ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Analisis Penelitian
1. Hasil Deskriptif Karakteristik Profil Responden
Responden dalam penelitian ini adalah pelaku usaha mikro dan kecil (mitra anggota KJKS BMT AL-FATH) yang melakukan
62 pembiayaan untuk bantuan modal usahanya. Berikut ini adalah deskriptif statistik mengenai identitas responden penelitian yang berasal dari jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan lama menjadi nasabah BMT.
a. Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Mengenai gambaran responden berdasarkan jenis kelamin (Laki-laki dan Perempuan), diperoleh informasi bahwa mayoritas responden adalah Perempuan dengan jumlah 28 orang atau 56% dan 22 orang atau 44% berjenis kelamin Laki-laki.
Tabel 4.2
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Laki-laki 22 44.0 44.0 44.0 Perempuan 28 56.0 56.0 100.0 Total 50 100.0 100.0
Sumber: Data Primer diolah
b. Deskripsi Responden Berdasarkan Usia
Mengenai gambaran responden berdasarkan usia akan dijelaskan pada Tabel di bawah ini. Pembagian responden berdasarkan usia terbagi menjadi empat, yaitu kurang dari 20 tahun, 20 tahun sampai dengan 30 tahun, 30 tahun sampai dengan 50 tahun, dan lebih dari 50 tahun.
Tabel 4.3
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Usia Frequency Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
63
Valid >50 tahun 6 12.0 12.0 12.0
20-30 tahun 6 12.0 12.0 24.0
31-50 tahun 38 76.0 76.0 100.0
Total 50 100.0 100.0
Sumber: Data Primer diolah
Dari Tabel 4.3, diperoleh informasi bahwa mayoritas responden sebanyak 38 orang atau 76% adalah responden yang berusia 31-50 tahun, kemudian terdapat jumlah yang sama antara responden berusia 20-30 tahun dan responden berusia >50 tahun, dengan masing-masing berjumlah 6 orang atau 12%, sementara untuk responden berusia kurang dari 20 tahun adalah 0% atau tidak ditemukan.
c. Deskripsi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Hasil Tabel di bawah ini menjelaskan mengenai pembagian responden berdasarkan latar belakang pendidikan terakhir. Pembagian responden dibagi menjadi empat kategori, yaitu Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Strata satu/Diploma (S1/Diploma).
Tabel 4.4
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Pendidikan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid S1/Diploma 6 12.0 12.0 12.0 SD 10 20.0 20.0 32.0 SMA 21 42.0 42.0 74.0 SMP 13 26.0 26.0 100.0 Total 50 100.0 100.0
64 Dari Tabel 4.4, diperoleh informasi bahwa mayoritas responden berdasarkan pendidikan adalah di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu berjumlah 21 orang atau 42%, kemudian responden berpendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjumlah 13 orang atau 26%, lalu responden berpendidikan Sekolah Dasar (SD) berjumlah 10 orang atau 20%, dan paling sedikit responden di tingkat pendidikan terakhir yaitu Strata1/Diploma (S1/Diploma). d. Deskripsi Responden Berdasarkan Lama Menjadi Nasabah BMT
AL-FATH
Pembagian responden berdasarkan lama menjadi nasabah BMT terbagi menjadi empat kategori, yaitu kurang dari 1 tahun, 1-2 tahun, 2-4 tahun, dan lebih dari 5 tahun. Deskripsi responden berdasarkan lama menjadi nasabah BMT AL-FATH akan dijelaskan dalam Tabel 4.5 berikut ini.
Tabel 4.5
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Lama Menjadi Nasabah BMT AL-FATH Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid <1 tahun 5 10.0 10.0 10.0 >5 tahun 25 50.0 50.0 60.0 1-2 tahun 8 16.0 16.0 76.0 2-4 tahun 12 24.0 24.0 100.0 Total 50 100.0 100.0
Sumber: Data Primer diolah
Dari Tabel 4.5, diperoleh informasi bahwa mayoritas responden telah lama menjadi nasabah/mitra di BMT tersebut, ini dilihat dari
65 jumlah responden yang sudah menjadi nasabah selama lebih dari 5 tahun sebanyak 25 orang atau 50%, lalu yang sudah menjadi nasabah antara 2-4 tahun sebanyak 12 orang atau 24%, kemudian 1-2 tahun sebanyak 8 orang atau 16%, dan kurang dari 1 tahun sebanyak 5 orang atau 10%.
2. Hasil Deskriptif Karakteristik Usaha
a. Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Usaha
Mengenai gambaran responden berdasarkan jenis usaha akan dijelaskan pada Tabel di bawah ini. Pembagian responden berdasarkan jenis usaha terbagi menjadi empat kategori, yaitu pedagang grosir, pedagang kaki lima, pedagang warung/toko dan lain-lain.
Tabel 4.6
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Jenis Usaha Frequency Percent
Valid Percent
Cumulativ e Percent
Valid Dan lain-lain 12 24.0 24.0 24.0
Pedagang Kaki Lima 18 36.0 36.0 60.0 Pedagang Warung/Toko 20 40.0 40.0 100.0 Total 50 100.0 100.0
Sumber: Data Primer diolah
Dari Tabel 4.6, diperoleh informasi bahwa jenis usaha yang dilakukan para pelaku usaha cukup bervariasi dilihat dari jumlah nilai yang tidak terlalu jauh antara kategori yang satu dengan kategori lainnya, sebanyak 20 orang atau 40% responden
66 melakukan jenis usaha pedagang warung/toko, lalu 18 orang atau 36% responden melakukan jenis usaha sebagai pedagang kaki lima, kemudian itu jenis usaha lain-lain sebanyak 12 orang atau 24%, sementara kategori pedagang grosir tidak ditemukan.
Tabel 4.7 Hasil Klasifikasi Jenis Usaha
Jenis Usaha Frekuensi Jumlah Persentase Pedagang Kaki Lima
- Pedagang Kue
- Pedagang Baju dan Lauk Pauk
- Pedagang Sayur - Pedagang Sosis Bakar - Pedagang Jamu
- Pedagang Bumbu Dapur - Pedagang Tahu
- Pedagang Ayam Bakar - Pedagang Bakso - Pedagang Es Doger - Pedagang Martabak - Pedagang Nasi Uduk - Pedagang Batu Permata
2 orang 1 orang 4 orang 1 orang 1 orang 1 orang 2 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang 18 orang 36% Pedagang Warung/Toko - Warung Sembako - Konter Pulsa - Warung Jajanan - Toko Alat Tulis dan
Percetakan - Pedagang Gorden
- Pedagang Pakaian Muslim dan Alat-alat Rumah Tangga
- Toko Handphone - Rumah Makan
- Bengkel dan Cuci Mobil
8 orang 2 orang 3 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang 2 orang 20 orang 40% Dan Lain-lain - Menyewakan Alat-alat Pesta 2 orang 12 orang 24%
67 - Ojek
- Kredit Barang
- Jasa Pengurus Surat-surat Penting
- Kerajinan Tangan - Jasa Rias Pengantin - Kontrakan - Pedagang Benang Bangunan 1 orang 4 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang Total 50 orang 100%
Sumber: Data Primer diolah
Pelaku usaha mikro dan kecil dalam penelitian ini menghasilkan tiga kategori jenis usaha yaitu pedagang kaki lima, pedagang warung/toko, dan lain-lain. Hasil informasi yang diperoleh berdasarkan Tabel 4.7 adalah jenis usaha yang dilakukan para pelaku usaha bervariasi, ada yang menghasilkan produk makanan, produk barang, dan produk jasa.
b. Deskripsi Responden Berdasarkan Lama Menjalankan Usaha Hasil Tabel di bawah ini menjelaskan mengenai pembagian responden berdasarkan lama menjalankan usaha. Pembagian responden berdasarkan lama menjalankan usaha terbagi menjadi empat kategori, yaitu kurang dari 1 tahun, 1-2 tahun, 2-4 tahun, dan lebih dari 5 tahun.
Tabel 4.8
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Lama Menjalankan Usaha
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid <1 tahun 2 4.0 4.0 4.0 >5 tahun 36 72.0 72.0 76.0
68
1-2 tahun 4 8.0 8.0 84.0
2-4 tahun 8 16.0 16.0 100.0
Total 50 100.0 100.0
Sumber: Data Primer diolah
Dari Tabel 4.8, diperoleh informasi bahwa mayoritas responden telah lama menjalankan usahanya, hasil yang diperoleh menyatakan bahwa sebanyak 36 orang atau 72% responden telah menjalankan usahanya sudah lebih dari lima tahun, lalu hanya sebanyak 8 orang atau 16% sudah menjalankan usaha selama 2-4 tahun, kemudian sebanyak 4 orang atau 8% sudah selama 1-2 tahun, dan responden sebanyak 2 orang atau 4% telah menjalankan usaha selama kurang dari satu tahun.
c. Deskripsi Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja
Pembagian responden berdasarkan jumlah tenaga kerja terbagi menjadi 4 kategori, yaitu memiliki tenaga kerja berjumlah 1-3 orang, 4-5 orang, 6-10 orang dan lebih dari sepuluh orang. Deskripsi responden berdasarkan jumlah tenaga kerja akan dijelaskan dalam Tabel 4.9 berikut ini.
Tabel 4.9
Hasil Uji Deskriptif Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid 1-3 orang 45 90.0 90.0 90.0 4-5 orang 3 6.0 6.0 96.0 6-10 orang 2 4.0 4.0 100.0 Total 50 100.0 100.0
69 Dari Tabel 4.9, diperoleh informasi bahwa mayoritas pelaku usaha adalah pelaku tunggal atau masuk dalam kategori memiliki jumlah tenaga kerja 1-3 orang dan tidak menemukan responden yang memiliki jumlah tenaga kerja lebih dari sepuluh orang, hal ini menunjukan bahwa mayoritas mitra nasabah BMT adalah para pelaku usaha mikro dan kecil. Hasil menunjukan sebanyak 45 orang atau 90% memiliki jumlah tenaga kerja sebanyak 1-3 orang, kemudian hanya sebanyak 3 orang atau 6% memiliki jumlah tenaga kerja sebanyak 4-5 orang dan sebanyak 2 orang atau 4 % memiliki jumlah tenaga kerja 6-10 orang.
3. Hasil Uji Beda Keuntungan Sebelum dan Sesudah Pembiayaan a. Hasil Uji Statistik Deskriptif
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keuntungan sebelum pembiayaan, keuntungan setelah pembiayaan, dan modal pembiayaan. Variabel-variabel tersebut akan di uji secara deskriptif seperti pada hasil Tabel 4.10.
Tabel 4.10
Hasil Uji Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Keuntungan Sebelum Pembiayaan 50 300000 20000000 3133000.00 Keuntungan Setelah Pembiayaan 50 700000 30000000 4760000.00 Modal Pembiayaan 50 1000000 30000000 9430000.00 Valid N (listwise) 50
70 Tabel 4.10 menjelaskan bahwa pada variabel keuntungan usaha sebelum pembiayaan jawaban minimum responden diperoleh sebesar Rp 300.000 dan maksimum sebesar Rp 20.000.000 dengan rata-rata total sebesar Rp 3.133.000. Variabel keuntungan usaha setelah pembiayaan jawaban minimum responden sebesar Rp 700.000 dan maksimum sebesar Rp 30.000.000 dengan rata-rata total sebesar Rp 4.760.000. Kemudian variabel modal pembiayaan jawaban minimum responden sebesar Rp 1.000.000 dan maksimum sebesar 3.000.000 dengan rata-rata total sebesar Rp 9.430.000. b. Hasil Uji Paired-Samples T-Test (Uji T Sampel Berpasangan)
Untuk menguji perbedaan yang berarti dalam perkembangan usaha mikro sebelum dan setelah menerima pembiayaan, digunakan uji T Sampel Berpasangan.
Tabel 4.11
Hasil Uji Sample T Berpasangan
Paired Differences T Df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Pair 1 KeuntunganSebelumPembia yaan – KeuntunganSetelahPembiay aan -1627000.000 1867203.792 -6.161 49 .000
Sumber: Data Primer diolah
Pada Tabel 4.11 dapat dilihat selisih rata-rata antara keuntungan sebelum pembiayaan dan keuntungan setelah pembiayaan sebesar – 1627000.000. Nilai P-value untuk uji dua sisi (2-tailed) = 0,000. Nilai P-value lebih kecil dari α = 0,05 dengan derajat kebebasan
71 (df) = 49. Hasil t-hitung -6,161 dan untuk t-tabel -2,0095 maka nilai t-hitung < t-tabel. Berdasarkan kriteria hipotesis, hal ini berarti bahwa Ho ditolak yaitu: Ho : μ = μ atau Ho : μD = 0, dan menerima Ha : μ ≠ μ atau Ha : μD ≠ 0. Artinya ada perbedaan yang berarti pada variabel keuntungan usaha mikro antara sebelum dan setelah pembiayaan dari KJKS BMT AL-FATH, dengan nilai signifikansi 0,000 < 0.05 (α = 5 %). Oleh karena t-hitung negatif berarti rata-rata keuntungan sebelum pembiayaan lebih rendah daripada keuntungan setelah pembiayaan. Hal ini berarti keuntungan sebelum pembiayaan dan keuntungan setelah pembiayaan adalah tidak sama atau berbeda nyata, yang berarti bahwa pemberian modal pembiayaan yang dilakukan berhasil secara signifikan.
4. Hasil Uji Regresi Metode Stepwise
Dalam analisis regresi dengan metode stepwise dengan SPSS akan langsung didapatkan model regresi yang signifikan, variabel yang tidak signifikan akan dikeluarkan secara otomatis dari model, kemudian akan dilakukan penyesuaian oleh algoritma software sehingga didapatkan variabel independen yang akan mempengaruhi besarnya variabel dependen. Sehingga pada penelitian ini didapat variabel yang mempengaruhi variabel keuntungan yang didapat pengusaha adalah variabel dari modal pembiayaan, kategori jumlah tenaga kerja 1-3 orang dan usia pelaku usaha 31-50 tahun.
72 Oleh sebab itu, hasil penelitian ini memperoleh variabel independent yang berpengaruh adalah variabel modal pembiayaan, variabel dummy kategori usia 31-50 tahun, dan variabel dummy kategori jumlah tenaga kerja 1-3 orang. Variabel yang tidak berpengaruh terhadap variabel keuntungan yang dimasukkan kedalam model adalah variabel jenis kelamin, variabel dummy kategori usia 20-30 tahun dan usia >50 tahun, variabel dummy kategori pendidikan SMP, SMA, PT/Diploma, variabel dummy kategori lama menjadi nasabah BMT 1-2 tahun, >2-5 tahun, >5 tahun, variabel dummy kategori jenis usaha pedagang kaki lima, pedagang warung/toko, dan lain-lain, variabel dummy kategori lama menjalankan usaha 1-2 tahun, >2-5 tahun, >5 tahun, dan variabel dummy kategori jumlah tenaga kerja 4-5 orang. Maka dapat diketahui dari 19 variabel independent yang masuk kedalam model hanya 3 variabel independent yang berpengaruh terhadap variabel dependen. Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel modal pembiayaan, variabel dummy kategori usia 31-50 tahun dan variabel dummy jumlah tenaga kerja 1-3 orang berpengaruh terhadap keuntungan usaha mikro dan kecil.
Berikut hasil Tabel 4.12 yaitu variabel yang dikecualikan dari hasil uji regresi linear berganda metode stepwise:
Tabel 4.12
Hasil Uji Pengecualian Variabel
Model Beta In T Sig.
Partial Correlation Collinearity Statistics Tolerance 3 JenisKelamin .058c .775 .442 .115 .839
73 dUsia1 .024c .258 .798 .038 .550 dUsia3 -.024c -.258 .798 -.038 .550 dP1 .065c .924 .360 .137 .953 dP2 -.013c -.182 .856 -.027 .944 dP3 .041c .579 .565 .086 .946 dLMN1 .016c .227 .821 .034 .954 dLMN2 .067c .975 .335 .144 .982 dLMN3 -.021c -.303 .763 -.045 .956 dJU1 .002c .034 .973 .005 .892 dJU2 -.070c -1.018 .314 -.150 .969 dJU3 .079c 1.142 .259 .168 .955 dLMU1 .021c .300 .766 .045 .952 dLMU2 -.085c -1.250 .218 -.183 .987 dLMU3 .026c .374 .710 .056 .965 dJTK2 .058c .831 .410 .123 .963
a. Predictors in the Model: (Constant), Modal b. Predictors in the Model: (Constant), Modal, dJTK1 c. Predictors in the Model: (Constant), Modal, dJTK1, dUsia2 d. Dependent Variable: Keuntungan
a. Uji Asumsi Klasik 1) Uji Normalitas
Normalitas data merupakan hal yang penting karena dengan data tersebut dianggap dapat mewakili populasi. Persamaan regresi dikatakan baik jika mempunyai data variabel bebas dan data variabel terikat berdistribusi mendekati normal atau normal sama sekali. Metode yang digunakan adalah metode grafik, yaitu dengan melihat penyebaran data pada sumber diagonal pada grafik normal P-P Plot of regression standardized. Sebagai dasar pengambilan keputusannya, jika titik-titik menyebar sekitar garis dan mengikuti garis diagonal, maka nilai tersebut telah normal (Duwi, 2014: 145).
74 Sumber: Data Primer diolah
Gambar 4.1 Hasil Uji Normalitas
Berdasarkan Gambar 4.1, dilihat dari normal P-P plot bahwa titik-titiknya mengikuti arah garis diagonal, menunjukkan bahwa data yang digunakan terdistribusi dengan normal atau data-data yang tersebar telah memenuhi asumsi normalitas. 2) Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah adanya korelasi antar variabel bebas (independen) dalam model regresi. Untuk mendeteksi adanya masalah multikolonieritas dalam penelitian ini dengan menggunakan Nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor). Regresi yang terbebas dari masalah multikolonieritas apabila nilai VIF <10 dan nilai tolerance >0,10 maka data tersebut bebas dari masalah multikolonieritas. Berikut ini disajikan hasil uji
75 multikolonieritas dengan menggunakan Nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor), yaitu:
Tabel 4. 13 Coefficientsa
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF 1 (Constant) ModalPembiayaan 1,000 1,000 2 (Constant) ModalPembiayaan ,768 1,302 dJTK1 ,768 1,302 3 (Constant) ModalPembiayaan ,766 1,305 dJTK1 ,767 1,304 dUsia2 ,993 1,007
a. Dependent Variable: Keuntungan Sumber: Data Primer diolah
Berdasarkan output pada Coefficients dalam Tabel 4.13, diketahui bahwa nilai tolerance semua variabel independen lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF semua variabel independen lebih kecil dari 10,00. Hal ini menunjukan bahwa nilai diatas tidak terjadi multikolinearitas.
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah terjadi ketidaksamaan varian dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain dalam model regresi. Sesuatu yang menjadi dasar pengambilan keputusan dari uji heteroskedastisitas adalah:
76
Jika pada grafik scatterplot terdapat titik-titik yang membentuk suatu pola seperti gelombang atau menyebar kemudian menyempit, maka telah terjadi heteroskedastisitas.
Jika titik-titik menyebar dan tidak membentuk suatu pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Sumber: Data Primer diolah
Gambar 4.2
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Gambar 4.2, menjelaskan mengenai ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED. Dapat di lihat pada gambar grafik scatterplot menunjukan data menyebar atau tidak membentuk suatu pola tertentu. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model persamaan regresi.
77 Untuk menguji ada tidaknya autokorelasi salah satunya diketahui dengan melakukan Uji DW (Durbin Watson). Berdasarkan Tabel 4.14, nilai uji DW sebesar 2,154, dengan nilai dL 0,747 dan nilai dU 2,544. Jika dL < d < dU maka disimpulkan pengujian tidak meyakinkan atau tidak dapat disimpulkan.
Tabel 4.14 Hasil Uji Autokorelasi
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .817a .668 .661 3039253.605 2 .873b .762 .752 2597282.688 3 .887c .786 .773 2488390.846 2.154
a. Predictors: (Constant), Modal
b. Predictors: (Constant), Modal, dJTK1
c. Predictors: (Constant), Modal, dJTK1, dUsia2
d. Dependent Variable: Keuntungan Sumber: Data Primer diolah
Oleh karena dari hasil uji autokorelasi berdasarkan nilai Uji DW (Durbin Watson) tidak dapat disimpulkan maka pada penelitian ini menggunakan Runs Test dalam menilai ada tidaknya masalah autokorelasi dalam model penelitian, hasil pengujian ini dapat dilihat dari nilai Asymp. Sig. (2-tailed) di mana nilai signifikansinya harus lebih besar dari 0,05 (Ghozali, 2011). Berikut merupakan hasil uji autokorelasi dengan menggunakan Runs test:
78 Tabel 4.15 Runs Test Unstandardized Residual Test Valuea -367503,99923
Cases < Test Value 25 Cases >= Test Value 25
Total Cases 50
Number of Runs 27
Z ,286
Asymp. Sig. (2-tailed) ,775
a. Median
Sumber: Data Primer diolah
Hasil pengujian dari Tabel 4.14 ini dapat dilihat dari nilai
Asymp. Sig. (2-tailed) di mana nilai signifikansinya harus lebih besar dari 0,05. Dapat kita lihat di atas Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,775 maka tidak ada masalah autokorelasi.
c. Hasil Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi linier sederhana, yaitu:
1) Uji – t
Uji statistik-t merupakan hasil pengujian tingkat keberartian masing-masing koefisien, regresi sebuah variabel mempunyai pengaruh yang berarti terhadap perubahan nilai Y jika nilai t hitung > t-tabel atau sig t < 0,05 (Suliyanto, 2005:90).
Tabel 4.16 Hasil Regresi Stepwise
Model Unstandardized Coefficients
Standardized
79 B Std. Error Beta 1 (Constant) -2433957.079 849473.610 -2.865 .006 Modal .763 .078 .817 9.818 .000 2 (Constant) -1398857.239 764335.589 -1.830 .074 Modal .604 .076 .647 7.973 .000 dJTK1 7642455.932 1766084.001 .351 4.327 .000 3 (Constant) 88575.389 980530.875 .090 .928 Modal .599 .073 .642 8.247 .000 dJTK1 7513053.585 1692991.082 .345 4.438 .000 dUsia2 -1883374.442 825641.557 -.156 -2.281 .027
a. Dependent Variable: Keuntungan Sumber: Data Primer diolah
Dari Tabel 4.16, menunjukkan bahwa koefisien β0 bernilai 88.575,389, β1 bernilai 0,599, β2 bernilai 7.513.053,585, β3 bernilai -1.883.374,442. Hal ini menunjukan bahwa β0, β1, β2 signifikan, artinya koefisien tersebut berpengaruh terhadap model. Selanjutnya didapatkan persamaan regresi dari output yang dihasilkan untuk memprediksi variabel Y yaitu:
Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + ε
Y = 88.575,389 + 0,599X1 + 7.513.053,585X2 – 1.883.374,442X3
Disamping itu, Sig. diatas juga menunjukan nilai signifikansi hubungan antara setiap variabel bebas dengan variabel terikat dimana jika Sig. hitung < α (α = 0,05) dan df = n-k = 50-20 =30, Hal ini berarti variabel bebas tersebut berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Artinya:
80 Modal: Sig. hitung = 0,00 < α = 0,05 dan dari hasil estimasi diatas dapat diketahui juga bahwa nilai t-hitung 8,247 > t-tabel 1,69726. Dengan demikian Ha diterima, artinya modal pembiayaan (X1) berpengaruh nyata (signifikan) terhadap keuntungan usaha. Nilai koefisien variabel modal sebesar 0,599. Hal ini mengandung arti bahwa setiap peningkatan modal terhadap keuntungan usaha satu satuan akan membuat keuntungan yang diterimanya juga akan naik sebesar 0,599 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
Jumlah tenaga kerja (1-3 orang): Sig. hitung = 0,00 < α = 0,05 dan dari hasil estimasi diatas dapat diketahui juga bahwa nilai t-hitung 4,438 > t-tabel 1,69726. Dengan demikian Ha diterima, artinya jumlah tenaga kerja (1-3 orang) (X2) berpengaruh nyata (signifikan) terhadap keuntungan usaha. Nilai koefisien variabel kategori jumlah tenaga kerja 1-3 orang sebesar 7.513.053,585. Hal ini mengandung arti bahwa setiap peningkatan jumlah tenaga kerja terhadap keuntungan usaha satu satuan akan membuat keuntungan yang diterimanya juga akan naik sebesar 7.513.053,585 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
Usia (31-50 tahun): Sig. hitung = 0,27 < α = 0,05 dan dari hasil estimasi diatas dapat diketahui juga bahwa nilai t-hitung
81 2,281 > t-tabel 1,69726. Dengan demikian Ha diterima, artinya ada hubungan antara usia (31-50 tahun) (X3) yang secara simultan berpengaruh nyata (signifikan) terhadap keuntungan usaha. Nilai koefisien variabel kategori usia 31-50 tahun sebesar -1.883.374,442. Hal ini mengandung arti bahwa setiap pengurangan usia pelaku usaha terhadap keuntungan usaha satu satuan akan membuat keuntungan yang diterimanya juga akan turun sebesar -1.883.374,442 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
2) Uji – F
Uji simultan digunakan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi secata bersama-sama terhadap variabel dependen yang di uji pada tingkat signifikan 0,05. Hasil uji statistik F dapat dilihat pada tabel 4.17, jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima dan menolak Ho, begitupun sebaliknya.
Tabel 4.17
Hasil Pengujian Signifikan Simultan
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 8.904E14 1 8.904E14 96.399 .000
a
Residual 4.434E14 48 9.237E12
Total 1.334E15 49
2 Regression 1.017E15 2 5.084E14 75.362 .000
b
Residual 3.171E14 47 6.746E12
Total 1.334E15 49
3 Regression 1.049E15 3 3.497E14 56.469 .000
c
82
Total 1.334E15 49
Sumber: Data Primer diolah
Dari hasil regresi pengaruh modal pembiayaan (X1), jumlah tenaga kerja (1-3 orang) dan usia (31-50 tahun) terhadap keuntungan ssaha (Y), maka diperoleh df1 = k – 1 = 20 – 1 = 19, df2 = n – k = 50 – 20 = 30, Ftabel sebesar 1,95 (ɑ: 5%) sedangkan Fhitung sebesar 56,469. Sehingga, Fhitung > Ftabel (56,496 > 1,95). Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
3) Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi digunakan untuk melihat sampai seberapa jauh model yang terbentuk dapat menerangkan kondisi yang sebenarnya. Bila R² sama dengan 0 maka garis regresi tidak dapat digunakan untuk membuat ramalan variabel dependen, sebab variabel-variabel yang dimasukkan ke dalam persamaan regresi tidak mempunyai pengaruh varian variabel dependen adalah 0 (Suliyanto, 2005:89).
Tabel 4.18 Koefisien Determinasi (R²) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .817a .668 .661 3039253.605 2 .873b .762 .752 2597282.688 3 .887c .786 .773 2488390.846 2.154
a. Predictors: (Constant), Modal
83 c. Predictors: (Constant), Modal, dJTK1, dUsia2
d. Dependent Variable: Keuntungan Sumber: Data Primer diolah
Dari Tabel 4.18 diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara variabel dependent dan variabel independent memiliki nilai (R = 0.887) termasuk dalam hubungan korelasi sangat kuat. Hal ini juga didukung dengan nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square) sebesar 0.773 atau 77,3% variabel modal, jumlah tenaga kerja, dan usia mampu menjelaskan variabel dependent yaitu keuntungan dan sisanya sebesar 22,7% dipengaruhi oleh faktor atau variabel bebas lain diluar penelitian.
C. Pembahasan
Berdasarkan pengujian hipotesis menggunakan metode regresi linear berganda metode stepwise yang didasarkan pada nilai signifikansi yang diperoleh masing-masing sebesar < α = 5%, adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh Perbedaan Antara Keuntungan Usaha Sebelum Pembiayaan dan Keuntungan Usaha Setelah Pembiayaan
Selisih rata-rata antara keuntungan sebelum dan keuntungan setelah pembiayaan sebesar -1627000.000, Nilai P-value untuk uji dua sisi (2-tailed) = 0,000. Nilai Pvalue lebih kecil dari α = 0,05. Hal ini berarti ada perbedaan yang berarti pada variabel keuntungan usaha antara sebelum dan setelah pembiayaan dari KJKS BMT AL-FATH. Nilai t-hitung yang negatif yaitu sebesar -6,161 menunjukan bahwa
84 keuntungan yang diperoleh sebelum pembiayaan lebih rendah dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh setelah pembiayaan. 2. Variabel Modal Pembiayaan Terhadap Keuntungan Usaha Setelah
Pembiayaan
Variabel Modal Setelah Pembiayaan menunjukkan koefisien korelasi yang positif sebesar 0,599 dengan tingkat signifikansi 0.000, lebih kecil dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi lebih kecil dari α = 5% dapat dinyatakan bahwa pengujian hipotesis berhasil dibuktikan. Hal ini mengandung arti bahwa setiap peningkatan modal terhadap keuntungan usaha satu satuan akan membuat keuntungan yang diterimanya juga akan naik sebesar 0,599 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa modal pembiayaan berpengaruh terhadap keuntungan usaha setelah pembiayaan. Hasil pengujian menunjukkan arah pengaruh positif antara pemberian pembiayaan dan perkembangan usaha mikro. Hubungan korelasi yang positif menunjukkan bahwa pemberian pembiayaan berpengaruh meningkatkan perkembangan usaha mikro dan kecil.
Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pemberian pembiayaan berpengaruh terhadap perkembangan usaha mikro. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rifka