• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Analisis Gerombol (Cluster Analisis)

5.4.1 Hasil Analisis Pengaruh Belanja Daerah terhadap PDRB

Hubungan antara PDRB dan Jenis belanja pemerintah ditunjukkan dalam model VECM namun koefisien error correction term tidak signifikan pada taraf nyata α=5% maupun α=10% . Hal ini menunjukkan perlu waktu yang lama untuk penyesuaian dari jangka pendek ke jangka panjang. Hasil estimasi dengan model VECM dapat dijelaskan dalam Tabel 30.

Tabel 30 Hasil estimasi pengaruh belanja daerah terhadap PDRB Jawa Timur

Keterangan :

** Signifikan pada taraf nyata 5%

Periode LNPDRB LNBP LNBB LNBL LNBM 1 0.008 0.000 0.000 0.000 0.000 2 0.013 0.000 0.001 0.001 0.000 3 0.018 0.000 0.001 0.001 0.002 4 0.023 0.000 0.001 0.001 0.002 5 0.027 0.001 0.002 0.002 0.003 6 0.031 0.001 0.002 0.002 0.004 7 0.034 0.001 0.002 0.002 0.004 8 0.037 0.001 0.003 0.002 0.005 9 0.040 0.001 0.003 0.002 0.005 10 0.043 0.001 0.003 0.003 0.006 Total 0.272 0.006 0.019 0.016 0.032 Cholesky Ordering : LNPDRB LNBP LNBB LNBL LNBM

Berdasarkan persamaan jangka pendek, bahwa belanja pegawai dan belanja barang tidak signifikan berpengaruh terhadap PDRB pada taraf nyata α=5% maupun α=10%. Belanja lain dan belanja modal berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata α=5%. Koefisien belanja barang dan belanja modal bertanda positif, artinya setiap ada kenaikan belanja barang dan belanja modal akan menaikkan PDRB (cateris paribus). Dalam Persamaan jangka panjang, variabel belanja pegawai tidak signifikan memengaruhi PDRB baik pada taraf nyata α=5% maupun α=10%, Belanja barang, belanja modal dan belanja lain berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata α=5%. Koefisien belanja barang dan belanja modal bertanda positif, artinya setiap ada kenaikan belanja barang dan belanja modal akan menaikkan PDRB dalam jangka panjang (cateris paribus), sedangkan koefisien belanja lain bertanda negatif, artinya setiap ada kenaikan belanja lain akan menurunkan PDRB dalam jangka panjang (cateris paribus).

Tabel 31 Hasil impulse response PDRB karena shock masing-masing jenis belanja tiap tahun selama 10 tahun

Hasil analisis impulse response dilakukan untuk melihat dampak saat ini dan masa depan dari variabel PDRB akibat perubahan atau shock variabel belanja barang, belanja pegawai, belanja modal dan belanja lainnya. Adanya shock pada variabel belanja barang, belanja pegawai, belanja modal dan belanja lainnya pada periode pertama tidak memberi dampak apapun pada total PDRB. Pada periode

Periode S.E. LNPDRB LNBP LNBB LNBL LNBM 1 0.008 100.000 0.000 0.000 0.000 0.000 2 0.015 99.341 0.055 0.203 0.397 0.005 3 0.024 98.604 0.023 0.330 0.361 0.682 4 0.033 98.463 0.034 0.369 0.341 0.793 5 0.043 98.166 0.036 0.388 0.385 1.024 6 0.053 97.973 0.039 0.426 0.381 1.180 7 0.063 97.825 0.041 0.448 0.379 1.306 8 0.073 97.705 0.043 0.466 0.368 1.418 9 0.084 97.603 0.044 0.481 0.362 1.509 10 0.094 97.510 0.046 0.495 0.357 1.592 Cholesky Ordering : LNPDRB LNBP LNBB LNBL LNBM

kedua shock belanja pegawai memberi dampak sebesar 0.000 pada PDRB, shock belanja barang memberi dampak sebesar 0.001 pada PDRB dan shock belanja lain memberi dampak sebesar 0.001 pada PDRB dan shock belanja modal memberi dampak sebesar 0.000 (Tabel 31). Dalam kurun waktu 10 tahun, maka jenis belanja yang memberikan dampak paling besar adalah belanja modal sebesar 0.032 sedangkan belanja pegawai memberikan dampak paling kecil yaitu sebesar 0.006. Jika dikaji lebih dalam lagi, kejutan-kejutan yang terjadi dengan datangnya informasi baru dalam jenis belanja daerah berpengaruh pada PDRB.

Tabel 32 Hasil Variance Decomposition VECM masing-masing jenis belanja terhadap PDRB

Selain IRF, dalam VECM menyediakan analisis variance decomposition. Analisis ini memberikan metode yang berbeda di dalam menggambarkan sistem dinamis VAR, yaitu menggambarkan relatif pentingnya setiap variabel di dalam sistem VAR karena adanya shock. Selain itu digunakan juga untuk memprediksi kontribusi persentase varian setiap variabel karena adanya perubahan variabel tertentu di dalam sistem VAR. Tabel 32 menjelaskan prediksi kontribusi persentase varian PDRB terhadap perubahan variabel jenis alokasi belanja. Periode pertama forecast error variance dari PDRB dapat dijelaskan oleh PDRB itu sendiri sebesar 100%, sedangkan yang dapat dijelaskan oleh variabel lainnya sebesar 0%. Pada periode kedua yang dapat dijelaskan oleh PDRB sendiri sebesar 99.341%, belanja pegawai sebesar 0.055%, belanja barang sebesar 0.203%,

belanja lain sebesar 0.397% dan belanja modal sebesar 0.005%. Sampai sepuluh periode mendatang forecast error variance yang dapat dijelaskan oleh PDRB sendiri sebesar 97.510%, belanja pegawai sebesar 0.046%, belanja barang sebesar 0.495%, belanja lain sebesar 0.357% dan belanja modal sebesar 1.592%. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa belanja pada periode 10 memberikan kontribusi terbesar dibandingkan jenis belanja lain dan selalu meningkat setiap tahunnya, sedangkan jenis belanja lain, kontribusinya lama-lama akan berkurang.

2. Interpretasi Model Panel VAR : Pengaruh Belanja Daerah terhadap PDRB Jawa Timur

Hubungan antara PDRB dan jenis belanja pemerintah ditunjukkan dalam model VECM artinya adanya hubungan jangka panjang dan jangka pendek antara PDRB dengan jenis belanja pemerintah, akan tetapi koefisien error correction term tidak signifikan. Kondisi tidak signifikan ini menunjukkan perlu waktu yang lama untuk penyesuaian dari jangka pendek ke jangka panjang. Jenis belanja pegawai baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek tidak signifikan berpengaruh terhadap PDRB. Hal ini disebabkan komposisi jenis belanja pegawai lebih bersifat tidak produktif, seperti belanja gaji pegawai dan tunjangan beras. Selain itu sumbangan belanja pegawai terhadap PDRB dalam bentuk konsumsi rumah tangga juga kecil. Sehingga wajar jika belanja pegawai tidak berpengaruh baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang terhadap PDRB Jawa Timur. Jenis belanja barang, dalam jangka pendek tidak berpengaruh terhadap PDRB akan tetapi dalam jangka panjang berpengaruh positif secara signifikan terhadap PDRB. Hal ini dapat dijelaskan, yang termasuk dalam jenis belanja barang adalah belanja pemeliharaan serta perbaikan. Jika suatu barang investasi, dipelihara secara berkala, tentunya akan menambah jangka waktu operasi barang tersebut. Sehingga belanja barang untuk kasus Jawa Timur mempunyai pengaruh jangka panjang.

Belanja modal mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap PDRB baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, penambahan alokasi belanja modal yang digunakan untuk belanja investasi akan menambah modal sehingga akan dapat langsung menambah PDRB, selain itu karena sifatnya

yang produktif, tidak habis sekali pakai, maka secara jangka panjang juga tetap berpengaruh terhadap PDRB. Jenis belanja lain, yang termasuk di dalamnya belanja subsidi, belanja sosial dan membayar hutang, dalam jangka pendek secara signifikan berpengaruh positif akan tetapi dalam jangka panjang berpengaruh negatif.

Berdasarkan analisis diatas dapat ditunjukkan bahwa jenis belanja yang mempunyai pengaruh positif baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek adalah belanja modal. Dalam kurun waktu 10 tahun, kontribusi pengaruh jenis belanja modal terhadap keragaman PDRB memberikan dampak paling besar dibanding jenis belanja lainnya. Hal ini berarti bahwa jika ingin menaikkan PDRB, maka alokasi belanja modal perlu mendapat perhatian. Dari hasil analisis FEDV, prediksi kontribusi persentase varian PDRB terhadap perubahan variabel jenis alokasi belanja, jenis alokasi belanja mempunyai kontribusi terbesar dibandingkan jenis belanja lainnya, sedangkan belanja pegawai mempunyai kontribusi terkecil. Selain ini juga dapat dilihat secara total prediksi kontribusi belanja pemerintah terhadap PDRB itu di bawah 10%. Hal ini menunjukkan bahwa peran pemerintah dalam kegiatan perekonomian yang di proxy dengan alokasi belanja adalah kecil. Sebagaimana diketahui PDRB itu adalah jumlah produksi barang atau jasa suatu daerah dalam waktu satu tahun. Dalam pelaksanaan perekonomian, ada tiga pihak yang berperan yaitu, pemerintah, swasta dan masyarakat. Ternyata teori Keynes berlaku di Jawa Timur, dimana pengeluaran pemerintah sebagai campur tangan pemerintah dapat menstimulus perekonomian, meskipun kontribusinya kecil, artinya sudah ada peran swasta dan masyarakat dalam menggerakkan kegiatan perekonomian di Jawa Timur. Oleh karena itu, untuk menjaga kelangsungan pembangunan perekonomian di Jawa Timur, perlu menjalin hubungan yang baik antara pemerintah, swasta dan masyarakat. Kebijakan-kebijakan yang dibuat hendaknya melindungi kelangsungan pelaksanaan pembangunan ekonomi dan selalu menjaga kestabilan dan keamanan berinvestasi.

LNBP(-1) -6.945 ** CointEq1 0.000 -2.050 0.000 LNBB(-1) 13.559 ** D(LNIPM(-1)) -0.031 -2.224 -0.023 LNBL(-1) -23.117 ** D(LNIPM(-2)) 0.032 ** -2.669 -0.023 LNBM(-1) 0.921 D(LNBP(-1)) -0.003 -1.300 -0.005 D(LNBP(-2)) 0.001 -0.003 D(LNBB(-1)) 0.000 -0.003 D(LNBB(-2)) 0.004 ** -0.003 D(LNBL(-1)) 0.000 -0.003 D(LNBL(-2)) -0.006 ** -0.003 D(LNBM(-1)) 0.002 ** -0.001 D(LNBM(-2)) 0.001 -0.001 Variabel Jangka Panjang Variabel Jangka Pendek

5.4.2 Hasil analisis pengaruh belanja daerah terhadap Indeks Pembangunan

Dokumen terkait