BAB IV HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN, EVALUASI
C. Hasil Penelitian
3. Hasil Analisis Kualitatif
menyatakan hipotesis diterima ketika nilai signifikansi data lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.3.
Signifikansi Wilcoxon Signed Rank Test PostTest-PreTest
Z -2,023
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,043
Hasil analisis tersebut menyimpulkan bahwa hipotesis penelitian ini diterima p = 0,043 (p < 0.05). Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan mindfulness dapat meningkatkan kualitas hidup pada orang dengan HIV AIDS (ODHA), ditandai dengan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor kualitas hidup sebelum diberi intervensi dengan skor kualitas hidup setelah diberi intervensi. Skor kualitas hidup setelah diberi intervensi lebih tinggi daripada sebelum diberi intervensi.
3. Hasil Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif diperoleh berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan kepada subjek penelitian.
a. Subjek PR
Subjek PR adalah seorang wanita berusia 29 tahun. Subjek didiagnosa memiliki virus HIV pada akhir tahun 2018. Subjek mengakui bahwa dirinya tertular virus HIV dari mantan pacarnya. Pada pertengahan
51" "
tahun 2018, subjek pernah melakukan hubungan seksual dengan mantan pacarnya tersebut.
Setelah mengetahui dirinya memiliki virus HIV, subjek menyalahkan dirinya sendiri. Subjek sering mendapat pandangan negatif dari lindungan sekitarnya. Hal ini membuat setiap subjek beraktivitas diluar rumah, subjek sering merasa orang lain memandang rendah padanya.
Subjek merasa kurang bisa menikmati hidup. Subjek juga merasa hidupnya kurang berarti. Subjek merasa takut pada kematian. Subjek terkadang merasakan bahwa sakit yang dideritanya kini menghalanginya melakukan suatu pekerjaan. Misal ketika melamar suatu pekerjaan, subjek merasa takut perusahaan yang menjadi targetnya tidak bisa menerimanya karena kondisi subjek yang memiliki virus HIV.
Subjek memiliki harapan dengan mengikuti pelatihan mindfulness ini, subjek dapat memiliki kondisi fisik dan psikologis yang jauh lebih baik. Subjek ingin dapat lebih menikmati hidupnya dengan menerima kondisi diri seutuhnya.
Subjek mengikuti pelatihan mindfulness dengan perhatian penuh. Subjek selalu terlihat menyimak dengan fokus apa yang disampaikan oleh fasilitator. Saat sesi refleksi dan diskusi, subjek juga dapat memperhatikan peserta lain yang sedang menyampaikan pendapat. Subjek juga dapat membangun kontak mata dengan lawan bicara.
Setelah selesai melakukan teknik mindfulness yang pertama dan kedua yaitu menyadari pernapasan dan menyadari sensasi tubuh, subjek
52" "
mengatakan bahwa dirinya merasa nyaman dan damai. Subjek merasa dirinya lebih rileks setelah mengikuti teknik mindfulness yang ketiga dan keempat. Setelah melakukan teknik yang terakhir yaitu mindfulness dalam kehidupan sehari-hari (mindfulness eating), subjek merasa lebih dapat menikmati dan menghayati momen dan rasa makanan dengan baik.
Saat evaluasi di pertemuaan terakhir pelatihan, subjek mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat baginya. Subjek merasa bahwa dirinya jauh lebih membaik. Subjek menjadi lebih rileks dan merasa mampu untuk menghadapi kehidupannya di masa depan dengan lebih semangat dan optimis. Subjek tidak merasa kesulitan dalam mengikuti teknik mindfulness yang dipelajari. Subjek juga berkeinginan untuk terus mempraktekkan kembali teknik yang telah dipelajarinya ini saat di rumah.
Sebelum dilakukannya intervensi, subjek memiliki kondisi kualitas hidup dengan kategori sedang dengan skor 105. Setelah dilakukannya pelatihan, subjek mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 111 dengan kategori tinggi. Pada pengukuran tiga minggu setelah pelatihan, subjek kembali mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 120 dengan kategori tinggi. Gambaran peningkatan skor kualitas hidup subjek dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.1
53" "
b. Subjek SL
Subjek SL adalah seorang pria berusia 27 tahun. Subjek didiagnosa memiliki virus HIV pada tahun 2017. Subjek adalah seorang biseksual. Sebelum mengetahui bahwa dirinya memiliki virus HIV, subjek memiliki kehidupan seksual yang bebas. Subjek sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki maupun perempuan.
Pada tahun 2017, subjek pernah melakukan operasi hernia di Kota Jakarta. Setelah operasi yang dijalankannya tersebut, dokter di rumah sakit menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium yang menyatakan subjek memiliki virus HIV di dalam tubuhnya. Selang beberapa waktu, subjek pun merasakan beberapa keluhan pada tubuhnya. Mata kanan subjek sering mengeluarkan cairan dan terasa pedih. Hingga akhirnya mata kanannya tidak dapat berfungsi. Pada kulit tubuh subjek juga muncul gatal-gatal yang sangat perih sehingga menimbulkan nanah dan luka. Sariawan yang menjamur juga terdapat pada sekitar mulut subjek. Subjek juga sering mengalami sakit kepala yang membuatnya jatuh
106" 111" 120" 95" 100" 105" 110" 115" 120" 125"
Pre/Test" Post/Test" Follow/Up" Kualitas"Hidup"
54" "
pingsan. Dokter mengatakan virus HIV di tubuh subjek telah masuk ke dalam fase AIDS. Kondisi ini membuat subjek akhirnya dirawat di rumah sakit hingga 6 bulan.
Kondisi subjek berangsur membaik setelah 6 bulan dirawat di rumah sakit. Subjek tidak lagi hanya terbaring di tempat tidur. Subjek sudah dapat beraktivitas, walaupun hanya aktivitas ringan. Subjek memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya di Magelang agar berada dekat dengan keluarganya. Sesampainya di Magelang, subjek tidak diterima oleh keluarga besarnya. Kabar akan kondisinya yang memiliki virus HIV telah menyebar ke anggota keluarganya. Kondisi fisik subjek yang terlihat sangat kurus, mata kanan yang tidak dapat berfungsi, dan kulit yang terlihat melepuh menyebabkan keluarga besarnya merasa tidak nyaman dengan subjek. Mereka juga menganggap ini adalah aib. Subjek diminta untuk meninggalkan Magelang.
Subjek akhirnya berangkat ke Jogja. Subjek mendapatkan informasi bahwa disana terdapat sebuah yayasan yang dapat menampung ODHA. Subjek merasa ia akan lebih nyaman dan aman berada disana.
Sejak mengetahui kondisi dirinya yang berstatus sebagai ODHA, subjek merasa sangat menyesal. Subjek sering mengalami kesulitan tidur. Subjek merasa tidak dapat beraktivitas karena sakit yang dimilikinya. Subjek sangat sulit menikmati hidupnya. Subjek merasa masa depannya sangat suram.
55" "
Subjek memiliki harapan dengan mengikuti pelatihan mindfulness ini, subjek dapat memiliki kondisi psikologis yang lebih tenang dan dapat mengontrol emosi negatif yang sering muncul pada dirinya. Subjek juga memiliki harapan kelak dapat diterima kembali di keluarganya.
Selama mengikuti pelatihan, subjek kurang dapat memberikan perhatian. Hal ini dikarenakan subjek yang ternyata sebelumnya telah mengenal dengan dekat fasilitator yang memberikan materi pelatihan. Fasilitator sebelumnya adalah psikolog di sebuah puskesmas dimana subjek sering konseling bersamanya. Fasilitator telah mengetahui hampir semua cerita tentang latar belakang kehidupan subjek. Hal ini membuat subjek menjadi terkesan menggampangkan materi yang sedang dipelajari. Subjek enggan untuk ditanya-tanyai oleh fasilitator. Subjek juga terlihat beberapa kali memainkan handphone miliknya.
Saat sesi pertama dan kedua, subjek dapat mengikuti instruksi yang fasilitator berikan. Namun ditengah sesi mempraktekkan teknik menyadari pernapasan dan menyadari sensasi tubuh, subjek terlihat mengantuk. Saat sesi ketiga, subjek lebih sering mencoba mengajak berbicara peserta lainnya. Subjek tampak tidak fokus. Saat sesi praktek, subjek memilih untuk duduk di lantai dengan meluruskan kaki dengan alasan agar lebih rileks. Saat praktek di sesi keempat, subjek masih memilih untuk duduk di lantai. Subjek juga membuka mata sebelum dipersilahkan oleh fasilitator. Saat sesi refleksi, subjek terlihat lagi mencoba untuk mengajak berbicara peserta yang lain, namun diacuhkan
56" "
oleh peserta tersebut. Saat sesi terakhir yaitu mindfulness dalam kehidupan sehari-hari (mindfulness eating), subjek makan dengan pandangan mata fokus ke arah makanan. Subjek terlihat dapat menikmati momen makan dengan baik.
Saat evaluasi di pertemuan terakhir pelatihan, subjek mengatakan bahwa cukup senang mengikuti pelatihan ini. Walaupun subjek merasakan sedikit kesulitan untuk mengikuti instruksi saat praktek karena kurang dapat fokus, namun subjek merasa bahwa pelatihan ini cukup memberikan manfaat terhadap subjek. Subjek juga berkeinginan untuk mencoba mempraktekkan kembali teknik yang telah dipelajarinya ini saat di rumah.
Sebelum dilakukannya intervensi, subjek memiliki kondisi kualitas hidup dengan kategori rendah dengan skor 73. Setelah dilakukannya pelatihan, subjek mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 75 dengan kategori rendah Pada pengukuran tiga minggu setelah pelatihan, subjek kembali mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 80 masih dengan kategori rendah. Secara umum, subjek mengalami peningkatan skor kualitas hidup, walaupun dengan skor peningkatan yang sedikit. Hal ini dapat disebabkan karena subjek kurang kooperatif dalam mengikuti pelatihan mindfulness yang diberikan. Gambaran peningkatan skor kualitas hidup subjek dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.2
57" "
c. Subjek EN
Subjek EN adalah seorang wanita berusia 40 tahun. Subjek mengetahui bahwa ia memiliki virus HIV pada tahun 2019. Penularan yang terjadi pada subjek adalah dari suaminya yang tertular sejak tahun 2017.
Setelah mendapatkan diagnosa bahwa subjek memiliki virus HIV dalam tubuhnya, subjek merasa kurang dapat diterima oleh lingkungan terdekatnya. Subjek juga mengalami kesulitan tidur. Kondisi yang dialaminya ini cukup berat bagi subjek. Terlebih subjek harus berpisah dengan anak-anaknya yang berada di kampung halaman. Subjek harus berada di Jogja untuk menjalani pengobatan.
Subjek memiliki harapan dengan mengikuti pelatihan mindfulness ini, subjek dapat mengenali dan menerima kondisi yang dialaminya saat ini.
73" 75" 80" 68" 70" 72" 74" 76" 78" 80" 82"
Pre/Test" Post/Test" Follow/Up" Kualitas"Hidup"
58" "
Subjek berharap materi yang didapatkannya ini dapat subjek terapkan dan bermanfaat dalam kehidupannya.
Selama mengikuti pelatihan, subjek dapat memberikan perhatian penuh pada materi dan fasilitator. Saat praktek di teknik pertama dan kedua, subjek dapat mengikuti instruksi yang diberikan oleh fasilitator dengan baik. Setelah selesai praktek teknik pertama dan kedua, subjek merasakan dirinya lebih tenang dan damai. Subjek merasakan pengalaman-pengalaman masa lalunya muncul kembali. Subjek menyampaikan bahwa ketika diminta untuk bersyukur terhadap nafas yang diberikan Allah membuatnya semakin tenang dan bersyukur. Subjek juga dapat mengikuti dengan baik teknik ketiga dan keempat. Subjek sempat menangis di tengah sesi praktek. Saat praktek selesai dilakukan, subjek menceritakan perasaan dan sensasi yang dirasakannya dengan suara bergetar. Subjek juga dapat mengikuti sesi terakhir yaitu mindfulness dalam kehidupan sehari-hari (mindfulness eating) dengan baik. Subjek fokus dengan kegiatan makan yang dilakukan. Diakhir sesi kelima ini subjek mengatakan bahwa rasa syukurnya muncul ketika subjek melakukan kegiatan makan dengan teknik mindfulness eating ini.
Secara keseluruhan, subjek dapat mengikuti pelatihan yang diberikan dengan sangat kooperatif. Subjek mengikuti setiap instruksi yang diberikan dengan sangat baik. Saat sesi diskusi dan refleksi pun subjek terlihat cukup aktif. Saat evaluasi di pertemuan terakhir, subjek menyampaikan bahwa pelatihan mindfulness ini memberikan manfaat
59" "
pada dirinya. Subjek merasakan bahwa proses mindfulness yang dipelajarinya sangat indah dan membuat subjek sangat menikmatinya. Perubahan tercepat yang sangat dirasakannya adalah keluhan kesulitan tidurnya telah jauh berkurang. Subjek berkeinginan untuk mempraktekkan kembali teknik yang telah dipelajarinya ini saat di rumah nanti.
Sebelum dilakukannya intervensi, subjek memiliki kondisi kualitas hidup dengan kategori sedang dengan skor 104. Setelah dilakukannya pelatihan, subjek mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 133 dengan kategori sangat tinggi. Pada pengukuran tiga minggu setelah pelatihan, subjek kembali mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 136 dengan kategori sangat tinggi. Gambaran peningkatan skor kualitas hidup subjek dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.3
Grafik Skor Kualitas Hidup Subjek EN
d. Subjek FR 104" 135" 136" 0" 50" 100" 150"
PreTest" PostTest" FollowUp"
Kualitas"Hidup"
60" "
Subjek FR adalah seorang pria berusia 42 tahun. Sebelum mengetahui statusnya sebagai ODHA, subjek berprofesi sebagai anak buah kapal (ABK) di sebuah kapal pengangkut barang antar negara. Subjek menjalani kehidupannya di lautan bebas. Subjek berlayar setiap dua bulan sekali. Kondisi tersebut menyebabkan subjek melampiaskan hasrat seksualnya pada awak kapal lainnya. Subjek biasanya secara bergantian melakukan hubungan seksual dengan masing-masing awak kapal yang juga merupakan laki-laki.
Subjek didiagnosa memiliki virus HIV pada tanggal 6 mei 2019. Gejala yang dirasakan subjek sebelum mengetahui statusnya sebagai ODHA adalah selama dua bulan mengalami diare dan sakit kepala yang terus menerus. Subjek akhirnya memeriksakan dirinya ke rumah sakit dan mengetahui bahwa dirinya memiliki virus HIV.
Setelah mengetahui hal tersebut, subjek merasa bahwa hidupnya akan berakhir. Subjek merasa sangat menyesali perbuatan yang dilakukannya hingga kini subjek harus merasakan dampak dari perbuatannya tersebut. Subjek memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Kota Medan.
Saat berada di kampung halaman, subjek merasa tidak mendapatkan dukungan dari keluarga terdekatnya. Keluarga subjek terutama kakak-kakaknya menyalahkan subjek atas kondisi yang dialaminya saat ini. Subjek diabaikan oleh keluarga besarnya.
61" "
Kondisi ini membuat subjek mencari sendiri informasi mengenai layanan pengobatan HIV/AIDS. Subjek menemukan informasi bahwa di Kota Jogja terdapat sebuah yayasan yang menampung ODHA dari seluruh Indonesia. Yayasan tersebut menyediakan tempat tinggal dan kebutuhan pangan secara gratis terhadap ODHA. Subjek akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Jogja.
Subjek merasa sakit yang sedang dialaminya saat ini cukup menghalanginya melakukan aktivitas sehari-hari. Subjek merasa kurang dapat menikmati hidup. Terkadang pada diri subjek juga muncul fikiran dan perasaan takut menghadapi masa depan sehingga berujung pada takut akan kematian. Perasaan putus asa, sedih dan gelisah juga sering muncul pada diri subjek.
Subjek memiliki harapan dengan mengikuti pelatihan ini subjek dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik dengan menerima seutuhnya kondisinya saat ini. Subjek berharap lebih dapat mengelola fikiran dan perasaannya menjadi lebih positif.
Subjek mengikuti pelatihan mindfulness dengan perhatian penuh. Subjek selalu terlihat menyimak dengan fokus apa yang disampaikan oleh fasilitator. Subjek juga terlihat aktif dalam merespon pertanyaan fasilitator saat sesi refleksi. Saat praktek di sesi pertama dan kedua, subjek dapat mengikuti instruksi yang diberikan fasilitator dengan baik. Subjek merasakan ketenangan setelah mempraktekkan teknik ini.
62" "
Pada pertemuan di hari kedua, subjek mengatakan sudah dapat tidur lebih nyenyak. Saat di rumah, subjek mencoba mempraktekkan teknik yang di pelajari. Subjek mengatakan bahwa ketika ia mengalami sedikit kesulitan untuk melatih teknik yang sudah dipelajari saat di rumah. Hal ini dikarenakan kondisi yang sangat ramai di rumah yang merupakan yayasan tersebut. Namun subjek tetap mencobanya.
Subjek dapat mengikuti dengan baik instruksi yang diberikan fasilitator saat praktek di sesi ketiga dan keempat. Subjek mengatakan bahwa sesi ini membuat subjek menjadi lebih rileks. Saat sesi terakhir yaitu mindfulness dalam kehidupan sehari-hari (mindfulness eating), subjek merasakan bahwa teknik ini membuatnya lebih dapat menikmati momen dan rasa dari makanan.
Saat evaluasi di pertemuaan terakhir pelatihan, subjek mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat baginya. Subjek merasa dapat lebih baik dalam menyikapi kondisinya saat ini. Subjek tidak merasa kesulitan dalam mengikuti teknik mindfulness yang dipelajari. Subjek juga berkeinginan untuk terus mempraktekkan kembali teknik yang telah dipelajarinya ini saat di rumah karena subjek ingin memiliki kondisi fisik dan psikologis yang jauh lebih sehat.
Sebelum dilakukannya intervensi, subjek memiliki kondisi kualitas hidup dengan kategori sedang dengan skor 85. Setelah dilakukannya pelatihan, subjek mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 108 dengan kategori tinggi. Pada pengukuran tiga minggu setelah
63" "
pelatihan, subjek kembali mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 111 dengan kategori tinggi. Gambaran peningkatan skor kualitas hidup subjek dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.4
Grafik Skor Kualitas Hidup Subjek FR
e. Subjek SR
Subjek SL adalah seorang wanita berusia 55 tahun. Subjek didiagnosa memiliki virus HIV pada April 2017. Subjek tertular virus ini dari suaminya yang saat ini telah meninggal. Menurut subjek, suaminya sering melakukan hubungan seksual dengan banyak wanita.
Pada masa awal mengetahui dirinya memiliki virus HIV, subjek merasa sangat marah dengan almarhum suaminya. Menurut subjek, karena ulah dari suaminya, subjek harus menanggung penyakit ini.
Gejala awal yang dirasakan subjek adalah diare hebat yang berlangsung lama, mual muntah, sakit kepala hebat, dan kehilangan nafsu makan. Berat badan subjek turun drastis di masa awal positif HIV.
85" 108" 111" 0" 20" 40" 60" 80" 100" 120"
PreTest" PostTest" FollowUp" Kualitas"Hidup"
64" "
Subjek merasa kehilangan harapan akan masa depannya. Subjek juga sering merasa bahwa kematian sudah sangat begitu dekat. Kondisi ini juga mempengaruhi aktivitas sehari-hari subjek. Subjek menjadi sulit berkonsentrasi dan merasa tubuhnya sangat lemah. Subjek juga mengalami kesulitan tidur. Kondisi ini menyebabkan subjek sering merasa putus asa, sedih dan gelisah akan hidupnya.
Subjek memiliki harapan dengan mengikuti pelatihan ini subjek dapat memiliki kondisi fisik dan psikologis yang membaik. Subjek sangat ingin dapat kembali beraktivitas dengan normal. Subjek ingin dapat lebih menikmati hidupnya dengan menerima kondisi diri seutuhnya.
Subjek mengikuti pelatihan dengan perhatian penuh. Subjek selalu dapat menikuti instruksi yang diberikan oleh fasilitator saat sesi praktek. Saat praktek sesi pertama dan kedua, subjek terlihat menangis. Subjek juga dapat mengikuti praktek sesi ketiga dan keempat dengan baik. Namun saat sesi keempat, subjek sempat terlihat mengantuk. Saat sesi kelima yaitu mindfulness dalam kehidupan sehari-hari (mindfulness eating), subjek merasa lebih dapat menikmati makanan yang disajikan. Subjek mengatakan makanannya terasa lebih enak ketika makan dengan teknik ini.
Saat evaluasi di pertemuaan terakhir pelatihan, subjek mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat baginya. Subjek merasa tidak kesulitan mengikuti instruksi yang diberikan. Subjek juga berkeinginan
65" "
untuk terus mempraktekkan kembali teknik yang telah dipelajarinya ini saat di rumah.
Sebelum dilakukannya intervensi, subjek memiliki kondisi kualitas hidup dengan kategori sedang dengan skor 90. Setelah dilakukannya pelatihan, subjek mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 94 dengan kategori sedang. Pada pengukuran tiga minggu setelah pelatihan, subjek kembali mengalami peningkatan skor kualitas hidup menjadi 99 dengan kategori sedang. Gambaran peningkatan skor kualitas hidup subjek dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.5
Grafik Skor Kualitas Hidup Subjek SR