• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Nilai Intrinsik Unit Tempat

5.1. Klasifikasi Bioregion

5.1.2. Unit Lanskap

5.1.3.3. Hasil Analisis Nilai Intrinsik Unit Tempat

Analisis unit tempat dilakukan dengan menghitung nilai-nilai intrinsik yang meliputi kualitas air, tingkat kepadatan permukiman (kawasan terbangun), dan kawasan lindung. Perhitungan nilai intrinsik tersebut dilakukan sebagai berikut :

Nilai Analisis = Nilai Kualitas Air – Nilai Tingkat Kepadatan Permukiman + Nilai Kawasan Lindung

Nilai “positif” untuk komponen kualitas air dari suatu unit tempat di kurangi dengan nilai “negatif” untuk kepadatan permukiman dari suatu unit tempat dan dijumlahkan dengan nilai 1 untuk unit tempat yang menjadi kawasan lindung berdasarkan analisis kawasan lindung. Dalam studi ini, nilai positif merupakan nilai intrinsik sumber daya alami yang mampu mendukung kehidupan

39

alami dan manusia, sedangkan nilai negatif berupa nilai intrinsik sosial budaya yang diasumsikan dapat merusak potensi alam. Hasil analisis nilai-nilai intrinsik pada setiap unit tempat disajikan pada Tabel 8 dan secara spatial dapat dilihat pada Gambar 19.

Tabel 8 Analisis Nilai Intrinsik Sumberdaya Alami, Sosial Budaya, dan Kawasan Lindung

Tabel 8 (Lanjutan)

Sumber : Analisis (2010)

Keterangan :

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 19 Peta Unit Tempat Berdasarkan Nilai-Nilai Intrinsik

VI. SINTESIS

Kompartemen Odum (1969) merupakan sebuah model pengembangan ruang yang menghubungkan dasar pertentangan antar pertumbuhan alam yang mementingkan perlindungan yang maksimal (dengan tujuan mencapai daya dukung yang tinggi terhadap struktur biomassa yang kompleks) dan pertumbuhan manusia yang mementingkan produksi yang semaksimal mungkin ( dengan tujuan menghasilkan hasil panen setinggi mungkin).

Dalam Kompartemen Odum (1969) suatu ekosistem dibagi menjadi empat daerah (kompartemen), yaitu daerah produksi (production area), daerah perlindungan atau konservasi (protection area), daerah yang dapat digunakan dalam batasan tertentu (compromise area), dan daerah urban dan industri (urban/industrial area).

Keempat kompartemen ruang tersebut ditentukan dengan menyepadankan kriteria Odum (1969) dengan nilai intrinsik unit tempat (Tabel 9) dengan kriteria penentuan lahan sebagai berikut :

1. Nilai -4 sesuai untuk penggunaan lahan sebagai kawasan perkotaan 2. Nilai -3 sesuai untuk penggunaan lahan sebagai kawasan perkotaan

bersyarat

3. Nilai -2 sesuai untuk penggunaan lahan sebagai kawasan industri bersyarat

4. Nilai -1, 0, 1 sesuai untuk penggunaan lahan sebagai kawasan lindung 5. Nilai 2 sesuai untuk penggunaan lahan sebagai kawasan

kompromi

6. Nilai 3, 4, 5 sesuai untuk penggunaan lahan sebagai kawasan produksi

Tabel 10 menunjukkan hasil penyepadanan kompartemen Odum dan konsep bioregion dengan kriteria penentuan lahan di atas digunakan sebagai arahan konsep rencana lanskap untuk pengembangan kota.

Tabel 9 Matriks Klasifikasi Kompartemen Odum (1969) dan Konsep Bioregion (Unit Tempat)

Kategori area*

(Kompartemen Odum) Kriteria Odum* Kriteria Bioregion (Unit

Tempat) Production - Daerah yang secara terus menerus diolah oleh manusia untuk menghasilkan produktivitas

yang tinggi

- Perkembangan berorientasi terhadap rantai ekosistem yang bergerak cepat

- Siklus hidup yang singkat dan menghasilkan kwantitas yang tinggi terhadap biomassa - Tidak dapat menahan stress lingkungan yang panjang dan bervariasi tanpa menimbukan

kerusakan tetapi kecepatan untuk pulih kembali sangat cepat

- Daerah yang memiliki kualitas kantung air yang sangat baik hingga baik - Daerah yang memiliki sedikit

penutupan lahan berupa bangunan pemukiman (daerah non pertanian)

Protection - Daerah yang mendorong terjadinya kestabilan lingkungan

- Ekosistem ini digambarkan dengan industri rantai ekosistem dan siklus hidup yang lebih panjang

- Dapat menahan stress lingkungan tanpa menimbulkan kerusakan, tetapi daya pulih kembali sangat lambat ketika terjadi kerusakan

- Hutan dengan ketinggian lebih dari 12 meter

- Daerah yang menjadi unit sungai Alalak dan Martapura pada saat 25 tahun mendatang berdasarkan analisis pergerakan sungai dan daerah kantung air.

Compromise - Kriteria daerah ini merupakan gabungan antara daerah production dan protection - Pemukiman dengan kepadatan <1 unit/ha

- Daerah dengan persentase pemukiman yang kecil (20-30%)

Urban/industrial - Merupakan ekosistem yang didominasi oleh manusia

- Memiliki tingkat konsumsi yang tinggi terhadap energy alam dibandingkan dengan tingkat produksi

- Pemukiman dengan kepadatan >1 unit/ha

- Daerah pusat kota yang memiliki persentase pemukiman yang tinggi

(40-100%) Sumber : * Odum (1969)

43

Tabel 10 Penyepadanan Nilai Intrinsik Dengan Kompartemen Odum (1969)

No Unit Tempat

Nilai Intrinsik

Nilai Analisis

Penggunaan Lahan Berdasarkan Kompartemen Odum

Tabel 10 (Lanjutan)

No Unit Tempat

Nilai Intrinsik

Nilai Analisis

Penggunaan Lahan Berdasarkan Kompartemen Odum

Sumber : Analisis (2010)

Keterangan :

45

Gambar 20 menggambarkan daerah yang dalam perkembangannya sesuai untuk menjadi kawasan produksi dengan potensi alam kualitas air yang baik hingga sangat baik. Daerah tersebut antara lain Antasan Besar, Kelayan Selatan 1, Kelayan Selatan 3, Kelayan Selatan 4, Kelayan Selatan 5, Kelayan Selatan 6, Kelayan Selatan 7, Mantuil 1, Mantuil 2, Mantuil 3, Mantuil 4, Sungai Jingah, Sungai Lulut 1, Sungai Lulut 2, Sungai Lulut 3, Surgi Mufti, Tatah Belayung 1, dan Tatah Belayung 2.

Daerah yang harus dilindungi untuk menjaga keseimbangan kota antara lain Ahmad Yani 1, Ahmad Yani 2, Alalak, Antasan, Kayu Tangi, Kelayan, Kuin, Mantuil 5, Pekapuran, Pemurus Dalam, Rk Ilir, Veteran 2. Daerah lindung ini secara spatial dapat dilihat pada Gambar 21.

Daerah kompromi (Gambar 22) terdiri atas daerah Banua Hanyar, Kelayan Kecil 1, Kelayan Kecil 2, Kelayan Selatan 2, dan Kelayan Timur. Sedangkan untuk daerah perkotaan bersyarat (Gambar 23) antara lain Belitung Darat, Belitung Laut, Belitung Utara, Melayu, Mulawarman, Pasar Lama, Pasir Mas, Pelambuan, Pemurus 2, Sudi Mampir, dan Sungai Jingah 2. Daerah industri bersyarat (Gambar 24) terdiri atas daerah Cempaka, Trisakti, dan Veteran 1.

Sedangkan daerah yang menjadi kawasan perkotaan antara lain Kuripan dan Pemurus 1.Daerah Perkotaan ini dapat dilihat pada Gambar 25.

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 20 Peta Daerah Produksi

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 21 Peta Daerah Lindung

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 22 Peta Daerah Kompromi

47

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 23 Peta Daerah Perkotaan Bersyarat

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 24 Peta Daerah Industri Bersyarat

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 25 Peta Daerah Perkotaan

Khusus untuk kawasan perkotaan dan industri bersyarat, untuk menjadikan kawasan tersebut menjadi kawasan yang sesuai untuk lahan perkotaan dan industri, perlu dilakukan beberapa syarat, sebagai berikut :

1. Memberikan perlindungan untuk daerah sekitar sungai dengan vegetasi ataupun bangunan buatan seperti pembuatan turab atau siring, pengadaan tetrapod untuk pemecah arus sehingga mengurangi daya hantam terhadap pinggir sungai.

2. Mengurangi intensitas dari aktivitas penggunaan sungai sebagai sarana transportasi.

3. Memberi batasan jenis kapal atau perahu yang mampu melalui sungai dengan dampak kerusakan yang minim.

4. Membentuk pola penyebaran permukiman berupa penyebaran satelit yang terkonsentrasi secara vertikal.

49

Dengan menerapkan ke-empat persyaratan tersebut, status kawasan perkotaan dan industri bersyarat dapat berubah menjadi kawasan perkotaan dan industri. Gambar 26 dan Gambar 27 menyajikan daerah dengan status perkotaan dan industri yang baru.

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 26 Peta Daerah Perkotaan Yang Berasal Dari Kawasan Perkotaan Bersyarat Dan Kawasan Perkotaan Lainnya (Tidak Bersyarat)

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 27 Peta Daerah Industri Yang Berasal Dari Kawasan Industri Bersyarat

Secara komposit berdasarkan kompartemen Odum (1969) yang disajikan pada Peta Daerah Produksi (Gambar 20), Peta Daerah Lindung (Gambar 21), Peta Daerah Kompromi (Gambar 22), Peta Daerah Perkotaan (Gambar 26), dan Peta Daerah Industri (Gambar 27) dapat menjadi arahan konsep dalam penyusunan perencanaan lanskap berdasarkan penggunaan lahan Kota Banjarmasin untuk 25 tahun sebagaimana disajikan pada Gambar 28.

Dalam studi kasus ini penyepadanan (matching) antara nilai karakteristik unit tempat dengan kriteria Kompartemen Odum (1969), selain menghasilkan empat daerah kompartemen (daerah produksi, daerah lindung, daerah kompromi, daerah perkotaan/ industri) terdapat dua daerah lain, yaitu daerah perkotaan bersyarat dan daerah industri bersyarat. Munculnya karakteristik dua daerah ini didapat dari analisis daerah lindung, yaitu analisis pergerakan sungai dan persebaran kantung air. Untuk mempertahan keberadaan Kota Banjarmasin khususnya pada daerah dengan status bersyarat ini, maka diperlukan penerapan persyaratan perlindungan. Dengan menetapkan persyaratan yang diperlukan, maka status bersyarat dapat berubah menjadi tidak bersyarat, sehingga status daerah perkotaan dan industri bersyarat menjadi daerah pekotaan dan industri.

Penerapan Kompartemen Odum (1969) pada beberapa kasus dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sebagai contoh, dalam studi kasus yang dilakukan oleh Hendrix, Fubos, and Price (1988), penerapan Kompartemen Odum (1969) dilakukan dengan klasifikasi ekologi landuse yang terdapat di lapang berdasarkan tiga parameter yang menggambarkan perbandingan produksi dan respirasi (P/R), tingkat biomasa, dan hasil lahan. Klasifikasi ini dilakukan dengan dua cara, (1) dilakukan dengan interpretasi dari literatur (baik dalam bentuk peta maupun citra satelit) untuk beberapa penggunaan lahan, (2) dilakukan dengan extrapolating hasil interpretasi dengan penggunaan lahan (landuses) yang sama.

Sistem klasifikasi ini menghasilkan penerapan Kompartemen Odum (1969) berdasarkan landuse yang terdapat di tapak. Sebagai contoh, daerah lindung merupakan daerah hutan yang memiliki tinggi pohon lebih dari 12 meter;

daerah produksi (agrikultur) merupakan daerah dengan penggunaan lahan sebagai kebun buah dan pembibitan; daerah produksi (alami) merupakan daerah dengan penggunaan lahan berupa hutan dengan tinggi pohon kurang dari 12 meter, lahan

51

basah, badan air, lapangan golf, taman kota; daerah kompromi merupakan daerah dengan penggunaan lahan sebagai permukiman dengan tingkat kepadatan < 1 unit rumah/ ha, bandara, pantai, taman umum, stadion olahraga; dan daerah perkotaan merupakan daerah dengan penggunaan lahan sebagai permukiman dengan tingkat kepadatan > 1 unit/ ha, daerah industri, dan pusat pemerintahan. Dari klasifikasi berdasarkan penggunaan lahan (landuse) ini, maka dilakukan deliniasi berdasarkan Kompartemen Odum (1969).

Berdasarkan perbandingan studi kasus di atas, pada dasarnya penerapan pembagian ruang Kompartemen Odum (1969) dilakukan berdasarkan kriteria Odum (1969), dimana kriteria ini dibuat berdasarkan potensi dan keadaan ekologi yang dominan yang terdapat di daerah tersebut. Dalam studi kasus ini, potensi dan keadaan ekologi tersebut diwujudkan dalam nilai-nilai intrinsik dan batasan ekologi digambarkan dalam unit tempat berdasarkan bioregional.

Sumber : Analisis (2010)

Gambar 28 Peta Konsep Perencanaan Lanskap Kota Banjarmasin Berdasarkan Arahan Penggunaan Lahan Menurut Kompartemen Odum (1969)

7.1. SIMPULAN

1. Analisis bioregion dapat dilakukan secara hierarki berdasarkan nilai intrinsik berupa kawasan lindung, kualitas air, tingkat kepadatan permukiman (kawasan terbangun), sehingga dihasilkan tiga kelas bioregion, yaitu 12 unit bioregion, 2 unit lanskap, dan 10 unit tempat.

2. Berdasarkan sepuluh unit tempat yang dihasilkan dapat dipadankan dengan kriteria dalam empat kompartemen Odum (1969) sehingga dihasilkan arahan konsep rencana lanskap Kota Banjarmasin, yang terdiri atas 18 unit daerah produksi, 12 unit daerah lindung, 5 unit daerah kompromi, 3 unit daerah industri, dan 13 unit daerah perkotaan

3. Dari 16 unit daerah perkotaan dan industri tersebut, 11 unit kawasan perkotaan dan 3 unit kawasan industri berasal dari kawasan dengan status kawasan perkotaan dan industri bersyarat. Status kawasan perkotaan dan industri bersyarat ini berubah menjadi kawasan perkotaan dan industri setelah terpenuhinya persyaratan yang menentukan perubahan status, yaitu pemberian vegetasi ataupun bangunan buatan di sekitar pinggir sungai, pengadaan tetrapod untuk pemecah arus, mengurangi intensitas dari aktivitas transportasi sungai, pemberian batasan jenis kapal, dan membentuk pola penyebaran permukiman satelit yang terkonsentrasi secara vertikal.

7.2. SARAN

Diperlukan penelitian lebih lanjut berupa pengembangan unit tempat Kota Banjarmasin berdasarkan nilai intrinsik lainnya, seperti nilai sosial budaya berupa adat istiadat, kearifan lokal, dan nilai vernakular lainnya.

Dokumen terkait