari cetak dan audio tetapi membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Berdasarkan klasifikasi dari Morrisan dan hasil wawancara serta data yang didapatkan peneliti, key informan, Bapak Harry Muradz menjelaskan media yang digunakan adalah cetak, yaitu spanduk. Berikut penuturan key informan:

“Media yang digunakan yaitu kami membuat spanduk pada saat penyerahan kapal motor kepada KUB Nelayan Ketapang, disaksikan oleh Bapak Kepala Desa beserta jajarannya. Kami rasa tidak perlu menggunakan media lainnya, spanduk sudah cukup sebagai media komunikasi. Ukurannya juga besar jadi bisa dilihat oleh banyak orang. Kalau membuat media komunikasi lainnya bisa jadi malah kurang efektif karena tingkat pendidikan mereka yang tidak begitu tinggi.”

Gambar 1.5. Serah Terima Kapal Motor antara PT Patra Jasa dengan KUB Nelayan Ketapang.

Hal senada juga diungkapkan oleh key informan lain, Bapak Hadi Soemarno:

“Untuk media, Patra Jasa Anyer hanya menggunakan spanduk pada saat proses serah terima kapal motor ke KUB Nelayan Ketapang. Selebihnya dilakukan dengan komunikasi lisan. Kemudian ada dokumentasi berupa berita acara serah terima, kuitansi dan foto-foto.”

Gambar 1.6. Spanduk yang digunakan PT Patra Jasa.

Selain menggunakan spanduk, Patra Jasa Anyer Beach Resort hanya melakukan komunikasi lisan secara langsung dengantarget khalayak dan tidak mengundang atau menyampaikan pesan melalui media, baik lokal maupun nasional. Hal ini dijelaskan oleh key informan, Bapak Hadi Soemarno:

“Tidak. Hal tersebut memang disayangkan karena program pemberian kapal motor ini baru pertama kali dilakukan oleh hotel di wilayah Anyer. Ini juga menjadi salah satu yang luput dilakukan, yaitu menjalin hubungan dengan media. Hal ini terjadi karena tidak adanya staf yang mengurus persoalan semacam ini. Tentu Patra Jasa Anyer tidak bisa mengandalkan GM sebagai pihak dari perusahaan yang menjalankan kegiatan PR.”

Dari keterangan key informan dan informan tersebut, peneliti menyimpulkan Patra Jasa Anyer Beach Resort hanya menggunakan media spanduk sebagai penunjang komunikasi yang dilakukan kepada KUB Nelayan Ketapang dalam memberikan bantuan kapal motor tersebut. Patra Jasa Anyer melakukan komunikasi yang lebih personal untuk menyampaikan pesan-pesan yang ingin disampaikan.

Selain itu, Patra Jasa Anyer Beach Resort juga tidak menggunakan atau bekerja sama dengan media baik lokal maupun nasional dalam menyebarkan pesan ataupun menginformasikan program CSR yang dilaksanakan. Hal ini terjadi karena tidak adanya staf yang mengurus hubungan dengan media dan untuk mengurus tugas PR lainnya.

Namun, implementasi program pemberian bantuan kapal motor ini sudah berjalan dengan baik dimana pesan yang ingin disampaikan Patra Jasa Anyer Beach Resort sesuai dengan pesan yang diterima oleh target khalayak, dalam hal ini nelayan KUB Ketapang. Hal ini dibuktikan dengan penuturan dari informan, Bapak Sarmana:

“Ya Patra Jasa Anyer Beach Resort mengatakan bahwa ingin membantu para nelayan sini dengan memberikan kapal motor. Pak Hadi juga bilang anggap saja Patra Jasa Anyer itu sebagai keluarga jadi kalau ada masalah bisa berbagi, nanti sama-sama dicarikan solusinya.”

Penuturan dari informan juga dikuatkan dengan penuturan dari informan lain, Bapak Sehabudin:

“Pesannya ingin memberi bantuan untuk KUB Ketapang karena perahunya gampang rusak. Karena tempatnya juga dekat jadi ingin menolong tetangga biar bisa mendapatkan hasil laut yang lebih banyak.”

Senada dengan penuturan dari kedua informan, Bapak Samsuri yang juga merupakan informan dalam penelitian ini mengatakan hal serupa:

“Pesannya ingin komitmen membantu masyarakat sekitar khususnya nelayan yang berlokasi dekat dengan hotel. Dengan begitu bisa meningkatkan pendapatan masyarakat.”

Implementasi program pemberian bantuan kapal motor ini juga sudah sesuai dengan lingkup kerja CSR Patra Jasa dimana salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat yang diturunkan dalam rencana kerja CSR berupa kerjasama dengan UKM setempat.

3. Internalisasi

Dalam tahap ini, Patra Jasa Anyer Beach Resort memperkenalkan CSR kepada pihak internal dan eksternal perusahaan. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh key informan, Bapak Harry Muradz:

“Upaya yang dilakukan sebenarnya tidak ditunjukan secara eksplisit. Tetapi kami mencoba melakukan kegiatan-kegiatan yang tujuannya untuk memperkenalkan CSR, utamanya kepada internal perusahaan dan kemudian eksternal. Selaku GM, saya selalu mengajak para karyawan untuk menjalin komunikasi dan hubungan sebaik mungkin dengan masyarakat. Selain itu, kami juga berusaha untuk ikut berkontribusi dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, seperti kerja bakti membersihkan selokan, turut berpartisipasi dalam pembangunan masjiid dan renovasi lainnya. Intinya kami menekankan kepada para karyawan untuk dapat bekerja sama dengan masyarakat sekitar dan bersinergi untuk kemajuan perusahaan dan masyarakat sekitar. Kalau untuk eksternal bisa melalui program-program CSR yang telah dilaksanakan.

Dalam menjalankan program-program CSR tersebut, Patra Jasa Anyer Beach Resort secara tidak langsung memperkenalkan bentuk CSR yang dapat dilakukan oleh perusahaan kepada masyarakat sebagai wujud tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitar.”

Di sisi lain, key informan, Bapak Hadi Soemarno mengatakan:

“Patra Jasa Anyer berkomitmen bahwa program CSR ini akan dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan, seperti prinsip kebijakan CSR yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Tentu hal ini membutuhkan dukungan dari

Dokumen terkait